Kamis, 13 November 2014

AKU ADA




BRAAKK
Setumpuk file kulihat dihempaskan ke mejamu pagi ini. Kulihat ada seorang lelaki yang naik pitam di depan meja kerjamu. Kau tak mampu melihatnya. Tatapanmu seperti bunga layu yang sudah tak punya daya ditegakkan. Lelaki itu keluar dari ruanganmu dengan nafas naik turun, menarik kerah dan melepas dasinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menghampirimu masuk ke ruangan.
"Ada apa?" tanyaku seraya menahan tanganmu yang gemetar merapikan tumpukan file yang berantakan.
Kau tersenyum. "I'm fine," jawabmu seraya melepaskan tanganku yang menahan punggung tanganmu.
Aku menatapmu lama tak yakin.
"Aku tidak apa-apa percayalah aku bisa mengatasinya." Kau tersenyum lagi.
"Oke." Aku mengangkat tanganku dan keluar dari ruanganmu. Di saat seperti itu pun kau mampu memperlihatkan senyuman manismu. Tapi jika kau selalu mengatasi semuanya sendiri lalu bagaimana denganku. Aku tak akan mempunyai celah untuk memasuki kehidupanmu.
"Ric, kenapa tuh si Putri?" tanya teman sekantorku.
"Entahlah," jawabku seraya menoleh ke ruanganmu yang masih kosong.
"Ric, dipanggil bos itu," kata teman sekantor yang telah usai menemui Pak Rendra.
Aku mengemas file dan membawa ke ruangan Pak Rendra paling tidak untuk jaga-jaga. Kulihat kau keluar dari ruanganmu dan kita berpapasan di depan pintu ruangan Pak Rendra.
Lagi-lagi kau tersenyum dan dengan membayangkan senyumanmu aku melangkah masuk ruangan Pak Rendra.
"Eric," panggil Pak Rendra membuat senyumku sedikit memudar.
"Ya, Pak."
"Tolong kamu yang handle rapat hari ini."
"Lho bukannya Putri, Pak?" tanyaku.
Pak Rendra mempersilahkanku duduk dengan isyarat tangannya.
"Ya itu kemarin waktu belum banyak yang complain," jawabnya.
"Maksudnya complain, Pak?" tanyaku seraya menghaturkan tumpukan file bahan rapat.
"Saya kasihan melihat Putri. Meskipun dia kelihatan mampu mendapat tekanan tapi lama kelamaan dia bisa tertekan. Jadi kamu ambil job dia dulu sembari menunggu dia siap mendapat tekanan kembali," jelas Pak Rendra sembari melihat-lihat isi lembar demi lembaran.
"Anda benar-benar pengertian dengan staf anda, Pak," pujiku.
"Ya kebetulan saja, dia anak teman baik saya. Saya tahu banyak tentang dia. Pejuang keras, tahan banting tapi justru terkadang itu yang membuat orang tuanya cemas. Sampai sekarang tidak ada yang berani mendekatinya."
"Padahal Putri cantik ya, Pak."
"Ya, bisa lihat sendiri. Tapi kalau dia seperti itu terus, saya juga cemas terhadap kondisi psikologisnya."
"Kasihan ya, Pak."
"Hal ini hanya kamu yang saya beritahu. Satu lagi tolong kamu rutin ajak bicara Putri. Siapa tahu dia mau terbuka denganmu. Sepertinya kamu yang lebih sering mengajaknya bicara ketimbang staf yang lain," kata Pak Rendra seraya berdiri dan mengambil tas kotaknya.
"Ah, Bapak ini bisa saja."
"Ya sudah, saya mau pergi. Tolong jaga Putri dan jangan lupa handle rapatnya," ujar Pak Rendra seraya menepuk bahuku.
Pak Rendra pun pergi meninggalkan aku yang masih duduk di ruangannya. Cukup lama aku tertegun memandangi bingkai foto saat Pak Rendra berfoto bersama dengan jajaran staf. Pusat perhatianku ada padamu yang tengah memakai blazer hitam dan tersenyum lepas.
Mendadak aku teringat pada kata Pak Rendra yang meminta tolong menjagamu. Sesungguhnya sebelum ada yang meminta menjagamu aku jauh lebih dulu ambil start. Kau sedari awal telah menarik di mataku. Semenjak awal aku masuk ke tempat kerja ini. Kita bertemu di lift. Kau tersenyum padaku diantara lautan manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri. Senyum, ya, sejak awal yang kulihat darimu adalah senyuman. Bahkan sampai di titik terendahmu kau masih sempat tersenyum.
