Sabtu, 20 September 2014

KASIH IBU KEPADA BETA

Kulihat ini bukan pertama kalinya wajah Ibu murung dan tak mau bicara denganku. Sejak melihat foto perempuan di wallpaper handphone-ku, Ibu terus menerus berpikir keras seorang diri tanpa mau berbagi denganku atau Ayah. Aku tahu Ibu memendam sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang berbelit seperti hal yang sama di otakku, menebak pikiran Ibu.
Ibu, aku pulang ke rumah untuk bertemu Ibu dan menanyakan bagaimana wanita pilihanku untuk Ibu. Ternyata belum kusampaikan Ibu sudah memotongnya dengan dingin. Ibu masih kekeh dengan pilihanku lalu, yang telah gagal kuperjuangkan.
Aku mengetuk kamar Ibu sangat pelan. Kulihat Ibu berbaring di ranjang membelakangiku. Ku tarik kursi kecil di dekat pintu dan kuletakkan di samping ranjang Ibu. Aku duduk dan diam beberapa saat.

"Ibu. Apa Ibu tidur?"
Ibu tak menjawabku.
"Apa Ibu sudah makan? Aku tak ingin menjadi anak durhaka Ibu."
Ibu masih tak menjawabku.
"Ibu hari ini aku memutuskan akan kembali ke Jakarta. Sebelum aku pulang izinkan aku mengatakan banyak hal lewat sepucuk surat ini. Akan aku taruh di meja semoga Ibu berkenan membacanya nanti saat terbangun."

Dear Ibuku Sayang,
Aku anak Ibu satu-satunya yang nakal dan sering membuat Ibu kesal bahkan sampai menangis. Ini bukan pertama kalinya Ibu mendiamkanku seperti ini. Aku tahu Ibu, aku punya banyak salah pada Ibu. Perkenankan aku meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam pada Ibu.

Ibu pernahkah Ibu tahu bagaimana rasanya penolakan? Anak Ibu ini pernah merasakannya dan beberapa waktu berjuang sendiri. Anak Ibu ini tak mau Ibu mengetahuinya. Demi menjaga hati Ibu aku berusaha tetap kuat dan berjalan seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Akan kuceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi Ibu. Aku datang bersama kawan-kawanku ke rumah perempuan yang Ibu pilih. Seperti bermain ke rumah kawan-kawanku biasanya. Ada yang berceletuk mengatakan aku kekasih perempuan itu. Si Ibunya sontak kaget dan memandangku sinis. Lalu Ibunya bercerita kalau ia menginginkan laki-laki kaya, seorang dokter yang bisa mengobati ketika ia sakit, laki-laki tampan, laki-laki yang jelas asal usulnya. Kawan-kawanku tak tahu Ibu kalau kata-kata itu ditujukan padaku yang lusuh, bukan seorang dokter, tidak tampan, dan orang tuaku yang hanya seorang tukang becak dan buruh cuci. Aku tidak marah Ibu. Aku hanya pura-pura tak mendengar Ibu. Semarah-marahnya Ibu pasti hanya akan mendiamkanku seperti ini tapi orang lain justru berani mengatakanku seperti itu. Bagaimana jika waktu itu kuceritakan pada Ibu? Apakah Ibu akan marah?
Saat itu aku sempat bertahan Ibu demi perempuan yang merengek memintaku untuk meluluhkan hati Ibunya. Tapi semakin aku mencoba semakin keras batas benteng yang dibangun Ibunya. Akhirnya aku memilih mengalah. Aku tak ingin wanita pilihan Ibu menderita lama-lama karena mempertahankanku. Aku melepasnya agar tak menjadi anak yang durhaka pada Ibunya. Bukankah seharusnya semua itu telah selesai dan kini Ibu harus mengetahui kebenarannya.
Kali ini disaat aku yang menemukan seseorang yang bisa menerimaku apakah Ibu akan melakukan hal yang sama padaku?
Ibu janganlah melihat orang dari luarnya saja jika Ibu belum pernah melihat bagaimana hatinya. Paras wajah bukankah itu bentukan dari asalnya. Apakah Ibu tahu keluarga perempuan itulah yang bisa menerimaku apa adanya. Ya, benar. Keluarganya tak memandang dari mana asal usul keluargaku. Ia hanya menanyakan keimananku dan pekerjaanku. Selebihnya nama orang tuaku, pekerjaannya dan berapa jumlah saudaraku. Setelah itu mereka tak mempermasalahkannya. Mereka tak bertanya berapa meter persegi ukuran rumahku, berapa banyak jumlah mobilku, berapa banyak uangku di bank.

