Langsung ke konten utama

BIAR CINTA MENYATUKAN KITA



Kamu. Ya kamu yang sedang duduk di sampingku. Kamu memiliki mimpi tinggi yang bahkan tak mungkin aku capai dan tak ku miliki keberanian sepertimu.
"Yaya, ayolah!" Kau berdiri dari tempat dudukmu dan mengulurkan tanganmu.
Aku menggelengkan kepala. "Nggak ah, No."
"Ya sudah kalau begitu aku ke sana dulu," katamu seraya menepuk pundakku.
Aku mengangguk dan tetap duduk di kursi loby dengan posisi yang sama tak berubah sedikitpun. Kau menenteng tas berjalan ke arah sumber keramaian. Aku menatap kosong ke depan.

Ada tempat yang sebenarnya sangat dekat dengan kata "kita". Saat kita berbicara tentang film yang kita tonton bersama. Kita selalu mengomentari entah itu pemainnya atau skenarionya. Saat kita berjalan memutari pusat perbelanjaan kau mau menemaniku dan berjalan di sampingku. Kita mengomentari pelayanan yang tak ramah sampai ke barang-barang yang ditawarkan sering kali tak sesuai dengan harga biasanya.

Hanya saja, entah di tempat seperti ini, saat ini, kau terlihat sangat jauh. Aku hanya bisa memandangmu. Kau yang berjalan jauh menuju antrian panjang, ikut berebut brosur beasiswa ke luar negeri.
Aku tak memiliki impian setinggi itu. Kalau ditanya ingin ke luar negeri, tentu saja ingin. Tetapi dengan hal yang serba pas-pasan aku tak memiliki keberanian sebesar keberanianmu, Nino.
Aku tinggal di sini, tumbuh besar, menempuh pendidikan dan bahkan mungkin akan menikah di Indonesia. Tak muluk-muluk, cukup memiliki pekerjaan yang bisa sedikit-sedikit membantu suami untuk kehidupan rumah tanggaku kelak itulah mimpiku. Aku bangga jika bisa sukses walaupun dengan gelar lulusan dalam negeri. Itulah perbedaan dari kata "kita".

Aku pernah menanyakan pada hati apa itu impian, apa itu harapan, apa itu ambisi, apa itu keinginan dan tak ada jawaban atas pertanyaanku. Renunganku tak pernah memberikan jawaban tentang apa yang aku inginkan, tetapi keberadaanmu terkadang menarikku dari segudang tanya. Kau membangunkanku ketika lemah, membangkitkanku ketika hampir menyerah dan tetap menyemangatiku meskipun tinggal beberapa langkah mencapai finish.

"Ini buat kamu." Kau mengulurkan brosur kepadaku.
"Aku nggak berminat, No. Buat kamu saja." Aku mengembalikannya padamu.
"Sudah ambil saja. Aku sudah punya satu. Itu buat kamu. Dibaca dululah siapa tahu berubah pikiran." Kau meletakkannya digenggaman tanganku.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Kau menatapku.
"Nggak jadi." Aku menunduk.
"Aku tadi dikasih dua. Daripada dibuang sayang kan lebih baik kamu simpan," jelasmu seolah membaca pikiranku.
"Kamu benar mau ikutan ini?"
"Tentu saja selagi ada kesempatan kenapa tidak dicoba. Bukankah kesempatan itu kadang tak datang dua kali. Siapa tahu bisa lolos. Ini kan peluangnya masih besar jadi mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya."
Aku menatapmu seolah esok kita tak bertemu lagi.
"Kamu kenapa?"
Aku menyunggingkan senyum. Tak menjawab. Mungkin diam lebih baik agar kau bisa melanjutkan mimpimu tanpa mengkhawatirkanku.
"Ayolah, Yaya! Aku masih temanmu kan? Bicaralah!" Kau menyenggol bahuku.
Ya, mungkin kau akan menganggapku sebagai temanmu selamanya dan tak lebih.
"Aku mau beli ice cream. Mau ikut?" kataku. Aku beranjak dari tempat duduk mengalihkan perhatianmu.
"Titip ya," jawabmu.
Akhirnya aku melenggang pergi sendiri. Sepertinya ini akan menjadi pemandangan biasa. Berjalan sendirian, bicara sendirian, membeli ice cream sendirian dan bisa-bisa tertawa pun sendirian.
"Yaya!" teriakmu seraya berlari mengejarku dengan tergopoh-gopoh.
"Ternyata menunggu sendirian nggak enak. Mending ikutan kamu," katamu seraya memegang kedua lututmu dengan nafas tersenggal.
Aku menghela nafas.
"Begini saja kamu mencariku, bagaimana kalau beasiswa keluar negerinya tembus?"
"Makanya kamu juga harus ikut. Biar kita bisa bersama di sana."
"Kalau aku tak ikut?"
Kau terdiam beberapa saat. Aku mengangkat alisku.
Kau berdehem.
"Kelak aku yang akan membawamu ke sana."
Deg. Kau meraih tanganku. Apa ini tawaran atau kau sedang berusaha membuatku bermimpi sama denganmu?
Aku terpaku dan selanjutnya kau menertawakanku.
"Kenapa dianggap serius?" Kau menyenggol bahuku setelah melihat ekspresi campur adukku.
"Siapa yang serius?"
"Itu wajahnya merah."
"Apa sih!"
Aku mencubitmu seraya melotot.

Aku baru sadar pertemanan kita selalu bergerak seperti ini. Kau mengutarakan, aku menerimanya. Kau mengambil kembali kata-katamu, aku menolak kembali penerimaanku. Sampai kapanpun kita ada dalam dekat, dalam jauh. Kita saling membutuhkan, tapi tidak saling mengakui. Hanya melewatinya bersama sebagai teman. Kadang terlalu dekat dalam "kita" menipiskan batas pertemanan dengan rasa suka, tetapi jauh dalam "kita" menegaskan hanya teman.

Entah esok akan berkata seperti apa, yang aku tahu aku menjalani hari ini dengan kau dan merasakan rasa nyaman dalam balut kebersamaan, walaupun kau selalu dengan segudang impianmu dan aku dalam balutan kekhawatiranku. Aku menyadari pertemanan seorang laki-laki dan perempuan itu rentan dengan rasa suka. Kalau bukan kau, maka aku yang menyukaimu. Di lain cerita selalu terbagi menjadi dua hal, ada yang berani mengutarakan dan ada yang memilih memendam. Apakah kau masuk kedalam salah satu dari dua pilihan itu? Aku menjawabnya dengan lantang, "Ya."

---------------------------------------------------
(Biarkan saja cinta menyatukan kita
Kan ku jaga seharum nafasnya
Jangan sampai tergoreskan luka
Tuntunkanlah hingga akhir kita)

Komentar