Langsung ke konten utama

ANDAI DIA TAHU



Gadis satu itu tak jua membuatku lelah menatap. Dia lebih menarik dari kue tart di depanku. Lebih menarik dari acara surprise party yang dibuat adikku. Ah, gadis itu kenapa berpindah tempat disaat aku ingin memberikan potongan kue pertamaku.
"Kuenya mau diberikan siapa Kak?" tanya Loli, adikku yang sedang penasaran.
Aku melempar pandanganku ke seluruh ruangan. Dia tak ada. Kemana?
"Kak?"
Aku tersenyum. Pada akhirnya kue itu berpindah tangan ke Loli.
"Yeah! Aku mengalahkan Mama Papa," celetuk Loli kegirangan.
Ku ikuti proses acara hingga runtut. Ketika sampai pada acara hiburan Loli sedikit melancarkan protesnya.
"Kak, ga suka sama surprise party buatanku ya? Dari tadi kakak gagal fokus deh!" keluhnya kesal.
"Nggak. Kakak suka kok."
"Kakak lagi nunggu seseorang ya? Terus dia ga datang? Kok kelihatan gelisah gitu sih?" tanya Loli menyelidik.
Aku tertawa. Bukan karena lucu. Kecil-kecil begitu Loli bisa membaca pikiranku.
"Kak, tadi aku dari toilet nggak sengaja lihat temen kakak. Teman kakak tadi kok di luar sih? Lebih milih duduk di tangga keluar lagi. Kayak nggak ada tempat lain aja."
"Siapa? Cewek?" tanyaku sedikit berharap gadis pinkku.
"Iya cewek. Kok tatapan mata kakak jadi berubah? Seperti ada sesuatu yang pengen meledak keluar," celetuk Loli menjurus pada pikiranku.
"Apa sih, dek? Udah ah aku mau ke toilet dulu."
"Ke toilet atau nyamperin? Ehm," goda Loli seraya memincingkan matanya dan mencubitku.
Aku merapikan bajuku. "Ke toilet dulu," jawabku.
"Suit suit. Aku bilangin ke Mama lho," goda Loli seraya menjulurkan lidah.
Aku pun memberinya kedipan mata. Itu membuatnya agak kaget dan meninggalkanku. Akhirnya setelah pura-pura keluar dari toilet aku menghampiri gadis dengan dress pink yang duduk di tangga, sendirian.
"Hei, kamu kenapa keluar? Nggak suka sama acaranya ya?" tanyaku yang berdiri di belakangnya.
Dira menoleh. "Nggak kok. Aku cuma tidak suka keramaian, Dit."
"Jadi lebih suka sendirian?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Ia melempar senyumnya kepadaku.
"Kamu beda ya dari cewek di dalam sana. Mereka asyik bertukar pikiran dengan teman mereka. Apa kamu nggak tertarik?" selidikku.
"Aku tidak suka suara bising. Aku lebih nyaman di sini. Di luar sini aku tak perlu mendengar suara melengking yang menggebu-gebu, tak perlu melihat banyak topeng," jawabnya seraya tersenyum lagi.
"Wow, menarik. Kamu ternyata..." kataku belum selesai.
"Aneh?" potongmu.
"Nggak. Bukan begitu. Aku pikir kamu itu orangnya tertutup tapi ternyata nggak seperti yang aku pikirkan selama ini," lanjutku.
Ia tersipu.
"Ya, seperti yang orang kebanyakan pikir tentangku. Pasti kamu juga mikir kalau aku itu kalem, tidak banyak omong, dan kurang bergaul."
"Emm, jujur iya. Itu yang selama ini aku lihat di diri kamu. Tapi sepertinya aku salah kali ini."
Kali ini Dira tertawa. Lucu sekali. Suara tawanya berbeda dari yang selama ini kudengar seperti ada nada naik dan turun yang silih berganti. Entahlah mungkin karena aku berada sedekat ini tak seperti sebelumnya.
"Oh, ya aku nggak ganggu kamu kan di sini?"
