Langsung ke konten utama

KASIH IBU KEPADA BETA

Kulihat ini bukan pertama kalinya wajah Ibu murung dan tak mau bicara denganku. Sejak melihat foto perempuan di wallpaper handphone-ku, Ibu terus menerus berpikir keras seorang diri tanpa mau berbagi denganku atau Ayah. Aku tahu Ibu memendam sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang berbelit seperti hal yang sama di otakku, menebak pikiran Ibu.
Ibu, aku pulang ke rumah untuk bertemu Ibu dan menanyakan bagaimana wanita pilihanku untuk Ibu. Ternyata belum kusampaikan Ibu sudah memotongnya dengan dingin. Ibu masih kekeh dengan pilihanku lalu, yang telah gagal kuperjuangkan.
Aku mengetuk kamar Ibu sangat pelan. Kulihat Ibu berbaring di ranjang membelakangiku. Ku tarik kursi kecil di dekat pintu dan kuletakkan di samping ranjang Ibu. Aku duduk dan diam beberapa saat.

"Ibu. Apa Ibu tidur?"
Ibu tak menjawabku.
"Apa Ibu sudah makan? Aku tak ingin menjadi anak durhaka Ibu."
Ibu masih tak menjawabku.
"Ibu hari ini aku memutuskan akan kembali ke Jakarta. Sebelum aku pulang izinkan aku mengatakan banyak hal lewat sepucuk surat ini. Akan aku taruh di meja semoga Ibu berkenan membacanya nanti saat terbangun."

Dear Ibuku Sayang,
Aku anak Ibu satu-satunya yang nakal dan sering membuat Ibu kesal bahkan sampai menangis. Ini bukan pertama kalinya Ibu mendiamkanku seperti ini. Aku tahu Ibu, aku punya banyak salah pada Ibu. Perkenankan aku meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam pada Ibu.

Ibu pernahkah Ibu tahu bagaimana rasanya penolakan? Anak Ibu ini pernah merasakannya dan beberapa waktu berjuang sendiri. Anak Ibu ini tak mau Ibu mengetahuinya. Demi menjaga hati Ibu aku berusaha tetap kuat dan berjalan seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Akan kuceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi Ibu. Aku datang bersama kawan-kawanku ke rumah perempuan yang Ibu pilih. Seperti bermain ke rumah kawan-kawanku biasanya. Ada yang berceletuk mengatakan aku kekasih perempuan itu. Si Ibunya sontak kaget dan memandangku sinis. Lalu Ibunya bercerita kalau ia menginginkan laki-laki kaya, seorang dokter yang bisa mengobati ketika ia sakit, laki-laki tampan, laki-laki yang jelas asal usulnya. Kawan-kawanku tak tahu Ibu kalau kata-kata itu ditujukan padaku yang lusuh, bukan seorang dokter, tidak tampan, dan orang tuaku yang hanya seorang tukang becak dan buruh cuci. Aku tidak marah Ibu. Aku hanya pura-pura tak mendengar Ibu. Semarah-marahnya Ibu pasti hanya akan mendiamkanku seperti ini tapi orang lain justru berani mengatakanku seperti itu. Bagaimana jika waktu itu kuceritakan pada Ibu? Apakah Ibu akan marah?
Saat itu aku sempat bertahan Ibu demi perempuan yang merengek memintaku untuk meluluhkan hati Ibunya. Tapi semakin aku mencoba semakin keras batas benteng yang dibangun Ibunya. Akhirnya aku memilih mengalah. Aku tak ingin wanita pilihan Ibu menderita lama-lama karena mempertahankanku. Aku melepasnya agar tak menjadi anak yang durhaka pada Ibunya. Bukankah seharusnya semua itu telah selesai dan kini Ibu harus mengetahui kebenarannya.
Kali ini disaat aku yang menemukan seseorang yang bisa menerimaku apakah Ibu akan melakukan hal yang sama padaku?
Ibu janganlah melihat orang dari luarnya saja jika Ibu belum pernah melihat bagaimana hatinya. Paras wajah bukankah itu bentukan dari asalnya. Apakah Ibu tahu keluarga perempuan itulah yang bisa menerimaku apa adanya. Ya, benar. Keluarganya tak memandang dari mana asal usul keluargaku. Ia hanya menanyakan keimananku dan pekerjaanku. Selebihnya nama orang tuaku, pekerjaannya dan berapa jumlah saudaraku. Setelah itu mereka tak mempermasalahkannya. Mereka tak bertanya berapa meter persegi ukuran rumahku, berapa banyak jumlah mobilku, berapa banyak uangku di bank.

Tak mudah mencari seseorang yang bisa menerima apa adanya, tapi lebih tak mudah lagi mencari keluarga yang bisa menerima kehadiranku di tengah-tengahnya. Kupikir lebih enak menjadi anak kecil yang jatuh cinta karena mereka tak tahu hal besar yang bertengger di belakangnya. Jatuh cinta bagi mereka hanya bentuk dari sama-sama suka dan sudah hanya di situ saja. Tapi aku bukan anak kecil lagi Ibu. Hatiku telah terbentuk dan sudah lebih besar. Aku sudah tahu bahwa jatuh cinta tak hanya butuh dua orang yang sama-sama menyukai namun jatuh cinta adalah siap menyatukan dua keluarga besar. Cinta bukanlah suatu status tetapi menikah adalah sebuah pergantian status yang awalnya sendiri tiba-tiba memiliki banyak hal yang tak pernah didapat dari kesendirian.