Tidak mudah menjalani hidupmu. Di tengah-tengah kesibukan, tekanan dan pertahanan kau campur semuanya menjadi satu dalam dirimu. Tidak berbagi dan hanya berdiri pada satu tumpuan yaitu kekuatan dalam dirimu. Kadang aku menunggu sampai dimana kamu sanggup berdiri sendiri, tapi kadang aku tak tega melihatmu memaksakan diri.
Aku ingin kau berbagi setengah kisahmu. Jika aku tak bisa memberi solusi paling tidak itu bisa mengurangi bebanmu. Namun sepertinya itu hanya angan-anganku.
Bahkan dikeadaan sudah tertangkap basah, tanganmu gemetar kau juga masih bisa tersenyum dan mengatakan kau tak apa. Manusia seperti apa kamu sebenarnya hingga selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Pak Rendra dan mempersiapkan file untuk rapat hari ini.
"Put, hari ini sebaiknya kamu istirahat saja. Pak Rendra menyuruhku menghandel rapat hari ini," kataku saat kau melintas di depan meja kerjaku. Kau tersenyum seraya memegang secangkir kopi.
"Mau kopi?" Kau menawariku.
"Kopi hitam? Kamu suka kopi hitam?"
"Ini kalau kamu mau."
"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya bertanya apa kau suka kopi hitam?"
"Ya."
"Aku sarankan sekali-kali kamu bisa menggantinya dengan secangkir teh atau jus jika ada waktu. Aku yang traktir."
Ya. Agar hidupmu lebih berwarna dan tidak hitam pekat. Juga agar kau tak selalu memaksakan diri menelan kepahitan seorang diri.
Lagi-lagi kau tersenyum.
"Hanya senyuman?" tanyaku.
"Baiklah jika sedang tidak sibuk aku usahakan."
Aku mengulurkan tanganku.
"Maksudnya?" tanyamu.
"Deal," jawabku.
Kita pun tertawa.
Keinginan terbesarku adalah melihatmu tertawa lepas seperti ini. Ini baru permulaan. Selanjutnya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menarikmu ke medan magnetku, sampai kau tak pernah merasa sendirian. Aku ada.
________________________________
Jangan takut berjalan sendirian
Ada aku turut menuntun jalan
Saat hatimu di serang kesepian
Aku datang
Redam badai lakukan dengan tenang
Hujan ini akan engkau kalahkan
Kalau hatimu percaya padaku
Aku datang
Kau jadi samudera aku langitnya
Memeluk dunia kita berdua
Jangan takut kehilangan pegangan
Ada aku berimu kekuatan
Agar dirimu mampu untuk bertahan
Aku datang (Jikustik)

Rabu, 12 November 2014

MENCINTAIMU ADALAH ALASAN PERJUANGANKU


 
Aku mengingatmu dengan jelas. Perempuan yang mendobrak benteng pertahanan usiaku. Aku tengah memegang gitar dan bercanda gurau dengan kawan-kawanku kala itu. Lalu kau muncul membuyarkan konsentrasiku. Beberapa kali kita bersitatap dan kau selalu tersenyum ke arah lain. Entah untuk alasan apa kau masuk ke gerbang sekolahanku. Aku benar-benar ingin tahu hingga
kuserahkan gitar di genggaman pada kawanku dan mencari informasi tentangmu sebanyak-banyaknya. Sampailah aku tahu kau seorang mahasiswi yang sedang penelitian di sekolahku. Monik, itu namamu yang ku tahu dari panggilan teman-teman perempuanku. Ya, Monik. Mengingatkanku pada komik anak perempuan lucu, Monika.
"Bryan. Oi." Suara Mas Gilang, kakak kelasku saat SMA yang membuat lamunanku buyar.
"Mas Gilang. Apa kabar mas?"
Sudah lama sekali tak bertemu akhirnya di kedai kecil depan SMA aku bertemu Mas Gilang--mantan ketua OSIS di zamannya.
"Baik. Sudah besar sekarang kau nak. Tambah maju aja itu perutnya."
"Wah, Mas Gilang juga sama. Tambah makmur aja badannya."
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya seraya menepuk bahuku.
"Mau ketemu seseorang mas."
