Minggu, 28 Desember 2014

Makhluk Impian



Kau mengajakku ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Menyuruhku memilihkan pakaian untuk pesta pernikahan teman terbaikmu. 

"Kamu beneran ga apa-apa kan aku ajak ke sini?"
"Iya tak apa," kataku.
"Biasanya laki-laki tak suka jika menunggu perempuan berbelanja pakaian. Kau tidak berpikir begitu kan?"
Aku diam dan tersenyum.
"Atau mungkin karena kau sudah tahu banyak tentangku yang juga tak suka berlama-lama di tempat seramai ini," lanjutmu.
Aku tersenyum mengamatimu yang sedang memilih beberapa gaun.
"Itu soft pink sepertinya cocok di kulitmu," celetukku.
"Yang mana? Ini?" tanyamu seraya menunjuk gaun pilihanku.
Aku mengangguk dan kau tanpa basa-basi mencobanya di kamar pas lalu pergi ke kasir. Aku tertawa.
"Kau menertawakanku?" Kau memincingkan mata saat keluar dari toko.
"Kamu itu pilih baju cepat sekali. Bagaimana kalau memilih pasangan? Jangan-jangan kalau aku bilang lelaki itu baik kau langsung jadian dengan lelaki itu," celetukku.
"Kita cari makan dulu, yuk! Aku sudah lapar," katamu seraya menarik tanganku mendekati food court mengalihkan pembicaraan.
Kau menaruh tas belanjaanmu di meja.
"Capek ya padahal cuma jalan bentar naik eskalator empat kali," keluhmu seraya mengambil posisi duduk.
"Anggap saja kita sedang berolahraga," celetukku.
"Berhubung aku yang mengajakmu kemari jadi aku traktir kamu makan dengan syarat harus makan makanan yang aku pilihkan. Titik."
"Okei, tak masalah."
Kau pun meninggalkanku sesaat. Aku berfantasi dengan khayalanku sendiri. Kau terlintas di kepalaku. Bagaimana bisa kau tersenyum secepat itu setelah melihat mantan kekasihmu sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Aku sibuk mengorek isi kepalaku sendiri.
"Sudah. Kita tinggal tunggu pesanan datang," katamu.
"Kamu pesan apa?"
"Sesuatu yang jelas kamu suka."
"Yakin. Memangnya kau tahu apa yang aku suka?"
Kau mengangguk membuatku berpikir keras. Sesaat pesanan pun datang. Beef.
"Bukankah kamu tidak suka daging sapi? Kamu kan bisa memilih yang lain," kataku.
"Tidak hari ini aku harus mencoba sesuatu yang berbeda," katamu sedikit memaksa.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku mau move on dari daging ayam ke sapi," katamu seraya menyuapkan nasi ke mulutmu. "Kupikir enak itu akan berlangsung lama, ternyata aku juga harus mencoba sesuatu yang menurutku tak enak. Tahu begini aku akan memakan daging sapi dari dulu lalu sekarang sudah terbiasa," lanjutmu seraya mengunyah.
