Langsung ke konten utama

BEGINI SAJA SUDAH CUKUP


Mendung telah menggantung di langit. Cuaca sepertinya mulai memburuk semenjak hujan jatuh tanpa permisi setiap hari. Tidak pagi, siang, sore bahkan malam. Aku telah berdiri di pintu masuk yang terbuka lebar-lebar, mencari kawan-kawanku. Seorang gadis dengan dress biru muda berdiri dan melambai ke arahku. 

"Hei, akhirnya datang juga. Lengkap sudah," sapa Nita yang girang melihatku datang.
Aku telah berjanji membuat reuni kecil dengan kawan seperjuangan semasa putih abu-abu. Reuni kecil ini hanya didatangi 4 orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Mungkin mereka yang tak tahu mengira kami double date tapi itu tidak mungkin.
"Sebagai koordinator, Deni beri kami prakata," celetuk Nita.
Aku tersenyum melihat Deni yang sudah bersiap-siap membawa catatan kecil.
Deni berdehem terlebih dulu sebelum bicara. "Terima kasih telah memenuhi undangan. Pertama-tama kita ucapkan selamat datang, selamat bertemu kembali. Tak seru kiranya empat tahun tak bertemu jika hanya dihabiskan dengan makan-makan tanpa bercerita. Jadi mari kita kuis."
Aku tertawa melihat Nita menoyor kepala Deni.
"Nggak ada kuis-kuisan. Kita ganti permainan saja. Bagaimana? Aku punya usul judul permainannya jika bisa memilih. Setuju?"
"Nah, itu maksudku tadi permainan," kata Deni meluruskan.
"Bagaimana Dira?" tanya Nita pada gadis pink yang sedari tadi belum terdengar suaranya. Ia pun mengangguk setuju.
Sepertinya aku sedikit tertarik. Bukan dengan permainannya tetapi dengan jalan pikiran seseorang yang ingin kubaca. "Aku setuju," kataku sebelum ditanya.
"Okei jadi begini. Aku sudah mempersiapkannya," ujar Nita seraya mengeluarkan botol dari tasnya.
"Aduh, bisa kena pertama dan berkali-kali aku kalau pakai botol! Ogah" celetuk Deni membuat Nita gerah.
"Jadi cara mainnya biar Dira yang jelaskan. Bantuin ngomong dong, Dir, please!" pinta Nita.
"Jadi begini saja. Setiap orang hanya punya satu kesempatan. Jika ia kena dua kali atau lebih ia bisa memilih siapa orang yang akan bercerita selanjutnya. Yang memutar pertama aku pilih Deni saja dan kamu boleh milih siapa yang memutar selanjutnya. Bagaimana?"
"Deal," kami bertiga menjawab kompak. Botol telah siap-siap diputar oleh Deni sebagai koordinator acara. Ia terlihat sedikit panik. Ketika botol itu berputar kurasa giliran pertama akan jatuh padaku, tapi keajaiban muncul. Nyaris.
"Aduh, kenapa aku yang memutar, aku pula yang kena pertama."
"Takdir namanya Den," celetukku.
"Okei pertanyaannya. Kalau bisa kita memilih kamu mau jadi apa, Den?"
"Jadi begini juga udah bersyukur. Tapi kalau bisa memilih ingin jadi koboi biar keren. Udah segitu saja."
"Udah segitu doang?" tanya Nita.
Deni pun mengangguk. Nita terlihat kecewa.
"Nggak seru kalau nggak ada tantangannya. Bagaimana kalau yang kalah menghabiskan 2 mangkok sup buah," usul Nita.
Deni dengan lantang bertanya, "Itu sup buahnya boleh dibungkus nggak?"
"Harus dihabiskan di tempat. Jadi berhubung baik hati kesempatan buat Deni udah lewat. Nggak bisa diulangi lagi," cetus Nita. "Kita putar lagi ya," lanjutnya.
Botol itu berputar sangat cepat. Entah pada siapa botol itu akan berhenti yang jelas aku sedang berpikir ingin jadi apa. Botolpun berhenti pada Nita.
"Yah, ternyata botol itu akan berhenti pada siapa yang memutar," celetuk Deni agak sensi.
"Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa, Nita?" tanya Dira dengan suara lembutnya.
"Aku ingin menjadi orang pintar dan menciptakan orang-orang pintar. Kalau banyak orang pintar di negeri kita pasti Indonesia tidak akan melulu memakai produk luar. Menciptakan orang-orang pintar yang bangga memakai produknya sendiri dan menciptakan karya-karya inovatif, itu yang aku dambakan sejak dulu."
