Langsung ke konten utama

MEMILIH(MU)





Aku melangkah sendirian menuju ruangan. Kelas terlihat kosong tak berpenghuni. Aku meletakkan tas di meja. Berbekal handphone dan headset aku berjalan keluar menuju balkon gedung. Beberapa saat kau sudah ada di sampingku membawakan sebotol minuman.
"Kenapa tadi nggak nyusul ke kantin? Jeda kuliah kan masih lama," tanyamu seraya mengulurkan botol minuman.
"Emm, tadi habis ketemu sama Puput. Aku ditahan dia," jawabku seraya melepas headset dan menerima pemberianmu.
"Ooo. Puput ngomong apa aja tadi? Ga gosipin aku lagi kan?" Kau membuka tutup botol dan meneguknya.
"Puput cuma cerita, dia dapat nilai delapan puluh sembilan. Sepertinya kali ini aku benar-benar kalah walaupun selisih satu poin. Tiba-tiba aku ingat kata-kata kamu dulu kalau keyakinan hati itu bisa kalah sama takdir," kataku mengabaikan cerita Puput yang tidak-tidak.
"Aneh ya, ketika kita merasa yakin pada sesuatu sering kali kita dibuat pusing setengah mati dan pada akhirnya terkadang takdir berbeda dengan apa yang kita pikirkan."
"Iya, kayak soal ujian yang mati-matian kukerjakan. Kupikir jawabanku sudah benar semua tapi mungkin hanya perasaanku saja. Nyatanya tetap ada yang salah."
Kau diam dan tiba-tiba bertanya, "Apa sih yang bisa membuat kamu merasa senang?"
"Kenapa?" tanyaku seraya membuka tutup botol.
"Jawab saja."
"Entahlah. Senang atau susah yang aku tahu asalnya dari hati dan pikiran." Aku meneguk minuman di botol.
"Kalau ada seseorang yang memintamu kembali setelah ia pergi, apa yang akan kau lakukan?"
Deg. Ada dentuman di dalam sana yang terasa menghantam bilik-bilik jantung.
"Kamu udah kayak dosen ngasih soal ujian aja. Susah jawabnya. Aku nggak ngerti," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kalau seseorang itu mengoyahkanku bagaimana?"
"Menggoyahkan? Seperti apa?"
"Ya seperti disaat seseorang yang pergi memintaku kembali, aku sedang menyukai seseorang."
Aku menoleh ke arahmu. Kata-kata Puput menjalar dipikiranku. Perempuan yang sering bertemu di kantin itu benarkah mantan kekasihmu.
"Beberapa hari ini dia sering mendatangiku. Ia bilang sudah waktunya kami kembali bersama. Dulu dia memutuskan berhenti karena tidak bisa long distance."
"Lalu?"
"Disaat aku terpuruk sendirian ada seseorang wanita yang mengangkatku. Menyuruhku menegapkan badan, menyunggingkan senyum, dan mematahkan asumsi-asumsi yang berkembang mati satu tumbuh seribu. Bagiku mati satu tumbuhnya ya satu dan itu adalah dia."
"Jadi dia memintamu kembali disaat dia sudah tahu kalau kau sedang menyukai seseorang?"
"Ya dia sudah tahu itu."
"Mungkin saja dia tidak ingin kamu mencintai orang lain. Tapi masalahnya kalian sudah tak berstatus."
Kau menatapku tajam. "Kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana?"
Deg. Kau bertanya pertanyaan yang sangat sulit. Tak ada rumus untuk menjawabnya.
"Aku nggak bisa kasih solusi, Rey. Itu masalah hati kamu. Hati kamu berhak memilih dan aku tak berhak menentukan."
"Kalau hati itu ada di kamu, apa ia juga tak berhak menentukan?"
Deg. Aku diam menunduk.
"Aku butuh kepastian. Bukankah wanita juga butuh kepastian itu untuk hal yang sama?"
"Harapanku terkadang tak sesuai dengan takdir, Rey. Aku tak berhak menentukan takdirmu. Meskipun aku bisa menentukan takdirku tapi aku takut mengacaukan takdir orang lain. Coba tanyakan kepada Tuhanmu. Mendekatlah pada-Nya agar kau temukan jawabannya. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Jadi aku masih punya kemungkinan-kemungkinan kecil itu."
"Mungkin saja. Bukankah setiap orang akan dipasang-pasangkan sesuai jodohnya? Meskipun pilihan kita, kalau bukan pilihan Tuhan, sampai kapanpun tidak akan bisa bersama."
Rey memegang jemariku.
"Jika memang kemungkinan kecil itu ada, izinkan aku tetap sebagai kawanmu sampai kutemukan jawabnya. Kau tidak boleh menjauh karena pernyataanku ini. Tetaplah di sini."
Aku tersenyum dan melepaskan tangannya. "Semua sudah ada yang ngatur. Kita jalani saja apa yang kita bisa lakukan," kataku.
"Jadi kamu mau menerimaku?"
Deg.
"Rey," panggil seorang wanita dari jauh. Ia berjalan semakin dekat. Wajah yang samar semakin tampak jelas. "Ayo kita pergi," lanjutnya.
Wanita itu menggamit tanganmu dan menarikmu pergi. Tanpa kata kau ikut dengannya.
Terkadang memang harapan berbanding terbalik dengan takdir. Yang terpenting aku tahu kau mencintaiku, selanjutnya urusan Tuhan sama kamu karena hatiku sudah memilihmu menempati ruang kosong yang selama ini tak diisi. Tuhan aku jatuh cinta.

_________________________________

Tuhan tolong aku katakan padanya
Aku cinta dia bukan salah jodoh
Dia untuk aku bukan yang lainnya
Satu yang kurasa pasti bukan salah jodoh
Bila hati tlah bicara takkan ragu hati ini mendekat kepadanya
Tak ingin ku menunggu
Jadikanlah aku oh cinta
Kekasih pilihan dihatimu
Kupercaya dirimu satu cintaku
Cinta janganlah cepat berlalu
Di sini temani hari hariku
Berdua jalani kisah bersama
Hanya ada kamu kita (Adriansyah Martin)


Komentar