Aku menghentikan aktivitas sendok-menyendokku. Mengamatimu sejenak. Ada air di sudut matamu yang mengumpul. Kupikir kau benar-benar tersenyum karena telah merelakan.
"Kamu baik-baik saja? Aku jadi khawatir," tanyaku yang mungkin terdengar berlebihan.
Kau menelan makananmu dengan tergesa-gesa.
"Pelan-pelan saja. Minum dulu gih!" seruku.
Kau memberengut. Menaruh sendok dan garpumu. Lalu meneguk separuh minuman di gelasmu.
"Apa kamu pernah memiliki mimpi tentang seorang putri? Aku pernah memiliki mimpi tentang seorang pangeran. Ia tidak berkuda putih. Bukan dari keluarga bangsawan. Tapi dia baik, selalu ada untukku, menyemangatiku, mengetahui seluk beluk tentangku dan yang tak kalah penting ia mengajariku tentang hidup. Apakah itu bisa disebut makhluk impian?" tanyamu berganti topik dan menghentakkan gelas ke meja.
"Eh?" Aku mengangkat alis.
"Memangnya makhluk impian itu seperti apa? Apa kamu tahu?" tanyamu padaku seraya melanjutkan melahap beef di piringmu.
"Entahlah. Setiap orang pasti punya deskripsi yang berbeda-beda. Cuma itu yang ku tahu," jawabku.
Kamu mengernyitkan dahi dan melempar lirikan tajam ke arahku.
"Baiklah. Mungkin makhluk impian itu lebih cenderung pada sosok atau tokoh imajinasi pada diri seseorang yang menginginkannya," lanjutku.
Kamu tiba-tiba tersenyum.
"Lalu apakah kamu memiliki makhluk impian sepertiku?" tanyamu membuatku berhenti berfikir.
"Aku tidak pernah memikirkan sejauh itu," jawabku sesaat kemudian.
"Baguslah. Kamu tidak akan merasa sakit ketika makhluk impianmu itu tak seperti yang kamu bayangkan."
"Sorry, kalau aku boleh tanya, apa kamu masih terluka?" tanyaku sedikit canggung.
Kau tersenyum. "Aku masih memiliki sisa-sisa harapan pada makhluk impian. Menurutku dia ada."
"Itu belum menjawab pertanyaanku."
Hening. Kau diam meletakkan sendok dan garpu lalu menatapku atau mungkin seseorang di belakangku yang terlihat baru saja duduk saat aku menoleh. Ternyata laki-laki yang ku kenal, teman sebangkuku dulu. Aku hanya melambaikan tangan padanya dan dia tersenyum.
"Aku pikir mimpi dan kenyataan itu sangat jauh. Tapi sekarang aku tahu mimpi itu sudah mendekati kenyataan," jawabmu mengalihkan pertanyaanku sekali lagi.
"Maksudnya?"
"Ku rasa aku sudah menemukannya sekarang," katamu menatap kosong lurus ke depan.
"Benarkah? Siapa? Kau bisa berbagi sedikit denganku jika mau," ujarku seraya menoleh ke belakang.
"Kamu tahu siapa orangnya," katamu sangat yakin dan melahap makanan kembali.
"Aku tak tahu."
"Kalau begitu aku tidak akan cerita. Sudah habiskan saja makananmu," sahutmu.

