Langsung ke konten utama

Jangan Beritahu Niah

”Jangan hukum aku jika suatu saat nanti kau tahu,” batinku dalam hati. 

Aku memandang jauh ke depan jendela yang tertutup rapat. Sudah lama sekali jendela itu tak terbuka. Rumah itu tak berpenghuni semenjak delapan tahun yang lalu pemiliknya pergi. Orang sekitar bilang rumah angker tapi tidak bagiku. Ada wanita cantik di sana yang selalu memanggil ingatanku di pagi hari. Dulu wanita itu mengajakku berangkat sekolah bersama, memilih teman yang sama, menyuruhku memiliki hobi yang sama seolah kebersamaan itu melekat dan tak terpisahkan dari kami. Dia pun semakin lama tumbuh menjadi dewasa tapi aku tak menyaksikannya.
"Ini kopinya, Mas. Kok setiap pagi nongkrong di depan jendela, apa nggak bosan?" tanyamu meletakkan cangkir kopiku di meja.
"Mumpung masih pagi udaranya masih segar. Lho kamu tidak siap-siap berangkat kerja?" tanyaku balik yang melihatnya belum berpakaian rapi seperti biasa.
"Ini hari Minggu. Mas lupa? Minggu aku libur mas," jawabmu seraya mendekat ke jendela. "Mas rumah itu kok nggak dihancurin aja sih? Tiap kali aku lewat situ merinding semua bulu kudukku. Kata orang-orang sini rumah itu udah lama banget nggak dihuni pasti ada penunggunya," lanjutmu.
"Ngaco kamu, Niah. Aku yang lebih dulu tahu sejarah rumah itu. Begini-begini aku tahu kenapa rumah itu tidak dihuni," potongku.
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Terlalu panjang ceritanya nanti aku nggak jadi berangkat. Hari ini akan datang bos baru di tempat kerjaku. Jadi aku tidak boleh memberi kesan pertama yang buruk," jawabku.
Aku menyambar tas di kursi.
"Mas jangan lupa kopinya!" serumu.
Kopi hitam yang di meja kuteguk hingga tersisa ampasnya. Tak lupa aku menyambar topi yang bergantung di dinding.
"Aku pergi dulu ya," pamitku.
Kau tersenyum menatapku sumringah. Wajah polosmu membuat aku semakin merasa berdosa.
Lamun membawaku pergi ke tempat kerja. Beberapa hari ini ada sosok wanita yang mengganggu pikiranku. Bos baruku sangat mirip dengan tetangga depan rumah yang pindah. Aku memasuki ruang loker dan menyimpan tasku di sana.
"Yo, Niah sudah kau ceritakan?" tanya Abi, sahabat baikku yang bersandar di sisi loker.
"Dia tidak boleh tahu, Bi. Kau juga tak boleh memberitahunya," jawabku seraya menutup loker.
Aku mengambil posisi berjajar di depan ruangan bersiap apel pagi. Hari ini pertama kalinya kita akan bertemu lagi.
Kau masuk dengan dress soft pink yang membuat kulitmu tampak bersih. Wajahmu terlihat mulus tanpa luka bakar di pipi seperti terakhir kali bertemu.
"Ini bos baru kalian. Kalau kemarin sebagian dari kalian melihat sekilas mulai hari ini kalian akan bertemu dengan beliau setiap hari. Jadi tolong jaga sopan santun kalian, dan jangan bertindak macam-macam," tegas Pak Arga bos lama kami sebelum pamit pergi.
"Nama saya Airin. Salam kenal."
Deg. Dadaku dihunus pedang tajam. Perempuan itu benarkah dia dan sekarang aku tak bisa apa-apa. Dia terlalu tinggi berbatasan dengan garis vertikal yang memisahkan cukup jauh.
"Riyo nanti setelah ini temui saya," kata bos baruku membuat sedikit terperanjat takjub. Dia masih mengingatku itu melegakan.
"Benarkan nama kamu Riyo? Sesuai di tag name," lanjutnya seraya melirik ke Pak Aryo. Pak Aryo pun mengangguk.
