Langsung ke konten utama

MANTAN TERINDAH



Seribu langkah kecil berlari pada jalanan setapak berbatu yang cukup menyulitkan. Ia terseok-seok. Lalu suara isak tangis terdengar pecah terlebih dulu. "Jangan pergi! Jangan. Jangan pernah," teriak wanita itu. Aku terbangun karena dadaku terasa sesak. Mimpi buruk itu lagi. Keringat dingin mengucur melewati pipi. Ini tanggal sepuluh di bulan Juni. Masih belum kulupakan dan tersimpan rapi. Sudah setahun aku melakukan kesalahan besar. Mungkin itu alasan mengapa aku dihantui setiap terlelap di malam hari. 

"Kenapa, Yah?" tanya wanita cantik di sampingku yang telah mendukungku setahun ini.

"Hanya mimpi buruk," jawabku seraya beranjak dari tempat tidur."Mau kemana?""Ke kamar mandi."Mulailah aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganmu masih berlarian di kepalaku. Kau masih sayup-sayup terdengar memanggil namaku.Kunyalakan lampu di ruang sebelah. Kukeluarkan sebuah kepingan CD dari laci almari dekat TV paling bawah. Tidak seharusnya kepingan itu kulihat sekarang tetapi tanganku sudah terlanjur menyalakan televisi. Baiklah mungkin hanya untuk sebentar. Yohana juga tidak akan tahu jika volume suara ku setting pelan. Lagi pula ia sedang tidur."Sini-sini biar aku yang rekam. Hai, aku Nadine. Cita-cita menjadi seorang perancang terkenal," katamu dalam video yang kulihat."Kalau kamu mau jadi apa, Dit?" lanjutmu seraya menyorot wajahku di video itu."Jadi lelaki sejati," jawabku."Terlalu global. Ga asik. Ayo dong pikirkan lagi sesuatu yang lebih spesifik!" pintamu seolah kau adalah seorang wartawan dan aku nara sumbernya."Bagaimana kalau jadi nahkoda atau supir?" tanyaku."Hah?" Kau agak tidak percaya pada apa yang kukatakan."Iya karena nahkoda bisa menuntunmu mengarungi samudra kehidupan dan supir bisa mengantarmu ke tempat yang ingin kau tuju~kebahagiaan."Kau tersipu. "Dan kita akan mengarunginya bersama-sama."Kau pun menyorot wajah kita berdua. "Dit, senyum ke kamera. Sebagai kenang-kenangan kita berdua. Siapa tahu aku jadi perancang terkenal kelak," katamu.Kita berdua pun tersenyum. Sekejap terlihat aku mencuri pandang padamu. Kau yang masih bertingkah seperti anak kecil cukup menggemaskan di mataku.Ah, sepertinya cukup. Aku mematikan video itu. Sudah sedikit terasa hangat di hati. Ku kembalikan kepingan CD itu. Ketika berbalik badan Yohana sudah di belakangku."Yah, kenapa terlihat resah? Mikirin apa?" tanya Yohana seraya mengucek matanya dan berjalan menghampiriku."Tidak apa-apa hanya masih terbayang mimpi buruk tadi.""Cerita dong, Yah," pintamu seraya menguap."Itu masih ngantuk. Sudah tidur saja dulu. Nanti kalau kamu bangun aku baru cerita.""Tidak, kali ini itu tidak akan mempan. Kau sudah hutang cerita banyak. Aku istrimu. Aku berhak tahu.""Baiklah aku akan mendongeng sedikit," kataku sedikit membuat wajahnya serius. "Selesai," lanjutku seraya berjalan kembali ke kamar."Apanya? Belum juga cerita, sudah main selesai-selesai," kata Yohana seraya menghadangku.Aku tak sanggup mengatakannya. Rasa takut mulai menjamahi tubuhku. Aku sudah pernah kehilanganmu, dan aku tak ingin kehilangannya.Setelah cukup lama berdiam dengan tatapannya yang menyelidik aku tak tahan lagi."Baiklah kalau kau memaksa. Peraturan pertama dengarkan saja. Kedua jangan berpikir yang tidak-tidak ya Bun. Aku akan mulai bercerita. Dalam mimpi itu aku menemukan seorang perempuan.""Apa dia cantik?" Yohana bertanya."Bun, ingat peraturan pertama. Dengarkan dulu.""Baiklah," jawabnya seraya menutup mulut."Perempuan itu tengah memakai gaun cantik. Ia bercermin dan berputar berkali-kali menunjukkannya pada seorang laki-laki. Laki-laki itu hanya tersenyum."Dia terlihat serius menyimak ceritaku."Lalu mereka terlihat keluar dari sebuah butik membawa gaun putih yang tadi dipakai. Si perempuan menggamit tangan laki-laki. Sepanjang hari keduanya berputar-putar keliling kota. Setelah lelah mereka berhenti pada sebuah tempat makan dan memilih out door. Si perempuan memperlihatkan gambar-gambar gaun indah. Si laki-laki justru mengamati ekspresi dan gaya bicara si perempuan.""Lalu?""Si laki-laki mengatakan sesuatu pada si perempuan. Sudah selesai.""Lalu bagian mimpi buruknya sebelah mana? Menurutku itu seperti cerita sepasang kekasih biasa," sahut Yohana."Ya berakhir, setelah