Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

PERJALANAN TUJUH HARI, JAKARTA!

Kisah perjalanan tujuh hari. Berawal dari celetukan tiga sampai empat tahun yang lalu di masa silam. Jakarta. Orang pasti bertanya ngapain ke Jakarta, sama seperti orang yang saya temui selama di perjalanan kenapa nggak ke Malang, kenapa nggak ke Surabaya di daerah kan lebih bebas dari macet. Siapa bilang macet cuma ada di Jakarta di kota saya juga sering macet pada jam-jam sibuk. Tumpukan volume kendaraan merupakan hal wajar dan itu tidak hanya terjadi di Jakarta.  Akhirnya Tuhan punya rencana lain untuk mewujudkan mimpi saya. Seorang teman dekat diterima CPNS di Jakarta Selatan kira-kira mulai tahun 2015 di sana. Tiba-tiba seorang teman dekat lain mengatakan mari kita ke Jakarta. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Tidakkah indah cara Tuhan menunjukkan kemudahan? 
Hari pertama dimulai dari Stasiun Klaten fix kami mengambil kereta Jalur Selatan. YES. Kereta yang harusnya datang jam 14.56 WIB mundur sampai 15.30 WIB. Mungkin ini pertama kalinya delay kami bahagia karen…

MENGEJAR MATAHARI

Kau membantu menarik tanganku mendaki bebatuan terjal di kaki bukit. Ah, demi mengejar sunrise. “Kau lelah?” tanyamu seraya mengarahkan lampu senter ke pijakan kakiku. Aku menggeleng. “Aku masih kuat.” Aku menggenggam tanganmu erat dan mendorong tubuhku agar berat tubuhku berpindah ke depan kaki belakangku menjadi ringan. “Aku sudah janji akan membawamu ke atas bukit ini jadi bersabarlah sebentar lagi kita sampai,” katamu melegakanku. Aku yang menginginkannya maka aku pula yang harus menanggung konsekuensinya. Nafasku sudah terengah-engah tak beraturan. “Aku sudah melihat puncaknya. Kau benar,” ujarku dengan nafas tersenggal-senggal. Banyak lampu di bawah pertanda sudah aku sudah mencapai puncak bukit.  “Ini baru sebuah bukit bukan gunung. Kau seharusnya lebih latihan fisik,” ejekmu. “Oke. Untuk hal ini aku kalah. Kau pemenangnya,” kataku seraya membayangkan tanganku memegang bendera putih dan berkibar mengikuti gerakan. Kau mengamati jam tanganmu. “Sebentar lagi moment sunrise p…

JANGAN BANDINGKAN AKU DENGANNYA

“Makan di luar yuk!” Kau berpakaian rapi siap pergi. Aku menatapmu aneh. “Ke mana?” tanyaku. “Ke suatu tempat spesial,” jawabmu seraya mendorong tubuhku keluar rumah lagi. “Aku baru sampai. Kau menyuruhku pergi lagi?” tanyaku. “Bukan kau tapi kita,” jawabmu tersenyum. “Kamu nggak masak?” tanyaku seraya melirik ke belakang. Kau menggeleng. “Jadi kamu sengaja berpakaian rapi?” “Hmm,” jawabmu seraya mengangguk. Ini hari ke delapan kau dan aku memulai kehidupan baru dengan cincin yang tersemat di jari – terikat. Aneh saja tiba-tiba kau mengajakku keluar. Mungkin tujuh hari di dalam rumah membuatmu sedikit bosan. “Kita sampai. Kita masuk ke dalam!” ajakmu. Aku hanya diam mengikutimu. Kau yang mencari tempat duduk sampai memesan makanan. “Dulu aku sering ke sini. Tapi sudah setahun lalu aku berhenti ke sini. Padahal makanannya enak.” “Jadi sekarang aku orang pertama yang kau ajak ke sini?” “Begitulah. Ah, ya itu pesanan kita datang!” “Sudah nggak sama mas yang dulu itu?” celetuk seoran…

