Langsung ke konten utama

Makhluk Impian



Kau mengajakku ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Menyuruhku memilihkan pakaian untuk pesta pernikahan teman terbaikmu. 

"Kamu beneran ga apa-apa kan aku ajak ke sini?"
"Iya tak apa," kataku.
"Biasanya laki-laki tak suka jika menunggu perempuan berbelanja pakaian. Kau tidak berpikir begitu kan?"
Aku diam dan tersenyum.
"Atau mungkin karena kau sudah tahu banyak tentangku yang juga tak suka berlama-lama di tempat seramai ini," lanjutmu.
Aku tersenyum mengamatimu yang sedang memilih beberapa gaun.
"Itu soft pink sepertinya cocok di kulitmu," celetukku.
"Yang mana? Ini?" tanyamu seraya menunjuk gaun pilihanku.
Aku mengangguk dan kau tanpa basa-basi mencobanya di kamar pas lalu pergi ke kasir. Aku tertawa.
"Kau menertawakanku?" Kau memincingkan mata saat keluar dari toko.
"Kamu itu pilih baju cepat sekali. Bagaimana kalau memilih pasangan? Jangan-jangan kalau aku bilang lelaki itu baik kau langsung jadian dengan lelaki itu," celetukku.
"Kita cari makan dulu, yuk! Aku sudah lapar," katamu seraya menarik tanganku mendekati food court mengalihkan pembicaraan.
Kau menaruh tas belanjaanmu di meja.
"Capek ya padahal cuma jalan bentar naik eskalator empat kali," keluhmu seraya mengambil posisi duduk.
"Anggap saja kita sedang berolahraga," celetukku.
"Berhubung aku yang mengajakmu kemari jadi aku traktir kamu makan dengan syarat harus makan makanan yang aku pilihkan. Titik."
"Okei, tak masalah."
Kau pun meninggalkanku sesaat. Aku berfantasi dengan khayalanku sendiri. Kau terlintas di kepalaku. Bagaimana bisa kau tersenyum secepat itu setelah melihat mantan kekasihmu sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Aku sibuk mengorek isi kepalaku sendiri.
"Sudah. Kita tinggal tunggu pesanan datang," katamu.
"Kamu pesan apa?"
"Sesuatu yang jelas kamu suka."
"Yakin. Memangnya kau tahu apa yang aku suka?"
Kau mengangguk membuatku berpikir keras. Sesaat pesanan pun datang. Beef.
"Bukankah kamu tidak suka daging sapi? Kamu kan bisa memilih yang lain," kataku.
"Tidak hari ini aku harus mencoba sesuatu yang berbeda," katamu sedikit memaksa.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku mau move on dari daging ayam ke sapi," katamu seraya menyuapkan nasi ke mulutmu. "Kupikir enak itu akan berlangsung lama, ternyata aku juga harus mencoba sesuatu yang menurutku tak enak. Tahu begini aku akan memakan daging sapi dari dulu lalu sekarang sudah terbiasa," lanjutmu seraya mengunyah.
Aku menghentikan aktivitas sendok-menyendokku. Mengamatimu sejenak. Ada air di sudut matamu yang mengumpul. Kupikir kau benar-benar tersenyum karena telah merelakan.
"Kamu baik-baik saja? Aku jadi khawatir," tanyaku yang mungkin terdengar berlebihan.
Kau menelan makananmu dengan tergesa-gesa.
"Pelan-pelan saja. Minum dulu gih!" seruku.
Kau memberengut. Menaruh sendok dan garpumu. Lalu meneguk separuh minuman di gelasmu.
"Apa kamu pernah memiliki mimpi tentang seorang putri? Aku pernah memiliki mimpi tentang seorang pangeran. Ia tidak berkuda putih. Bukan dari keluarga bangsawan. Tapi dia baik, selalu ada untukku, menyemangatiku, mengetahui seluk beluk tentangku dan yang tak kalah penting ia mengajariku tentang hidup. Apakah itu bisa disebut makhluk impian?" tanyamu berganti topik dan menghentakkan gelas ke meja.
"Eh?" Aku mengangkat alis.
"Memangnya makhluk impian itu seperti apa? Apa kamu tahu?" tanyamu padaku seraya melanjutkan melahap beef di piringmu.
"Entahlah. Setiap orang pasti punya deskripsi yang berbeda-beda. Cuma itu yang ku tahu," jawabku.
Kamu mengernyitkan dahi dan melempar lirikan tajam ke arahku.
"Baiklah. Mungkin makhluk impian itu lebih cenderung pada sosok atau tokoh imajinasi pada diri seseorang yang menginginkannya," lanjutku.
Kamu tiba-tiba tersenyum.
"Lalu apakah kamu memiliki makhluk impian sepertiku?" tanyamu membuatku berhenti berfikir.
"Aku tidak pernah memikirkan sejauh itu," jawabku sesaat kemudian.
"Baguslah. Kamu tidak akan merasa sakit ketika makhluk impianmu itu tak seperti yang kamu bayangkan."
"Sorry, kalau aku boleh tanya, apa kamu masih terluka?" tanyaku sedikit canggung.
Kau tersenyum. "Aku masih memiliki sisa-sisa harapan pada makhluk impian. Menurutku dia ada."
"Itu belum menjawab pertanyaanku."
Hening. Kau diam meletakkan sendok dan garpu lalu menatapku atau mungkin seseorang di belakangku yang terlihat baru saja duduk saat aku menoleh. Ternyata laki-laki yang ku kenal, teman sebangkuku dulu. Aku hanya melambaikan tangan padanya dan dia tersenyum.
"Aku pikir mimpi dan kenyataan itu sangat jauh. Tapi sekarang aku tahu mimpi itu sudah mendekati kenyataan," jawabmu mengalihkan pertanyaanku sekali lagi.
"Maksudnya?"
"Ku rasa aku sudah menemukannya sekarang," katamu menatap kosong lurus ke depan.
"Benarkah? Siapa? Kau bisa berbagi sedikit denganku jika mau," ujarku seraya menoleh ke belakang.
"Kamu tahu siapa orangnya," katamu sangat yakin dan melahap makanan kembali.
"Aku tak tahu."
"Kalau begitu aku tidak akan cerita. Sudah habiskan saja makananmu," sahutmu.

----------------------------------------------------

Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia di sini memberi cintaku harapan
(Maliq d'esential)

Komentar