"Kalau cuma satu dua orang sih nggak. Tapi kalau kamu bawa teman satu rombongan kamu dari dalam iya," jawab Dira sambil tersipu.
"Ya, sepertinya aku mulai paham. Kamu nggak capek sendirian?"
"Kamu nggak capek kumpul sama teman-teman kamu?" tanyanya balik membuatku diam.
"Seperti kamu, kurasa ketika kita sudah terbiasa sendiri atau berkumpul bersama dengan keramaian semuanya akan terasa nyaman. Justru ketika kita melakukan hal kebalikan, kadang itu yang membuat kita merasa nggak nyaman," jelasnya membuatku mati gaya. "By the way, selamat ulang tahun ya," lanjutnya membuat pipiku memerah.
"Terima kasih. Kamu tadi datangnya sendirian atau sama temen?"
"Aku sama temen. Dia masih ada di dalam. Nita kamu kenalkan? Dia masih satu fakultas sama kita tapi beda jurusan."
"Oh ya, Nita yang tadi pakai baju biru. Dia temanku SMA. Kalian dekat?"
"Emm, ya tentu saja. Dia my best friend," jawabmu membuatku sedikit ada harapan menggali informasi dari si Nita.
"Wow, dunia itu sempit ya. Aku nggak nyangka setelah hampir empat tahun kita kenal, baru ketahuan sekarang siapa kamu."
"Nggak juga. Mungkin kamu aja yang kurang mengamati. Aku tahu tentang kamu dari dulu."
"Oh ya? Tentang apa saja?" tanyaku penasaran.
"Kamu lebih suka main basket daripada main bola. Kamu lebih suka warna hitam daripada warna cerah. Kamu lebih suka dengan rambut belah pinggir daripada tengah. Kamu lebih suka datang kesiangan daripada kepagian. Kamu lebih suka duduk di kursi belakang daripada depan atau tengah. Kamu sering nganter Loli dulu sebelum berangkat kuliah. It is true?"
"Wow, kamu bahkan bisa menyebutkan semuanya tanpa ragu-ragu. Hebat," pujiku. Astaga hatiku menjadi tak beraturan. Ia diam-diam mengamatiku sedetail itu.
"Ah, itu karena aku melihat hampir setiap hari. Wajar kan."
"Kamu bisa nebak isi pikiranku nggak?" celetukku tiba-tiba.
Ia mengangkat alisnya. "Nggak ah, aku takut salah."
"Aku kasih beberapa kata kunci. Coba tebak," pintaku.
"Okei karena kamu sedikit memaksa akan aku coba."
"Perempuan, manis."
Ia tertawa. "Apa itu yang selalu ada dipikiran laki-laki? Perempuan."
"Bisa jadi."
"Kamu sepertinya sedang suka sama seorang perempuan ya? Itu alasan kenapa kata kuncinya perempuan, manis pula."
"Kamu bisa tebak siapa perempuannya?" tanyaku.
Ia mengerutkan keningnya sungguh terlihat cantik saat diam dan berpikir.
"Emm, mungkin orangnya..."
"Kak, lama banget sih ke toiletnya! Acaranya udah hampir kelar nih. Masuk, gih! Ntar kemaleman," potong Loli yang tiba-tiba berdiri di depanku dan Dira.
Aku mengangguk dan Loli pun masuk duluan tanpa kata-kata selanjutnya.
Sebenarnya perempuan itu adalah... "Kamu," kataku seraya berdiri.
Dira mendongak dan mengangkat alisnya.
"Maksudku kamu nggak ikut masuk ke dalam?" tanyaku agak canggung.
"Oh, ya. Tentu aku ikut masuk," katanya seraya bersiap-siap berdiri.
Aku mengulurkan tanganku. Ia menyambut uluran tanganku. Itu pertama kalinya aku merasakan tangannya yang hangat. Kehangatan itu mengalir sampai hatiku, andai ia tahu.

------------------------------------------------
Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkin kah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
(Kahitna)

Komentar