Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

KATAMU CINTA KARENA TERBIASA

Cinta membuatku buta. Segala hal dipenuhi tentangku, tentangmu. Mengenalmu begitu lama membuatku menumbuhkan warna pelangi di dada, menggugahku yang tertidur lama, menebar benih asmara, menyuruhku jatuh cinta karena terbiasa. Hari-hariku berjuang bersama tak mengubahmu menjadi orang lain. Kau tetaplah dirimu yang mampu meliukkan hatiku. Suara nyaringmu menjadi nyanyian di gendang telingaku. Merdu, menanam kerinduan untukku.
Tawa adalah awal mula terjadinya rasa. Awal perkenalan kita pun terjadi tak berlangsung lama, tiba-tiba kita menjadi dekat. Kamulah orangnya yang mengisi kekosongan hariku tanpa jeda. Keanehan yang kubuat tak membuatmu meninggalkanku, justru menimbulkan gelak tawa riuh kebersamaan. Semua hal menjadi indah karena keberadaanmu melengkapiku. Kau menyihirku dengan pesona bijakmu. Kau bantu aku terbiasa hidup tanpa penyesalan. Kau menggugurkan rasa bersalahku, kau pecutkan semangat, menyanjungku kuat.
Begitu baiknya Tuhan menghadirkanmu di tengah perjalananku. Mempertemu…

HARI BERSAMANYA

Kamu memenuhi ruang kerja otakku. Memaksaku mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terlewati. Kamu memotong pizza menaruhnya di piringku. Sudah berasa seperti bermain film dengan setting caffe Pizza.
“Kamu kenapa masih single? Tidak mau mencari pacar atau memang tidak mau pacaran?”
Aku hanya tersenyum seraya menguyah pizza pelan-pelan.
“Oke. Aku simpulkan jawaban yang kedua saja.”
Aku tertawa. “Kamu dari dulu belum berubah ya,” celetukku.
“Bukannya kamu yang belum berubah? Asal kamu tahu sekarang aku sudah bisa minum kopi dipagi hari,” katamu diikuti menjulurkan lidah.
“Benarkah? Yakin nggak sakit perut lagi? Ya mungkin saja untuk beberapa hal kamu berubah tanpa sepengetahuanku,” kataku.
Kamu mengamati air minum di gelasku dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Apa kabar ikan mungilmu dulu?”
Glek. Mungkin karena warnanya sama orange kemerahan. Tiba-tiba kau menaruh fettucini setelah melihat piringku kosong. Hal itu sempat membuatku tersenyum sesaat dan ketika tersadar kami membic…

ANDAI DIA TAHU

Gadis satu itu tak jua membuatku lelah menatap. Dia lebih menarik dari kue tart di depanku. Lebih menarik dari acara surprise party yang dibuat adikku. Ah, gadis itu kenapa berpindah tempat disaat aku ingin memberikan potongan kue pertamaku.
"Kuenya mau diberikan siapa Kak?" tanya Loli, adikku yang sedang penasaran.
Aku melempar pandanganku ke seluruh ruangan. Dia tak ada. Kemana?
"Kak?"
Aku tersenyum. Pada akhirnya kue itu berpindah tangan ke Loli.
"Yeah! Aku mengalahkan Mama Papa," celetuk Loli kegirangan.
Ku ikuti proses acara hingga runtut. Ketika sampai pada acara hiburan Loli sedikit melancarkan protesnya.
"Kak, ga suka sama surprise party buatanku ya? Dari tadi kakak gagal fokus deh!" keluhnya kesal.
"Nggak. Kakak suka kok."
"Kakak lagi nunggu seseorang ya? Terus dia ga datang? Kok kelihatan gelisah gitu sih?" tanya Loli menyelidik.
Aku tertawa. Bukan karena lucu. Kecil-kecil begitu Loli bisa membaca pikiranku.
"…

FIRASATKU

Menunggu bukan pekerjaan mudah. Apalagi sendiri di tepian jalan dan orang yang kau tunggu tak kunjung datang.
"Ra, udah sendirian dari tadi?" tanya Ben membuat air mataku sedikit keluar.
Aku mengangguk dan mengusap air mataku. Ben turun dari motornya dan memakaikan helm ke kepalaku.
"Ayo naik!"seru Ben seraya menepuk jok motornya.
Aku diam.
"Kamu marah?"
"Nggak," jawabku seraya menaiki motor Ben.
"Sudah berapa lama kamu berdiri di situ tadi?" tanya Ben sembari tersenyum dan menyalakan mesin.
"Satu setengah jam," kataku seraya melihat jam tangan.
"Kenapa tadi nggak bilang? Aku bisa jemput kamu lebih cepat," ujar Ben menawarkan diri.

