Rabu, 05 Agustus 2015

ANDAI DIA TAHU




Gadis satu itu tak jua membuatku lelah menatap. Dia lebih menarik dari kue tart di depanku. Lebih menarik dari acara surprise party yang dibuat adikku. Ah, gadis itu kenapa berpindah tempat disaat aku ingin memberikan potongan kue pertamaku.
"Kuenya mau diberikan siapa Kak?" tanya Loli, adikku yang sedang penasaran.
Aku melempar pandanganku ke seluruh ruangan. Dia tak ada. Kemana?
"Kak?"
Aku tersenyum. Pada akhirnya kue itu berpindah tangan ke Loli.
"Yeah! Aku mengalahkan Mama Papa," celetuk Loli kegirangan.
Ku ikuti proses acara hingga runtut. Ketika sampai pada acara hiburan Loli sedikit melancarkan protesnya.
"Kak, ga suka sama surprise party buatanku ya? Dari tadi kakak gagal fokus deh!" keluhnya kesal.
"Nggak. Kakak suka kok."
"Kakak lagi nunggu seseorang ya? Terus dia ga datang? Kok kelihatan gelisah gitu sih?" tanya Loli menyelidik.
Aku tertawa. Bukan karena lucu. Kecil-kecil begitu Loli bisa membaca pikiranku.
"Kak, tadi aku dari toilet nggak sengaja lihat temen kakak. Teman kakak tadi kok di luar sih? Lebih milih duduk di tangga keluar lagi. Kayak nggak ada tempat lain aja."
"Siapa? Cewek?" tanyaku sedikit berharap gadis pinkku.
"Iya cewek. Kok tatapan mata kakak jadi berubah? Seperti ada sesuatu yang pengen meledak keluar," celetuk Loli menjurus pada pikiranku.
"Apa sih, dek? Udah ah aku mau ke toilet dulu."
"Ke toilet atau nyamperin? Ehm," goda Loli seraya memincingkan matanya dan mencubitku.
Aku merapikan bajuku. "Ke toilet dulu," jawabku.
"Suit suit. Aku bilangin ke Mama lho," goda Loli seraya menjulurkan lidah.
Aku pun memberinya kedipan mata. Itu membuatnya agak kaget dan meninggalkanku. Akhirnya setelah pura-pura keluar dari toilet aku menghampiri gadis dengan dress pink yang duduk di tangga, sendirian.
"Hei, kamu kenapa keluar? Nggak suka sama acaranya ya?" tanyaku yang berdiri di belakangnya.
Dira menoleh. "Nggak kok. Aku cuma tidak suka keramaian, Dit."
"Jadi lebih suka sendirian?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Ia melempar senyumnya kepadaku.
"Kamu beda ya dari cewek di dalam sana. Mereka asyik bertukar pikiran dengan teman mereka. Apa kamu nggak tertarik?" selidikku.
"Aku tidak suka suara bising. Aku lebih nyaman di sini. Di luar sini aku tak perlu mendengar suara melengking yang menggebu-gebu, tak perlu melihat banyak topeng," jawabnya seraya tersenyum lagi.
"Wow, menarik. Kamu ternyata..." kataku belum selesai.
"Aneh?" potongmu.
"Nggak. Bukan begitu. Aku pikir kamu itu orangnya tertutup tapi ternyata nggak seperti yang aku pikirkan selama ini," lanjutku.
Ia tersipu.
"Ya, seperti yang orang kebanyakan pikir tentangku. Pasti kamu juga mikir kalau aku itu kalem, tidak banyak omong, dan kurang bergaul."
"Emm, jujur iya. Itu yang selama ini aku lihat di diri kamu. Tapi sepertinya aku salah kali ini."
Kali ini Dira tertawa. Lucu sekali. Suara tawanya berbeda dari yang selama ini kudengar seperti ada nada naik dan turun yang silih berganti. Entahlah mungkin karena aku berada sedekat ini tak seperti sebelumnya.
