Langsung ke konten utama

CLUB CHOCOLATE



"Dik."
Begitu kudengar sayup-sayup kau memanggil wanita di sampingmu.
Wajahku langsung pucat dan kehilangan tenaga. Kau yang selama ini kukenal sendiri tak terlihat berminat memiliki kekasih tiba-tiba membawa seorang gadis dan memanggilnya "Dik".
"Guys ada hal yang ingin aku sampaikan. Mohon perhatiannya sebentar," teriakmu seraya memukul-mukul badan gelas dengan sendok.
Kau menarik tangan gadis itu hingga berdiri di sampingku.
"Kenalin ini Renata. Mulai hari ini Rena akan bergabung dengan club kita."
Aku pun berdiri dan memberi pelukan pada Rena.
"Selamat bergabung," kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Rena tersenyum.
Entah siapa perempuan bertubuh mungil yang kau bawa, yang aku tahu rasa nyeri ada di balik dadaku. Aku pun melepas pelukkan menyedihkan itu.
"Dik, kamu bicara sama Olin dulu. Aku tinggal sebentar. Lin titip Rena ya." Kau menepuk bahuku dan berlalu.
"Mbak Olin sudah kenal lama dengan Mas Rengga?"
"Iya semenjak bergabung di club ini. Sekitar dua tahun yang lalu," jawabku seraya menarik kursi dan kembali duduk.
"Mbak berarti udah tahu banyak tentang Mas Rengga dong? Mas Rengga orangnya gimana aja mbak?"
Aku menoleh dan menjawab, "Baik."
"Cuma baik?"
Aku menerawang ke atas dan mengangguk. Tak enak melihat Rena berdiri aku menawarinya duduk seraaya mengalihkan pembicaraan, "Udah duduk sini, Ren. Kalau banyak berdiri capek lho."
"Mas Rengga pernah cerita tentang, Mbak lho," katanya sembari duduk di kursi.
"Oh, ya?"
"Iya. Cerita kalau mbak dulu pernah punya cowok yang belagu."
"Rengga cerita begitu?"
"Iya, terus semenjak diputusin mbak cuma diem, jarang bicara, jarang ikut kegiatan. Bener ga sih mbak?"
Deg. Gadis ini benar-benar membuat napasku naik turun. Aku masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Saat lelaki belagu itu mengatakan "kamu membosankan" dan dia memilih mengakhirinya. Masih sering terbayang aku berdiri di samping tiang listrik dekat rumahnya dan mematung di sana berjam-jam hanya untuk mengenang. Sampai kau datang Rengga, menawariku bergabung dengan club Chocolate.
"Kalau kamu bergabung, akan ada banyak teman. Bisa jadi kamu bertemu dengan orang yang bernasib sama denganmu. Aku ketua club Chocolate. Rengga."
Begitulah awal perkenalan kita. Aku bergabung hanya satu kali datang. Lalu setelahnya aku absen. Kau menghubungiku pagi siang malam hanya ingin mendapatkan kabar apakah aku bisa bergabung di pertemuan selanjutnya.
Ketika ayah dan ibu mengajakku makan malam di luar kita dipertemukan. Kau melambaikan tangan tapi aku memilih merunduk. Akhirnya kau menghampiri mejaku.
"Om, Tante perkenalkan saya Rengga temannya Olin. Boleh bicara dengan Olin sebentar," ujarmu saat meminta izin pada orang tuaku.
Tanpa panjang lebar mereka menyetujuinya. Kau satu-satunya lelaki yang berani menghadapi orang tuaku dan mulai detik itu aku berpikir dunia tak selebar daun kelor.
***
"Mbak kok diam? Maaf, Rena ga bermaksud mengungkit kenangan buruk, Mbak."
"Tidak apa. Oh ya kalau boleh tahu apa alasan kamu bergabung dengan club ini?"
"Diajakin Mas Rengga."
"Jadi bukan karena kamu suka cokelat?"
"Doyan cokelat sih mbak, tapi ga terlalu suka. Cokelat itu terlalu manis. Kalau mbak alasannya apa?"
"Karena cokelat memberikan rasa manis setelah pernah mencicipi rasa pahit dan cokelat pernah memberikan kekuatan untuk mencicipi manisnya kehidupan," jawabku.