Walaupun setelah ini Ibu tetap melarangku aku tetap kekeh dengan apa yang aku yakini Ibu. Maaf. Anakmu ini sudah tak lagi menjadi penurut. Bagaimanapun kerasnya pendirian Ibu, aku pula yang tetap menjalani hidupku. Aku tahu Ibu ingin orang yang terbaik untukku tapi kita belum tahu bagaimana rencana Tuhan. Aku hanya ingin berusaha menjalaninya Ibu. Aku meminta restu pada Ibu lewat surat ini. Semoga Ibu menjadi seorang yang bijak dalam mengambil sebuah keputusan. Terima kasih Ibu telah membesarkanku hingga saat ini. Aku sayang Ibu.
Salam dari anakmu
Lanang

Aku menarik koperku melewati pintu kamar Ibu. Tak kudengar sedikitpun suara dari dalam kamar Ibu. Sepertinya Ibu masih tidur. Aku bergegas keluar, membuka bagasi mobil Kang Arman tetanggaku. Kumasukkan koperku ke dalam sana.

"Sudah siap belum Nang?"
"Sudah Kang, tapi aku ke kamar mandi dulu sebentar."
Ya pergilah. Begitu yang kutangkap dari gerakan tangan Kang Arman.
Saat ke kamar mandi aku berpapasan dengan Ayah.

"Nang, balimu jam pira? Wis pamitan karo Ibumu?"
Ayah menanyakan keberangkatanku.
Sesungguhnya aku masih tetap ingin tinggal dulu tetapi aku tak bisa melihat wajah Ibu yang murung karena memikirkanku.
"Ayah, ini Lanang mau balik diantar Kang Arman. Nanti kalau Ibu tanya, Lanang sudah pulang."
Ayah mengerti bentuk ekspresi wajahku. Ayah selalu menjadi penengah antara aku dan Ibu.
"Yowis. Sing ngati-ati yo, Nang. Nyuwun donga karo sing Maha Kuasa ben dibukake dalanne," kata Ayah seraya mengelus pundakku.
Setelahnya aku pamit mencium tangan Ayah yang semakin lama semakin keriput, sedikit berbeda dari beberapa bulan belakangan.

Aku berjalan mendekati Kang Arman.
"Sudah Kang. Mari cabut."
Kang Arman masuk ke mobil. Aku membuka pintu depan, samping Kang Arman. Deg. Ibu sudah duduk di dalam, di kursi belakang saat kutengok dari spion tengah. Aku tak berani mengajak bicara Ibu. Sepanjang perjalanan aku tak menoleh ke belakang.

Sampailah di bandara. Aku keluar dari mobil mengambil koper di bagasi. Kulihat Ibu tak bergerak sedikitpun dari mobil.
"Kang, titip salam buat Ibu ya."
"Macam apa kalian ini? Empat mata kan bisa."
"Kang percayalah kali ini titip salam lebih baik daripada bicara empat mata."
"Lanang, kau sudah besar masak kalah sama anak kecil. Ayolah sapalah Ibumu barangkali sebentar."

Aku menyeret koperku mendekati pintu Ibu. Pelan-pelan kutarik daun pintu.
"Ibu, Lanang mau pamit."
Ibu masih tak bersuara. Setelah menunggu lama akhirnya aku menutup kembali pintu dan menyeret koperku memasuki pintu masuk. Sesekali kutengok wajah Ibu di jendela. Masih sama bahkan disaat seperti ini pun Ibu masih menyempatkan waktu mengantarku. Meskipun tak bersuara aku tahu kau menyayangiku Ibu.

(Ketika aku masuk ruang tunggu, dalam saku terdengar nada dering pesan. Aku duduk di kursi panjang dan sesaat kemudian kubuka. Nama Ibu tertera di sana beserta pesannya:

Nang, Ibu masih kangen. Kenapa kamu cepat-cepat pulang?)
------------------------------------------------------

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
(Meskipun Ibu melarang, mendiamkan, tetap kekeh dengan pendiriannya
Ibu tetaplah Ibu yang memikirkan kebahagian anaknya
Walaupun terkadang pemikirannya bertentangan dengan pemikiran anaknya
Bukankah itu juga sebuah bentuk kasih sayang)

Komentar

  1. nice post sob..
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya juga ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    agen situs poker online indonesia uang asli,poker online terpercaya dan teraman...
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/
    di oliviaclub.com poker online uang asli terbaik di indonesia dengan teknologi teraman dan tercanggih.
    main dan ajak teman anda bergabung dan dapatkan 20% referral fee dari house commision untuk turnover teman ajakan anda...

    BalasHapus
  2. Hurrah, that's what I was exploring for, what a material!
    present here at this blog, thanks admin of this site.


    My blog: Clash of Clans Hack

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini