Kamis, 31 Desember 2015

KATAMU CINTA KARENA TERBIASA




Cinta membuatku buta. Segala hal dipenuhi tentangku, tentangmu. Mengenalmu begitu lama membuatku menumbuhkan warna pelangi di dada, menggugahku yang tertidur lama, menebar benih asmara, menyuruhku jatuh cinta karena terbiasa.
Hari-hariku berjuang bersama tak mengubahmu menjadi orang lain. Kau tetaplah dirimu yang mampu meliukkan hatiku. Suara nyaringmu menjadi nyanyian di gendang telingaku. Merdu, menanam kerinduan untukku.

Tawa adalah awal mula terjadinya rasa. Awal perkenalan kita pun terjadi tak berlangsung lama, tiba-tiba kita menjadi dekat. Kamulah orangnya yang mengisi kekosongan hariku tanpa jeda. Keanehan yang kubuat tak membuatmu meninggalkanku, justru menimbulkan gelak tawa riuh kebersamaan. Semua hal menjadi indah karena keberadaanmu melengkapiku. Kau menyihirku dengan pesona bijakmu. Kau bantu aku terbiasa hidup tanpa penyesalan. Kau menggugurkan rasa bersalahku, kau pecutkan semangat, menyanjungku kuat.

Begitu baiknya Tuhan menghadirkanmu di tengah perjalananku. Mempertemukanku, mengajariku bahwa hidup bisa manis tanpa gula.

Aku benar-benar terlena olehmu hingga mengabaikan kau memiliki duniamu. Luas tanpa batas, tanpa aku. Tak sepenuhnya waktumu habis denganku. Aku berlebih mengartikanmu, mengartikan kedekatan kita. Rasaku tumbuh lebih dari yang kau tahu. Rasa yang terlanjur luas, lepas tanpa kendali. Anak panah dari busur yang terlepas  layuh, lepas di bawah telapak kakiku sendiri. Aku disibukkan kenyamananku tanpa memperhatikan sekelilingku. Kupedulikan segala cara untuk menunjukkan rasa cintaku. Nyatanya hanya aku yang terlena, kau tak secuilpun menikmatinya. Kamu memang bisa membuatku bahagia, tersenyum manja, tapi hadirku dihidupmu hanya sebuah film pendek yang diputar habis, sudah berlalu begitu saja.

Aku baru membuka mataku menyingkirkan egoisku, nyatanya kamu bersedih di balik mataku yang hanya bisa kugapai dalam alam bawah sadarku. Kamu tak izinkanku melengkapi hidupmu. Tanganku tak sampai menggapai bahagiamu. Kau pilih dia, di balik kekurangannya, beranjak pergi memperjuangkannya. Kubalikkan tanganku mendukungmu dengannya.

Pernah kau bilang berhati-hatilah dengan hati. Sekelumit jatuh cinta terjadi karena terbiasa. Terbiasa nyaman, terbiasa aman, dan kelamaan perbedaan sulit dipisahkan. Nyatanya aku tersungkur masuk ke dalam.
Setiap perasaan yang menimbulkan tanya pada akhirnya hanya akan menyisakan luka. Sampai di sini saja batasnya. Kau pilih dia kekasih pilihanmu yang membuatmu bahagia. Kekasih terbaikmu.
***
----------------------------------------------------------------------------
Ku mengenalmu sejak pertama bertemu, menatapku lugu, kau hapuskan kepedihanku 
Katamu cinta datang karena terbiasa, namun mengapa hanya aku yang terlena
Kuperjuangkan kamu setengah matiku, ku habiskan tenagaku tuk menghapus sedihmu
Kau pilih dia kekasih pilihanmu, yang membuatmu bahagia, kekasih terbaikmu

Kuhanya bisa bahagia melihatmu, walau hati terluka, demi kau cintaku (Dwitasari)

Sabtu, 14 November 2015

HARI BERSAMANYA




Kamu memenuhi ruang kerja otakku. Memaksaku mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terlewati. Kamu memotong pizza menaruhnya di piringku. Sudah berasa seperti bermain film dengan setting caffe Pizza.
“Kamu kenapa masih single? Tidak mau mencari pacar atau memang tidak mau pacaran?”
Aku hanya tersenyum seraya menguyah pizza pelan-pelan.
“Oke. Aku simpulkan jawaban yang kedua saja.”
Aku tertawa. “Kamu dari dulu belum berubah ya,” celetukku.
“Bukannya kamu yang belum berubah? Asal kamu tahu sekarang aku sudah bisa minum kopi dipagi hari,” katamu diikuti menjulurkan lidah.
“Benarkah? Yakin nggak sakit perut lagi? Ya mungkin saja untuk beberapa hal kamu berubah tanpa sepengetahuanku,” kataku.
Kamu mengamati air minum di gelasku dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Apa kabar ikan mungilmu dulu?”
Glek. Mungkin karena warnanya sama orange kemerahan. Tiba-tiba kau menaruh fettucini setelah melihat piringku kosong. Hal itu sempat membuatku tersenyum sesaat dan ketika tersadar kami membicarakan soal kucing rasa kesal datang.
"Sudah mati dimakan kucing. Menyebalkan sekali kucing tetanggaku itu."
“Jadi kamu juga masih membenci kucing seperti dulu. Itu kan hewan yang sangat lucu.”
Lagi. Kau belum berubah. Masih seperti kau yang kukenal tujuh tahun silam.
“Iya itu menurut kamu, beda kalau versiku.”
“Apa masih sering teriak-teriak minta pertolongan?” candamu.
“Apa sih?” Aku menepuk bahumu.
“Serius kalau dibandingkan sama kucing ekspresi kamu lebih lucu. Apalagi yang naik-naik kursi.”
“Astaga kamu belum lupa. Itu sangat memalukan.” Aku menutup wajahku.
“Udah nggak usah malu,” ujarmu seraya menarik tanganku dari wajah. “Ya karena kucing juga kan kamu bisa kenal sama aku. Kenalannya pakai akrobat segala terlihat alami, natural,” lanjutmu.
“Kamu pikir aku lagi sirkus?”
“Lho, bukannya bener ya?”
“Ngaco ah!” seruku. “Dit, boleh tanya?”
“Apa?” tanyamu membuatku kehabisan kata-kata. Tiba-tiba kau menghentikan aktivitas dan meletakkan kedua tangan ke meja. Tatapanmu mendadak serius.
“Nggak jadi,” jawabku seraya menyendok fettucini dengan gemetar.
“Kalau begitu aku yang akan bertanya. Boleh?”
Glek. Aku merasa fettucini yang kutelan bergejolak di dalam. Hampir saja tersedak.
“Kita aneh ya mau bertanya mesti pakai izin segala,” celetukku seraya mengambil air minum.
“Ya kan aku belum punya SIM K. Surat Izin Menanya Kamu. Jadi aku mau bikin sekarang.” Kamu tertawa. Aku diam dan berpikir ini bercanda atau tidak. Meskipun kamu mengatakan seolah bercanda tapi terlihat sungguhan di mataku. Ah, sungguh kamu sulit ditebak.
“Dit, memang bener ya si Lita udah punya cowok sekarang?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Hah, serius? Kok bisa ya aku ketinggalan info,” jawabnya santai.
“Aku cuma denger aja sih. Belum tanya ke Lita sendiri.”
“Bukannya kalian dekat?”
Aku mengangguk.
“Aku sedikit shock sekarang,” katanya tapi tak terlihat shock pada mimik wajahnya.
“Kenapa, Dit?”
“Sebenernya aku masih suka sama Lita dan sekarang aku penasaran dia dapat cowoknya seperti apa,” jawabmu.
Deg.
“Memangnya setelah tahu kamu bisa apa?” tanyaku.
“Ya cukup lihat dan kamu nanti akan ngerti dengan sendirinya.”
“Iya deh yang lagi patah hati.”
“Kenapa harus patah hati kan ada kamu?”
Deg.
“Apaan sih, Dit? Memangnya aku mau sama kamu?”
“Ya mungkin sekarang belum tapi beberapa tahun ke depan bisa jadi kan?”
“Adit emang dasar ya nggak pernah berubah. Kamu tahu kalau kamu kayak begitu terus nggak bakal punya cewek. Mana ada cewek yang mau sama kamu.”
“Kok bisa?”
“Mereka memang senang diperhatikan, Dit. Tapi nggak begitu caranya. Kamu bisa dengan seketika membuat cewek di angkasa dan dalam sekejap menghancurkannya.”
Kamu menyimakku dengan saksama. Melihatku tanpa berkedip membuat canggung.
“Kalau suka seseorang kamu cukup menampakannya hanya pada satu orang saja sampai si cewek menangkap sinyal yang kamu berikan. Kalau kamu menampakan ke semua cewek mereka selamanya nggak akan percaya sama kamu. Mereka akan berpikir macam-macam tentang kamu seperti apa yang pertama kali dilihat dan mereka simpulkan sendiri.”
Kamu tersenyum lalu meneguk minuman.
“Ini minuman apaan sih? Asam banget.”
“Itu kan ada jeruknya, Dit.”
Adit meletakkan gelasnya. “Menyambung pendapatmu tadi ya. Bagaimana kalau selama bertahun-tahun kita mengirim sinyal ke cewek tapi si cewek pura-pura nggak tahu?”
Glek.
“Emm, mungkin kamu bisa terang-terangan. Ya ngomong langsung aja biar nggak salah paham.”
Panik aku meneguk minuman sampai habis.
“Kalau dia tiba-tiba kabur, menghilang, nggak mau ketemu, jadi jauh, seperti orang asing?”
“Waduh, gimana ya? Kalau itu aku belum pernah tanya ke cewek-cewek lain sih.”
“Kalau kamu sendiri mau kabur, menghilang, nggak mau ketemu atau gimana?”
Glek. Aku menghentakkan gelasku dengan keras, mendengut ludah dan menggigit jari.
“Aku bercanda. Udah nggak usah dipikir serius,” katamu seraya menaruh potongan pizza terakhir ke piringku. Aku hanya bisa menatapnya bingung.
“Daripada mikir serius udah itu dimakan sampai habis. Aku tungguin.”
Lalu kamu menyuruhku menghabiskan potongan pizza terakhir.
“Aku suka jalan sama kamu ya begini. Mau disuruh makan banyak mau-mau aja nggak nolak dan kamu itu nggak takut gendut,” ujarnya seraya mengangkat gadget-nya ke udara dan wajah kami berpindah ke layarnya. Aku tersenyum dengan sendok di tangan, sedangkan kamu membuat ekspresi wajah aneh ke arahku.
***
____________________________________
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan untuk menatap matanya
Mohon Tuhan untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku bersamanya
Hariku bersamanya
Kau tahu betapa aku lemah dihadapannya
Kau tahu berapa lama aku mendambanya
(Sheila on 7)

