Langsung ke konten utama

HARI BERSAMANYA



Kamu memenuhi ruang kerja otakku. Memaksaku mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terlewati. Kamu memotong pizza menaruhnya di piringku. Sudah berasa seperti bermain film dengan setting caffe Pizza.
“Kamu kenapa masih single? Tidak mau mencari pacar atau memang tidak mau pacaran?”
Aku hanya tersenyum seraya menguyah pizza pelan-pelan.
“Oke. Aku simpulkan jawaban yang kedua saja.”
Aku tertawa. “Kamu dari dulu belum berubah ya,” celetukku.
“Bukannya kamu yang belum berubah? Asal kamu tahu sekarang aku sudah bisa minum kopi dipagi hari,” katamu diikuti menjulurkan lidah.
“Benarkah? Yakin nggak sakit perut lagi? Ya mungkin saja untuk beberapa hal kamu berubah tanpa sepengetahuanku,” kataku.
Kamu mengamati air minum di gelasku dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Apa kabar ikan mungilmu dulu?”
Glek. Mungkin karena warnanya sama orange kemerahan. Tiba-tiba kau menaruh fettucini setelah melihat piringku kosong. Hal itu sempat membuatku tersenyum sesaat dan ketika tersadar kami membicarakan soal kucing rasa kesal datang.
"Sudah mati dimakan kucing. Menyebalkan sekali kucing tetanggaku itu."
“Jadi kamu juga masih membenci kucing seperti dulu. Itu kan hewan yang sangat lucu.”
Lagi. Kau belum berubah. Masih seperti kau yang kukenal tujuh tahun silam.
“Iya itu menurut kamu, beda kalau versiku.”
“Apa masih sering teriak-teriak minta pertolongan?” candamu.
“Apa sih?” Aku menepuk bahumu.
“Serius kalau dibandingkan sama kucing ekspresi kamu lebih lucu. Apalagi yang naik-naik kursi.”
“Astaga kamu belum lupa. Itu sangat memalukan.” Aku menutup wajahku.
“Udah nggak usah malu,” ujarmu seraya menarik tanganku dari wajah. “Ya karena kucing juga kan kamu bisa kenal sama aku. Kenalannya pakai akrobat segala terlihat alami, natural,” lanjutmu.
“Kamu pikir aku lagi sirkus?”
“Lho, bukannya bener ya?”
“Ngaco ah!” seruku. “Dit, boleh tanya?”
“Apa?” tanyamu membuatku kehabisan kata-kata. Tiba-tiba kau menghentikan aktivitas dan meletakkan kedua tangan ke meja. Tatapanmu mendadak serius.
“Nggak jadi,” jawabku seraya menyendok fettucini dengan gemetar.
“Kalau begitu aku yang akan bertanya. Boleh?”
Glek. Aku merasa fettucini yang kutelan bergejolak di dalam. Hampir saja tersedak.
“Kita aneh ya mau bertanya mesti pakai izin segala,” celetukku seraya mengambil air minum.
“Ya kan aku belum punya SIM K. Surat Izin Menanya Kamu. Jadi aku mau bikin sekarang.” Kamu tertawa. Aku diam dan berpikir ini bercanda atau tidak. Meskipun kamu mengatakan seolah bercanda tapi terlihat sungguhan di mataku. Ah, sungguh kamu sulit ditebak.
“Dit, memang bener ya si Lita udah punya cowok sekarang?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Hah, serius? Kok bisa ya aku ketinggalan info,” jawabnya santai.
“Aku cuma denger aja sih. Belum tanya ke Lita sendiri.”
“Bukannya kalian dekat?”
Aku mengangguk.
“Aku sedikit shock sekarang,” katanya tapi tak terlihat shock pada mimik wajahnya.
“Kenapa, Dit?”
“Sebenernya aku masih suka sama Lita dan sekarang aku penasaran dia dapat cowoknya seperti apa,” jawabmu.
Deg.
“Memangnya setelah tahu kamu bisa apa?” tanyaku.
“Ya cukup lihat dan kamu nanti akan ngerti dengan sendirinya.”
“Iya deh yang lagi patah hati.”
“Kenapa harus patah hati kan ada kamu?”
Deg.
“Apaan sih, Dit? Memangnya aku mau sama kamu?”
“Ya mungkin sekarang belum tapi beberapa tahun ke depan bisa jadi kan?”
“Adit emang dasar ya nggak pernah berubah. Kamu tahu kalau kamu kayak begitu terus nggak bakal punya cewek. Mana ada cewek yang mau sama kamu.”
“Kok bisa?”
“Mereka memang senang diperhatikan, Dit. Tapi nggak begitu caranya. Kamu bisa dengan seketika membuat cewek di angkasa dan dalam sekejap menghancurkannya.”
Kamu menyimakku dengan saksama. Melihatku tanpa berkedip membuat canggung.
“Kalau suka seseorang kamu cukup menampakannya hanya pada satu orang saja sampai si cewek menangkap sinyal yang kamu berikan. Kalau kamu menampakan ke semua cewek mereka selamanya nggak akan percaya sama kamu. Mereka akan berpikir macam-macam tentang kamu seperti apa yang pertama kali dilihat dan mereka simpulkan sendiri.”
Kamu tersenyum lalu meneguk minuman.
“Ini minuman apaan sih? Asam banget.”
“Itu kan ada jeruknya, Dit.”
Adit meletakkan gelasnya. “Menyambung pendapatmu tadi ya. Bagaimana kalau selama bertahun-tahun kita mengirim sinyal ke cewek tapi si cewek pura-pura nggak tahu?”
Glek.
“Emm, mungkin kamu bisa terang-terangan. Ya ngomong langsung aja biar nggak salah paham.”
Panik aku meneguk minuman sampai habis.
“Kalau dia tiba-tiba kabur, menghilang, nggak mau ketemu, jadi jauh, seperti orang asing?”
“Waduh, gimana ya? Kalau itu aku belum pernah tanya ke cewek-cewek lain sih.”
“Kalau kamu sendiri mau kabur, menghilang, nggak mau ketemu atau gimana?”
Glek. Aku menghentakkan gelasku dengan keras, mendengut ludah dan menggigit jari.
“Aku bercanda. Udah nggak usah dipikir serius,” katamu seraya menaruh potongan pizza terakhir ke piringku. Aku hanya bisa menatapnya bingung.
“Daripada mikir serius udah itu dimakan sampai habis. Aku tungguin.”
Lalu kamu menyuruhku menghabiskan potongan pizza terakhir.
“Aku suka jalan sama kamu ya begini. Mau disuruh makan banyak mau-mau aja nggak nolak dan kamu itu nggak takut gendut,” ujarnya seraya mengangkat gadget-nya ke udara dan wajah kami berpindah ke layarnya. Aku tersenyum dengan sendok di tangan, sedangkan kamu membuat ekspresi wajah aneh ke arahku.
***
____________________________________
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan untuk menatap matanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku bersamanya
Hariku bersamanya
Kau tahu betapa aku lemah dihadapannya
Kau tahu berapa lama aku mendambanya
(Sheila on 7)

Komentar