"Heran kenapa kamu mikir sampai segitu sih? Nasionalis banget."
"Biarin syirik aja kamu, Den."
Nita melirik ke arahku. Ia memberi isyarat tatapan mata ke botol. Apakah artinya giliranku memutar?
"Hati-hati itu botol terkutuk. Siap-siap aja Glen," celetuk Deni yang tidak-tidak.
Baiklah mungkin jika kena giliranku aku akan memilih botol itu tak jatuh padaku. Aku memejamkan mata seusai memutar botol.
"Yes, Dira. Kutukan botol itu tak ada Den," ujar Nita.
Botol itu jatuh pada Dira saat aku membuka mata. Sekelibat Deni yang penasaran, segera melihat ujung demi ujung botol. Seperti melihat keanehan tapi tak ditemukan.
"Sekarang giliran kamu, Dir. Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa?" tanya Nita.
Kulihat Dira sedikit mengerutkan keningnya sesaat.
"Aku ingin menjadi anak kecil," jawabnya membuatku tercengang. Sesimpel itu keinginannya.
"Kenapa? Pasti karena kemauannya selalu dituruti ya?" celetuk Deni mengamati dengan saksama.
"Aku ingin menjadi anak kecil yang tahu hujan itu jatuhnya dari langit. Hanya sebatas itu saja dan ia belum tahu bagaimana siklus terjadinya hujan. Hujan yang jatuh dari atas itu tampak indah sampai mereka ikut merasakannya. 'Asyik bisa bermain dengan hujan' pasti itu kata mereka."
"Memangnya mengapa kalau sudah tahu siklus terjadinya hujan? Apa bedanya?" tanyaku penasaran.
"Aku sudah besar dan tahu siklus terjadinya hujan. Sudah banyak sekali mengalami kehujanan, basah dan kedinginan. Aku sudah tahu dari mana hujan itu berasal. Air yang menguap dan berkumpul di atas. Ketika sudah tak terbendung ia turun. Enaknya jadi anak kecil yang tak tahu apa-apa. Ia menangis karena bagi mereka orang dewasa akan sedikit melunak dan menuruti kemauan mereka. Tapi aku bukan lagi menjadi bagian mereka."
Kami bertiga mendengarkan kata-katanya dengan tenang.
"Hujan di bulan Desember mengguyur badanku. Aku berdiri dipinggir jalan tanpa payung karena seseorang yang tahu bagaimana posisiku telah naik bus duluan. Ia meninggalkanku tanpa kata-kata yang terucap. Aku hanya berdiri dengan sebotol air mineral dan sebungkus tissu yang telah luber terkena hujan. Ada yang berlalu lalang sangat dekat dengan tubuhku tapi mereka hanya menatapku kosong dan lewat begitu saja. Aku sudah basah, menggigil kedinginan dan tak ada yang menolongku. Coba bayangkan jika aku anak kecil, aku akan bermain-main dengan hujan. Tapi sayangnya aku tahu darimana hujan itu berasal. Aku sudah tak bisa membedakan mana hujan buatan mana hujan yang sebenarnya. Hujan yang kutahu itu terjadi setelah air yang kubendung berkumpul bertahun-tahun di dalam dada. Bukan dari sungai, danau, laut atau bahkan sumur. Air itu ada karena aku membubuhkan perasaan di dalamnya. Rasa sakit yang ikut melebur di dalamnya larut menjadi satu dengan rasa bahagia ketika aku jatuh cinta. Ya aku tengah menyukai seseorang yang telah memiliki kekasih dan sadar bahwa tak akan mungkin memilikinya. Tapi awalnya aku kukuh menyimpannya rapat-rapat. Sampai tiba waktunya air dibendunganku tak kuat menahan datangnya air, aku mencoba menerobos masuk ke sela-sela hatinya. Akhirnya dia tahu jika hatinya kutaruh dalam rasaku tapi tak ada balasan darinya. Puncaknya aku melihat dia pergi bersama kekasihnya yang memberiku sebotol air mineral dan selembar tissue. Perempuan itu kukenal dengan baik. Dia kakakku dan aku telah kalah darinya, perempuan itu telah mengambilnya pergi."