"Cerita, cerita ada perubahan apa saja di SMA setelah aku lulus," pintanya sambil mengajak duduk dan aku mengikutinya. Akhirnya aku bercerita panjang lebar seraya menunggumu. Tentang pergantian kepala sekolah baru, guru yang pensiun, guru killer yang sering dikerjai anak-anak dan masa-masa akhir SMA yang dipenuhi kisah-kisah konyol saat mendekatimu. Mas Gilang terpingkal-pingkal mendengar ceritaku yang kau tolak beberapa kali. Ia lebih tertarik pada kisahku saat mengejarmu. Masih teringat dengan jelas saat kau tolak aku dengan alasan masih kecil, masih anak sekolah, masa depan masih panjang, dan lebih pantas menjadi adik.
"Lalu sekarang bagaimana kelanjutan ceritanya? Masihkah berlanjut?"
"Doakan sajalah, Mas."
"Ya, seharusnya begitu lanjutkan saja. Wajah kamu lumayan, kendaraan pasti ada, tinggal udah ga sama orang tua. Apalagi masalahnya iya kan?"
"Usiaku yang lebih muda, Mas."
"Alah, itu tak masalah. Selisih berapa tahun?"
"Lima tahun, Mas."
Wajah Mas Gilang sedikit berubah ketika kuberi tahu. Ia sedikit serius kali ini.
"Yan, kalau soal usia itu sebenarnya tidak masalah selama ada kecocokan dan yang terpenting asal kamu mau memperjuangkannya."
"Siap komandan," sahutku diikuti hormat. "Eh, itu dia yang kutunggu sudah datang Mas." Ku lihat kau sedang membuka pintu kedai.
"Cantik."
"Iya, Mas."
"Dasar. Udah samperin sana, gih!"
Aku membenahi rambut, bajuku dan melangkah menyambutmu.
"Hai, selamat bertemu lagi, Monik," sapaku.
Kau melepas kacamata hitammu dan sedikit mengerutkan kening. Mungkin terdengar asing di telingamu. Ini pertama kalinya kuhilangkan sebutan Mbak dari namamu.
"Maaf. Mbak Monik maksudku," jelasku membenahi.
Kau kutawari duduk dengan isyarat tanganku. Kau pun duduk dengan sendirinya sembari tersenyum.
Suasana mendadak hening. Kita sama-sama tak bicara.
"Sudah lama tak bertemu ya, Mbak. Ternyata mbak masih kerja di tempat yang sama," kataku memulai topik.
"Aku pikir Bryan Purnama itu orang lain. Ternyata orang itu kamu." Kau melempar senyum ke arahku.
"Iya, Mbak. Aku yang mendaftarkan diri jadi klien Mbak Monik."
Kulihat kau mengeluarkan semacam buku agenda dan pulpen.
"Sudah siap? Sepertinya sudah. Maaf, tadi ada klien yang molor. Ujung-ujungnya jadi kena batunya semua."
"Iya gapapa, Mbak."
"Karena sudah kenal jadi ga usah pakai perkenalan. Kita langsung ke topik permasalahan untuk mempersingkat waktu." Kau pun membuka sampul buku agendamu. Kau memberiku selembar kertas kosong dan menyuruhku menggambar sesuatu di sana. Tak usah pikir panjang kugambar saja perempuan hati dan laki-laki.
Kau sedikit tertawa melihat gambarku.
"Kenapa, Mbak? Jelek ya?"
Kau menggeleng.
"Jadi begini, Mbak. Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku susah tidur. Mungkin karena memikirkan sesuatu dan itu cukup mengganggu."
Kau membuat coretan-coretan di bukumu yang membuatku penasaran.
"Mbak Monik," panggilku.
"Iya lanjutkan saja. Aku mendengarkan."
"Ini masalah aku jatuh cinta lagi. Tapi sayangnya usia diantara kami berjarak lima tahun. Disaat aku baru menyelesaikan pendidikan sarjana, dia sudah magister. Dia sudah memiliki pekerjaan tetap, sedangkan aku sedang mencari pekerjaan. Aku takut kalau dia sebentar lagi menikah sementara aku baru saja lulus. Tapi aku tak mau kalau status kami hanya seperti kakak adik."
"Wow, ternyata kamu ga berubah ya. Padahal dari dulu sudah aku sarankan untuk mencari yang seusia atau justru yang usianya di bawah kamu."
"Kalau sudah terlanjur begini gimana dong, Mbak?"