Rahasia Cintaku

Jam delapan dan ini masih sangat pagi untuk jam buka sebuah caffe. Jelas saja di pintu masuk pun masih tertulis closed tapi kau tetap membuka pintunya. Kulihat semua orang sedang beraktivitas masing-masing mempersiapkan menu bahan dan sebagian lain membersihkan ruangan. Kau pelanggan pertama yang datang. Aku mengizinkan masuk saat kau bilang butuh ruang sendiri dan hanya ingin meneguk minuman sambil berkhayal di pagi hari. Pagi ini kau memesan Mocca Latte kesukaanmu. Kopi, mocca dengan campuran susu pertama hari ini. Aku memilihkan tempat duduk di sisi luar caffe seperti permintaanmu ingin cahaya pagi menyinarimu.  Jam pun telah berputar lima belas menit kulihat tak ada mocca late di mejamu. Aku pun memanggil seorang pegawai untuk menyajikannya tapi ia bilang kehabisan gula dan seseorang lain sedang keluar membelinya.  “Suka mocca latte?” tanyaku mencoba berkenalan denganmu. “Ya,” katanya seraya melepas headset yang masih terpasang. “Perkenalkan aku Arga pemilik caffe ini.” “Rer…

Saat Kau Kembali

Kupejamkan mataku berkali-kali yang muncul hanya bayangmu. Tak kusangka kau berani mengatakannya. Dulu kau bilang kau akan tumbuh lebih tinggi dariku lalu akan bilang menyukaiku suatu saat nanti. Ternyata secepat itu waktu berlalu kau telah tumbuh lebih tinggi dariku kini. Tubuh jangkung, jemari tangan yang besar. Ah, itu semua mengacaukan pikiranku! Aku berguling-guling di kamar tak beraturan. Entah perasaan macam apa ini yang mengalir di setiap pembuluh darahku. Aku merasa tekanan jantungku terlalu cepat. Rasanya ingin meledak dan menjerit. Aku bangun melihat ke cermin tubuhku baik-baik saja. Pipiku tak merah hanya saja tanganku gemetar. Separah inikah setelah kau patah hati lalu beristirahat dengan cinta dan mencoba memulainya lagi. Aku menghelakan nafasku menatap cermin baik-baik. “Mbak, ada Mas Bari di depan rumah,” adik bungsuku berteriak sambil berlari menghampiri.  “Disuruh nunggu ya, Dek!” seruku membuatnya berlari pergi. Sekelumit pikiran rumit menghantuiku. Bahkan tak terpikirk…

Kulakukan Dengan Cinta

“Renata,” panggilku di pintu masuk. “Masuk, Dit. Aku di dapur,” teriakmu. Aku duduk di depan pantrymu. Kau terlihat asyik memotong mentimun, kol dan wortel. Tak ada panci dan penggorengan di kompormu. “Mau masak apa?” tanyaku. “No. Aku tidak memasak hanya mencampurnya lalu kita makan.” Aku mengernyit. “Mentah?” “Ya, kalau mau kau bisa mencicipinya?” Kau menatapku sekejap lalu meneruskan potongan-potongan kecil terakhir pada wortelmu. “Tidak, kau saja yang makan. Aku akan menunggumu makan, lalu kita pergi menyusul yang lain.” Kau bergerak menuju magic com dengan piring di tanganmu. Kau taruh irisan mentimun, kol dan wortel di atas nasi yang telah kau tuang. Tak lupa kau lumuri mayonese dari dalam kulkasmu. Perpaduan warna hijau, putih, oranye di piringmu. “Selesai. Enak lho! Mau coba?” Kau menyodorkan piringmu ke mukaku sangat dekat. “Nggak tertarik,” tepisku. “Jadi begini caramu makan dan membuat tubuhmu ramping?” “Mungkin kebetulan saja aku menyukai ini.” “Kebetulan atau sengaja …

Standar Penilaian Pendidikan Terbaru

Dasar hukum Standar Penilaian Pendidikan adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 23 Tahun 2016 bahwa Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Ruang lingkup penilaian pendidikan pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdiri atas: 1.Penilaian hasil belajar oleh pendidik; Penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk: 1)mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi Peserta Didik; 2)memperbaiki proses pembelajaran; dan 3)…