----------------------------------------------------

Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia di sini memberi cintaku harapan
(Maliq d'esential)

Rabu, 03 Desember 2014

MEMILIH(MU)





Aku melangkah sendirian menuju ruangan. Kelas terlihat kosong tak berpenghuni. Aku meletakkan tas di meja. Berbekal handphone dan headset aku berjalan keluar menuju balkon gedung. Beberapa saat kau sudah ada di sampingku membawakan sebotol minuman.
"Kenapa tadi nggak nyusul ke kantin? Jeda kuliah kan masih lama," tanyamu seraya mengulurkan botol minuman.
"Emm, tadi habis ketemu sama Puput. Aku ditahan dia," jawabku seraya melepas headset dan menerima pemberianmu.
"Ooo. Puput ngomong apa aja tadi? Ga gosipin aku lagi kan?" Kau membuka tutup botol dan meneguknya.
"Puput cuma cerita, dia dapat nilai delapan puluh sembilan. Sepertinya kali ini aku benar-benar kalah walaupun selisih satu poin. Tiba-tiba aku ingat kata-kata kamu dulu kalau keyakinan hati itu bisa kalah sama takdir," kataku mengabaikan cerita Puput yang tidak-tidak.
"Aneh ya, ketika kita merasa yakin pada sesuatu sering kali kita dibuat pusing setengah mati dan pada akhirnya terkadang takdir berbeda dengan apa yang kita pikirkan."
"Iya, kayak soal ujian yang mati-matian kukerjakan. Kupikir jawabanku sudah benar semua tapi mungkin hanya perasaanku saja. Nyatanya tetap ada yang salah."
Kau diam dan tiba-tiba bertanya, "Apa sih yang bisa membuat kamu merasa senang?"
"Kenapa?" tanyaku seraya membuka tutup botol.
"Jawab saja."
"Entahlah. Senang atau susah yang aku tahu asalnya dari hati dan pikiran." Aku meneguk minuman di botol.
"Kalau ada seseorang yang memintamu kembali setelah ia pergi, apa yang akan kau lakukan?"
Deg. Ada dentuman di dalam sana yang terasa menghantam bilik-bilik jantung.
"Kamu udah kayak dosen ngasih soal ujian aja. Susah jawabnya. Aku nggak ngerti," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kalau seseorang itu mengoyahkanku bagaimana?"
"Menggoyahkan? Seperti apa?"
"Ya seperti disaat seseorang yang pergi memintaku kembali, aku sedang menyukai seseorang."
Aku menoleh ke arahmu. Kata-kata Puput menjalar dipikiranku. Perempuan yang sering bertemu di kantin itu benarkah mantan kekasihmu.
"Beberapa hari ini dia sering mendatangiku. Ia bilang sudah waktunya kami kembali bersama. Dulu dia memutuskan berhenti karena tidak bisa long distance."
"Lalu?"
"Disaat aku terpuruk sendirian ada seseorang wanita yang mengangkatku. Menyuruhku menegapkan badan, menyunggingkan senyum, dan mematahkan asumsi-asumsi yang berkembang mati satu tumbuh seribu. Bagiku mati satu tumbuhnya ya satu dan itu adalah dia."
"Jadi dia memintamu kembali disaat dia sudah tahu kalau kau sedang menyukai seseorang?"
"Ya dia sudah tahu itu."
"Mungkin saja dia tidak ingin kamu mencintai orang lain. Tapi masalahnya kalian sudah tak berstatus."
Kau menatapku tajam. "Kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana?"
Deg. Kau bertanya pertanyaan yang sangat sulit. Tak ada rumus untuk menjawabnya.
"Aku nggak bisa kasih solusi, Rey. Itu masalah hati kamu. Hati kamu berhak memilih dan aku tak berhak menentukan."
"Kalau hati itu ada di kamu, apa ia juga tak berhak menentukan?"
Deg. Aku diam menunduk.
"Aku butuh kepastian. Bukankah wanita juga butuh kepastian itu untuk hal yang sama?"
"Harapanku terkadang tak sesuai dengan takdir, Rey. Aku tak berhak menentukan takdirmu. Meskipun aku bisa menentukan takdirku tapi aku takut mengacaukan takdir orang lain. Coba tanyakan kepada Tuhanmu. Mendekatlah pada-Nya agar kau temukan jawabannya. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Jadi aku masih punya kemungkinan-kemungkinan kecil itu."
"Mungkin saja. Bukankah setiap orang akan dipasang-pasangkan sesuai jodohnya? Meskipun pilihan kita, kalau bukan pilihan Tuhan, sampai kapanpun tidak akan bisa bersama."
Rey memegang jemariku.
"Jika memang kemungkinan kecil itu ada, izinkan aku tetap sebagai kawanmu sampai kutemukan jawabnya. Kau tidak boleh menjauh karena pernyataanku ini. Tetaplah di sini."
Aku tersenyum dan melepaskan tangannya. "Semua sudah ada yang ngatur. Kita jalani saja apa yang kita bisa lakukan," kataku.
"Jadi kamu mau menerimaku?"
Deg.
"Rey," panggil seorang wanita dari jauh. Ia berjalan semakin dekat. Wajah yang samar semakin tampak jelas. "Ayo kita pergi," lanjutnya.
Wanita itu menggamit tanganmu dan menarikmu pergi. Tanpa kata kau ikut dengannya.
Terkadang memang harapan berbanding terbalik dengan takdir. Yang terpenting aku tahu kau mencintaiku, selanjutnya urusan Tuhan sama kamu karena hatiku sudah memilihmu menempati ruang kosong yang selama ini tak diisi. Tuhan aku jatuh cinta.

_________________________________

Tuhan tolong aku katakan padanya
Aku cinta dia bukan salah jodoh
Dia untuk aku bukan yang lainnya
Satu yang kurasa pasti bukan salah jodoh
Bila hati tlah bicara takkan ragu hati ini mendekat kepadanya
Tak ingin ku menunggu
Jadikanlah aku oh cinta
Kekasih pilihan dihatimu
Kupercaya dirimu satu cintaku
Cinta janganlah cepat berlalu
Di sini temani hari hariku
Berdua jalani kisah bersama
Hanya ada kamu kita (Adriansyah Martin)