"Ada dua analisa pada permasalahan kamu itu sebenarnya. Pertama kalau kamu terus maju mungkin permasalahan ga hanya pada dua orang antara kamu dan dia, tetapi ada hal besar yang harus kamu pikirkan juga yaitu keluarganya. Mau ga keluarganya menerima kamu. Ingat cinta bukan hanya milik dua orang yang jatuh cinta. Ada orang tua yang turut andil bagian dalam restu apalagi dia perempuan."
Deg. Selama ini aku sudah memikirkannya, tapi bukankah semua itu tergantung bagaimana cara kita menyelesaikannya. Seperti sebuah soal cerita, apabila cara penyelesaiannya tepat maka akan terlihat hasilnya, tapi jika salah maka tak kan pernah ditemukan jawabannya.
"Kedua, jika kamu menyerah. Ya tetap akan ada masalah dengan dia dan dirimu kalau sudah kamu nyatakan. Tapi kalau belum paling akan bermasalah pada dirimu sendiri jika tidak bisa mengendalikan diri. Semua sekarang tergantung pada keputusan kamu dan sebelum kamu mengambil keputusan besar aku ingin bertanya seberapa besar kamu mencintai dia?" lanjutmu.
"Aku sudah mencintai dia seumur selisih usia kami. Aku sudah mulai mencintai semenjak pertama kali melihatnya. Tapi jika mbak bertanya sebesar apa aku mencintai dia, tidak ada jawabannya."
Kau tertawa dan saat kutatap kau berhenti. "Baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita pesan something dulu?"
Akhirnya kupanggil waiters dan kupesan sesuatu.
"Tadi sampai dimana? Oh ya, sampai tidak ada jawaban. Jadi intinya kamu masih mau berjuang?" tanyamu.
"Yaiyalah, Mbak."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau dia sudah menikah? Apa yang akan kamu lakukan."
"Dia belum menikah."
"Oke aku ubah pertanyaannya. Bagaimana kalau dia ternyata sudah mempunyai kekasih?"
"Kurasa tidak."
Kau memincingkan mata. "Bagaimana kamu bisa sangat yakin seperti itu?"
"Ya menurutku dia belum menikah atau punya kekasih. Belum ada cincin yang mengikat di jarinya," jawabku seraya melihat jemari kedua tanganmu.
"Kalau untuk alasan belum menikah bisa dimengerti, tapi untuk belum memiliki kekasih sepertinya masih bisa ada kemungkinan sudah."
"Aku yakin dia tak memiliki kekasih. Dia orang yang sangat sibuk dari dulu, bahkan untuk berbicara yang tidak penting dia kadang menolak. Dia jarang menyentuh handphone pribadinya dan lebih sering menyentuh handphone untuk urusan pekerjaan. Setiap ditanya soal kekasih dia akan diam seolah matanya itu bicara helo tidak lihat gue jomblo."
Kau tertawa lagi.
"Baiklah kalau begitu. Tapi usia kalian kan selisih lima tahun lebih cocok jadi kakak adik. Kalau wanita yang lebih muda sih tidak masalah. Tapi kalau lelakinya yang lebih muda dengan selisih yang lumayan seperti itu tidak biasa di masyarakat kita."
"Ah, menurutku usia bukan masalah asalkan sama-sama dewasa, sama-sama bisa membawa diri, sama-sama mengimbangi! Bener kan? Jadi gimana Mbak?"
Pesanan kita pun datang. Hening pun terjadi sesaat. Kau pun berdehem sebelum bicara.
"Ya, kadang ada juga kasus seperti itu."
"Terus?"
"Tapi saranku sudah menyerah saja. Nanti kalau ditolak malah jadi sakit hati lagi. Belum kapok juga dulu ditolak lima kali dengan alasan yang sama?" Kau meledekku seraya melanjutkan mencoret-coret.
Aku tersenyum dan menghela nafas. Kau melirikku sekejap.
"Apa aku benar-benar harus menyerah?" tanyaku seraya memegang tanganmu. Kau terlihat kaget.
"Lalu bagaimana jika orang yang kumaksud itu adalah orang yang sama, yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali," lanjutku.
Kau pun diam, menarik tanganmu dan meletakkan pulpenmu di meja.
Melihat serangkaian gerakan itu semakin menuntunku untuk mengatakan, "Perempuan itu kamu."
Kau pun menyandarkan jemari di jidatmu dengan tumpuan siku tangan di meja.
"Mencintaimu adalah alasan perjuanganku. Selanjutnya tidak ada alasan lain, Mbak."