"Iya, nama saya benar Riyo, Ibu Airin," jawabku.
Sesaat apel pagi pun dibubarkan dengan ditutup oleh Pak Aryo yang sekalian berpamitan. Kulihat Ibu Airin memberi kode untuk mengikutinya. Aku pun ikut masuk ruangan tempat pegawai di sidang biasanya. Perempuan itu berdiri tegak dan berbalik ke arahku.
"Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua, Riyo," katanya seraya membalikkan badan dan tersenyum.
"Anda masih mengingat saya, Ibu Airin?" Aku berdiri canggung.
"Jangan panggil begitu. Panggil saja seperti dulu kau biasa memanggilku. Airin saat kita hanya berdua saja. Kamu apa kabar? Bagaimana dengan Niah?"
Deg. Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa?
"Aku sempat mengunjungi rumah keluargaku. Ayah menginginkan aku menjualnya. Tak sengaja aku bertemu dengan Niah. Aku pikir kamu sudah pindah rumah, ternyata dia istrimu. Selamat ya," jelasnya.
"Oh, terima kasih. Seandainya saja kamu ada pasti di hari bahagia itu kamu aku undang."
Ya, mungkin kuundang sebagai mempelai wanita bukan sebagai tamu undangan. Ia pasti akan terlihat lebih cantik dengan balutan kebaya tradisional daripada Niah.
"Ya, tentu saja sama sepertimu. Aku menyuruhmu ke sini untuk memberimu ini." Ia mengulurkan undangan. "Aku akan menikah dengan laki-laki yang menepati janjinya."
Dadaku terlalu banyak disesaki impian masa lalu. Mungkin itu yang membuat aku ingin mengatakan banyak hal kepadanya tetapi aku tak punya alasan kenapa aku harus bercerita selain mengatakan aku mencintainya dari dulu hingga kini. Itu pun mustahil kulakukan setelah ia mengingatkan ku tentang sebuah janji dan aku telah mengingkarinya.
"Seharusnya kamu bisa menungguku sedikit lebih lama atau karena aku yang datang terlambat?" ujarnya seraya menunduk.
Hening. Aku sedang mengumpulkan nyali. Ia sibuk memegang bingkai foto di meja. Fotonya saat berkumpul di depan rumahnya sebelum peristiwa kebakaran.
"Aku tidak mencintainya. Bukan Niah orangnya," kataku lantang memberanikan diri. Kulihat sekilas ada bunyi kecil entah di bagian mana yang membuatku sadar suaraku terlalu lantang.
Ia pun mendongakkan wajah. Wajah menyelidik dan penuh keraguan.
"Seharusnya kita bisa bersama. Aku mencintaimu. Bukankah kau juga mencintaiku dulu? Mengapa kita tidak bersama saja sekarang?" tanyaku seraya memegang tangannya dan memelankan suaraku.
"Kamu keterlaluan," sahutnya dengan nada meninggi tetapi berbisik dan mengibaskan tanganku hingga menyambar bingkai foto dan terjatuh ke bawah. "Bagaimana bisa kamu mengatakannya padaku sekarang? Kamu tidak berpikir bagaimana perasaannya kalau dia sampai mendengarnya?" tanyanya seraya meninggalkan puing bingkai yang pecah dan berjalan sedikit menjauh dariku.
"Aku berani mengatakannya karena dia tak mungkin ke sini dan dia tak akan pernah tahu kalau tidak ada yang memberi tahu," tegasku masih dengan suara pelan.
"Aku tidak bisa melanjutkan percakapan ini," katanya putus asa.
"Kenapa? Kamu akan lari dari kenyataan?"
"Itu cerita kita lalu. Masa depan telah berubah semenjak terjadi kebakaran delapan tahun silam." Dia bergerak mendekati jendela dan menatap ke luar.
"Kau bisa mengubahnya jika kau mau. Lihat saja bekas luka di wajahmu juga sudah hilang. Bukankah jika ada kemauan semua hal bisa dilakukan?"