Rabu, 05 Agustus 2015

ANDAI DIA TAHU




Gadis satu itu tak jua membuatku lelah menatap. Dia lebih menarik dari kue tart di depanku. Lebih menarik dari acara surprise party yang dibuat adikku. Ah, gadis itu kenapa berpindah tempat disaat aku ingin memberikan potongan kue pertamaku.
"Kuenya mau diberikan siapa Kak?" tanya Loli, adikku yang sedang penasaran.
Aku melempar pandanganku ke seluruh ruangan. Dia tak ada. Kemana?
"Kak?"
Aku tersenyum. Pada akhirnya kue itu berpindah tangan ke Loli.
"Yeah! Aku mengalahkan Mama Papa," celetuk Loli kegirangan.
Ku ikuti proses acara hingga runtut. Ketika sampai pada acara hiburan Loli sedikit melancarkan protesnya.
"Kak, ga suka sama surprise party buatanku ya? Dari tadi kakak gagal fokus deh!" keluhnya kesal.
"Nggak. Kakak suka kok."
"Kakak lagi nunggu seseorang ya? Terus dia ga datang? Kok kelihatan gelisah gitu sih?" tanya Loli menyelidik.
Aku tertawa. Bukan karena lucu. Kecil-kecil begitu Loli bisa membaca pikiranku.
"Kak, tadi aku dari toilet nggak sengaja lihat temen kakak. Teman kakak tadi kok di luar sih? Lebih milih duduk di tangga keluar lagi. Kayak nggak ada tempat lain aja."
"Siapa? Cewek?" tanyaku sedikit berharap gadis pinkku.
"Iya cewek. Kok tatapan mata kakak jadi berubah? Seperti ada sesuatu yang pengen meledak keluar," celetuk Loli menjurus pada pikiranku.
"Apa sih, dek? Udah ah aku mau ke toilet dulu."
"Ke toilet atau nyamperin? Ehm," goda Loli seraya memincingkan matanya dan mencubitku.
Aku merapikan bajuku. "Ke toilet dulu," jawabku.
"Suit suit. Aku bilangin ke Mama lho," goda Loli seraya menjulurkan lidah.
Aku pun memberinya kedipan mata. Itu membuatnya agak kaget dan meninggalkanku. Akhirnya setelah pura-pura keluar dari toilet aku menghampiri gadis dengan dress pink yang duduk di tangga, sendirian.
"Hei, kamu kenapa keluar? Nggak suka sama acaranya ya?" tanyaku yang berdiri di belakangnya.
Dira menoleh. "Nggak kok. Aku cuma tidak suka keramaian, Dit."
"Jadi lebih suka sendirian?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Ia melempar senyumnya kepadaku.
"Kamu beda ya dari cewek di dalam sana. Mereka asyik bertukar pikiran dengan teman mereka. Apa kamu nggak tertarik?" selidikku.
"Aku tidak suka suara bising. Aku lebih nyaman di sini. Di luar sini aku tak perlu mendengar suara melengking yang menggebu-gebu, tak perlu melihat banyak topeng," jawabnya seraya tersenyum lagi.
"Wow, menarik. Kamu ternyata..." kataku belum selesai.
"Aneh?" potongmu.
"Nggak. Bukan begitu. Aku pikir kamu itu orangnya tertutup tapi ternyata nggak seperti yang aku pikirkan selama ini," lanjutku.
Ia tersipu.
"Ya, seperti yang orang kebanyakan pikir tentangku. Pasti kamu juga mikir kalau aku itu kalem, tidak banyak omong, dan kurang bergaul."
"Emm, jujur iya. Itu yang selama ini aku lihat di diri kamu. Tapi sepertinya aku salah kali ini."
Kali ini Dira tertawa. Lucu sekali. Suara tawanya berbeda dari yang selama ini kudengar seperti ada nada naik dan turun yang silih berganti. Entahlah mungkin karena aku berada sedekat ini tak seperti sebelumnya.
"Oh, ya aku nggak ganggu kamu kan di sini?"
"Kalau cuma satu dua orang sih nggak. Tapi kalau kamu bawa teman satu rombongan kamu dari dalam iya," jawab Dira sambil tersipu.
"Ya, sepertinya aku mulai paham. Kamu nggak capek sendirian?"
"Kamu nggak capek kumpul sama teman-teman kamu?" tanyanya balik membuatku diam.
"Seperti kamu, kurasa ketika kita sudah terbiasa sendiri atau berkumpul bersama dengan keramaian semuanya akan terasa nyaman. Justru ketika kita melakukan hal kebalikan, kadang itu yang membuat kita merasa nggak nyaman," jelasnya membuatku mati gaya. "By the way, selamat ulang tahun ya," lanjutnya membuat pipiku memerah.
"Terima kasih. Kamu tadi datangnya sendirian atau sama temen?"
"Aku sama temen. Dia masih ada di dalam. Nita kamu kenalkan? Dia masih satu fakultas sama kita tapi beda jurusan."
"Oh ya, Nita yang tadi pakai baju biru. Dia temanku SMA. Kalian dekat?"
"Emm, ya tentu saja. Dia my best friend," jawabmu membuatku sedikit ada harapan menggali informasi dari si Nita.
"Wow, dunia itu sempit ya. Aku nggak nyangka setelah hampir empat tahun kita kenal, baru ketahuan sekarang siapa kamu."
"Nggak juga. Mungkin kamu aja yang kurang mengamati. Aku tahu tentang kamu dari dulu."
"Oh ya? Tentang apa saja?" tanyaku penasaran.
"Kamu lebih suka main basket daripada main bola. Kamu lebih suka warna hitam daripada warna cerah. Kamu lebih suka dengan rambut belah pinggir daripada tengah. Kamu lebih suka datang kesiangan daripada kepagian. Kamu lebih suka duduk di kursi belakang daripada depan atau tengah. Kamu sering nganter Loli dulu sebelum berangkat kuliah. It is true?"
"Wow, kamu bahkan bisa menyebutkan semuanya tanpa ragu-ragu. Hebat," pujiku. Astaga hatiku menjadi tak beraturan. Ia diam-diam mengamatiku sedetail itu.
"Ah, itu karena aku melihat hampir setiap hari. Wajar kan."
"Kamu bisa nebak isi pikiranku nggak?" celetukku tiba-tiba.
Ia mengangkat alisnya. "Nggak ah, aku takut salah."
"Aku kasih beberapa kata kunci. Coba tebak," pintaku.
"Okei karena kamu sedikit memaksa akan aku coba."
"Perempuan, manis."
Ia tertawa. "Apa itu yang selalu ada dipikiran laki-laki? Perempuan."
"Bisa jadi."
"Kamu sepertinya sedang suka sama seorang perempuan ya? Itu alasan kenapa kata kuncinya perempuan, manis pula."
"Kamu bisa tebak siapa perempuannya?" tanyaku.
Ia mengerutkan keningnya sungguh terlihat cantik saat diam dan berpikir.
"Emm, mungkin orangnya..."
"Kak, lama banget sih ke toiletnya! Acaranya udah hampir kelar nih. Masuk, gih! Ntar kemaleman," potong Loli yang tiba-tiba berdiri di depanku dan Dira.
Aku mengangguk dan Loli pun masuk duluan tanpa kata-kata selanjutnya.
Sebenarnya perempuan itu adalah... "Kamu," kataku seraya berdiri.
Dira mendongak dan mengangkat alisnya.
"Maksudku kamu nggak ikut masuk ke dalam?" tanyaku agak canggung.
"Oh, ya. Tentu aku ikut masuk," katanya seraya bersiap-siap berdiri.
Aku mengulurkan tanganku. Ia menyambut uluran tanganku. Itu pertama kalinya aku merasakan tangannya yang hangat. Kehangatan itu mengalir sampai hatiku, andai ia tahu.