__________________________________________
senja meresahkan diriku
seakan kau menepis cintaku
tiada ku memaksa
namun tiada alasanmu untuk ragu
akan hasrat dan cintaku
jangan tanyakan batas cintaku
batas hasratku kepadamu mentariku
jangan indahkan semua cerita
yang telah membuatmu
ragu tuk melangkah bersamaku kasih
tak perlu kau ragu segala yang di hatiku (Kahitna)

CLUB CHOCOLATE



"Dik."
Begitu kudengar sayup-sayup kau memanggil wanita di sampingmu.
Wajahku langsung pucat dan kehilangan tenaga. Kau yang selama ini kukenal sendiri tak terlihat berminat memiliki kekasih tiba-tiba membawa seorang gadis dan memanggilnya "Dik".
"Guys ada hal yang ingin aku sampaikan. Mohon perhatiannya sebentar," teriakmu seraya memukul-mukul badan gelas dengan sendok.
Kau menarik tangan gadis itu hingga berdiri di sampingku.
"Kenalin ini Renata. Mulai hari ini Rena akan bergabung dengan club kita."
Aku pun berdiri dan memberi pelukan pada Rena.
"Selamat bergabung," kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Rena tersenyum.
Entah siapa perempuan bertubuh mungil yang kau bawa, yang aku tahu rasa nyeri ada di balik dadaku. Aku pun melepas pelukkan menyedihkan itu.
"Dik, kamu bicara sama Olin dulu. Aku tinggal sebentar. Lin titip Rena ya." Kau menepuk bahuku dan berlalu.
"Mbak Olin sudah kenal lama dengan Mas Rengga?"
"Iya semenjak bergabung di club ini. Sekitar dua tahun yang lalu," jawabku seraya menarik kursi dan kembali duduk.
"Mbak berarti udah tahu banyak tentang Mas Rengga dong? Mas Rengga orangnya gimana aja mbak?"
Aku menoleh dan menjawab, "Baik."
"Cuma baik?"
Aku menerawang ke atas dan mengangguk. Tak enak melihat Rena berdiri aku menawarinya duduk seraaya mengalihkan pembicaraan, "Udah duduk sini, Ren. Kalau banyak berdiri capek lho."
"Mas Rengga pernah cerita tentang, Mbak lho," katanya sembari duduk di kursi.
"Oh, ya?"
"Iya. Cerita kalau mbak dulu pernah punya cowok yang belagu."
"Rengga cerita begitu?"
"Iya, terus semenjak diputusin mbak cuma diem, jarang bicara, jarang ikut kegiatan. Bener ga sih mbak?"
Deg. Gadis ini benar-benar membuat napasku naik turun. Aku masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Saat lelaki belagu itu mengatakan "kamu membosankan" dan dia memilih mengakhirinya. Masih sering terbayang aku berdiri di samping tiang listrik dekat rumahnya dan mematung di sana berjam-jam hanya untuk mengenang. Sampai kau datang Rengga, menawariku bergabung dengan club Chocolate.
"Kalau kamu bergabung, akan ada banyak teman. Bisa jadi kamu bertemu dengan orang yang bernasib sama denganmu. Aku ketua club Chocolate. Rengga."
Begitulah awal perkenalan kita. Aku bergabung hanya satu kali datang. Lalu setelahnya aku absen. Kau menghubungiku pagi siang malam hanya ingin mendapatkan kabar apakah aku bisa bergabung di pertemuan selanjutnya.
Ketika ayah dan ibu mengajakku makan malam di luar kita dipertemukan. Kau melambaikan tangan tapi aku memilih merunduk. Akhirnya kau menghampiri mejaku.
"Om, Tante perkenalkan saya Rengga temannya Olin. Boleh bicara dengan Olin sebentar," ujarmu saat meminta izin pada orang tuaku.
Tanpa panjang lebar mereka menyetujuinya. Kau satu-satunya lelaki yang berani menghadapi orang tuaku dan mulai detik itu aku berpikir dunia tak selebar daun kelor.
***
"Mbak kok diam? Maaf, Rena ga bermaksud mengungkit kenangan buruk, Mbak."
"Tidak apa. Oh ya kalau boleh tahu apa alasan kamu bergabung dengan club ini?"
"Diajakin Mas Rengga."
"Jadi bukan karena kamu suka cokelat?"
"Doyan cokelat sih mbak, tapi ga terlalu suka. Cokelat itu terlalu manis. Kalau mbak alasannya apa?"
