Langsung ke konten utama

JODOH PASTI BERTEMU



Sejak awal mengenalmu aku tahu kau tak sendiri. Kau menyandang status calon istri temanku. Aku tak begitu khawatir saat mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku.

“Angga kau bisa menyebutnya begitu,” kataku saat berjabat tangan denganmu dulu.

Aku beberapa kali tersenyum mendengar gurauanmu dengan temanku. Kalian duduk bersampingan, berhadapan denganku. Saat itu aku tak merasa ada yang salah. Kau seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kukenal. Tak ada yang beda dari mereka, awal pikirku. Kau akan menikah dengannya. Hari itu, dia memperkenalkanmu sebagai calon istri dan aku tak begitu kaget. Dia selalu bercerita tentangmu pagi, siang dan malam saat bertemu denganku. Temanku meminta petuah cinta dariku. Aku pula yang menyuruhnya segera mengikat pertalian suci denganmu. Oleh karena itu, aku merasa itu sebuah bagian kesuksesan petuah karena dia merespon perkatakanku. Tak heran jika aku mengucapkan ucapan selamat lebih dari satu kali lewat gurauanku. Kau pun selalu tersipu malu tiap kali kulontarkan celotehan tentang kau dan dia. Sesekali kulihat kau mencubitnya dan tertawa lepas. Itu hanya secuil bagian perkenalan kita.

Hari silih berganti sampailah pada saat itu ketika kita bertiga mencari gedung untuk pernikahan kalian, aku berpapasan dengan ibuku. Ibuku kira kau adalah kekasihku. Ibu terlihat sangat bahagia. Itu pertama kalinya ibu menunjukkan wajah bersinar, mata berbinar dan senyum yang tak pudar bahkan setelah sampai di rumah. Ibu menanyakanmu. Aku tak tahu harus menjawab apa. Bukankah awalnya aku yakin kau adalah calon istri temanku? Akhirnya aku menjawab kau adalah temanku.

Mungkin itu pertama kalinya ibu mengira aku sudah mulai mencari pendamping hidup. Itu sebabnya ibu bertanya bagaimana perkenalan kita dan bagaimana miripnya wajah kita. Aku tak ingin membuat ibu kecewa. Tetapi pada akhirnya ibu akan tahu jika undangan pernikahan kau dan temanku sampai di depan pintu rumahku. Ibulah yang akan membaca pertama kalinya bukan aku.

Berbeda hari, seorang fotografer pre wedding kalian bergurau denganku. Ia juga mengatakan hal yang sama seperti ibuku, wajah kita lebih mirip. Apakah sebegitunya kemiripan kita? Aku tak mengerti mengapa Tuhan mengujiku dengan cara seperti ini? Yang aku tahu, aku mulai memahami perkataan ibu benar. Aku mulai mencintaimu diam-diam.

“Angga, aku boleh bertemu?” tanyamu lewat telepon disela-sela waktu istirahat.

“Iya, bisa. Dimana?”

“Di kafe tempat biasa. Jam setengah satu ya,” jawabmu.

“Baiklah.”

Seusai telepon itu aku bergegas menemuimu setelah meminta izin ke bos. Jarak kantor dan kafe tempat kita bertemu sekitar 16 km dan kutempuh paling lama 30 menit. Ternyata kau datang jauh lebih awal dari perkiraanku. Jam tanganku masih menunjukkan pukul setengah satu kurang dan kau sudah menghabiskan dua buah cangkir minuman. Aku ingin mengagetimu tapi niat kubatalkan setelah melihat betapa lesunya kau siang itu.

“Apa ada masalah?” tanyaku tanpa berbasa-basi seraya mengambil posisi duduk di depanmu.

“Dia akhir-akhir ini susah dihubungi. Aku tak tahu bagaimana bisa menyelesaikan semua ini padahal undangan belum dicetak, belum masalah catering, gedung pun belum dapat.”

“Tenang, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan seperti itu, Dira.”

“Ngga, kenapa dia berubah? Aku pikir setelah ditentukan tanggalnya dia akan melakukan ini, itu tapi kenyataannya hanya aku yang berusaha. Itupun dengan bantuanmu. Apa dia tidak ingin menikah denganku? Lalu kenapa dia berani melamarku?”

Deg. Kata-katamu membuatku berpikir ulang. Apa aku turut bagian dari kesalahan itu? Aku yang menyarankan Roy untuk menikahimu. Jika kau menyesal maka akulah orang yang seharusnya kau salahkan.

“Dira, kadang ada hal yang hanya kita ketahui luarnya saja tanpa tahu bagaimana keadaan di dalamnya. Kita tak tahu apakah Roy sudah siap atau belum, apakah Roy berusaha atau tidak. Bahkan aku yang sudah bertahun-tahun berteman dengannya tak tahu bagaimana dia,” jelasku.

Kau menundukkan kepalamu dan menghelakan napas panjang.

“Percayalah Roy akan berbuat sesuatu untuk mempertahankan cintanya padamu. Kau tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak. Kau tidak berdiri sendiri. Walaupun ini pernikahanmu tapi aku, Roy, keluargamu, keluarga Roy, teman-temanmu ada kapanpun yang kamu mau untuk membantu. Buktinya aku ada di sini sekarang. Jangan pernah berpikir kamu sendirian. Itu bisa membuat wajahmu cepat berkerut dan wajahmu yang manis menghilang.”

Kau tersenyum dan mencubitku. Kulihat wajahmu mulai kembali seperti awal perkenalan kita. Sedikit kelegaan ku tangkap dari bola matamu. Kau sudah menyapu buliran air mata yang hampir tumpah.

“Oh ya kamu mau pesan apa, Ngga? Coba aku tebak pasti hot chocolate?” tanyamu sudah kembali ceria.

“Kamu cenayang ya?”

Kita pun tertawa bersama lebur dalam satu waktu, meskipun sesungguhnya ada rasa tertinggal yang sulit kubedakan. Aku harus tersenyum atau berduka. Aku harus memberimu semangat atau mematahkannya. Aku harus memintamu menyerah atau melanjutkannya. Saat aku memikirkan kebahagianmu maka aku harus merelakan sesuatu di dalam sana dan menggantinya dengan kebahagianmu.

Kata orang wajah kita lebih mirip daripada kau dengan temanku. Kita memiliki banyak kesamaan dibanding perbedaan. Sama-sama menyukai hot chocolate, musik jazz, membaca novel Dewi Lestari, dan menonton film action. Mengapa kau bukan denganku saja? Mengapa Tuhan lebih memilihkan dia untukmu, teman baikku? Mungkin karena Tuhan lebih dulu menghadirkannya di depan kelopak matamu dan aku hanya bisa menyambut setelah kau menjadi bagiannya. Aku atau kau yang datang terlambat? Aku merasa kita berjodoh tapi Tuhan berkata lain.

Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan ini. Wanita yang mirip tapi tak berjodoh. Wanita yang cantik tapi bukan milikku. Wanita yang butuh penopang tapi tak denganku. Kupikir akan ada yang lebih butuh kukuatkan setelah kau benar-benar bersama temanku. Ibuku. Ya ibu yang harus kukuatkan untuk menerima kenyataan ternyata kau yang ibu pilih bukan dipilihkan Tuhan untukku.

Ibu kelak jodohku akan datang pada saat yang tepat. Ibu jangan khawatir. Akan kupilihkan seseorang yang bisa membuat ibu bahagia. :D

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika kita berencana, Tuhan juga punya rencana
Bila tidak ditakdirkan di dunia
Mungkin Tuhan berencana mempertemukan di akhirat
Bukankah jodoh pasti bertemu

Komentar