Tak mudah mencari seseorang yang bisa menerima apa adanya, tapi lebih tak mudah lagi mencari keluarga yang bisa menerima kehadiranku di tengah-tengahnya. Kupikir lebih enak menjadi anak kecil yang jatuh cinta karena mereka tak tahu hal besar yang bertengger di belakangnya. Jatuh cinta bagi mereka hanya bentuk dari sama-sama suka dan sudah hanya di situ saja. Tapi aku bukan anak kecil lagi Ibu. Hatiku telah terbentuk dan sudah lebih besar. Aku sudah tahu bahwa jatuh cinta tak hanya butuh dua orang yang sama-sama menyukai namun jatuh cinta adalah siap menyatukan dua keluarga besar. Cinta bukanlah suatu status tetapi menikah adalah sebuah pergantian status yang awalnya sendiri tiba-tiba memiliki banyak hal yang tak pernah didapat dari kesendirian.

Walaupun setelah ini Ibu tetap melarangku aku tetap kekeh dengan apa yang aku yakini Ibu. Maaf. Anakmu ini sudah tak lagi menjadi penurut. Bagaimanapun kerasnya pendirian Ibu, aku pula yang tetap menjalani hidupku. Aku tahu Ibu ingin orang yang terbaik untukku tapi kita belum tahu bagaimana rencana Tuhan. Aku hanya ingin berusaha menjalaninya Ibu. Aku meminta restu pada Ibu lewat surat ini. Semoga Ibu menjadi seorang yang bijak dalam mengambil sebuah keputusan. Terima kasih Ibu telah membesarkanku hingga saat ini. Aku sayang Ibu.
Salam dari anakmu
Lanang

Aku menarik koperku melewati pintu kamar Ibu. Tak kudengar sedikitpun suara dari dalam kamar Ibu. Sepertinya Ibu masih tidur. Aku bergegas keluar, membuka bagasi mobil Kang Arman tetanggaku. Kumasukkan koperku ke dalam sana.

"Sudah siap belum Nang?"
"Sudah Kang, tapi aku ke kamar mandi dulu sebentar."
Ya pergilah. Begitu yang kutangkap dari gerakan tangan Kang Arman.
Saat ke kamar mandi aku berpapasan dengan Ayah.

"Nang, balimu jam pira? Wis pamitan karo Ibumu?"
Ayah menanyakan keberangkatanku.
Sesungguhnya aku masih tetap ingin tinggal dulu tetapi aku tak bisa melihat wajah Ibu yang murung karena memikirkanku.
"Ayah, ini Lanang mau balik diantar Kang Arman. Nanti kalau Ibu tanya, Lanang sudah pulang."
Ayah mengerti bentuk ekspresi wajahku. Ayah selalu menjadi penengah antara aku dan Ibu.
"Yowis. Sing ngati-ati yo, Nang. Nyuwun donga karo sing Maha Kuasa ben dibukake dalanne," kata Ayah seraya mengelus pundakku.
Setelahnya aku pamit mencium tangan Ayah yang semakin lama semakin keriput, sedikit berbeda dari beberapa bulan belakangan.

Aku berjalan mendekati Kang Arman.
"Sudah Kang. Mari cabut."
Kang Arman masuk ke mobil. Aku membuka pintu depan, samping Kang Arman. Deg. Ibu sudah duduk di dalam, di kursi belakang saat kutengok dari spion tengah. Aku tak berani mengajak bicara Ibu. Sepanjang perjalanan aku tak menoleh ke belakang.

Sampailah di bandara. Aku keluar dari mobil mengambil koper di bagasi. Kulihat Ibu tak bergerak sedikitpun dari mobil.
"Kang, titip salam buat Ibu ya."
"Macam apa kalian ini? Empat mata kan bisa."
"Kang percayalah kali ini titip salam lebih baik daripada bicara empat mata."
"Lanang, kau sudah besar masak kalah sama anak kecil. Ayolah sapalah Ibumu barangkali sebentar."

Aku menyeret koperku mendekati pintu Ibu. Pelan-pelan kutarik daun pintu.
"Ibu, Lanang mau pamit."
Ibu masih tak bersuara. Setelah menunggu lama akhirnya aku menutup kembali pintu dan menyeret koperku memasuki pintu masuk. Sesekali kutengok wajah Ibu di jendela. Masih sama bahkan disaat seperti ini pun Ibu masih menyempatkan waktu mengantarku. Meskipun tak bersuara aku tahu kau menyayangiku Ibu.