------------------------------------------------
Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkin kah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
(Kahitna)

Senin, 03 Agustus 2015

FIRASATKU





Menunggu bukan pekerjaan mudah. Apalagi sendiri di tepian jalan dan orang yang kau tunggu tak kunjung datang.
"Ra, udah sendirian dari tadi?" tanya Ben membuat air mataku sedikit keluar.
Aku mengangguk dan mengusap air mataku. Ben turun dari motornya dan memakaikan helm ke kepalaku.
"Ayo naik!"seru Ben seraya menepuk jok motornya.
Aku diam.
"Kamu marah?"
"Nggak," jawabku seraya menaiki motor Ben.
"Sudah berapa lama kamu berdiri di situ tadi?" tanya Ben sembari tersenyum dan menyalakan mesin.
"Satu setengah jam," kataku seraya melihat jam tangan.
"Kenapa tadi nggak bilang? Aku bisa jemput kamu lebih cepat," ujar Ben menawarkan diri.

Motor Ben akhirnya berjalan. Kuhela nafas panjang entah bentuk kelegaan atau kekecewaan. Beribu rasa berkecamuk di dalam dada itu yang kutahu saat ini.
"Ben, apa salah kalau aku menunggu seseorang yang kupercayai. Lalu ternyata orang itu mengabaikanku seperti ini."
"Apa?" tanya Ben terdengar samar karena terkena efek angin.
Aku diam. Mungkin kesalahan mengajak orang bicara saat mengendarai kendaraan. Angin menghamburkan suaraku.
"Jangan berpikir macam-macam dulu," teriak Ben.
"Ini pertama kalinya aku diam-diam keluar tanpa sepengetahuan orang tuaku hanya ingin meluangkan sedikit waktu dengannya setelah tiga bulan kami bersama. Apa aku salah?" tanyaku.
Ben menghentikan motornya. Aku kaget dan melongok ke depan ternyata lampu merah.
"Ya sedikit salah karena kamu tidak izin dulu dan sedikit lainnya susah dijelaskan," jawabnya seraya menoleh.
"Kenapa dia tidak pernah mengerti waktu adalah segalanya bagiku? Dia selalu melewatkannya begitu saja. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Apa kamu tahu apa itu?" selidikku.
"Aku kurang tahu," jawab Ben. "Dia tak pernah bercerita selain tentang kamu."
"Meskipun kamu mengatakan seperti itu aku masih tak percaya. Pasti ada yang dia sembunyikan."
"Kenapa kamu tak bertanya padanya saja?"
"Dia selalu bisa mengalihkan pembicaraan."
"Kenapa kamu tak coba biarkan dia yang bercerita dengan sendirinya?"
"Ben kau menyuruhku menunggunya seperti yang kulakukan tadi? Apa jadinya kalau kamu tidak datang? Mungkin dia akan membiarkanku berdiri di sana sampai lewat tengah malam."
"Ra, menunggu dia mengatakannya tidak akan selama kamu menunggunya tadi asal kamu berani bertanya."
Aku diam.
"Kamu tahu ada banyak jenis kebohongan di dunia ini. Kalau kamu merasa dia sedang berbohong ya tunggu saja sampai terbukti daripada jadinya fitnah."
"Jadi benar dia sedang menyembunyikan sesuatu?" Aku menunduk memandangi aspal yang terlihat membara.
"Kamu tidak usah berpikir macam-macam. Dia bukan orang yang seperti itu. Kamu juga sudah mengenalnya kan?"
Aku diam beberapa saat. Motor Ben mulai melaju lagi. Kupandangi gedung-gedung bertingkat, kakek nenek menyebrang jalan sambil bergandengan tangan. Astaga pikiranku semakin menjadi-jadi.
"Ben, antarkan aku pulang sekarang!" seruku. "Aku mau pulang sekarang. Kalau kau keberatan mengantarku pulang, aku akan pulang sendiri," lanjutku. Sepertinya aku berubah pikiran. Pikiranku sedang kalut tak siap bertemu dengan Rey.
"Ra, kamu yakin mau pulang? Setelah menunggunya berjam-jam?" tanya Ben.
Aku terdiam. Nyeri menyelimuti dadaku. Aku menekan rasa itu perlahan dan Ben melihatku dari kaca spion.
"Baiklah aku akan mengantarmu pulang."
Ben mencari jalan putar arah. Kami terkena lampu merah di persimpangan tadi hanya berlawanan arah. Ben terlihat sibuk mengetik sesuatu. Aku diam tak mengajaknya bicara.

"Ra jangan membuat keputusan dengan suasana seperti ini. Dinginkan kepalamu dulu. Aku yakin dia ingin melakukan sesuatu yang baik untukmu. Dia sedang berusaha. Kamu pikirkan lagi ya," seru Ben seraya melepas helmku setelah sampai depan rumah.
"Terima kasih untuk semuanya Ben," kataku.
Ben melambaikan tangannya dan bergegas pergi. Aku sudah merepotkannya dalam situasi seperti ini. Ini bukan kali pertama karena Rey sudah sering melakukannya dan aku sudah sering memaafkannya.

