Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

AKU ADA

BRAAKK
Setumpuk file kulihat dihempaskan ke mejamu pagi ini. Kulihat ada seorang lelaki yang naik pitam di depan meja kerjamu. Kau tak mampu melihatnya. Tatapanmu seperti bunga layu yang sudah tak punya daya ditegakkan. Lelaki itu keluar dari ruanganmu dengan nafas naik turun, menarik kerah dan melepas dasinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menghampirimu masuk ke ruangan.
"Ada apa?" tanyaku seraya menahan tanganmu yang gemetar merapikan tumpukan file yang berantakan.
Kau tersenyum. "I'm fine," jawabmu seraya melepaskan tanganku yang menahan punggung tanganmu.
Aku menatapmu lama tak yakin.
"Aku tidak apa-apa percayalah aku bisa mengatasinya." Kau tersenyum lagi.
"Oke." Aku mengangkat tanganku dan keluar dari ruanganmu. Di saat seperti itu pun kau mampu memperlihatkan senyuman manismu. Tapi jika kau selalu mengatasi semuanya sendiri lalu bagaimana denganku. Aku tak akan mempunyai celah untuk memasuki kehidupanmu…

MENCINTAIMU ADALAH ALASAN PERJUANGANKU

Aku mengingatmu dengan jelas. Perempuan yang mendobrak benteng pertahanan usiaku. Aku tengah memegang gitar dan bercanda gurau dengan kawan-kawanku kala itu. Lalu kau muncul membuyarkan konsentrasiku. Beberapa kali kita bersitatap dan kau selalu tersenyum ke arah lain. Entah untuk alasan apa kau masuk ke gerbang sekolahanku. Aku benar-benar ingin tahu hingga
kuserahkan gitar di genggaman pada kawanku dan mencari informasi tentangmu sebanyak-banyaknya. Sampailah aku tahu kau seorang mahasiswi yang sedang penelitian di sekolahku. Monik, itu namamu yang ku tahu dari panggilan teman-teman perempuanku. Ya, Monik. Mengingatkanku pada komik anak perempuan lucu, Monika.
"Bryan. Oi." Suara Mas Gilang, kakak kelasku saat SMA yang membuat lamunanku buyar.
"Mas Gilang. Apa kabar mas?"
Sudah lama sekali tak bertemu akhirnya di kedai kecil depan SMA aku bertemu Mas Gilang--mantan ketua OSIS di zamannya.
"Baik. Sudah besar sekarang kau nak. Tambah maju aja…

CLUB CHOCOLATE

"Dik."
Begitu kudengar sayup-sayup kau memanggil wanita di sampingmu.
Wajahku langsung pucat dan kehilangan tenaga. Kau yang selama ini kukenal sendiri tak terlihat berminat memiliki kekasih tiba-tiba membawa seorang gadis dan memanggilnya "Dik".
"Guys ada hal yang ingin aku sampaikan. Mohon perhatiannya sebentar," teriakmu seraya memukul-mukul badan gelas dengan sendok.
Kau menarik tangan gadis itu hingga berdiri di sampingku.
"Kenalin ini Renata. Mulai hari ini Rena akan bergabung dengan club kita."
Aku pun berdiri dan memberi pelukan pada Rena.
"Selamat bergabung," kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Rena tersenyum.
Entah siapa perempuan bertubuh mungil yang kau bawa, yang aku tahu rasa nyeri ada di balik dadaku. Aku pun melepas pelukkan menyedihkan itu.
"Dik, kamu bicara sama Olin dulu. Aku tinggal sebentar. Lin titip Rena ya." Kau menepuk bahuku dan berlalu.
"Mbak Olin sudah kenal lam…