(Ketika aku masuk ruang tunggu, dalam saku terdengar nada dering pesan. Aku duduk di kursi panjang dan sesaat kemudian kubuka. Nama Ibu tertera di sana beserta pesannya:

Nang, Ibu masih kangen. Kenapa kamu cepat-cepat pulang?)
------------------------------------------------------

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
(Meskipun Ibu melarang, mendiamkan, tetap kekeh dengan pendiriannya
Ibu tetaplah Ibu yang memikirkan kebahagian anaknya
Walaupun terkadang pemikirannya bertentangan dengan pemikiran anaknya
Bukankah itu juga sebuah bentuk kasih sayang)

Kamis, 18 September 2014

JODOH PASTI BERTEMU




Sejak awal mengenalmu aku tahu kau tak sendiri. Kau menyandang status calon istri temanku. Aku tak begitu khawatir saat mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku.

“Angga kau bisa menyebutnya begitu,” kataku saat berjabat tangan denganmu dulu.

Aku beberapa kali tersenyum mendengar gurauanmu dengan temanku. Kalian duduk bersampingan, berhadapan denganku. Saat itu aku tak merasa ada yang salah. Kau seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kukenal. Tak ada yang beda dari mereka, awal pikirku. Kau akan menikah dengannya. Hari itu, dia memperkenalkanmu sebagai calon istri dan aku tak begitu kaget. Dia selalu bercerita tentangmu pagi, siang dan malam saat bertemu denganku. Temanku meminta petuah cinta dariku. Aku pula yang menyuruhnya segera mengikat pertalian suci denganmu. Oleh karena itu, aku merasa itu sebuah bagian kesuksesan petuah karena dia merespon perkatakanku. Tak heran jika aku mengucapkan ucapan selamat lebih dari satu kali lewat gurauanku. Kau pun selalu tersipu malu tiap kali kulontarkan celotehan tentang kau dan dia. Sesekali kulihat kau mencubitnya dan tertawa lepas. Itu hanya secuil bagian perkenalan kita.

Hari silih berganti sampailah pada saat itu ketika kita bertiga mencari gedung untuk pernikahan kalian, aku berpapasan dengan ibuku. Ibuku kira kau adalah kekasihku. Ibu terlihat sangat bahagia. Itu pertama kalinya ibu menunjukkan wajah bersinar, mata berbinar dan senyum yang tak pudar bahkan setelah sampai di rumah. Ibu menanyakanmu. Aku tak tahu harus menjawab apa. Bukankah awalnya aku yakin kau adalah calon istri temanku? Akhirnya aku menjawab kau adalah temanku.

Mungkin itu pertama kalinya ibu mengira aku sudah mulai mencari pendamping hidup. Itu sebabnya ibu bertanya bagaimana perkenalan kita dan bagaimana miripnya wajah kita. Aku tak ingin membuat ibu kecewa. Tetapi pada akhirnya ibu akan tahu jika undangan pernikahan kau dan temanku sampai di depan pintu rumahku. Ibulah yang akan membaca pertama kalinya bukan aku.

Berbeda hari, seorang fotografer pre wedding kalian bergurau denganku. Ia juga mengatakan hal yang sama seperti ibuku, wajah kita lebih mirip. Apakah sebegitunya kemiripan kita? Aku tak mengerti mengapa Tuhan mengujiku dengan cara seperti ini? Yang aku tahu, aku mulai memahami perkataan ibu benar. Aku mulai mencintaimu diam-diam.

“Angga, aku boleh bertemu?” tanyamu lewat telepon disela-sela waktu istirahat.

“Iya, bisa. Dimana?”

“Di kafe tempat biasa. Jam setengah satu ya,” jawabmu.

“Baiklah.”

Seusai telepon itu aku bergegas menemuimu setelah meminta izin ke bos. Jarak kantor dan kafe tempat kita bertemu sekitar 16 km dan kutempuh paling lama 30 menit. Ternyata kau datang jauh lebih awal dari perkiraanku. Jam tanganku masih menunjukkan pukul setengah satu kurang dan kau sudah menghabiskan dua buah cangkir minuman. Aku ingin mengagetimu tapi niat kubatalkan setelah melihat betapa lesunya kau siang itu.

“Apa ada masalah?” tanyaku tanpa berbasa-basi seraya mengambil posisi duduk di depanmu.

“Dia akhir-akhir ini susah dihubungi. Aku tak tahu bagaimana bisa menyelesaikan semua ini padahal undangan belum dicetak, belum masalah catering, gedung pun belum dapat.”