Deg. Kamu yang berdiri di sana membuat dadaku bergemuruh. Menungguku di depan rumah sementara aku telah menunggu lama di tepian jalan.
"Kamu marah?" ujarmu yang tiba-tiba menghampiriku.
"Nggak," jawabku seraya menarik tanganmu menjauhi pintu gerbang.
"Lalu kenapa seperti ini?" Kau melepas tanganku pelan-pelan.
"Nggak papa. Kenapa kamu di sini?" tanyaku.
"Aku minta maaf."
"Kenapa kamu minta maaf? Memangnya kamu salah apa?"
"Apapun salah yang ku perbuat hari ini. Sekali lagi maaf," jawabmu.
"Kamu selalu minta maaf tapi tak pernah tahu alasan kamu minta maaf. Jujur aku bosan mendengar kamu minta maaf."
"Kenapa nadamu meninggi? Kamu marah ya?"
Aku diam dan melipat tanganku di depan dada.
"Kenapa kita tidak bisa seperti mereka? Seperti orang-orang yang mudah mengatakan sesuatu tanpa ada yang disembunyikan. Ketika kecewa mereka mengatakan kecewa, ketika bahagia mereka mengatakan bahagia."
Kau diam.
"Kenapa kamu membuatku lama menunggu seperti orang gila di pinggir jalan. Kenapa kamu tidak segera datang? Kamu tahu waktu sangat berharga bagiku. Kenapa kamu justru menyuruh orang lain untuk datang menjemputku bukan kamu sendiri? Kenapa bukan kamu yang datang menjemput meskipun sudah terlambat dan kenapa kamu pergi ke sini hanya untuk minta maaf?" tanyaku membuat air mata terdesak di sudut.
"Aku salah. Aku mengaku salah membiarkanmu berpikir tidak-tidak seperti ini Ra. Maaf,"katamu.
"Aku bosan, Rey. Kenapa tak langsung kau jelaskan saja alasannya. Kenapa kamu minta maaf lagi? Aku tidak suka mendengarnya. Seolah kata maaf itu menjadi kebiasaan dan kehilangan maknanya."
"Kamu yang bilang suka kejutan. Aku sedang berusaha menciptakan kejutan untukmu di kencan pertama ini. Biarpun kamu diam-diam tidak mengatakan pada orang tuamu, aku diam-diam menemui orang tuamu. Tapi ternyata aku ditahan lama di sini. Aku berusaha membuktikan bahwa aku benar-benar serius menyukaimu. Saat mereka setuju aku baru akan meninggalkan rumahmu tapi ternyata Ben mengirim pesan mengatakan bahwa kau minta pulang ke rumah. Aku menyuruh Ben untuk menahanmu tapi dia tak tega membiarkanmu berlarut-larut menahan perasaanmu di jalanan. Akhirnya aku menunggumu di sini."
Tangisku pecah. Air mata sudah tak mampu dibendung. Astaga baru pertama kali aku menangis di hadapmu. Aku sudah melakukan kejujuran atas perasaanku.
"Jika itu membuatmu terluka aku tak akan mengulanginya," ujarmu membuatku semakin sesengukan.
"Sudah jangan menangis lagi. Nanti kamu bisa berubah menjadi ikan mas koki. Bagaimana kalau sekarang aku meminta izin menculikmu sebentar. Maukah kamu menungguku di sini sebentar?"

-------------------------------------------------------------
Caramu mencintai aku membuat diriku bertanya
Bisa saja ada yang tersembunyi
Firasatku mengatakan itu
Ingin aku bertanya padamu tentang sesuatu di dalam dirimu
Masihkah ada rahasia yang tersimpan
jauh di dalam hatimu yang tak dapat kumengerti
Maukah engkau bicara jujur padaku
Hingga bisa aku tahu yang tersimpan di hatimu (Piyu)

Senin, 12 Januari 2015

Jangan Beritahu Niah

”Jangan hukum aku jika suatu saat nanti kau tahu,” batinku dalam hati. 