"Oh, ya aku nggak ganggu kamu kan di sini?"
"Kalau cuma satu dua orang sih nggak. Tapi kalau kamu bawa teman satu rombongan kamu dari dalam iya," jawab Dira sambil tersipu.
"Ya, sepertinya aku mulai paham. Kamu nggak capek sendirian?"
"Kamu nggak capek kumpul sama teman-teman kamu?" tanyanya balik membuatku diam.
"Seperti kamu, kurasa ketika kita sudah terbiasa sendiri atau berkumpul bersama dengan keramaian semuanya akan terasa nyaman. Justru ketika kita melakukan hal kebalikan, kadang itu yang membuat kita merasa nggak nyaman," jelasnya membuatku mati gaya. "By the way, selamat ulang tahun ya," lanjutnya membuat pipiku memerah.
"Terima kasih. Kamu tadi datangnya sendirian atau sama temen?"
"Aku sama temen. Dia masih ada di dalam. Nita kamu kenalkan? Dia masih satu fakultas sama kita tapi beda jurusan."
"Oh ya, Nita yang tadi pakai baju biru. Dia temanku SMA. Kalian dekat?"
"Emm, ya tentu saja. Dia my best friend," jawabmu membuatku sedikit ada harapan menggali informasi dari si Nita.
"Wow, dunia itu sempit ya. Aku nggak nyangka setelah hampir empat tahun kita kenal, baru ketahuan sekarang siapa kamu."
"Nggak juga. Mungkin kamu aja yang kurang mengamati. Aku tahu tentang kamu dari dulu."
"Oh ya? Tentang apa saja?" tanyaku penasaran.
"Kamu lebih suka main basket daripada main bola. Kamu lebih suka warna hitam daripada warna cerah. Kamu lebih suka dengan rambut belah pinggir daripada tengah. Kamu lebih suka datang kesiangan daripada kepagian. Kamu lebih suka duduk di kursi belakang daripada depan atau tengah. Kamu sering nganter Loli dulu sebelum berangkat kuliah. It is true?"
"Wow, kamu bahkan bisa menyebutkan semuanya tanpa ragu-ragu. Hebat," pujiku. Astaga hatiku menjadi tak beraturan. Ia diam-diam mengamatiku sedetail itu.
"Ah, itu karena aku melihat hampir setiap hari. Wajar kan."
"Kamu bisa nebak isi pikiranku nggak?" celetukku tiba-tiba.
Ia mengangkat alisnya. "Nggak ah, aku takut salah."
"Aku kasih beberapa kata kunci. Coba tebak," pintaku.
"Okei karena kamu sedikit memaksa akan aku coba."
"Perempuan, manis."
Ia tertawa. "Apa itu yang selalu ada dipikiran laki-laki? Perempuan."
"Bisa jadi."
"Kamu sepertinya sedang suka sama seorang perempuan ya? Itu alasan kenapa kata kuncinya perempuan, manis pula."
"Kamu bisa tebak siapa perempuannya?" tanyaku.
Ia mengerutkan keningnya sungguh terlihat cantik saat diam dan berpikir.
"Emm, mungkin orangnya..."
"Kak, lama banget sih ke toiletnya! Acaranya udah hampir kelar nih. Masuk, gih! Ntar kemaleman," potong Loli yang tiba-tiba berdiri di depanku dan Dira.
Aku mengangguk dan Loli pun masuk duluan tanpa kata-kata selanjutnya.
Sebenarnya perempuan itu adalah... "Kamu," kataku seraya berdiri.
Dira mendongak dan mengangkat alisnya.
"Maksudku kamu nggak ikut masuk ke dalam?" tanyaku agak canggung.
"Oh, ya. Tentu aku ikut masuk," katanya seraya bersiap-siap berdiri.
Aku mengulurkan tanganku. Ia menyambut uluran tanganku. Itu pertama kalinya aku merasakan tangannya yang hangat. Kehangatan itu mengalir sampai hatiku, andai ia tahu.

