Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Jangan Beritahu Niah

”Jangan hukum aku jika suatu saat nanti kau tahu,” batinku dalam hati. Aku memandang jauh ke depan jendela yang tertutup rapat. Sudah lama sekali jendela itu tak terbuka. Rumah itu tak berpenghuni semenjak delapan tahun yang lalu pemiliknya pergi. Orang sekitar bilang rumah angker tapi tidak bagiku. Ada wanita cantik di sana yang selalu memanggil ingatanku di pagi hari. Dulu wanita itu mengajakku berangkat sekolah bersama, memilih teman yang sama, menyuruhku memiliki hobi yang sama seolah kebersamaan itu melekat dan tak terpisahkan dari kami. Dia pun semakin lama tumbuh menjadi dewasa tapi aku tak menyaksikannya.
"Ini kopinya, Mas. Kok setiap pagi nongkrong di depan jendela, apa nggak bosan?" tanyamu meletakkan cangkir kopiku di meja.
"Mumpung masih pagi udaranya masih segar. Lho kamu tidak siap-siap berangkat kerja?" tanyaku balik yang melihatnya belum berpakaian rapi seperti biasa.
"Ini hari Minggu. Mas lupa? Minggu aku libur mas," jawabmu seraya mendek…

BEGINI SAJA SUDAH CUKUP

Mendung telah menggantung di langit. Cuaca sepertinya mulai memburuk semenjak hujan jatuh tanpa permisi setiap hari. Tidak pagi, siang, sore bahkan malam. Aku telah berdiri di pintu masuk yang terbuka lebar-lebar, mencari kawan-kawanku. Seorang gadis dengan dress biru muda berdiri dan melambai ke arahku. "Hei, akhirnya datang juga. Lengkap sudah," sapa Nita yang girang melihatku datang.
Aku telah berjanji membuat reuni kecil dengan kawan seperjuangan semasa putih abu-abu. Reuni kecil ini hanya didatangi 4 orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Mungkin mereka yang tak tahu mengira kami double date tapi itu tidak mungkin.
"Sebagai koordinator, Deni beri kami prakata," celetuk Nita.
Aku tersenyum melihat Deni yang sudah bersiap-siap membawa catatan kecil.
Deni berdehem terlebih dulu sebelum bicara. "Terima kasih telah memenuhi undangan. Pertama-tama kita ucapkan selamat datang, selamat bertemu kembali. Tak seru kiranya empat tahun tak bertemu jika hanya dihabisk…

MANTAN TERINDAH

Seribu langkah kecil berlari pada jalanan setapak berbatu yang cukup menyulitkan. Ia terseok-seok. Lalu suara isak tangis terdengar pecah terlebih dulu. "Jangan pergi! Jangan. Jangan pernah," teriak wanita itu. Aku terbangun karena dadaku terasa sesak. Mimpi buruk itu lagi. Keringat dingin mengucur melewati pipi. Ini tanggal sepuluh di bulan Juni. Masih belum kulupakan dan tersimpan rapi. Sudah setahun aku melakukan kesalahan besar. Mungkin itu alasan mengapa aku dihantui setiap terlelap di malam hari."Kenapa, Yah?" tanya wanita cantik di sampingku yang telah mendukungku setahun ini."Hanya mimpi buruk," jawabku seraya beranjak dari tempat tidur."Mau kemana?""Ke kamar mandi."Mulailah aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganmu masih berlarian di kepalaku. Kau masih sayup-sayup terdengar memanggil namaku.Kunyalakan lampu di ruang sebelah. Kukeluarkan sebuah kepingan CD dari laci almari dekat TV paling bawah. Tidak seharusnya kepingan itu ku…