Aku memandang jauh ke depan jendela yang tertutup rapat. Sudah lama sekali jendela itu tak terbuka. Rumah itu tak berpenghuni semenjak delapan tahun yang lalu pemiliknya pergi. Orang sekitar bilang rumah angker tapi tidak bagiku. Ada wanita cantik di sana yang selalu memanggil ingatanku di pagi hari. Dulu wanita itu mengajakku berangkat sekolah bersama, memilih teman yang sama, menyuruhku memiliki hobi yang sama seolah kebersamaan itu melekat dan tak terpisahkan dari kami. Dia pun semakin lama tumbuh menjadi dewasa tapi aku tak menyaksikannya.
"Ini kopinya, Mas. Kok setiap pagi nongkrong di depan jendela, apa nggak bosan?" tanyamu meletakkan cangkir kopiku di meja.
"Mumpung masih pagi udaranya masih segar. Lho kamu tidak siap-siap berangkat kerja?" tanyaku balik yang melihatnya belum berpakaian rapi seperti biasa.
"Ini hari Minggu. Mas lupa? Minggu aku libur mas," jawabmu seraya mendekat ke jendela. "Mas rumah itu kok nggak dihancurin aja sih? Tiap kali aku lewat situ merinding semua bulu kudukku. Kata orang-orang sini rumah itu udah lama banget nggak dihuni pasti ada penunggunya," lanjutmu.
"Ngaco kamu, Niah. Aku yang lebih dulu tahu sejarah rumah itu. Begini-begini aku tahu kenapa rumah itu tidak dihuni," potongku.
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Terlalu panjang ceritanya nanti aku nggak jadi berangkat. Hari ini akan datang bos baru di tempat kerjaku. Jadi aku tidak boleh memberi kesan pertama yang buruk," jawabku.
Aku menyambar tas di kursi.
"Mas jangan lupa kopinya!" serumu.
Kopi hitam yang di meja kuteguk hingga tersisa ampasnya. Tak lupa aku menyambar topi yang bergantung di dinding.
"Aku pergi dulu ya," pamitku.
Kau tersenyum menatapku sumringah. Wajah polosmu membuat aku semakin merasa berdosa.
Lamun membawaku pergi ke tempat kerja. Beberapa hari ini ada sosok wanita yang mengganggu pikiranku. Bos baruku sangat mirip dengan tetangga depan rumah yang pindah. Aku memasuki ruang loker dan menyimpan tasku di sana.
"Yo, Niah sudah kau ceritakan?" tanya Abi, sahabat baikku yang bersandar di sisi loker.
"Dia tidak boleh tahu, Bi. Kau juga tak boleh memberitahunya," jawabku seraya menutup loker.
Aku mengambil posisi berjajar di depan ruangan bersiap apel pagi. Hari ini pertama kalinya kita akan bertemu lagi.
Kau masuk dengan dress soft pink yang membuat kulitmu tampak bersih. Wajahmu terlihat mulus tanpa luka bakar di pipi seperti terakhir kali bertemu.
"Ini bos baru kalian. Kalau kemarin sebagian dari kalian melihat sekilas mulai hari ini kalian akan bertemu dengan beliau setiap hari. Jadi tolong jaga sopan santun kalian, dan jangan bertindak macam-macam," tegas Pak Arga bos lama kami sebelum pamit pergi.
"Nama saya Airin. Salam kenal."
Deg. Dadaku dihunus pedang tajam. Perempuan itu benarkah dia dan sekarang aku tak bisa apa-apa. Dia terlalu tinggi berbatasan dengan garis vertikal yang memisahkan cukup jauh.
"Riyo nanti setelah ini temui saya," kata bos baruku membuat sedikit terperanjat takjub. Dia masih mengingatku itu melegakan.
"Benarkan nama kamu Riyo? Sesuai di tag name," lanjutnya seraya melirik ke Pak Aryo. Pak Aryo pun mengangguk.
"Iya, nama saya benar Riyo, Ibu Airin," jawabku.
Sesaat apel pagi pun dibubarkan dengan ditutup oleh Pak Aryo yang sekalian berpamitan. Kulihat Ibu Airin memberi kode untuk mengikutinya. Aku pun ikut masuk ruangan tempat pegawai di sidang biasanya. Perempuan itu berdiri tegak dan berbalik ke arahku.
"Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua, Riyo," katanya seraya membalikkan badan dan tersenyum.
"Anda masih mengingat saya, Ibu Airin?" Aku berdiri canggung.
"Jangan panggil begitu. Panggil saja seperti dulu kau biasa memanggilku. Airin saat kita hanya berdua saja. Kamu apa kabar? Bagaimana dengan Niah?"
Deg. Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa?
"Aku sempat mengunjungi rumah keluargaku. Ayah menginginkan aku menjualnya. Tak sengaja aku bertemu dengan Niah. Aku pikir kamu sudah pindah rumah, ternyata dia istrimu. Selamat ya," jelasnya.
"Oh, terima kasih. Seandainya saja kamu ada pasti di hari bahagia itu kamu aku undang."
Ya, mungkin kuundang sebagai mempelai wanita bukan sebagai tamu undangan. Ia pasti akan terlihat lebih cantik dengan balutan kebaya tradisional daripada Niah.
"Ya, tentu saja sama sepertimu. Aku menyuruhmu ke sini untuk memberimu ini." Ia mengulurkan undangan. "Aku akan menikah dengan laki-laki yang menepati janjinya."
Dadaku terlalu banyak disesaki impian masa lalu. Mungkin itu yang membuat aku ingin mengatakan banyak hal kepadanya tetapi aku tak punya alasan kenapa aku harus bercerita selain mengatakan aku mencintainya dari dulu hingga kini. Itu pun mustahil kulakukan setelah ia mengingatkan ku tentang sebuah janji dan aku telah mengingkarinya.
"Seharusnya kamu bisa menungguku sedikit lebih lama atau karena aku yang datang terlambat?" ujarnya seraya menunduk.
Hening. Aku sedang mengumpulkan nyali. Ia sibuk memegang bingkai foto di meja. Fotonya saat berkumpul di depan rumahnya sebelum peristiwa kebakaran.
"Aku tidak mencintainya. Bukan Niah orangnya," kataku lantang memberanikan diri. Kulihat sekilas ada bunyi kecil entah di bagian mana yang membuatku sadar suaraku terlalu lantang.
Ia pun mendongakkan wajah. Wajah menyelidik dan penuh keraguan.
"Seharusnya kita bisa bersama. Aku mencintaimu. Bukankah kau juga mencintaiku dulu? Mengapa kita tidak bersama saja sekarang?" tanyaku seraya memegang tangannya dan memelankan suaraku.
"Kamu keterlaluan," sahutnya dengan nada meninggi tetapi berbisik dan mengibaskan tanganku hingga menyambar bingkai foto dan terjatuh ke bawah. "Bagaimana bisa kamu mengatakannya padaku sekarang? Kamu tidak berpikir bagaimana perasaannya kalau dia sampai mendengarnya?" tanyanya seraya meninggalkan puing bingkai yang pecah dan berjalan sedikit menjauh dariku.
"Aku berani mengatakannya karena dia tak mungkin ke sini dan dia tak akan pernah tahu kalau tidak ada yang memberi tahu," tegasku masih dengan suara pelan.
"Aku tidak bisa melanjutkan percakapan ini," katanya putus asa.
"Kenapa? Kamu akan lari dari kenyataan?"
"Itu cerita kita lalu. Masa depan telah berubah semenjak terjadi kebakaran delapan tahun silam." Dia bergerak mendekati jendela dan menatap ke luar.
"Kau bisa mengubahnya jika kau mau. Lihat saja bekas luka di wajahmu juga sudah hilang. Bukankah jika ada kemauan semua hal bisa dilakukan?"
"Luka itu secara fisik telah hilang tapi memori yang tersimpan tetap akan melekat. Aku kehilangan orang yang aku sayang pada peristiwa itu. Itu yang tak pernah kulupakan. Jika kita bersama, kita memang bisa mengubah status kita, tapi kita tak akan bisa mengubah rasa sakit pada hati orang di sekeliling kita. Apalagi orang itu adalah Niah. Orang yang kukenal. Aku tak ingin menjadi orang kejam yang merampas kebahagian orang lain. Jadi kita lupakan saja cerita itu. Anggap tak pernah ada," jelasnya tanpa menatapku dan masih sibuk menatap keadaan di luar sana.
"Walaupun kamu menyuruhku menyerah, aku tetap akan mencintaimu sampai akhir. Hatiku tak pernah bisa dibohongi," kataku seraya berjalan menuju pintu keluar.
Kulihat ia menoleh sedikit. Aku memutar daun pintu hingga pintu terbuka lebar-lebar.
"Kalau kau tak menginginkannya lebih baik kita sembunyikan saja karena aku tak ingin menghapusmu," kataku seraya melangkah keluar bersama undangan di tangan kiri dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Pak Aryo ternyata ada di belakangku. Aku sedikit terperanjat.
"Kamu ngapain di dalam sana lama sekali?"
"Hanya disuruh Bu Airin untuk memberitahukan kabar gembira ini, Pak," kataku mengulurkan undangan wanita di dalam ruangan tadi. Pak Aryo menyambut uluran tanganku, ia pun mengamati undangan dengan saksama. Sesekali membenahi letak kacamatanya.
"Ya, bagus-bagus. Sungguh kabar gembira. Kamu ternyata orang yang beliau percaya. Pasti sebentar lagi bisa dipromosikan," kata Pak Aryo menepuk pundakku.
Sesaat perempuan tadi keluar dari balik pintu. Pak Aryo tersenyum. Ia mempersilahkan Pak Aryo masuk dan menatapku sekilas. Selanjutnya mengabaikanku dan menutup daun pintu. Suara itu mirip dengan bunyi kecil di tengah-tengah pembicaraanku dengannya tadi. Ah, mungkin saja itu hanya buah rasa takutku.
Aku pun melangkah jauh meninggalkan ruangan terhormat.
"Mas."
Perempuan dengan tas jinjing cantik tengah duduk itu seketika membuatku merinding.
"Ngapain kamu datang ke sini?" tanyaku sembari mendekatinya.
"Kejutan. Aku mau ketemu sama bos baru di tempat kerja Mas." Kau berdiri lalu tersenyum.
"Sudahlah kita pulang saja." Aku menggamit lenganmu. "Ayo kita pulang sama-sama!"
Belum juga aku melangkah kau melepasnya. "Aku ingin membeli rumah kosong itu, Mas."
"Rumah kosong mana?" tanyaku tak mengerti.
"Depan rumah kita," jawabmu diikuti senyuman panjang.
Aku membelalak.
"Dan semua kenangan yang ada di dalamnya tanpa terkecuali termasuk kamu," katamu sukses membungkam mulutku.
Deg.

-----------------------------------------------------
Tolong jangan beritahu Niah,
bahwa kini hatiku terbawa,
pada sesesorang disana,
pada satu cinta disana
Bagaimana lagi, yang harus ku katakan, bila aku tak mampu lagi berbohong untuk mencintainya
Lalu apa lagi, yang harus ku katakan,
saat dia berjanji akan mencintai aku untuk selama-lamanya,
untuk selama-lamanya,
untuk selama-lamanya
Tak ‘kan sampai hati bila ku pergi,
meninggalkan Niah, melukai Niah
Apapun yang akan terjadi nanti,
aku akan s’lalu, ada di sampingnya,
aku akan s’lalu, merawat Niah di sini (Sheila On 7)

Sabtu, 10 Januari 2015

BEGINI SAJA SUDAH CUKUP



Mendung telah menggantung di langit. Cuaca sepertinya mulai memburuk semenjak hujan jatuh tanpa permisi setiap hari. Tidak pagi, siang, sore bahkan malam. Aku telah berdiri di pintu masuk yang terbuka lebar-lebar, mencari kawan-kawanku. Seorang gadis dengan dress biru muda berdiri dan melambai ke arahku. 