Motor Ben akhirnya berjalan. Kuhela nafas panjang entah bentuk kelegaan atau kekecewaan. Beribu rasa berkecamuk di dalam dada itu yang kutahu saat ini.
"Ben, apa salah kalau aku menunggu seseorang yang kupercayai. Lalu ternyata orang itu mengabaikanku seperti ini."
"Apa?&q…

Jangan Beritahu Niah

”Jangan hukum aku jika suatu saat nanti kau tahu,” batinku dalam hati. Aku memandang jauh ke depan jendela yang tertutup rapat. Sudah lama sekali jendela itu tak terbuka. Rumah itu tak berpenghuni semenjak delapan tahun yang lalu pemiliknya pergi. Orang sekitar bilang rumah angker tapi tidak bagiku. Ada wanita cantik di sana yang selalu memanggil ingatanku di pagi hari. Dulu wanita itu mengajakku berangkat sekolah bersama, memilih teman yang sama, menyuruhku memiliki hobi yang sama seolah kebersamaan itu melekat dan tak terpisahkan dari kami. Dia pun semakin lama tumbuh menjadi dewasa tapi aku tak menyaksikannya.
"Ini kopinya, Mas. Kok setiap pagi nongkrong di depan jendela, apa nggak bosan?" tanyamu meletakkan cangkir kopiku di meja.
"Mumpung masih pagi udaranya masih segar. Lho kamu tidak siap-siap berangkat kerja?" tanyaku balik yang melihatnya belum berpakaian rapi seperti biasa.
"Ini hari Minggu. Mas lupa? Minggu aku libur mas," jawabmu seraya mendek…

BEGINI SAJA SUDAH CUKUP

Mendung telah menggantung di langit. Cuaca sepertinya mulai memburuk semenjak hujan jatuh tanpa permisi setiap hari. Tidak pagi, siang, sore bahkan malam. Aku telah berdiri di pintu masuk yang terbuka lebar-lebar, mencari kawan-kawanku. Seorang gadis dengan dress biru muda berdiri dan melambai ke arahku. "Hei, akhirnya datang juga. Lengkap sudah," sapa Nita yang girang melihatku datang.
Aku telah berjanji membuat reuni kecil dengan kawan seperjuangan semasa putih abu-abu. Reuni kecil ini hanya didatangi 4 orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Mungkin mereka yang tak tahu mengira kami double date tapi itu tidak mungkin.
"Sebagai koordinator, Deni beri kami prakata," celetuk Nita.
Aku tersenyum melihat Deni yang sudah bersiap-siap membawa catatan kecil.
Deni berdehem terlebih dulu sebelum bicara. "Terima kasih telah memenuhi undangan. Pertama-tama kita ucapkan selamat datang, selamat bertemu kembali. Tak seru kiranya empat tahun tak bertemu jika hanya dihabisk…

MANTAN TERINDAH

Seribu langkah kecil berlari pada jalanan setapak berbatu yang cukup menyulitkan. Ia terseok-seok. Lalu suara isak tangis terdengar pecah terlebih dulu. "Jangan pergi! Jangan. Jangan pernah," teriak wanita itu. Aku terbangun karena dadaku terasa sesak. Mimpi buruk itu lagi. Keringat dingin mengucur melewati pipi. Ini tanggal sepuluh di bulan Juni. Masih belum kulupakan dan tersimpan rapi. Sudah setahun aku melakukan kesalahan besar. Mungkin itu alasan mengapa aku dihantui setiap terlelap di malam hari."Kenapa, Yah?" tanya wanita cantik di sampingku yang telah mendukungku setahun ini."Hanya mimpi buruk," jawabku seraya beranjak dari tempat tidur."Mau kemana?""Ke kamar mandi."Mulailah aku tak bisa memejamkan mata. Bayanganmu masih berlarian di kepalaku. Kau masih sayup-sayup terdengar memanggil namaku.Kunyalakan lampu di ruang sebelah. Kukeluarkan sebuah kepingan CD dari laci almari dekat TV paling bawah. Tidak seharusnya kepingan itu ku…