laki-laki mengatakan sesuatu. Perempuan itu menangis. Memukul-mukul dada si laki-laki tanpa daya. Lalu si laki-laki mengucapkan maaf berulang kali dan meninggalkan perempuan itu sendiri. Perempuan itu lalu datang dalam mimpi setiap malam mengatakan jangan pergi.""Jadi maksudnya wajah perempuan itu yang seram, seperti di film horor dan mengatakan jangan pergi sambil ngesot atau melotot?" tanyanya lugu.Aku menggenggam tangan Yohana. Jemarinya mungil seperti jemari tanganmu. Seandainya saja dia adalah kau."Laki-laki itu aku, Bun dan sebenarnya itu kenyataan yang membekas dan berulang dalam ingatan."Yohana terperanjat dan melepas genggaman tangannya."Yah, bagaimana mungkin kau simpan rapat-rapat kejadian itu selama satu tahun?"Ia menghempaskan badan ke sofa."Aku tak ingin membuatmu cemas. Tapi bukankah kau yang ingin mengetahuinya sekarang?"Ia pun terdiam dan meremas rambut di bagian atas dahi."Maaf, Bun. Aku pernah menjadi lelaki jahat. Sehari sebelum pernikahan aku baru mengatakan kalau kita akan menikah meskipun kau bilang aku harus memberitahunya seminggu sebelum pernikahan."Hening."Di hari pernikahan kita dia datang dengan gaun hitam. Aku rasa kau mengenalinya tapi aku tetap tak ingin mengatakan siapa dia.""Kenapa kau tak mengatakannya dulu? Kalau kau mengatakan hari itu aku masih bisa membatalkannya." Air matamu mulai terjun bebas. "Aku wanita. Aku tahu bagaimana rasanya kau ungkapkan itu satu hari sebelum hari bahagiamu dan menyuruhnya datang."Aku memeluk Yohana. "Maaf. Sekarang aku telah melukai dua orang yang kusayangi. Tapi aku tak ingin membiarkanmu pergi, seperti aku membiarkannya pergi."Masih terdengar isakkan tangisnya di dalam pelukanku."Aku tahu dia wanita yang kuat. Aku yakin dia akan cepat bangkit dan menjalani hidupnya tanpa aku. Kamu lebih membutuhkanku daripada dia.""Wanita itukah? Satu-satunya wanita yang tak bahagia di hari itu. Sekarang aku tahu alasannya mengapa ia mengatakan menyempatkan diri datang disaat ia sedang berbela sungkawa.""Kau benar. Dia yang telah membuatkanmu gaun indah yang membuatmu terlihat semakin cantik.""Jadi gaun putih yang kupakai saat pernikahan kita adalah hasil rancangannya. Mengapa kamu tega melakukan itu padanya?""Aku ingin membuatnya tersenyum. Ia sangat ingin gaun rancangannya dipakai oleh seseorang. Itu mimpinya. Karena aku tak bisa mengabulkan harapannya untuk tetap ada di sampingnya, jadi aku menyuruhmu mendatangi dia dan memesan gaun itu. Paling tidak aku memberinya sebuah senyuman sebelum merampasnya kembali."Tiba-tiba aku mengingat kembali hari-hari yang telah kita habiskan bersama. Kau dan aku mengarungi luasnya samudra hidup tetapi aku telah lalai menjadi seorang nahkoda. Aku telah menabrak karang dan membuatku terdampar di negeri orang. Aku telah gagal menjadi supir. Aku memang mengantarmu sampai ke tempat tujuan tetapi aku berbelok dan bertemu penumpang baru yang meminta tolong padaku.Nadine. Tidak ada yang bisa menggantikanmu dalam mimpi itu. Mimpi yang terus berputar ulang seperti sebuah rekaman. Ternyata kau terlalu indah untuk dilupakan. Kau mampu memaksa memoriku untuk mengingat luka yang kutinggalkan dan aku tak akan mengulangi kisah itu pada Yohana. Aku akan berlayar dengannya, menjadi nahkoda yang perkasa. Bagiku kau tetap akan jadi mantan terindah dalam hidupku yang pernah mengajariku mengarungi samudra kehidupan walaupun sesaat. Aku masih merindukanmu, Nadine tapi aku sudah memiliki seorang yang merindukanku setiap hari."Yah, aku minta maaf. Karena aku kau sekarang tak bisa bersama perempuan itu," kata Yohana seraya mengusap linangan air di pipi."Itu sudah berlalu. Kita jalani saja apa yang ada di depan mata kita," sahutku.Ya seperti kau menjalani hidupmu tanpa aku yang pernah menghianati kesetiaanmu."Yah, bagaimana jika aku menemuinya dan meminta maaf? Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?"Deg.__________________________________Mau dikatakan apa lagiKita tak akan pernah satuEngkau di sana, aku di siniMesti hatiku memilihmuAndaiku bisaIngin aku memelukmu lagiDi hati ini hanya engkau mantan terindahYang selalu ku rindukanEngkau meminta padakuUntuk mengatakan bila ku berubahJangan pernah kau ragukanEngkau kan selalu di langkahkuYang tlah kau buatSungguhlah indahBuat diriku susah lupa (Kahitna)

Komentar