“Tenang, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan seperti itu, Dira.”

“Ngga, kenapa dia berubah? Aku pikir setelah ditentukan tanggalnya dia akan melakukan ini, itu tapi kenyataannya hanya aku yang berusaha. Itupun dengan bantuanmu. Apa dia tidak ingin menikah denganku? Lalu kenapa dia berani melamarku?”

Deg. Kata-katamu membuatku berpikir ulang. Apa aku turut bagian dari kesalahan itu? Aku yang menyarankan Roy untuk menikahimu. Jika kau menyesal maka akulah orang yang seharusnya kau salahkan.

“Dira, kadang ada hal yang hanya kita ketahui luarnya saja tanpa tahu bagaimana keadaan di dalamnya. Kita tak tahu apakah Roy sudah siap atau belum, apakah Roy berusaha atau tidak. Bahkan aku yang sudah bertahun-tahun berteman dengannya tak tahu bagaimana dia,” jelasku.

Kau menundukkan kepalamu dan menghelakan napas panjang.

“Percayalah Roy akan berbuat sesuatu untuk mempertahankan cintanya padamu. Kau tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak. Kau tidak berdiri sendiri. Walaupun ini pernikahanmu tapi aku, Roy, keluargamu, keluarga Roy, teman-temanmu ada kapanpun yang kamu mau untuk membantu. Buktinya aku ada di sini sekarang. Jangan pernah berpikir kamu sendirian. Itu bisa membuat wajahmu cepat berkerut dan wajahmu yang manis menghilang.”

Kau tersenyum dan mencubitku. Kulihat wajahmu mulai kembali seperti awal perkenalan kita. Sedikit kelegaan ku tangkap dari bola matamu. Kau sudah menyapu buliran air mata yang hampir tumpah.

“Oh ya kamu mau pesan apa, Ngga? Coba aku tebak pasti hot chocolate?” tanyamu sudah kembali ceria.

“Kamu cenayang ya?”

Kita pun tertawa bersama lebur dalam satu waktu, meskipun sesungguhnya ada rasa tertinggal yang sulit kubedakan. Aku harus tersenyum atau berduka. Aku harus memberimu semangat atau mematahkannya. Aku harus memintamu menyerah atau melanjutkannya. Saat aku memikirkan kebahagianmu maka aku harus merelakan sesuatu di dalam sana dan menggantinya dengan kebahagianmu.

Kata orang wajah kita lebih mirip daripada kau dengan temanku. Kita memiliki banyak kesamaan dibanding perbedaan. Sama-sama menyukai hot chocolate, musik jazz, membaca novel Dewi Lestari, dan menonton film action. Mengapa kau bukan denganku saja? Mengapa Tuhan lebih memilihkan dia untukmu, teman baikku? Mungkin karena Tuhan lebih dulu menghadirkannya di depan kelopak matamu dan aku hanya bisa menyambut setelah kau menjadi bagiannya. Aku atau kau yang datang terlambat? Aku merasa kita berjodoh tapi Tuhan berkata lain.

Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan ini. Wanita yang mirip tapi tak berjodoh. Wanita yang cantik tapi bukan milikku. Wanita yang butuh penopang tapi tak denganku. Kupikir akan ada yang lebih butuh kukuatkan setelah kau benar-benar bersama temanku. Ibuku. Ya ibu yang harus kukuatkan untuk menerima kenyataan ternyata kau yang ibu pilih bukan dipilihkan Tuhan untukku.

Ibu kelak jodohku akan datang pada saat yang tepat. Ibu jangan khawatir. Akan kupilihkan seseorang yang bisa membuat ibu bahagia. :D

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika kita berencana, Tuhan juga punya rencana
Bila tidak ditakdirkan di dunia
Mungkin Tuhan berencana mempertemukan di akhirat
Bukankah jodoh pasti bertemu

