Langsung ke konten utama

JATUH (HATI)


Mataku sembab. Kantung mata terlihat begitu jelasnya menghitam. Setengah sadar diri aku menuju sebuah halte di seberang jalan setelah keluar dari tempat kerja. Aku sudah merasa jalanan sepi saat melangkahkan kaki namun sebuah sepeda motor terdengar melengking menekan rem. Barulah tersadar nyawaku hampir melayang. Akupun meminta maaf dan kembali mundur ketepian. Bodoh sekali karena sebuah telepon saja membuatku hampir kehilangan nyawa dan lupa segalanya.
Pengendara sepeda motor itu menepi ke arahku. Sekilas ia membuka penutup helmnya. Bola mata yang pernah kukenal. Perlahan ia membuka helm setelah berhenti di depanku. 
Aku mengambil satu langkah mundur dan kikuk setengah mati, "Dika?" 
"Kamu mau bunuh diri?" celetuknya seraya menaruh helmnya di badan motor.
"Sekali lagi maaf telah mengganggu perjalananmu." Aku membungkukkan diri, tak mau jika ia menatap kelopak mataku yang membesar.
"Mau kemana?" tanyanya membuatku sebentar tengadah. 
"Entahlah. Aku juga tak tahu mau kemana," jawabku menegapkan diri dan melempar pandangan ke arah lain. Aku tak mau ia melihatku dalam keadaan begini.
"Mau ikut? Kebetulan aku butuh objek untuk difoto."
"Aku?" tanyaku seraya menunjuk wajah yang membuatku lupa mataku sebesar bola pingpong.
"Iya. Kamu. Aku bawa dua helm. Temanku tak bisa datang. Kebetulan ketemu kamu. Kamu mau?" 
Aku mengambil satu langkah mundur dan membalikkan badan. Mana mungkin dengan wajah berantakan dan mata pingpong aku bisa menjadi objek fotonya. Mana ada model pemotretan dengan wajah penuh masalah dan mata besar.
“Kenapa? Sedang berpikir? Aku hanya membutuhkan beberapa foto saja tak akan lama,” bujuknya membuatku berbalik. “Ini.” Kau mengulurkan helm padaku. 
Gerak tanganku ternyata lebih cepat dari gerak pikirku. Helm itu sudah berpindah ke tanganku sebelum aku menggugurkan niatku. Akhirnya aku mengikutimu duduk di belakang. Kita pun akhirnya melaju jauh meninggalkan tengah kota menuju pesisir menempuh satu jam perjalanan.
"Welcome to the beach," teriakmu seraya merentangkan tangan.
"Jadi tempatnya di sini?"
"Tentu. Sebuah pantai sepi yang jarang didatangi lebih eksotis daripada pantai yang ramai. Di sini kamu akan menemukan keindahan yang sebenarnya daripada kerumunan manusia."
Aku mengangguk. 
Semilir angin mengacak rambutku. Aku sedikit kuwalahan merapikan tatanan rambutku. 
"Oh ya apa kabar Nita?" celetukku yang tiba-tiba saja ingin mengetahui kabar kekasihnya itu.
"Baik bahkan mungkin lebih baik lagi tanpaku," jawabmu seraya mengeluarkan kamera DSLR-mu.
"Maksud kamu?" Aku tak menduga ia akan menjawabnya begitu.
"Kita sudah game over. Padahal baru sampai level 5. Payah," jelasmu seraya menjepret beberapa foto ke arah pantai yang lapang.
"Kok bisa? Ah, maaf mungkin aku tak perlu tahu tentang ini! Aku tak bermaksud...,” kataku berubah canggung.
“Tak apa. Tak ada yang salah dari pertanyaanmu. Kami memutuskan untuk tidak bersama lagi sebulan yang lalu.”
“Lima tahun bukankah waktu yang sangat lama untuk semua kenangan yang terjadi? Dika, apa kamu bisa melupakannya sekarang?"
"Haha." Kau terbahak dan melepas tanganmu dari kamera hingga menggantung di depan dada.
"Bila kita pernah menjadi bagian hidup orang lain dan telah susah payah memasukinya lantas kenapa harus susah payah juga untuk melupakan. Jika lima tahun itu menanam kenangan lalu mau butuh berapa lama untuk melupakannya?"
Aku menyimak dan menunduk. Benar sekali katanya setiap kali ingin melupakan, sebanyak itu pula kenangan itu muncul kembali. Aku menghelakan nafas dan berjalan menyusuri hamparan pasir.
Beberapa kali Dika menjepretku.
"Kau mengambil gambarku?"
"Biar terlihat natural."
Aku merapikan rambutku yang terhempas angin dan berjalan mendekatinya.
"Boleh aku bertanya?"
"Silahkan saja."
"Saat kau baru saja putus dengan Nita apa yang pertama kali kau lakukan?"
"Tentu saja aku tak akan menangis." Kau pun tersenyum seraya memberi isyarat untuk mengikutimu.
"Stop! Berhenti di titik itu!" serumu. "Apa kau merasakan perbedaannya saat berdiri di sana dengan di sini?"
"Ya. Di sini anginnya tak terlalu kencang. Lebih kencang dari saat aku berdiri di sana."
"Bukan itu yang kumaksud. Lihat pohon itu! Saat kita di sana bukankah tampak besar dan ketika di sini tampak lebih kecil. Begitulah caraku melakukannya, mengubah sudut pandangku."
