Langsung ke konten utama

CINTA KITA TAK KAN TERBELAH WALAU BANYAK CERITA-CERITA YANG NGGAK MENGASYIKAN



Tiga puluh menit waktu keterlambatanku dan kau masih setia duduk menungguku lama di sudut kedai kopi. Tempat kau bisa memilih kopi manis dengan gula atau pahit tanpa tambahan gula. Kedai kopi inilah tempat pertama kita bertemu, berkenalan dan jadian. Tidak hanya berakhir sampai di situ, banyak pertengkaran, perdamaian dan segala memori suka duka, senang bahagia mengiringi perjalanan cerita kita di tempat ini.
Itulah sebabnya saat kau mengirimiku pesan singkat untuk bertemu di tempat biasa aku tak memiliki firasat apa-apa.
"Hei, maaf terlambat."
Kau meletakkan handphonemu di meja. "Sudah tiga puluh menit. Kau tidak menghargai waktuku yang terbuang." Wajahmu terlihat masam malam ini.
"Aku minta maaf. Lagian ini pertama kalinya aku terlambat bukan?"
Kau mengangkat tanganmu, memanggil waiters dan memesankan kopi hitam kesukaanku.
"Kopi hitam tanpa gula satu. Satu lagi kopi hitam pakai gula satu sendok. Eh tiga sendok saja takut kepahitan," katamu.
"Kamu mau coba kopi hitam juga?"
Kau diam tak menjawabku. Pesanan dua cangkir kopi datang pun kau masih tak mengajakku bicara.
"Tolong cangkir yang kotor ini sekalian dibawa ya. Terima kasih."
Kau menyuruh waiters untuk membawa dua cangkir kopi yang telah kau habiskan saat menungguku.
"Aku tidak datang sendirian di sini," katamu.
"Maksud kamu?"
"Aku dengan kawan-kawanku tadi, tapi mereka kusuruh pergi duluan. Nanti aku menyusul mereka."
"Oh," kataku seraya memegang daun cangkir hendak menyeruput kopi hitam tanpa gula.
"Aku ingin kita selesai," katamu singkat.
Aku mengangkat wajahku dan menatapmu tajam menelusuri ekspresi wajahmu. Kuletakkan cangkir yang telah mengudara sampai depan dada. Batal kuteguk.
"Tidak. Kita sudah melewatinya cukup jauh," kataku.
"Untuk apa melanjutkan sesuatu yang pada akhirnya berujung pada luka," katamu seraya memegang punggung tanganku.
"Aku merasa semua baik-baik saja."
"Ya, itu menurut kamu. Tidak menurut sudut pandangku," katamu seraya menarik tanganmu menjauh dari punggung tanganku. Kau mengatakannya seolah-olah aku tak memahami keberadaanmu.
"Kita cukup dewasa. Kita bisa memilih orang lain yang lebih pantas untuk kita, tapi bukankah orang tua juga ikut terlibat dengan masa selanjutnya," lanjutmu.
"Kau bisa mengambil hati ibuku. Percayalah. Kau cuma butuh waktu. Kita jalani saja dulu, mengalir." Aku gantian memegang punggung tanganmu.
"Mengalir katamu?" Kau menghempaskan tanganku. "Sampai mana? Kita sedari awal tak memiliki tujuan yang jelas. Oh, bukan kita tapi kamu. Aku sudah memiliki tujuan ingin mempunyai keluarga bahagia tapi ternyata sejauh ini tujuan itu tak ada pada hubungan kita."
Aku menunduk. Kau membawa ibuku lagi dalam pembicaraan kita. Sejak pertemuan itu kau berubah, seperti ibuku yang sering mendiamkanku. Setiap aku bercerita tentangmu, ibu tak sungguh-sungguh mendengarkanku. Hal yang sama juga terjadi padamu.
"Kau bisa meyakinkan ibuku. Tak perlu mengkaitkan tujuan hidup dengan ibuku." Aku mencoba menguatkan hatimu--sebisaku.
"Apa kau tidak pernah melihat? Di luar sana tanpa restu ibu semuanya serasa sia-sia, tidak bahagia. Aku tak mau seperti mereka, tak mau ada dalam pikiran mereka-mereka. Kau tau Ara temanku kan. Dia bilang hubungan kita sudah tidak sehat." Kau menarik nafas sejenak lalu melanjutkannya, "Jika ibumu jadi ibu mertuaku nggak kebayang aku jadi apa. Benar kata Ara aku harus mencari seseorang yang keluarganya bisa menerimaku apa adanya."
"Kita ya kita. Tak usah pedulikan kata orang lain. Aku yakin kita bisa menjalani. Kamu hanya butuh bertahan sebentar lagi."
"Aku tidak butuh kau kuatkan. Kau kuatkan saja dirimu menerima kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi berjalan bersama-sama. Kau saja tak bisa menguatkan ibumu untuk bisa menerimaku."
Aku terdiam. Seolah kata-katamu mengunci ujung-ujung bibirku. Layakkah aku mempertahankan hal yang menurutku bisa dipertahankan, tapi tak bisa bagimu? Bagaimana bisa aku menyudahi hal yang sedari awal telah kuyakini hanya kau?
"Kita buat semuanya mudah sekarang. Kau dengan prinsipmu, aku dengan prinsipku. Kita lupakan hal konyol ini. Aku yakin ibumu juga menginginkan ini terjadi."
"Kenapa kau bawa ibuku lagi? Ibuku ingin yang terbaik untukku itulah sebabnya ia sedikit berlebihan berbuat seperti ini padamu," jelasku.
"Ini bukan perkara mudah, Ben. Kau sudah melihat sejauh ini aku tak mampu meluluhkan hati ibumu."
"Kau coba temui ibuku sekali lagi."
"Menemui ibumu? Semakin aku sering bertemu ibumu, semakin banyak luka yang tertoreh di sini. Lama-lama aku seperti pesakitan, Ben." Kuperhatikan matamu sudah berkaca-kaca. Mungkin aku telah sedikit berlebihan padamu.
"Kau yakin kau sudah tak mencintaiku?" tanyaku.
"Untuk apa mempertahankan cinta yang tak bisa membuatku mencapai tujuan hidupku. Aku yakin kau bisa melupakanku dengan segera setelah ini." Kau bicara panjang tanpa menatapku. Ujung jemarimu mengelus bibir cangkir. Lalu mengalihkan pandanganmu ke luar jendela.
Aku menghela nafas panjang.
"Sebelumnya aku ingin bertanya sebenarnya ada apa dengan ibuku? Apa hanya karena ia tak merestui kita, kau ingin sampai di sini?"
Lalu sontak kaget kau menatapku dengan bahasa tubuh yang seolah berbicara apa harus kujelaskan lagi. Lalu beberapa detik kemudian kulihat aliran deras mengalir di pipimu. Kau tidak berkata apapun. Kau meneguk habis kopi hitam dalam cangkir seolah sampai di situ batas kesabaranmu. Lalu kau mengemasi handphonemu, memasukkanya ke dalam tas.
"Kau tanyakan sendiri saja apa yang telah ibumu lakukan padaku. Aku masih cukup memiliki harga diri untuk tidak menghakimi ibumu di sini," katamu seraya menyapu sisa air di pipi.
Deg. Giliran aku yang tak bicara.
"Jika kau sudah mendapatkan jawaban. Kau temui aku dan katakan kau sudah bisa menerima kenyataan bahwa alangkah lebih baik jika kita tak bersama," katamu seraya berdiri dan menyentuh punggung tanganku sekilas. Lalu berjalan ke meja kasir meninggalkanku sendirian dengan secangkir kopi hitam milikku yang sama sekali belum kuteguk dan secangkir lagi yang telah kau habiskan. Kupegang cangkirnya, sudah dingin.

