Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

KASIH IBU KEPADA BETA

Kulihat ini bukan pertama kalinya wajah Ibu murung dan tak mau bicara denganku. Sejak melihat foto perempuan di wallpaper handphone-ku, Ibu terus menerus berpikir keras seorang diri tanpa mau berbagi denganku atau Ayah. Aku tahu Ibu memendam sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang berbelit seperti hal yang sama di otakku, menebak pikiran Ibu.
Ibu, aku pulang ke rumah untuk bertemu Ibu dan menanyakan bagaimana wanita pilihanku untuk Ibu. Ternyata belum kusampaikan Ibu sudah memotongnya dengan dingin. Ibu masih kekeh dengan pilihanku lalu, yang telah gagal kuperjuangkan.
Aku mengetuk kamar Ibu sangat pelan. Kulihat Ibu berbaring di ranjang membelakangiku. Ku tarik kursi kecil di dekat pintu dan kuletakkan di samping ranjang Ibu. Aku duduk dan diam beberapa saat.

"Ibu. Apa Ibu tidur?"
Ibu tak menjawabku.
"Apa Ibu sudah makan? Aku tak ingin menjadi anak durhaka Ibu."
Ibu masih tak menjawabku.
"Ibu hari ini aku memutuskan akan kembali ke Jakarta. Sebelu…

JODOH PASTI BERTEMU

Sejak awal mengenalmu aku tahu kau tak sendiri. Kau menyandang status calon istri temanku. Aku tak begitu khawatir saat mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku.

“Angga kau bisa menyebutnya begitu,” kataku saat berjabat tangan denganmu dulu.

Aku beberapa kali tersenyum mendengar gurauanmu dengan temanku. Kalian duduk bersampingan, berhadapan denganku. Saat itu aku tak merasa ada yang salah. Kau seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kukenal. Tak ada yang beda dari mereka, awal pikirku. Kau akan menikah dengannya. Hari itu, dia memperkenalkanmu sebagai calon istri dan aku tak begitu kaget. Dia selalu bercerita tentangmu pagi, siang dan malam saat bertemu denganku. Temanku meminta petuah cinta dariku. Aku pula yang menyuruhnya segera mengikat pertalian suci denganmu. Oleh karena itu, aku merasa itu sebuah bagian kesuksesan petuah karena dia merespon perkatakanku. Tak heran jika aku mengucapkan ucapan selamat lebih dari satu kali lewat gurauanku. Kau pun selalu t…

CINTA KITA TAK KAN TERBELAH WALAU BANYAK CERITA-CERITA YANG NGGAK MENGASYIKAN

Tiga puluh menit waktu keterlambatanku dan kau masih setia duduk menungguku lama di sudut kedai kopi. Tempat kau bisa memilih kopi manis dengan gula atau pahit tanpa tambahan gula. Kedai kopi inilah tempat pertama kita bertemu, berkenalan dan jadian. Tidak hanya berakhir sampai di situ, banyak pertengkaran, perdamaian dan segala memori suka duka, senang bahagia mengiringi perjalanan cerita kita di tempat ini.
Itulah sebabnya saat kau mengirimiku pesan singkat untuk bertemu di tempat biasa aku tak memiliki firasat apa-apa.
"Hei, maaf terlambat."
Kau meletakkan handphonemu di meja. "Sudah tiga puluh menit. Kau tidak menghargai waktuku yang terbuang." Wajahmu terlihat masam malam ini.
"Aku minta maaf. Lagian ini pertama kalinya aku terlambat bukan?"
Kau mengangkat tanganmu, memanggil waiters dan memesankan kopi hitam kesukaanku.
"Kopi hitam tanpa gula satu. Satu lagi kopi hitam pakai gula satu sendok. Eh tiga sendok saja takut kepahita…

BIAR CINTA MENYATUKAN KITA

Kamu. Ya kamu yang sedang duduk di sampingku. Kamu memiliki mimpi tinggi yang bahkan tak mungkin aku capai dan tak ku miliki keberanian sepertimu.
"Yaya, ayolah!" Kau berdiri dari tempat dudukmu dan mengulurkan tanganmu.
Aku menggelengkan kepala. "Nggak ah, No."
"Ya sudah kalau begitu aku ke sana dulu," katamu seraya menepuk pundakku.
Aku mengangguk dan tetap duduk di kursi loby dengan posisi yang sama tak berubah sedikitpun. Kau menenteng tas berjalan ke arah sumber keramaian. Aku menatap kosong ke depan.

Ada tempat yang sebenarnya sangat dekat dengan kata "kita". Saat kita berbicara tentang film yang kita tonton bersama. Kita selalu mengomentari entah itu pemainnya atau skenarionya. Saat kita berjalan memutari pusat perbelanjaan kau mau menemaniku dan berjalan di sampingku. Kita mengomentari pelayanan yang tak ramah sampai ke barang-barang yang ditawarkan sering kali tak sesuai dengan harga biasanya.

Hanya saja, entah di t…