"Karena cokelat memberikan rasa manis setelah pernah mencicipi rasa pahit dan cokelat pernah memberikan kekuatan untuk mencicipi manisnya kehidupan," jawabku.
"Kalau aku membentuk club cokelat karena ingin lihat yang manis-manis. Seperti kalian," celetukmu yang muncul tiba-tiba di antara aku dan Rena.
Sesaat mata kita bertatap temu. Aku melihat rasa bahagia ada di balik bola matamu bertentangan dengan rasa di balik bola mataku.
"Lin, sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu."
Deg. Nada bicaramu berbeda dengan Rengga yang kutemui sebelumnya. Kau tak pernah berkata ingin memberi tahu sesuatu langsung padaku. Aku diselimuti rasa takut.
"Nanti saja, Mas. Jangan sekarang," potong Rena.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku. Spontan aku berdiri.
"Maaf, aku mau ke toilet sebentar," kataku seraya terburu-buru pergi.
Aku menarik nafasku memandangi cermin di wastafel. I'm fine. Aku tidak menangis, tapi ada desir berbeda di dalam sana. Kubasuh wajahku. Kadang air bisa berfungsi menenangkan. Akhirnya mau tak mau aku kembali ke pusat acara. Kulihat orang-orang berkumpul dan ketika aku sampai mereka bubar.
"Wah, telat kamu, Lin," celetuk teman clubku.
"Pengumuman menghebohkan dari pak ketua. Sayang untuk dilewatkan," celetuk salah seorang yang lain.
"Pulang dulu ya, Lin," kata seorang yang lain berpamitan.
Alhasil aku penasaran dan menghampirimu.
"Ada apa sih?" tanyaku.
"Tadinya kamu orang pertama yang akan mendengar kabar ini, tapi sepertinya kamu jadi yang terakhir."
"O."
"Cuma O?" Alismu terlihat naik.
"Lalu?"
"Siap-siap dengar ini ya. Lusa aku mau melamar seseorang. Akhirnya aku mau married, Lin. Tapi tenang pembahasan cokelat kita akan terus berjalan. Adikku, em maksudku Rena yang akan menggantikanku sementara."
Deg. Ibarat alat deteksi kinerja jantung ini sudah bergaris lurus tidak ada harapan. Skakmat.
"Iya, Mbak. Aku ini adiknya Mas Rengga. Jadi kalau Mas Rengga berhalangan hadir mulai lusa, aku yang handle club ini."
"Selamat, Ngga." Aku mengulurkan tanganku.
Kau menyambutnya dengan dekapan. Air mataku mengalir tanpa ada yang tahu. Sepi. Suasana setelah acara bubar terasa seperti hatiku. Ada yang berlalu lalang tapi hati tetap merasakan kesunyian.
"Maaf, jika kabar ini membuatmu kaget," ucapmu berbisik membuatku mengusap air mata. Aku menarik tubuhku menjauh darimu.
"Sepertinya tinggal kita di sini. Aku akan mengurus semua ini. Kamu dan Rena boleh pulang duluan," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu yakin?" tanyamu.
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Senyum kupaksa mengembang.
Kau menahan tanganku. "Untuk kali ini izinkan aku yang menyelesaikan semuanya. Kamu boleh pulang. Kamu sudah terlalu sering melakukannya sendiri. Jika terlalu sering seperti ini mereka akan takut mendekatimu."
Kau melepas genggaman di pergelangan tanganku dan menggandeng Rena berjalan ke kasir. Raut wajahmu yang terakhir kulihat entah mengapa bukan senyuman yang bisa kuingat. Aku hanya akan mengingat sebatas melihat punggungmu berlalu.
Sekarang cokelat manis yang mengajariku tentang kehidupan sudah pergi. Mata cokelatmu, kulitmu, costum serba cokelat saat kau datang ke club. Kaulah alasan aku datang dan bertahan di club Chocolate.
***
________________________________________
Ku bertanya adakah aku yg ada di hatimu
Tak mengapa jikalau aku tak pasti di benakmu
Aku tak tahu mengapa dirimu
Yang datang saat aku merasa
Meskipun aku tak mungkin miliki
Namun ku akui, kau ubah hariku
Ada getar saat ku menatapmu ada di sana
Ku yakini mata hatiku tak akan pernah salah
Aku bertanya dan tanya kepada diri
Salahkah hatiku yg mengharapkan cintamu
Namun ku akui, kau ubah hariku (Kahitna)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...