"Hei, akhirnya datang juga. Lengkap sudah," sapa Nita yang girang melihatku datang.
Aku telah berjanji membuat reuni kecil dengan kawan seperjuangan semasa putih abu-abu. Reuni kecil ini hanya didatangi 4 orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Mungkin mereka yang tak tahu mengira kami double date tapi itu tidak mungkin.
"Sebagai koordinator, Deni beri kami prakata," celetuk Nita.
Aku tersenyum melihat Deni yang sudah bersiap-siap membawa catatan kecil.
Deni berdehem terlebih dulu sebelum bicara. "Terima kasih telah memenuhi undangan. Pertama-tama kita ucapkan selamat datang, selamat bertemu kembali. Tak seru kiranya empat tahun tak bertemu jika hanya dihabiskan dengan makan-makan tanpa bercerita. Jadi mari kita kuis."
Aku tertawa melihat Nita menoyor kepala Deni.
"Nggak ada kuis-kuisan. Kita ganti permainan saja. Bagaimana? Aku punya usul judul permainannya jika bisa memilih. Setuju?"
"Nah, itu maksudku tadi permainan," kata Deni meluruskan.
"Bagaimana Dira?" tanya Nita pada gadis pink yang sedari tadi belum terdengar suaranya. Ia pun mengangguk setuju.
Sepertinya aku sedikit tertarik. Bukan dengan permainannya tetapi dengan jalan pikiran seseorang yang ingin kubaca. "Aku setuju," kataku sebelum ditanya.
"Okei jadi begini. Aku sudah mempersiapkannya," ujar Nita seraya mengeluarkan botol dari tasnya.
"Aduh, bisa kena pertama dan berkali-kali aku kalau pakai botol! Ogah" celetuk Deni membuat Nita gerah.
"Jadi cara mainnya biar Dira yang jelaskan. Bantuin ngomong dong, Dir, please!" pinta Nita.
"Jadi begini saja. Setiap orang hanya punya satu kesempatan. Jika ia kena dua kali atau lebih ia bisa memilih siapa orang yang akan bercerita selanjutnya. Yang memutar pertama aku pilih Deni saja dan kamu boleh milih siapa yang memutar selanjutnya. Bagaimana?"
"Deal," kami bertiga menjawab kompak. Botol telah siap-siap diputar oleh Deni sebagai koordinator acara. Ia terlihat sedikit panik. Ketika botol itu berputar kurasa giliran pertama akan jatuh padaku, tapi keajaiban muncul. Nyaris.
"Aduh, kenapa aku yang memutar, aku pula yang kena pertama."
"Takdir namanya Den," celetukku.
"Okei pertanyaannya. Kalau bisa kita memilih kamu mau jadi apa, Den?"
"Jadi begini juga udah bersyukur. Tapi kalau bisa memilih ingin jadi koboi biar keren. Udah segitu saja."
"Udah segitu doang?" tanya Nita.
Deni pun mengangguk. Nita terlihat kecewa.
"Nggak seru kalau nggak ada tantangannya. Bagaimana kalau yang kalah menghabiskan 2 mangkok sup buah," usul Nita.
Deni dengan lantang bertanya, "Itu sup buahnya boleh dibungkus nggak?"
"Harus dihabiskan di tempat. Jadi berhubung baik hati kesempatan buat Deni udah lewat. Nggak bisa diulangi lagi," cetus Nita. "Kita putar lagi ya," lanjutnya.
Botol itu berputar sangat cepat. Entah pada siapa botol itu akan berhenti yang jelas aku sedang berpikir ingin jadi apa. Botolpun berhenti pada Nita.
"Yah, ternyata botol itu akan berhenti pada siapa yang memutar," celetuk Deni agak sensi.
"Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa, Nita?" tanya Dira dengan suara lembutnya.
"Aku ingin menjadi orang pintar dan menciptakan orang-orang pintar. Kalau banyak orang pintar di negeri kita pasti Indonesia tidak akan melulu memakai produk luar. Menciptakan orang-orang pintar yang bangga memakai produknya sendiri dan menciptakan karya-karya inovatif, itu yang aku dambakan sejak dulu."
"Heran kenapa kamu mikir sampai segitu sih? Nasionalis banget."
"Biarin syirik aja kamu, Den."
Nita melirik ke arahku. Ia memberi isyarat tatapan mata ke botol. Apakah artinya giliranku memutar?
"Hati-hati itu botol terkutuk. Siap-siap aja Glen," celetuk Deni yang tidak-tidak.
Baiklah mungkin jika kena giliranku aku akan memilih botol itu tak jatuh padaku. Aku memejamkan mata seusai memutar botol.
"Yes, Dira. Kutukan botol itu tak ada Den," ujar Nita.
Botol itu jatuh pada Dira saat aku membuka mata. Sekelibat Deni yang penasaran, segera melihat ujung demi ujung botol. Seperti melihat keanehan tapi tak ditemukan.
"Sekarang giliran kamu, Dir. Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa?" tanya Nita.
Kulihat Dira sedikit mengerutkan keningnya sesaat.
"Aku ingin menjadi anak kecil," jawabnya membuatku tercengang. Sesimpel itu keinginannya.
"Kenapa? Pasti karena kemauannya selalu dituruti ya?" celetuk Deni mengamati dengan saksama.
"Aku ingin menjadi anak kecil yang tahu hujan itu jatuhnya dari langit. Hanya sebatas itu saja dan ia belum tahu bagaimana siklus terjadinya hujan. Hujan yang jatuh dari atas itu tampak indah sampai mereka ikut merasakannya. 'Asyik bisa bermain dengan hujan' pasti itu kata mereka."
"Memangnya mengapa kalau sudah tahu siklus terjadinya hujan? Apa bedanya?" tanyaku penasaran.
"Aku sudah besar dan tahu siklus terjadinya hujan. Sudah banyak sekali mengalami kehujanan, basah dan kedinginan. Aku sudah tahu dari mana hujan itu berasal. Air yang menguap dan berkumpul di atas. Ketika sudah tak terbendung ia turun. Enaknya jadi anak kecil yang tak tahu apa-apa. Ia menangis karena bagi mereka orang dewasa akan sedikit melunak dan menuruti kemauan mereka. Tapi aku bukan lagi menjadi bagian mereka."
