Langsung ke konten utama

MENCINTAIMU ADALAH ALASAN PERJUANGANKU


 
Aku mengingatmu dengan jelas. Perempuan yang mendobrak benteng pertahanan usiaku. Aku tengah memegang gitar dan bercanda gurau dengan kawan-kawanku kala itu. Lalu kau muncul membuyarkan konsentrasiku. Beberapa kali kita bersitatap dan kau selalu tersenyum ke arah lain. Entah untuk alasan apa kau masuk ke gerbang sekolahanku. Aku benar-benar ingin tahu hingga
kuserahkan gitar di genggaman pada kawanku dan mencari informasi tentangmu sebanyak-banyaknya. Sampailah aku tahu kau seorang mahasiswi yang sedang penelitian di sekolahku. Monik, itu namamu yang ku tahu dari panggilan teman-teman perempuanku. Ya, Monik. Mengingatkanku pada komik anak perempuan lucu, Monika.
"Bryan. Oi." Suara Mas Gilang, kakak kelasku saat SMA yang membuat lamunanku buyar.
"Mas Gilang. Apa kabar mas?"
Sudah lama sekali tak bertemu akhirnya di kedai kecil depan SMA aku bertemu Mas Gilang--mantan ketua OSIS di zamannya.
"Baik. Sudah besar sekarang kau nak. Tambah maju aja itu perutnya."
"Wah, Mas Gilang juga sama. Tambah makmur aja badannya."
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya seraya menepuk bahuku.
"Mau ketemu seseorang mas."
"Cerita, cerita ada perubahan apa saja di SMA setelah aku lulus," pintanya sambil mengajak duduk dan aku mengikutinya. Akhirnya aku bercerita panjang lebar seraya menunggumu. Tentang pergantian kepala sekolah baru, guru yang pensiun, guru killer yang sering dikerjai anak-anak dan masa-masa akhir SMA yang dipenuhi kisah-kisah konyol saat mendekatimu. Mas Gilang terpingkal-pingkal mendengar ceritaku yang kau tolak beberapa kali. Ia lebih tertarik pada kisahku saat mengejarmu. Masih teringat dengan jelas saat kau tolak aku dengan alasan masih kecil, masih anak sekolah, masa depan masih panjang, dan lebih pantas menjadi adik.
"Lalu sekarang bagaimana kelanjutan ceritanya? Masihkah berlanjut?"
"Doakan sajalah, Mas."
"Ya, seharusnya begitu lanjutkan saja. Wajah kamu lumayan, kendaraan pasti ada, tinggal udah ga sama orang tua. Apalagi masalahnya iya kan?"
"Usiaku yang lebih muda, Mas."
"Alah, itu tak masalah. Selisih berapa tahun?"
"Lima tahun, Mas."
Wajah Mas Gilang sedikit berubah ketika kuberi tahu. Ia sedikit serius kali ini.
"Yan, kalau soal usia itu sebenarnya tidak masalah selama ada kecocokan dan yang terpenting asal kamu mau memperjuangkannya."
"Siap komandan," sahutku diikuti hormat. "Eh, itu dia yang kutunggu sudah datang Mas." Ku lihat kau sedang membuka pintu kedai.
"Cantik."
"Iya, Mas."
"Dasar. Udah samperin sana, gih!"
Aku membenahi rambut, bajuku dan melangkah menyambutmu.
"Hai, selamat bertemu lagi, Monik," sapaku.
Kau melepas kacamata hitammu dan sedikit mengerutkan kening. Mungkin terdengar asing di telingamu. Ini pertama kalinya kuhilangkan sebutan Mbak dari namamu.
"Maaf. Mbak Monik maksudku," jelasku membenahi.
Kau kutawari duduk dengan isyarat tanganku. Kau pun duduk dengan sendirinya sembari tersenyum.
Suasana mendadak hening. Kita sama-sama tak bicara.
"Sudah lama tak bertemu ya, Mbak. Ternyata mbak masih kerja di tempat yang sama," kataku memulai topik.
"Aku pikir Bryan Purnama itu orang lain. Ternyata orang itu kamu." Kau melempar senyum ke arahku.
"Iya, Mbak. Aku yang mendaftarkan diri jadi klien Mbak Monik."
Kulihat kau mengeluarkan semacam buku agenda dan pulpen.
"Sudah siap? Sepertinya sudah. Maaf, tadi ada klien yang molor. Ujung-ujungnya jadi kena batunya semua."
"Iya gapapa, Mbak."
"Karena sudah kenal jadi ga usah pakai perkenalan. Kita langsung ke topik permasalahan untuk mempersingkat waktu." Kau pun membuka sampul buku agendamu. Kau memberiku selembar kertas kosong dan menyuruhku menggambar sesuatu di sana. Tak usah pikir panjang kugambar saja perempuan hati dan laki-laki.
Kau sedikit tertawa melihat gambarku.
"Kenapa, Mbak? Jelek ya?"
Kau menggeleng.
"Jadi begini, Mbak. Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku susah tidur. Mungkin karena memikirkan sesuatu dan itu cukup mengganggu."
Kau membuat coretan-coretan di bukumu yang membuatku penasaran.
"Mbak Monik," panggilku.
"Iya lanjutkan saja. Aku mendengarkan."
"Ini masalah aku jatuh cinta lagi. Tapi sayangnya usia diantara kami berjarak lima tahun. Disaat aku baru menyelesaikan pendidikan sarjana, dia sudah magister. Dia sudah memiliki pekerjaan tetap, sedangkan aku sedang mencari pekerjaan. Aku takut kalau dia sebentar lagi menikah sementara aku baru saja lulus. Tapi aku tak mau kalau status kami hanya seperti kakak adik."
