Langsung ke konten utama

MELEPASMU BERARTI MERELAKAN





Gerimis singgah malam ini. Terasa lembab, basah dan nyeri pun merebak di sela-sela dadaku. Suara yang kudengar begitu parau. Kau menangis. Sesekali terdengar isakanmu, menit selanjutnya kau mencoba tegar. Aku mengantarmu pulang ke rumah. Kau menatap lurus ke jalan. Selanjutnya kita pun sampai setelah belokan pertama. Rumahmu masih seperti dulu.
Kau keluar dari mobilku dan menungguku di ujung mobil bagian depan. Aku ikut keluar dan berdiri di depanmu. Kau membalikkan badan ke arahku.
“Aku akan menikah, Har.” Kau mengucapkan kata-kata itu dengan begitu lancar . “Aku sudah memastikannya,” lanjutmu. Kutahu matamu memerah.
Entah mengapa pipiku hangat. Air mataku perlahan mengalir tapi buru-buru kuusap.
“Ini untuk yang terakhir kalinya, aku sudah mantap. Kau harus datang. Agar kau bisa meyakinkan dirimu bahwa benar-benar aku yang menikah,” lanjutmu seraya meletakkan undangan warna ungu ke tanganku.
Tak ada kata-kata yang terucap dariku. Tadi pagi kau sempat marah dan mengembalikan semua pemberianku, tetapi sore hari aku sempat membuatmu berpikir dua kali untuk menerimaku lagi. Kita telah makan di tempat kita dulu menghabiskan malam minggu bersama. Kita sudah pergi ke pasar malam dan kini malam hari, aku telah gagal membuatmu kembali padaku.
Kau memelukku. “Terima kasih untuk hari ini, Har. Aku menikmatinya. Kamu harus tahu yang diinginkan perempuan bukan hanya perasaan senang selalu setiap saat bersama orang yang disayang. Tapi perempuan juga ingin komitmen yang jelas,” katamu seraya merenggangkan pelukan.
Aku telah mengantarmu ke depan rumah. Aku telah mengembalikanmu ke posisi awal seperti saat kau memutuskan keluar dari lingkaranku. Kau telah menemukan laki-laki yang membuatmu kembali padanya. Lelaki itu tampaknya memang sudah jelas nyata di matamu.
“Kamu boleh pulang, Har,” katamu.
Tak ada kata-kata lagi mungkin bumi telah menelannya sehingga aku tak mampu lagi bersuara. Aku masuk ke mobil. Kau pun beranjak membuka pagar. Ada perasaan bergejolak, seperti mimpi, aku ingin memastikan untuk yang terakhir kali saat melihat undangan warna ungu yang ku taruh di dashboard. Kulirik kaca spion depan, lampion kado yang susah payah kubuat untukmu masih tertinggal di jok belakang. Aku pun akhirnya meraih lampion itu dan keluar dari mobil berlari mengikutimu. Namun apa yang kudapat kini aku pun melihatnya sekarang. Ia menghampirimu dan berlari. Melihatmu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kamu kemana saja? Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.
Kulihat kau mengangguk. “Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu panik.”
“Lain kali jangan biarkan handphone kamu low batt. Selalu bawa charger kemana-mana.”
“Iya, iya. Maaf,” jawabmu seraya tersenyum.
“Maaf pekerjaanku di kantor banyak. H-2 aku baru bisa urus cuti. Tapi demi kamu aku rela mengurusnya besok. Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
Lelaki itu melihat keberadaanku. Aku terlanjur masuk di halaman rumahmu dengan lampion cinta merah yang kutenteng.
“Itu siapa?” tanyanya.
Kau membalikkan badan dan sedikit terperanjat melihatku memegang lampion cinta merah. Kepalang tanggung aku maju mendekat.
“Hei, maaf mengganggu. Aku hanya seorang kurir yang mengantar kado pernikahan ini,” ujarku seraya mengulurkan lampion itu.
Dia yang menyambut perpindahan lampion itu dari tanganku.
“Bagus ya. Boleh juga ini kalau besok di taruh di kamar,” katanya seraya melihat tulisan-tulisan yang menempel di lampion itu.
Kau tersenyum dan berkata, “ Terima kasih.”
“Karena tugas saya telah selesai, saya pamit pulang.” Aku membalikkan badan dan menegapkan badan. Aku harus kuat. Kau telah memilih lelaki itu. Tak ada daya. Apalah artinya jika cinta ini kupertahankan untukmu, gadis yang kukenal sejak SMA. Kurasa bukan hanya aku saja yang menelan kekecewaan, tapi Bu Ingrid guru BP kita semasa SMA, tante Serif yang mengira aku calonmu serta Pak Enok di kedai kopi yang mengira kita balikan.
Aku masuk kembali ke mobil menyandarkan kepalaku di atas stir. Hujan pun turun dengan lebatnya. Ia membawa perasaanku luruh bersamanya. Aku harus menaruh kata-kata di buku yang pernah kubaca itu di kepalaku sekarang. Ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk ada di dalam hati kita, tapi bukan di dalam hidup kita. Kita nggak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menyukai kita. Yang bisa kita lakukan cuma merelakan, berharap supaya dia bahagia. Walaupun kebahagiannya bukan bersama kita.
-----------------------------------------------------------------
Kau temukan lagi seseorang yang bisa
Menjadi pendampingmu saat kau lemah
Dia kan mencoba membuatmu bahagia
Dan menjadi penopang saat kau lelah
Di saat kau merasa lemah tak berdaya
Dia kan mencoba memelukmu dengan hatinya
Kuingin engkau percaya
Bahwa kubahagia melihatmu dengannya
Kuminta tetaplah setia
Karna kubahagia melihatmu dengannya
Tak ada lagi yang kutakutkan dari kehilangan ini
Ku tetap berdiri ( JIKUSTIK )

Komentar