Kami bertiga mendengarkan kata-katanya dengan tenang.
"Hujan di bulan Desember mengguyur badanku. Aku berdiri dipinggir jalan tanpa payung karena seseorang yang tahu bagaimana posisiku telah naik bus duluan. Ia meninggalkanku tanpa kata-kata yang terucap. Aku hanya berdiri dengan sebotol air mineral dan sebungkus tissu yang telah luber terkena hujan. Ada yang berlalu lalang sangat dekat dengan tubuhku tapi mereka hanya menatapku kosong dan lewat begitu saja. Aku sudah basah, menggigil kedinginan dan tak ada yang menolongku. Coba bayangkan jika aku anak kecil, aku akan bermain-main dengan hujan. Tapi sayangnya aku tahu darimana hujan itu berasal. Aku sudah tak bisa membedakan mana hujan buatan mana hujan yang sebenarnya. Hujan yang kutahu itu terjadi setelah air yang kubendung berkumpul bertahun-tahun di dalam dada. Bukan dari sungai, danau, laut atau bahkan sumur. Air itu ada karena aku membubuhkan perasaan di dalamnya. Rasa sakit yang ikut melebur di dalamnya larut menjadi satu dengan rasa bahagia ketika aku jatuh cinta. Ya aku tengah menyukai seseorang yang telah memiliki kekasih dan sadar bahwa tak akan mungkin memilikinya. Tapi awalnya aku kukuh menyimpannya rapat-rapat. Sampai tiba waktunya air dibendunganku tak kuat menahan datangnya air, aku mencoba menerobos masuk ke sela-sela hatinya. Akhirnya dia tahu jika hatinya kutaruh dalam rasaku tapi tak ada balasan darinya. Puncaknya aku melihat dia pergi bersama kekasihnya yang memberiku sebotol air mineral dan selembar tissue. Perempuan itu kukenal dengan baik. Dia kakakku dan aku telah kalah darinya, perempuan itu telah mengambilnya pergi."
Kulihat Dira meneteskan air mata. Kami bertiga bertatap-tatapan. Nita mengelus bahu Dira. Dira melepas tangan Nita dan mengusap air matanya. Sejenak ia menghela nafas. Aku tak pernah tahu gadis sepertinya menyimpan kenangan buruk bahkan dengan kakaknya sendiri.
"Sekarang kalian sudah tahu. Bukankah akan lebih enak jika jadi anak kecil yang tak tahu cinta? Ia hanya mengerti rasa suka tapi belum pernah merasakan patah hati," katanya seraya tersenyum.
Deni memberi applause. "Diam-diam hebat juga kamu, Dir? Aku kagum. Sepertinya aku mulai menyukaimu," celetuk Deni.
Aku ikut tersenyum dan di dalamnya aku menyimpan rasa kagum sejak dulu.
"Hei, kamu tidak mengindahkan aku, Den?" Nita memincingkan matanya. Pasangan kekasih itu ternyata masih awet meskipun sering berdebat dan beda pandangan.
"Suka aja bolehkan? Masak nggak boleh?" Melihat tatapan Nita yang mengerikan membuat Deni berdehem dan melanjutkan, "Kita balik lagi putar botol. Tidak tidak. Sepertinya cuma tinggal satu. Langsung saja kamu Glen."
"Setuju. Pertanyaan yang sama. Kalau bisa memilih kamu mau jadi apa?" lanjut Nita.
"Aku memilih menjadi pemenang."
Deni dan Nita memincingkan mata dan saling tatap-menatap.
"Pemenang dari?" tanya Deni.
Ah, mana mungkin kukatakan hati Dira. Mereka berdua akan menertawakanku habis-habisan. Ingat ini hanya reuni kecil bukan double date.
"Permainan ini. Ya tentu saja permainan ini, Den. Jangan berpikir yang macam-macam. Tapi sepertinya Dira yang sudah memenangkan permainan ini. Aku mengaku kalah dan siap mendapatkan hukuman."
"Aku setuju. Kali ini Dira pemenangnya dan kita bertiga kalah. Karena tadi kesepakatannya hanya menghabiskan 2 mangkok sup buah tanpa kesepakatan lainnya, jadi bagaimana kalau 1 mangkok untuk kalian berdua dan 1 mangkok lagi untuk aku dan Dira," ujar Nita membatalkan kesepakatan.
"Lho kok gitu?" Deni garuk-garuk kepala.
"Iya kesepakatan kita ubah saja. Kasihan kan masak yang menang nggak dapat bagian?" Nita menyenggol bahu Dira.
"Baiklah setuju," sahut Deni.
Reuni kecil ini membuatku belajar banyak pada Dira. Dia berani mengutarakan terang-terangan perasaannya dan menerima akibatnya. Dia sudah tahu kalau akan terluka tapi ia tetap melawan rasa takutnya. Sayangnya aku tak seperti dia. Bagiku melihatnya dari jarak sedekat ini lebih nyaman tanpa dipenuhi berbagai prasangka. Aku tak perlu takut kehilangannya, tak takut dia marah padaku, karena dia akan ada di dekatku sebagai sahabat. Persahabatan yang dibubuhi cinta terkadang akan rusak dengan sendirinya dan aku tak akan merusak jalan ceritanya dengan mengatakan "Aku mencintaimu". Ya mungkin lebih baik aku menyimpannya.
Aku menghelakan nafas.
"Kenapa kamu Glen?"
"Tak apa," jawabku.
Sesaat gemericik air turun menghantam tanah, genteng rumah dan pohon-pohon di sekitar caffe. Hujan, itulah yang barusan kami bicarakan dan kini ia turun menghapus ingatan buruknya dengan pertemuan ini.
"Yah, hujan. Sup buahnya kita ganti dengan kopi aja yuk! Biar hangat," cetus Nita.
"Aku hot chocolate aja. Aku nggak suka kopi," kata Dira lembut.
"Aku teh hangat. Aku juga nggak suka kopi," ujarku.
Aku baru tahu hari ini, dia tidak suka kopi. Aku dan dia sama. Begini saja sudah cukup. Aku menikmatinya bersama hujan yang melagukan kisahku--mencintai sembunyi-sembunyi.