Kulihat Dira meneteskan air mata. Kami bertiga bertatap-tatapan. Nita mengelus bahu Dira. Dira melepas tangan Nita dan mengusap air matanya. Sejenak ia menghela nafas. Aku tak pernah tahu gadis sepertinya menyimpan kenangan buruk bahkan dengan kakaknya sendiri.
"Sekarang kalian sudah tahu. Bukankah akan lebih enak jika jadi anak kecil yang tak tahu cinta? Ia hanya mengerti rasa suka tapi belum pernah merasakan patah hati," katanya seraya tersenyum.
Deni memberi applause. "Diam-diam hebat juga kamu, Dir? Aku kagum. Sepertinya aku mulai menyukaimu," celetuk Deni.
Aku ikut tersenyum dan di dalamnya aku menyimpan rasa kagum sejak dulu.
"Hei, kamu tidak mengindahkan aku, Den?" Nita memincingkan matanya. Pasangan kekasih itu ternyata masih awet meskipun sering berdebat dan beda pandangan.
"Suka aja bolehkan? Masak nggak boleh?" Melihat tatapan Nita yang mengerikan membuat Deni berdehem dan melanjutkan, "Kita balik lagi putar botol. Tidak tidak. Sepertinya cuma tinggal satu. Langsung saja kamu Glen."
"Setuju. Pertanyaan yang sama. Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa?" lanjut Nita.
"Aku memilih menjadi pemenang."
Deni dan Nita memincingkan mata dan saling tatap-menatap.
"Pemenang dari?" tanya Deni.
Ah, mana mungkin kukatakan hati Dira. Mereka berdua akan menertawakanku habis-habisan. Ingat ini hanya reuni kecil bukan double date.
"Permainan ini. Ya tentu saja permainan ini, Den. Jangan berpikir yang macam-macam. Tapi sepertinya Dira yang sudah memenangkan permainan ini. Aku mengaku kalah dan siap mendapatkan hukuman."
"Aku setuju. Kali ini Dira pemenangnya dan kita bertiga kalah. Karena tadi kesepakatannya hanya menghabiskan 2 mangkok sup buah tanpa kesepakatan lainnya, jadi bagaimana kalau 1 mangkok untuk kalian berdua dan 1 mangkok lagi untuk aku dan Dira," ujar Nita membatalkan kesepakatan.
"Lho kok gitu?" Deni garuk-garuk kepala.
"Iya kesepakatan kita ubah saja. Kasihan kan masak yang menang nggak dapat bagian?" Nita menyenggol bahu Dira.
"Baiklah setuju," sahut Deni.
Reuni kecil ini membuatku belajar banyak pada Dira. Dia berani mengutarakan terang-terangan perasaannya dan menerima akibatnya. Dia sudah tahu kalau akan terluka tapi ia tetap melawan rasa takutnya. Sayangnya aku tak seperti dia. Bagiku melihatnya dari jarak sedekat ini lebih nyaman tanpa dipenuhi berbagai prasangka. Aku tak perlu takut kehilangannya, tak takut dia marah padaku, karena dia akan ada di dekatku sebagai sahabat. Persahabatan yang dibubuhi cinta terkadang akan rusak dengan sendirinya dan aku tak akan merusak jalan ceritanya dengan mengatakan "Aku mencintaimu". Ya mungkin lebih baik aku menyimpannya.
Aku menghelakan nafas.
"Kenapa kamu Glen?"
"Tak apa," jawabku.
Sesaat gemericik air turun menghantam tanah, genteng rumah dan pohon-pohon di sekitar caffe. Hujan, itulah yang barusan kami bicarakan dan kini ia turun menghapus ingatan buruknya dengan pertemuan ini.
"Yah, hujan. Sup buahnya kita ganti dengan kopi aja yuk! Biar hangat," cetus Nita.
"Aku hot chocolate aja. Aku nggak suka kopi," kata Dira lembut.
"Aku teh hangat. Aku juga nggak suka kopi," ujarku.
Aku baru tahu hari ini, dia tidak suka kopi. Aku dan dia sama. Begini saja sudah cukup. Aku menikmatinya bersama hujan yang melagukan kisahku--mencintai sembunyi-sembunyi.


-------------------------------------------------------
Cinta memang mungkin inilah cinta
Apa pun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
Tanpa kumiliki rindu terasa
Bukan tak percaya diri
Karena aku tahu diri
Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
Mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh (Tulus) 

Komentar