Kita. Kau dan Aku. Bukan mereka. Sejatinya kita saja cukup itu kataku.
Kita saja tidak cukup. Ada dua keluarga besar yang harus disatukan. Kita tanpa mereka tak berarti, itu katamu. Cinta tanpa syarat. Cinta yang mengalir, itu yang kumau. Cinta harus melewati syarat-syarat tertentu dengan tujuan yang jelas baru bisa disimpulkan benar-benar cinta atau tidak, itu yang kau mau.

Kita dua pribadi berbeda yang dipertemukan Tuhan. Bukankah Tuhan memiliki rencana yang besar untuk kita? Lelaki dan perempuan pun diciptakan berbeda. Perbedaan dalam kita seharusnya bisa membuat warna yang indah. Kita bisa melalui perbedaan seperti metamorfosis kupu-kupu, tapi kau terburu-buru mengabaikanku. Memang benar kupu-kupu bermetamorfosis seorang diri tapi manusia bukankah dirancang untuk saling membutuhkan.

Haruskah cerita kita berakhir seperti dinginnya kopi di depanku dan sepahit tegukan kopi hitam tanpa gula. Mungkin aku harus belajar meneguk kopi dengan tambahan gula. Paling tidak aku pernah merasakan rasa manis walaupun dalam bentuk secangkir kopi, jika pada akhirnya kelak aku memang harus menerima kenyataan pahit dalam kehidupan percintaanku.

Kucari sisa tetesan dari secangkir kopi pesananmu yang telah habis kau teguk dan ternyata manis. Pantas saja kau menyukai kopi dengan tambahan gula, seperti keinginanmu tentang hal-hal yang manis. Keluarga bahagia.

----------------------------------------
cinta kita tak kan terbelah
walau banyak cerita cerita
yang nggak mengasyikan
cinta kita tak kan terpecah
walau penuh kisah dan kisah
yang coba tuk menghancurkan kita
(Slank)

Komentar