-------------------------------------------------------
Cinta memang mungkin inilah cinta
Apa pun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
Tanpa kumiliki rindu terasa
Bukan tak percaya diri
Karena aku tahu diri
Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
Mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh (Tulus) 

Kamis, 08 Januari 2015

MANTAN TERINDAH



Seribu langkah kecil berlari pada jalanan setapak berbatu yang cukup menyulitkan. Ia terseok-seok. Lalu suara isak tangis terdengar pecah terlebih dulu. "Jangan pergi! Jangan. Jangan pernah," teriak wanita itu. Aku terbangun karena dadaku terasa sesak. Mimpi buruk itu lagi. Keringat dingin mengucur melewati pipi. Ini tanggal sepuluh di bulan Juni. Masih belum kulupakan dan tersimpan rapi. Sudah setahun aku melakukan kesalahan besar. Mungkin itu alasan mengapa aku dihantui setiap terlelap di malam hari. 

"Kenapa, Yah?" tanya wanita cantik di sampingku yang telah mendukungku setahun ini.

"Hanya mimpi buruk," jawabku seraya beranjak dari tempat tidur."Mau kemana?""Ke kamar mandi."Mulailah aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganmu masih berlarian di kepalaku. Kau masih sayup-sayup terdengar memanggil namaku.Kunyalakan lampu di ruang sebelah. Kukeluarkan sebuah kepingan CD dari laci almari dekat TV paling bawah. Tidak seharusnya kepingan itu kulihat sekarang tetapi tanganku sudah terlanjur menyalakan televisi. Baiklah mungkin hanya untuk sebentar. Yohana juga tidak akan tahu jika volume suara ku setting pelan. Lagi pula ia sedang tidur."Sini-sini biar aku yang rekam. Hai, aku Nadine. Cita-cita menjadi seorang perancang terkenal," katamu dalam video yang kulihat."Kalau kamu mau jadi apa, Dit?" lanjutmu seraya menyorot wajahku di video itu."Jadi lelaki sejati," jawabku."Terlalu global. Ga asik. Ayo dong pikirkan lagi sesuatu yang lebih spesifik!" pintamu seolah kau adalah seorang wartawan dan aku nara sumbernya."Bagaimana kalau jadi nahkoda atau supir?" tanyaku."Hah?" Kau agak tidak percaya pada apa yang kukatakan."Iya karena nahkoda bisa menuntunmu mengarungi samudra kehidupan dan supir bisa mengantarmu ke tempat yang ingin kau tuju~kebahagiaan."Kau tersipu. "Dan kita akan mengarunginya bersama-sama."Kau pun menyorot wajah kita berdua. "Dit, senyum ke kamera. Sebagai kenang-kenangan kita berdua. Siapa tahu aku jadi perancang terkenal kelak," katamu.Kita berdua pun tersenyum. Sekejap terlihat aku mencuri pandang padamu. Kau yang masih bertingkah seperti anak kecil cukup menggemaskan di mataku.Ah, sepertinya cukup. Aku mematikan video itu. Sudah sedikit terasa hangat di hati. Ku kembalikan kepingan CD itu. Ketika berbalik badan Yohana sudah di belakangku."Yah, kenapa terlihat resah? Mikirin apa?" tanya Yohana seraya mengucek matanya dan berjalan menghampiriku."Tidak apa-apa hanya masih terbayang mimpi buruk tadi.""Cerita dong, Yah," pintamu seraya menguap."Itu masih ngantuk. Sudah tidur saja dulu. Nanti kalau kamu bangun aku baru cerita.""Tidak, kali ini itu tidak akan mempan. Kau sudah hutang cerita banyak. Aku istrimu. Aku berhak tahu.""Baiklah aku akan mendongeng sedikit," kataku sedikit membuat wajahnya serius. "Selesai," lanjutku seraya berjalan kembali ke kamar."Apanya? Belum juga cerita, sudah main selesai-selesai," kata Yohana seraya menghadangku.Aku tak sanggup mengatakannya. Rasa takut mulai menjamahi tubuhku. Aku sudah pernah kehilanganmu, dan aku tak ingin kehilangannya.Setelah cukup lama berdiam dengan tatapannya yang menyelidik aku tak tahan lagi."Baiklah kalau kau memaksa. Peraturan pertama dengarkan saja. Kedua jangan berpikir yang tidak-tidak ya Bun. Aku akan mulai bercerita. Dalam mimpi itu aku menemukan seorang perempuan.""Apa dia cantik?" Yohana bertanya."Bun, ingat peraturan pertama. Dengarkan dulu.""Baiklah," jawabnya seraya menutup mulut."Perempuan itu tengah memakai gaun cantik. Ia bercermin dan berputar berkali-kali menunjukkannya pada seorang laki-laki. Laki-laki itu hanya tersenyum."Dia terlihat serius menyimak ceritaku."Lalu mereka terlihat keluar dari sebuah butik membawa gaun putih yang tadi dipakai. Si perempuan menggamit tangan laki-laki. Sepanjang hari keduanya berputar-putar keliling kota. Setelah lelah mereka berhenti pada sebuah tempat makan dan memilih out door. Si perempuan memperlihatkan gambar-gambar gaun indah. Si laki-laki justru mengamati ekspresi dan gaya bicara si perempuan.""Lalu?""Si laki-laki mengatakan sesuatu pada si perempuan. Sudah selesai.""Lalu bagian mimpi buruknya sebelah mana? Menurutku itu seperti cerita sepasang kekasih biasa," sahut Yohana."Ya berakhir, setelah laki-laki mengatakan sesuatu. Perempuan itu menangis. Memukul-mukul dada si laki-laki tanpa daya. Lalu si laki-laki mengucapkan maaf berulang kali dan meninggalkan perempuan itu sendiri. Perempuan itu lalu datang dalam mimpi setiap malam mengatakan jangan pergi.""Jadi maksudnya wajah perempuan itu yang seram, seperti di film horor dan mengatakan jangan pergi sambil ngesot atau melotot?" tanyanya lugu.Aku menggenggam tangan Yohana. Jemarinya mungil seperti jemari tanganmu. Seandainya saja dia adalah kau."Laki-laki itu aku, Bun dan sebenarnya itu kenyataan yang membekas dan berulang dalam ingatan."Yohana terperanjat dan melepas genggaman tangannya."Yah, bagaimana mungkin kau simpan rapat-rapat kejadian itu selama satu tahun?"Ia menghempaskan badan ke sofa."Aku tak ingin membuatmu cemas. Tapi bukankah kau yang ingin mengetahuinya sekarang?"Ia pun terdiam dan meremas rambut di bagian atas dahi."Maaf, Bun. Aku pernah menjadi lelaki jahat. Sehari sebelum pernikahan aku baru mengatakan kalau kita akan menikah meskipun kau bilang aku harus memberitahunya seminggu sebelum pernikahan."Hening."Di hari pernikahan kita dia datang dengan gaun hitam. Aku rasa kau mengenalinya tapi aku tetap tak ingin mengatakan siapa dia.""Kenapa kau tak mengatakannya dulu? Kalau kau mengatakan hari itu aku masih bisa membatalkannya." Air matamu mulai terjun bebas. "Aku wanita. Aku tahu bagaimana rasanya kau ungkapkan itu satu hari sebelum hari bahagiamu dan menyuruhnya datang."Aku memeluk Yohana. "Maaf. Sekarang aku telah melukai dua orang yang kusayangi. Tapi aku tak ingin membiarkanmu pergi, seperti aku membiarkannya pergi."Masih terdengar isakkan tangisnya di dalam pelukanku."Aku tahu dia wanita yang kuat. Aku yakin dia akan cepat bangkit dan menjalani hidupnya tanpa aku. Kamu lebih membutuhkanku daripada dia.""Wanita itukah? Satu-satunya wanita yang tak bahagia di hari itu. Sekarang aku tahu alasannya mengapa ia mengatakan menyempatkan diri datang disaat ia sedang berbela sungkawa.""Kau benar. Dia yang telah membuatkanmu gaun indah yang membuatmu terlihat semakin cantik.""Jadi gaun putih yang kupakai saat pernikahan kita adalah hasil rancangannya. Mengapa kamu tega melakukan itu padanya?""Aku ingin membuatnya tersenyum. Ia sangat ingin gaun rancangannya dipakai oleh seseorang. Itu mimpinya. Karena aku tak bisa mengabulkan harapannya untuk tetap ada di sampingnya, jadi aku menyuruhmu mendatangi dia dan memesan gaun itu. Paling tidak aku memberinya sebuah senyuman sebelum merampasnya kembali."Tiba-tiba aku mengingat kembali hari-hari yang telah kita habiskan bersama. Kau dan aku mengarungi luasnya samudra hidup tetapi aku telah lalai menjadi seorang nahkoda. Aku telah menabrak karang dan membuatku terdampar di negeri orang. Aku telah gagal menjadi supir. Aku memang mengantarmu sampai ke tempat tujuan tetapi aku berbelok dan bertemu penumpang baru yang meminta tolong padaku.Nadine. Tidak ada yang bisa menggantikanmu dalam mimpi itu. Mimpi yang terus berputar ulang seperti sebuah rekaman. Ternyata kau terlalu indah untuk dilupakan. Kau mampu memaksa memoriku untuk mengingat luka yang kutinggalkan dan aku tak akan mengulangi kisah itu pada Yohana. Aku akan berlayar dengannya, menjadi nahkoda yang perkasa. Bagiku kau tetap akan jadi mantan terindah dalam hidupku yang pernah mengajariku mengarungi samudra kehidupan walaupun sesaat. Aku masih merindukanmu, Nadine tapi aku sudah memiliki seorang yang merindukanku setiap hari."Yah, aku minta maaf. Karena aku kau sekarang tak bisa bersama perempuan itu," kata Yohana seraya mengusap linangan air di pipi."Itu sudah berlalu. Kita jalani saja apa yang ada di depan mata kita," sahutku.Ya seperti kau menjalani hidupmu tanpa aku yang pernah menghianati kesetiaanmu."Yah, bagaimana jika aku menemuinya dan meminta maaf? Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?"Deg.__________________________________Mau dikatakan apa lagiKita tak akan pernah satuEngkau di sana, aku di siniMesti hatiku memilihmuAndaiku bisaIngin aku memelukmu lagiDi hati ini hanya engkau mantan terindahYang selalu ku rindukanEngkau meminta padakuUntuk mengatakan bila ku berubahJangan pernah kau ragukanEngkau kan selalu di langkahkuYang tlah kau buatSungguhlah indahBuat diriku susah lupa (Kahitna)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...