Senin, 01 Desember 2014

MELEPASMU BERARTI MERELAKAN






Gerimis singgah malam ini. Terasa lembab, basah dan nyeri pun merebak di sela-sela dadaku. Suara yang kudengar begitu parau. Kau menangis. Sesekali terdengar isakanmu, menit selanjutnya kau mencoba tegar. Aku mengantarmu pulang ke rumah. Kau menatap lurus ke jalan. Selanjutnya kita pun sampai setelah belokan pertama. Rumahmu masih seperti dulu.
Kau keluar dari mobilku dan menungguku di ujung mobil bagian depan. Aku ikut keluar dan berdiri di depanmu. Kau membalikkan badan ke arahku.
“Aku akan menikah, Har.” Kau mengucapkan kata-kata itu dengan begitu lancar . “Aku sudah memastikannya,” lanjutmu. Kutahu matamu memerah.
Entah mengapa pipiku hangat. Air mataku perlahan mengalir tapi buru-buru kuusap.
“Ini untuk yang terakhir kalinya, aku sudah mantap. Kau harus datang. Agar kau bisa meyakinkan dirimu bahwa benar-benar aku yang menikah,” lanjutmu seraya meletakkan undangan warna ungu ke tanganku.
Tak ada kata-kata yang terucap dariku. Tadi pagi kau sempat marah dan mengembalikan semua pemberianku, tetapi sore hari aku sempat membuatmu berpikir dua kali untuk menerimaku lagi. Kita telah makan di tempat kita dulu menghabiskan malam minggu bersama. Kita sudah pergi ke pasar malam dan kini malam hari, aku telah gagal membuatmu kembali padaku.
Kau memelukku. “Terima kasih untuk hari ini, Har. Aku menikmatinya. Kamu harus tahu yang diinginkan perempuan bukan hanya perasaan senang selalu setiap saat bersama orang yang disayang. Tapi perempuan juga ingin komitmen yang jelas,” katamu seraya merenggangkan pelukan.
Aku telah mengantarmu ke depan rumah. Aku telah mengembalikanmu ke posisi awal seperti saat kau memutuskan keluar dari lingkaranku. Kau telah menemukan laki-laki yang membuatmu kembali padanya. Lelaki itu tampaknya memang sudah jelas nyata di matamu.
“Kamu boleh pulang, Har,” katamu.
Tak ada kata-kata lagi mungkin bumi telah menelannya sehingga aku tak mampu lagi bersuara. Aku masuk ke mobil. Kau pun beranjak membuka pagar. Ada perasaan bergejolak, seperti mimpi, aku ingin memastikan untuk yang terakhir kali saat melihat undangan warna ungu yang ku taruh di dashboard. Kulirik kaca spion depan, lampion kado yang susah payah kubuat untukmu masih tertinggal di jok belakang. Aku pun akhirnya meraih lampion itu dan keluar dari mobil berlari mengikutimu. Namun apa yang kudapat kini aku pun melihatnya sekarang. Ia menghampirimu dan berlari. Melihatmu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kamu kemana saja? Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.
Kulihat kau mengangguk. “Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu panik.”
“Lain kali jangan biarkan handphone kamu low batt. Selalu bawa charger kemana-mana.”
“Iya, iya. Maaf,” jawabmu seraya tersenyum.
“Maaf pekerjaanku di kantor banyak. H-2 aku baru bisa urus cuti. Tapi demi kamu aku rela mengurusnya besok. Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
Lelaki itu melihat keberadaanku. Aku terlanjur masuk di halaman rumahmu dengan lampion cinta merah yang kutenteng.
“Itu siapa?” tanyanya.
Kau membalikkan badan dan sedikit terperanjat melihatku memegang lampion cinta merah. Kepalang tanggung aku maju mendekat.
“Hei, maaf mengganggu. Aku hanya seorang kurir yang mengantar kado pernikahan ini,” ujarku seraya mengulurkan lampion itu.
Dia yang menyambut perpindahan lampion itu dari tanganku.
“Bagus ya. Boleh juga ini kalau besok di taruh di kamar,” katanya seraya melihat tulisan-tulisan yang menempel di lampion itu.
Kau tersenyum dan berkata, “ Terima kasih.”
“Karena tugas saya telah selesai, saya pamit pulang.” Aku membalikkan badan dan menegapkan badan. Aku harus kuat. Kau telah memilih lelaki itu. Tak ada daya. Apalah artinya jika cinta ini kupertahankan untukmu, gadis yang kukenal sejak SMA. Kurasa bukan hanya aku saja yang menelan kekecewaan, tapi Bu Ingrid guru BP kita semasa SMA, tante Serif yang mengira aku calonmu serta Pak Enok di kedai kopi yang mengira kita balikan.
Aku masuk kembali ke mobil menyandarkan kepalaku di atas stir. Hujan pun turun dengan lebatnya. Ia membawa perasaanku luruh bersamanya. Aku harus menaruh kata-kata di buku yang pernah kubaca itu di kepalaku sekarang. Ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk ada di dalam hati kita, tapi bukan di dalam hidup kita. Kita nggak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menyukai kita. Yang bisa kita lakukan cuma merelakan, berharap supaya dia bahagia. Walaupun kebahagiannya bukan bersama kita.
-----------------------------------------------------------------
Kau temukan lagi seseorang yang bisa
Menjadi pendampingmu saat kau lemah
Dia kan mencoba membuatmu bahagia
Dan menjadi penopang saat kau lelah
Di saat kau merasa lemah tak berdaya
Dia kan mencoba memelukmu dengan hatinya
Kuingin engkau percaya
Bahwa kubahagia melihatmu dengannya
Kuminta tetaplah setia
Karna kubahagia melihatmu dengannya
Tak ada lagi yang kutakutkan dari kehilangan ini
Ku tetap berdiri ( JIKUSTIK )

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...