Aku tengadah membandingkan tinggi dua pohon kelapa. Pohon yang ada di depan matamu akan terlihat lebih besar dibanding pohon yang jauh darimu. Ya, ia benar lagi seharusnya aku tak membiarkan air mata jatuh dan menyebabkan kelopak mataku membesar. 
Sudut pandangkulah yang harus berubah bersamaan dengan status yang berubah. Kenyataan memanglah terkadang pahit tapi bukan saatnya menikmati kepahitan itu secara berulang. Kepahitan-kepahitan yang terus diulang hanya akan menambah kepahitan yang sama. 
Senyumku mengembang karena dia ada di sini. 
"Bisakah kau tersenyum? Sepertinya kameraku menginginkannya," celetukmu saat menangkap mata senyumku yang mengembang di ujung bibir.
Aku menoleh dan tersenyum. Beberapa jepretan kudengar dari kameranya. 
“Good job!” katanya seraya mengecek beberapa foto yang sudah ia simpan. “Yeah! Aku mendapatkannya.”
Aku tersenyum. “Jadi sudah ada hasil yang terbaik diantara sekian foto itu?” 
“Masih ada satu ritual yang harus kita lakukan agar mendapatkan gambar yang menjadi akhir bagian pemotretan ini.” 
“Ritual? Pakai kembang maksudmu? Di sini?” 
“Tidak perlu. Kita hanya mencari serpihan batu karang dan lemparlah ke tengah laut sambil berteriak,” jelasmu seraya melengkungkan senyuman manis. 
Deg. Reseptor-reseptorku bekerja mengirim sinyal menuju otak. 
“Lemparlah!” serumu seraya menaruh beberapa serpihan batu karang ke dalam gengamanku. “Berteriaklah sekeras-kerasnya!” 
Jantungku berdebar sangat cepat. Sekuat tenaga kulempar batu itu ke tengah laut dan teriakan melengking. Detik itu juga aku tertawa lepas. 
“Seru-seru. Bagus. Ini lihatlah!” Ia memperlihatkan beberapa gambarku. “Dari sekian gambar tadi bagian ini yang akan jadi closing-nya. Aku akan mencetaknya lebih besar dari gambar lain.”
Kau tak bertanya mengapa mataku sembab tapi kau menemani dan menghiburku. Terima kasih Dika.
“Kau tak keberatan kan kalau foto-foto ini akan jadi salah satu yang terpajang di pameran bulan depan?” tanyamu membuat reseptorku berhenti. 
“Eh?” 
“Ya aku berencana mengikutkannya di sebuah pameran. Sepertinya ini akan sangat menarik.”
Otakku tiba-tiba mengirim sinyal lain. Nama Nita muncul di kepalaku. 
“Tunggu, Dika. Bukannya aku melarangmu melakukan ini tapi Nita, bagaimana perasaan Nita? Bagaimana pun dia sahabatku aku tak bisa melakukan ini padanya.”
“Dia sudah bahagia dengan yang lain, sama dengan Ergi yang telah bahagia dengan yang lain. Kita bisa mengabaikan perasan mereka. Itu bisa menjadi bagian dari sebuah seni.”
Aku mengambil satu langkah mundur. “Bagaimana kau tahu tentang Ergi-ku?” 
“Dialah yang bersama dengan Nita sekarang. Kau belum tahu itu? Apa Ergi belum memberi tahumu?” 
Tangisku pecah. Kebohongan macam apa ini semua yang terlihat sempurna tiba-tiba berubah menjadi ganjil. 
“Mereka sudah berjalan satu bulan, Ra. Sebenarnya aku tak berniat memberitahumu tapi keadaan ini memaksaku untuk mengatakannya. Kamu berhak bahagia, Ra. Ingat kataku ini kau harus mengubah sudut pandangmu dan jangan berusaha melupakannya. Jika kau membutuhkan bantuan aku akan ada untuk membantumu. Butuh waktu yang lama memang untuk membuatmu tenang. Butuh waktu yang lama untuk membuatmu menemukan jalan pulang. Setiap persoalan selalu memiliki jalan pulangnya sendiri-sendiri. Kamu akan menemukan jalan pulangmu dan menjadi orang kuat. Bersabarlah, Ra! Kesabaran itu yang akan membantumu menemukan jalan pulang.”
Isak tangisku perlahan memudar. Ia bukan sosok yang menggunakan fisiknya untuk membuatku diam. Ia tidak menggunakan pelukan, tidak pula memberikan sandaran bahunya. Ia lebih suka menggunakan katanya untuk membuat hatiku tenang. Aku tahu di dalam hatinya juga sedang berjuang.
“Ra, awas di bawahmu ada kepiting!” teriakmu tiba-tiba.
Aku berteriak dan berlari menjauh. 
“Aku lebih suka melihatmu berteriak daripada menangis,” katamu seraya tersenyum.
Aku mengusap air mataku dan memukul bahunya. “Kau mengagetkanku.”
“Jangan pernah menangis di depan laki-laki lain karena mereka akan memanfaatkanmu. Menangislah di depan laki-laki sepertiku.” 
Deg. Reseptorku bergerak lagi. 
“Jadi boleh kan aku memajang fotomu di pameran?” 
---------------------------------------------------------------------------------------
ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu (Raisa)

Komentar