"Luka itu secara fisik telah hilang tapi memori yang tersimpan tetap akan melekat. Aku kehilangan orang yang aku sayang pada peristiwa itu. Itu yang tak pernah kulupakan. Jika kita bersama, kita memang bisa mengubah status kita, tapi kita tak akan bisa mengubah rasa sakit pada hati orang di sekeliling kita. Apalagi orang itu adalah Niah. Orang yang kukenal. Aku tak ingin menjadi orang kejam yang merampas kebahagian orang lain. Jadi kita lupakan saja cerita itu. Anggap tak pernah ada," jelasnya tanpa menatapku dan masih sibuk menatap keadaan di luar sana.
"Walaupun kamu menyuruhku menyerah, aku tetap akan mencintaimu sampai akhir. Hatiku tak pernah bisa dibohongi," kataku seraya berjalan menuju pintu keluar.
Kulihat ia menoleh sedikit. Aku memutar daun pintu hingga pintu terbuka lebar-lebar.
"Kalau kau tak menginginkannya lebih baik kita sembunyikan saja karena aku tak ingin menghapusmu," kataku seraya melangkah keluar bersama undangan di tangan kiri dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Pak Aryo ternyata ada di belakangku. Aku sedikit terperanjat.
"Kamu ngapain di dalam sana lama sekali?"
"Hanya disuruh Bu Airin untuk memberitahukan kabar gembira ini, Pak," kataku mengulurkan undangan wanita di dalam ruangan tadi. Pak Aryo menyambut uluran tanganku, ia pun mengamati undangan dengan saksama. Sesekali membenahi letak kacamatanya.
"Ya, bagus-bagus. Sungguh kabar gembira. Kamu ternyata orang yang beliau percaya. Pasti sebentar lagi bisa dipromosikan," kata Pak Aryo menepuk pundakku.
Sesaat perempuan tadi keluar dari balik pintu. Pak Aryo tersenyum. Ia mempersilahkan Pak Aryo masuk dan menatapku sekilas. Selanjutnya mengabaikanku dan menutup daun pintu. Suara itu mirip dengan bunyi kecil di tengah-tengah pembicaraanku dengannya tadi. Ah, mungkin saja itu hanya buah rasa takutku.
Aku pun melangkah jauh meninggalkan ruangan terhormat.
"Mas."
Perempuan dengan tas jinjing cantik tengah duduk itu seketika membuatku merinding.
"Ngapain kamu datang ke sini?" tanyaku sembari mendekatinya.
"Kejutan. Aku mau ketemu sama bos baru di tempat kerja Mas." Kau berdiri lalu tersenyum.
"Sudahlah kita pulang saja." Aku menggamit lenganmu. "Ayo kita pulang sama-sama!"
Belum juga aku melangkah kau melepasnya. "Aku ingin membeli rumah kosong itu, Mas."
"Rumah kosong mana?" tanyaku tak mengerti.
"Depan rumah kita," jawabmu diikuti senyuman panjang.
Aku membelalak.
"Dan semua kenangan yang ada di dalamnya tanpa terkecuali termasuk kamu," katamu sukses membungkam mulutku.
Deg.

-----------------------------------------------------
Tolong jangan beritahu Niah,
bahwa kini hatiku terbawa,
pada sesesorang disana,
pada satu cinta disana
Bagaimana lagi, yang harus ku katakan, bila aku tak mampu lagi berbohong untuk mencintainya
Lalu apa lagi, yang harus ku katakan,
saat dia berjanji akan mencintai aku untuk selama-lamanya,
untuk selama-lamanya,
untuk selama-lamanya
Tak ‘kan sampai hati bila ku pergi,
meninggalkan Niah, melukai Niah
Apapun yang akan terjadi nanti,
aku akan s’lalu, ada di sampingnya,
aku akan s’lalu, merawat Niah di sini (Sheila On 7)

Komentar

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini