Langsung ke konten utama

AKU ADA



BRAAKK
Setumpuk file kulihat dihempaskan ke mejamu pagi ini. Kulihat ada seorang lelaki yang naik pitam di depan meja kerjamu. Kau tak mampu melihatnya. Tatapanmu seperti bunga layu yang sudah tak punya daya ditegakkan. Lelaki itu keluar dari ruanganmu dengan nafas naik turun, menarik kerah dan melepas dasinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menghampirimu masuk ke ruangan.
"Ada apa?" tanyaku seraya menahan tanganmu yang gemetar merapikan tumpukan file yang berantakan.
Kau tersenyum. "I'm fine," jawabmu seraya melepaskan tanganku yang menahan punggung tanganmu.
Aku menatapmu lama tak yakin.
"Aku tidak apa-apa percayalah aku bisa mengatasinya." Kau tersenyum lagi.
"Oke." Aku mengangkat tanganku dan keluar dari ruanganmu. Di saat seperti itu pun kau mampu memperlihatkan senyuman manismu. Tapi jika kau selalu mengatasi semuanya sendiri lalu bagaimana denganku. Aku tak akan mempunyai celah untuk memasuki kehidupanmu.
"Ric, kenapa tuh si Putri?" tanya teman sekantorku.
"Entahlah," jawabku seraya menoleh ke ruanganmu yang masih kosong.
"Ric, dipanggil bos itu," kata teman sekantor yang telah usai menemui Pak Rendra.
Aku mengemas file dan membawa ke ruangan Pak Rendra paling tidak untuk jaga-jaga. Kulihat kau keluar dari ruanganmu dan kita berpapasan di depan pintu ruangan Pak Rendra.
Lagi-lagi kau tersenyum dan dengan membayangkan senyumanmu aku melangkah masuk ruangan Pak Rendra.
"Eric," panggil Pak Rendra membuat senyumku sedikit memudar.
"Ya, Pak."
"Tolong kamu yang handle rapat hari ini."
"Lho bukannya Putri, Pak?" tanyaku.
Pak Rendra mempersilahkanku duduk dengan isyarat tangannya.
"Ya itu kemarin waktu belum banyak yang complain," jawabnya.
"Maksudnya complain, Pak?" tanyaku seraya menghaturkan tumpukan file bahan rapat.
"Saya kasihan melihat Putri. Meskipun dia kelihatan mampu mendapat tekanan tapi lama kelamaan dia bisa tertekan. Jadi kamu ambil job dia dulu sembari menunggu dia siap mendapat tekanan kembali," jelas Pak Rendra sembari melihat-lihat isi lembar demi lembaran.
"Anda benar-benar pengertian dengan staf anda, Pak," pujiku.
"Ya kebetulan saja, dia anak teman baik saya. Saya tahu banyak tentang dia. Pejuang keras, tahan banting tapi justru terkadang itu yang membuat orang tuanya cemas. Sampai sekarang tidak ada yang berani mendekatinya."
"Padahal Putri cantik ya, Pak."
"Ya, bisa lihat sendiri. Tapi kalau dia seperti itu terus, saya juga cemas terhadap kondisi psikologisnya."
"Kasihan ya, Pak."
"Hal ini hanya kamu yang saya beritahu. Satu lagi tolong kamu rutin ajak bicara Putri. Siapa tahu dia mau terbuka denganmu. Sepertinya kamu yang lebih sering mengajaknya bicara ketimbang staf yang lain," kata Pak Rendra seraya berdiri dan mengambil tas kotaknya.
"Ah, Bapak ini bisa saja."
"Ya sudah, saya mau pergi. Tolong jaga Putri dan jangan lupa handle rapatnya," ujar Pak Rendra seraya menepuk bahuku.
Pak Rendra pun pergi meninggalkan aku yang masih duduk di ruangannya. Cukup lama aku tertegun memandangi bingkai foto saat Pak Rendra berfoto bersama dengan jajaran staf. Pusat perhatianku ada padamu yang tengah memakai blazer hitam dan tersenyum lepas.
Mendadak aku teringat pada kata Pak Rendra yang meminta tolong menjagamu. Sesungguhnya sebelum ada yang meminta menjagamu aku jauh lebih dulu ambil start. Kau sedari awal telah menarik di mataku. Semenjak awal aku masuk ke tempat kerja ini. Kita bertemu di lift. Kau tersenyum padaku diantara lautan manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri. Senyum, ya, sejak awal yang kulihat darimu adalah senyuman. Bahkan sampai di titik terendahmu kau masih sempat tersenyum.
Tidak mudah menjalani hidupmu. Di tengah-tengah kesibukan, tekanan dan pertahanan kau campur semuanya menjadi satu dalam dirimu. Tidak berbagi dan hanya berdiri pada satu tumpuan yaitu kekuatan dalam dirimu. Kadang aku menunggu sampai dimana kamu sanggup berdiri sendiri, tapi kadang aku tak tega melihatmu memaksakan diri.
Aku ingin kau berbagi setengah kisahmu. Jika aku tak bisa memberi solusi paling tidak itu bisa mengurangi bebanmu. Namun sepertinya itu hanya angan-anganku.
Bahkan dikeadaan sudah tertangkap basah, tanganmu gemetar kau juga masih bisa tersenyum dan mengatakan kau tak apa. Manusia seperti apa kamu sebenarnya hingga selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Pak Rendra dan mempersiapkan file untuk rapat hari ini.
"Put, hari ini sebaiknya kamu istirahat saja. Pak Rendra menyuruhku menghandel rapat hari ini," kataku saat kau melintas di depan meja kerjaku. Kau tersenyum seraya memegang secangkir kopi.
"Mau kopi?" Kau menawariku.
"Kopi hitam? Kamu suka kopi hitam?"
"Ini kalau kamu mau."
"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya bertanya apa kau suka kopi hitam?"
"Ya."
"Aku sarankan sekali-kali kamu bisa menggantinya dengan secangkir teh atau jus jika ada waktu. Aku yang traktir."
Ya. Agar hidupmu lebih berwarna dan tidak hitam pekat. Juga agar kau tak selalu memaksakan diri menelan kepahitan seorang diri.
Lagi-lagi kau tersenyum.
"Hanya senyuman?" tanyaku.
"Baiklah jika sedang tidak sibuk aku usahakan."
Aku mengulurkan tanganku.
"Maksudnya?" tanyamu.
"Deal," jawabku.
Kita pun tertawa.
Keinginan terbesarku adalah melihatmu tertawa lepas seperti ini. Ini baru permulaan. Selanjutnya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menarikmu ke medan magnetku, sampai kau tak pernah merasa sendirian. Aku ada.
________________________________
Jangan takut berjalan sendirian
Ada aku turut menuntun jalan
Saat hatimu di serang kesepian
Aku datang
Redam badai lakukan dengan tenang
Hujan ini akan engkau kalahkan
Kalau hatimu percaya padaku
Aku datang
Kau jadi samudera aku langitnya
Memeluk dunia kita berdua
Jangan takut kehilangan pegangan
Ada aku berimu kekuatan
Agar dirimu mampu untuk bertahan
Aku datang (Jikustik)

Komentar