"Wow, ternyata kamu ga berubah ya. Padahal dari dulu sudah aku sarankan untuk mencari yang seusia atau justru yang usianya di bawah kamu."
"Kalau sudah terlanjur begini gimana dong, Mbak?"
"Ada dua analisa pada permasalahan kamu itu sebenarnya. Pertama kalau kamu terus maju mungkin permasalahan ga hanya pada dua orang antara kamu dan dia, tetapi ada hal besar yang harus kamu pikirkan juga yaitu keluarganya. Mau ga keluarganya menerima kamu. Ingat cinta bukan hanya milik dua orang yang jatuh cinta. Ada orang tua yang turut andil bagian dalam restu apalagi dia perempuan."
Deg. Selama ini aku sudah memikirkannya, tapi bukankah semua itu tergantung bagaimana cara kita menyelesaikannya. Seperti sebuah soal cerita, apabila cara penyelesaiannya tepat maka akan terlihat hasilnya, tapi jika salah maka tak kan pernah ditemukan jawabannya.
"Kedua, jika kamu menyerah. Ya tetap akan ada masalah dengan dia dan dirimu kalau sudah kamu nyatakan. Tapi kalau belum paling akan bermasalah pada dirimu sendiri jika tidak bisa mengendalikan diri. Semua sekarang tergantung pada keputusan kamu dan sebelum kamu mengambil keputusan besar aku ingin bertanya seberapa besar kamu mencintai dia?" lanjutmu.
"Aku sudah mencintai dia seumur selisih usia kami. Aku sudah mulai mencintai semenjak pertama kali melihatnya. Tapi jika mbak bertanya sebesar apa aku mencintai dia, tidak ada jawabannya."
Kau tertawa dan saat kutatap kau berhenti. "Baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita pesan something dulu?"
Akhirnya kupanggil waiters dan kupesan sesuatu.
"Tadi sampai dimana? Oh ya, sampai tidak ada jawaban. Jadi intinya kamu masih mau berjuang?" tanyamu.
"Yaiyalah, Mbak."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau dia sudah menikah? Apa yang akan kamu lakukan."
"Dia belum menikah."
"Oke aku ubah pertanyaannya. Bagaimana kalau dia ternyata sudah mempunyai kekasih?"
"Kurasa tidak."
Kau memincingkan mata. "Bagaimana kamu bisa sangat yakin seperti itu?"
"Ya menurutku dia belum menikah atau punya kekasih. Belum ada cincin yang mengikat di jarinya," jawabku seraya melihat jemari kedua tanganmu.
"Kalau untuk alasan belum menikah bisa dimengerti, tapi untuk belum memiliki kekasih sepertinya masih bisa ada kemungkinan sudah."
"Aku yakin dia tak memiliki kekasih. Dia orang yang sangat sibuk dari dulu, bahkan untuk berbicara yang tidak penting dia kadang menolak. Dia jarang menyentuh handphone pribadinya dan lebih sering menyentuh handphone untuk urusan pekerjaan. Setiap ditanya soal kekasih dia akan diam seolah matanya itu bicara helo tidak lihat gue jomblo."
Kau tertawa lagi.
"Baiklah kalau begitu. Tapi usia kalian kan selisih lima tahun lebih cocok jadi kakak adik. Kalau wanita yang lebih muda sih tidak masalah. Tapi kalau lelakinya yang lebih muda dengan selisih yang lumayan seperti itu tidak biasa di masyarakat kita."
"Ah, menurutku usia bukan masalah asalkan sama-sama dewasa, sama-sama bisa membawa diri, sama-sama mengimbangi! Bener kan? Jadi gimana Mbak?"
Pesanan kita pun datang. Hening pun terjadi sesaat. Kau pun berdehem sebelum bicara.
"Ya, kadang ada juga kasus seperti itu."
"Terus?"
"Tapi saranku sudah menyerah saja. Nanti kalau ditolak malah jadi sakit hati lagi. Belum kapok juga dulu ditolak lima kali dengan alasan yang sama?" Kau meledekku seraya melanjutkan mencoret-coret.
Aku tersenyum dan menghela nafas. Kau melirikku sekejap.
"Apa aku benar-benar harus menyerah?" tanyaku seraya memegang tanganmu. Kau terlihat kaget.
"Lalu bagaimana jika orang yang kumaksud itu adalah orang yang sama, yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali," lanjutku.
Kau pun diam, menarik tanganmu dan meletakkan pulpenmu di meja.
Melihat serangkaian gerakan itu semakin menuntunku untuk mengatakan, "Perempuan itu kamu."
Kau pun menyandarkan jemari di jidatmu dengan tumpuan siku tangan di meja.
"Mencintaimu adalah alasan perjuanganku. Selanjutnya tidak ada alasan lain, Mbak."

__________________________________________
senja meresahkan diriku
seakan kau menepis cintaku
tiada ku memaksa
namun tiada alasanmu untuk ragu
akan hasrat dan cintaku
jangan tanyakan batas cintaku
batas hasratku kepadamu mentariku
jangan indahkan semua cerita
yang telah membuatmu
ragu tuk melangkah bersamaku kasih
tak perlu kau ragu segala yang di hatiku (Kahitna)

Komentar