------------------------------------------------
Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkin kah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
(Kahitna)

Senin, 03 Agustus 2015

FIRASATKU





Menunggu bukan pekerjaan mudah. Apalagi sendiri di tepian jalan dan orang yang kau tunggu tak kunjung datang.
"Ra, udah sendirian dari tadi?" tanya Ben membuat air mataku sedikit keluar.
Aku mengangguk dan mengusap air mataku. Ben turun dari motornya dan memakaikan helm ke kepalaku.
"Ayo naik!"seru Ben seraya menepuk jok motornya.
Aku diam.
"Kamu marah?"
"Nggak," jawabku seraya menaiki motor Ben.
"Sudah berapa lama kamu berdiri di situ tadi?" tanya Ben sembari tersenyum dan menyalakan mesin.
"Satu setengah jam," kataku seraya melihat jam tangan.
"Kenapa tadi nggak bilang? Aku bisa jemput kamu lebih cepat," ujar Ben menawarkan diri.

Motor Ben akhirnya berjalan. Kuhela nafas panjang entah bentuk kelegaan atau kekecewaan. Beribu rasa berkecamuk di dalam dada itu yang kutahu saat ini.
"Ben, apa salah kalau aku menunggu seseorang yang kupercayai. Lalu ternyata orang itu mengabaikanku seperti ini."
"Apa?" tanya Ben terdengar samar karena terkena efek angin.
Aku diam. Mungkin kesalahan mengajak orang bicara saat mengendarai kendaraan. Angin menghamburkan suaraku.
"Jangan berpikir macam-macam dulu," teriak Ben.
"Ini pertama kalinya aku diam-diam keluar tanpa sepengetahuan orang tuaku hanya ingin meluangkan sedikit waktu dengannya setelah tiga bulan kami bersama. Apa aku salah?" tanyaku.
Ben menghentikan motornya. Aku kaget dan melongok ke depan ternyata lampu merah.
"Ya sedikit salah karena kamu tidak izin dulu dan sedikit lainnya susah dijelaskan," jawabnya seraya menoleh.
"Kenapa dia tidak pernah mengerti waktu adalah segalanya bagiku? Dia selalu melewatkannya begitu saja. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Apa kamu tahu apa itu?" selidikku.
"Aku kurang tahu," jawab Ben. "Dia tak pernah bercerita selain tentang kamu."
"Meskipun kamu mengatakan seperti itu aku masih tak percaya. Pasti ada yang dia sembunyikan."
"Kenapa kamu tak bertanya padanya saja?"
"Dia selalu bisa mengalihkan pembicaraan."
"Kenapa kamu tak coba biarkan dia yang bercerita dengan sendirinya?"
"Ben kau menyuruhku menunggunya seperti yang kulakukan tadi? Apa jadinya kalau kamu tidak datang? Mungkin dia akan membiarkanku berdiri di sana sampai lewat tengah malam."
"Ra, menunggu dia mengatakannya tidak akan selama kamu menunggunya tadi asal kamu berani bertanya."
Aku diam.
"Kamu tahu ada banyak jenis kebohongan di dunia ini. Kalau kamu merasa dia sedang berbohong ya tunggu saja sampai terbukti daripada jadinya fitnah."
"Jadi benar dia sedang menyembunyikan sesuatu?" Aku menunduk memandangi aspal yang terlihat membara.
"Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Dia bukan orang yang seperti itu. Kamu juga sudah mengenalnya kan?"
Aku diam beberapa saat. Motor Ben mulai melaju lagi. Kupandangi gedung-gedung bertingkat, kakek nenek menyebrang jalan sambil bergandengan tangan. Astaga pikiranku semakin menjadi-jadi.
"Ben, antarkan aku pulang sekarang!" seruku. "Aku mau pulang sekarang. Kalau kau keberatan mengantarku pulang, aku akan pulang sendiri," lanjutku. Sepertinya aku berubah pikiran. Pikiranku sedang kalut tak siap bertemu dengan Rey.
"Ra, kamu yakin mau pulang? Setelah menunggunya berjam-jam?" tanya Ben.
Aku terdiam. Nyeri menyelimuti dadaku. Aku menekan rasa itu perlahan dan Ben melihatku dari kaca spion.
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang."
Ben mencari jalan putar arah. Kami terkena lampu merah di persimpangan tadi hanya berlawanan arah. Ben terlihat sibuk mengetik sesuatu. Aku diam tak mengajaknya bicara.