"Kalau aku membentuk club cokelat karena ingin lihat yang manis-manis. Seperti kalian," celetukmu yang muncul tiba-tiba di antara aku dan Rena.
Sesaat mata kita bertatap temu. Aku melihat rasa bahagia ada di balik bola matamu bertentangan dengan rasa di balik bola mataku.
"Lin, sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu."
Deg. Nada bicaramu berbeda dengan Rengga yang kutemui sebelumnya. Kau tak pernah berkata ingin memberi tahu sesuatu langsung padaku. Aku diselimuti rasa takut.
"Nanti saja, Mas. Jangan sekarang," potong Rena.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku. Spontan aku berdiri.
"Maaf, aku mau ke toilet sebentar," kataku seraya terburu-buru pergi.
Aku menarik nafasku memandangi cermin di wastafel. I'm fine. Aku tidak menangis, tapi ada desir berbeda di dalam sana. Kubasuh wajahku. Kadang air bisa berfungsi menenangkan. Akhirnya mau tak mau aku kembali ke pusat acara. Kulihat orang-orang berkumpul dan ketika aku sampai mereka bubar.
"Wah, telat kamu, Lin," celetuk teman clubku.
"Pengumuman menghebohkan dari pak ketua. Sayang untuk dilewatkan," celetuk salah seorang yang lain.
"Pulang dulu ya, Lin," kata seorang yang lain berpamitan.
Alhasil aku penasaran dan menghampirimu.
"Ada apa sih?" tanyaku.
"Tadinya kamu orang pertama yang akan mendengar kabar ini, tapi sepertinya kamu jadi yang terakhir."
"O."
"Cuma O?" Alismu terlihat naik.
"Lalu?"
"Siap-siap dengar ini ya. Lusa aku mau melamar seseorang. Akhirnya aku mau married, Lin. Tapi tenang pembahasan cokelat kita akan terus berjalan. Adikku, em maksudku Rena yang akan menggantikanku sementara."
Deg. Ibarat alat deteksi kinerja jantung ini sudah bergaris lurus tidak ada harapan. Skakmat.
"Iya, Mbak. Aku ini adiknya Mas Rengga. Jadi kalau Mas Rengga berhalangan hadir mulai lusa, aku yang handle club ini."
"Selamat, Ngga." Aku mengulurkan tanganku.
Kau menyambutnya dengan dekapan. Air mataku mengalir tanpa ada yang tahu. Sepi. Suasana setelah acara bubar terasa seperti hatiku. Ada yang berlalu lalang tapi hati tetap merasakan kesunyian.
"Maaf, jika kabar ini membuatmu kaget," ucapmu berbisik membuatku mengusap air mata. Aku menarik tubuhku menjauh darimu.
"Sepertinya tinggal kita di sini. Aku akan mengurus semua ini. Kamu dan Rena boleh pulang duluan," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu yakin?" tanyamu.
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Senyum kupaksa mengembang.
Kau menahan tanganku. "Untuk kali ini izinkan aku yang menyelesaikan semuanya. Kamu boleh pulang. Kamu sudah terlalu sering melakukannya sendiri. Jika terlalu sering seperti ini mereka akan takut mendekatimu."
Kau melepas genggaman di pergelangan tanganku dan menggandeng Rena berjalan ke kasir. Raut wajahmu yang terakhir kulihat entah mengapa bukan senyuman yang bisa kuingat. Aku hanya akan mengingat sebatas melihat punggungmu berlalu.
Sekarang cokelat manis yang mengajariku tentang kehidupan sudah pergi. Mata cokelatmu, kulitmu, costum serba cokelat saat kau datang ke club. Kaulah alasan aku datang dan bertahan di club Chocolate.
***
________________________________________
Ku bertanya adakah aku yg ada di hatimu
Tak mengapa jikalau aku tak pasti di benakmu
Aku tak tahu mengapa dirimu
Yang datang saat aku merasa
Meskipun aku tak mungkin miliki
Namun ku akui, kau ubah hariku
Ada getar saat ku menatapmu ada di sana
Ku yakini mata hatiku tak akan pernah salah
Aku bertanya dan tanya kepada diri
Salahkah hatiku yg mengharapkan cintamu
Namun ku akui, kau ubah hariku (Kahitna)

Komentar