"Ra jangan membuat keputusan dengan suasana seperti ini. Dinginkan kepalamu dulu. Aku yakin dia ingin melakukan sesuatu yang baik untukmu. Dia sedang berusaha. Kamu pikirkan lagi ya," seru Ben seraya melepas helmku setelah sampai depan rumah.
"Terima kasih untuk semuanya Ben," kataku.
Ben melambaikan tangannya dan bergegas pergi. Aku sudah merepotkannya dalam situasi seperti ini. Ini bukan kali pertama karena Rey sudah sering melakukannya dan aku sudah sering memaafkannya.

Deg. Kamu yang berdiri di sana membuat dadaku bergemuruh. Menungguku di depan rumah sementara aku telah menunggu lama di tepian jalan.
"Kamu marah?" ujarmu yang tiba-tiba menghampiriku.
"Nggak," jawabku seraya menarik tanganmu menjauhi pintu gerbang.
"Lalu kenapa seperti ini?" Kau melepas tanganku pelan-pelan.
"Nggak papa. Kenapa kamu di sini?" tanyaku.
"Aku minta maaf."
"Kenapa kamu minta maaf? Memangnya kamu salah apa?"
"Apapun salah yang ku perbuat hari ini. Sekali lagi maaf," jawabmu.
"Kamu selalu minta maaf tapi tak pernah tahu alasan kamu minta maaf. Jujur aku bosan mendengar kamu minta maaf."
"Kenapa nadamu meninggi? Kamu marah ya?"
Aku diam dan melipat tanganku di depan dada.
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka? Seperti orang-orang yang mudah mengatakan sesuatu tanpa ada yang disembunyikan. Ketika kecewa mereka mengatakan kecewa, ketika bahagia mereka mengatakan bahagia."
Kau diam.
"Kenapa kamu membuatku lama menunggu seperti orang gila di pinggir jalan. Kenapa kamu tidak segera datang? Kamu tahu waktu sangat berharga bagiku. Kenapa kamu justru menyuruh orang lain untuk datang menjemputku bukan kamu sendiri? Kenapa bukan kamu yang datang menjemput meskipun sudah terlambat dan kenapa kamu pergi ke sini hanya untuk minta maaf?" tanyaku membuat air mata terdesak di sudut.
"Aku salah. Aku mengaku salah membiarkanmu berpikir tidak-tidak seperti ini Ra. Maaf,"katamu.
"Aku bosan, Rey. Kenapa tak langsung kau jelaskan saja alasannya. Kenapa kamu minta maaf lagi? Aku tidak suka mendengarnya. Seolah kata maaf itu menjadi kebiasaan dan kehilangan maknanya."
"Kamu yang bilang suka kejutan. Aku sedang berusaha menciptakan kejutan untukmu di kencan pertama ini. Biarpun kamu diam-diam tidak mengatakan pada orang tuamu, aku diam-diam menemui orang tuamu. Tapi ternyata aku ditahan lama di sini. Aku berusaha membuktikan bahwa aku benar-benar serius menyukaimu. Saat mereka setuju aku baru akan meninggalkan rumahmu tapi ternyata Ben mengirim pesan mengatakan bahwa kau minta pulang ke rumah. Aku menyuruh Ben untuk menahanmu tapi dia tak tega membiarkanmu berlarut-larut menahan perasaanmu di jalanan. Akhirnya aku menunggumu di sini."
Tangisku pecah. Air mata sudah tak mampu dibendung. Astaga baru pertama kali aku menangis di hadapmu. Aku sudah melakukan kejujuran atas perasaanku.
"Jika itu membuatmu terluka aku tak akan mengulanginya," ujarmu membuatku semakin sesengukan.
"Sudah jangan menangis lagi. Nanti kamu bisa berubah menjadi ikan mas koki. Bagaimana kalau sekarang aku meminta izin menculikmu sebentar. Maukah kamu menungguku di sini sebentar?"

-------------------------------------------------------------
Caramu mencintai aku membuat diriku bertanya
Bisa saja ada yang tersembunyi
Firasatku mengatakan itu
Ingin aku bertanya padamu tentang sesuatu di dalam dirimu
Masihkah ada rahasia yang tersimpan
jauh di dalam hatimu yang tak dapat kumengerti
Maukah engkau bicara jujur padaku
Hingga bisa aku tahu yang tersimpan di hatimu (Piyu)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...