Selasa, 16 September 2014

CINTA KITA TAK KAN TERBELAH WALAU BANYAK CERITA-CERITA YANG NGGAK MENGASYIKAN




Tiga puluh menit waktu keterlambatanku dan kau masih setia duduk menungguku lama di sudut kedai kopi. Tempat kau bisa memilih kopi manis dengan gula atau pahit tanpa tambahan gula. Kedai kopi inilah tempat pertama kita bertemu, berkenalan dan jadian. Tidak hanya berakhir sampai di situ, banyak pertengkaran, perdamaian dan segala memori suka duka, senang bahagia mengiringi perjalanan cerita kita di tempat ini.
Itulah sebabnya saat kau mengirimiku pesan singkat untuk bertemu di tempat biasa aku tak memiliki firasat apa-apa.
"Hei, maaf terlambat."
Kau meletakkan handphonemu di meja. "Sudah tiga puluh menit. Kau tidak menghargai waktuku yang terbuang." Wajahmu terlihat masam malam ini.
"Aku minta maaf. Lagian ini pertama kalinya aku terlambat bukan?"
Kau mengangkat tanganmu, memanggil waiters dan memesankan kopi hitam kesukaanku.
"Kopi hitam tanpa gula satu. Satu lagi kopi hitam pakai gula satu sendok. Eh tiga sendok saja takut kepahitan," katamu.
"Kamu mau coba kopi hitam juga?"
Kau diam tak menjawabku. Pesanan dua cangkir kopi datang pun kau masih tak mengajakku bicara.
"Tolong cangkir yang kotor ini sekalian dibawa ya. Terima kasih."
Kau menyuruh waiters untuk membawa dua cangkir kopi yang telah kau habiskan saat menungguku.
"Aku tidak datang sendirian di sini," katamu.
"Maksud kamu?"
"Aku dengan kawan-kawanku tadi, tapi mereka kusuruh pergi duluan. Nanti aku menyusul mereka."
"Oh," kataku seraya memegang daun cangkir hendak menyeruput kopi hitam tanpa gula.
"Aku ingin kita selesai," katamu singkat.
Aku mengangkat wajahku dan menatapmu tajam menelusuri ekspresi wajahmu. Kuletakkan cangkir yang telah mengudara sampai depan dada. Batal kuteguk.
"Tidak. Kita sudah melewatinya cukup jauh," kataku.
"Untuk apa melanjutkan sesuatu yang pada akhirnya berujung pada luka," katamu seraya memegang punggung tanganku.
"Aku merasa semua baik-baik saja."
"Ya, itu menurut kamu. Tidak menurut sudut pandangku," katamu seraya menarik tanganmu menjauh dari punggung tanganku. Kau mengatakannya seolah-olah aku tak memahami keberadaanmu.
"Kita cukup dewasa. Kita bisa memilih orang lain yang lebih pantas untuk kita, tapi bukankah orang tua juga ikut terlibat dengan masa selanjutnya," lanjutmu.
"Kau bisa mengambil hati ibuku. Percayalah. Kau cuma butuh waktu. Kita jalani saja dulu, mengalir." Aku gantian memegang punggung tanganmu.
"Mengalir katamu?" Kau menghempaskan tanganku. "Sampai mana? Kita sedari awal tak memiliki tujuan yang jelas. Oh, bukan kita tapi kamu. Aku sudah memiliki tujuan ingin mempunyai keluarga bahagia tapi ternyata sejauh ini tujuan itu tak ada pada hubungan kita."
Aku menunduk. Kau membawa ibuku lagi dalam pembicaraan kita. Sejak pertemuan itu kau berubah, seperti ibuku yang sering mendiamkanku. Setiap aku bercerita tentangmu, ibu tak sungguh-sungguh mendengarkanku. Hal yang sama juga terjadi padamu.
"Kau bisa meyakinkan ibuku. Tak perlu mengkaitkan tujuan hidup dengan ibuku." Aku mencoba menguatkan hatimu--sebisaku.
"Apa kau tidak pernah melihat? Di luar sana tanpa restu ibu semuanya serasa sia-sia, tidak bahagia. Aku tak mau seperti mereka, tak mau ada dalam pikiran mereka-mereka. Kau tau Ara temanku kan. Dia bilang hubungan kita sudah tidak sehat." Kau menarik nafas sejenak lalu melanjutkannya, "Jika ibumu jadi ibu mertuaku nggak kebayang aku jadi apa. Benar kata Ara aku harus mencari seseorang yang keluarganya bisa menerimaku apa adanya."
"Kita ya kita. Tak usah pedulikan kata orang lain. Aku yakin kita bisa menjalani. Kamu hanya butuh bertahan sebentar lagi."
"Aku tidak butuh kau kuatkan. Kau kuatkan saja dirimu menerima kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi berjalan bersama-sama. Kau saja tak bisa menguatkan ibumu untuk bisa menerimaku."
Aku terdiam. Seolah kata-katamu mengunci ujung-ujung bibirku. Layakkah aku mempertahankan hal yang menurutku bisa dipertahankan, tapi tak bisa bagimu? Bagaimana bisa aku menyudahi hal yang sedari awal telah kuyakini hanya kau?
"Kita buat semuanya mudah sekarang. Kau dengan prinsipmu, aku dengan prinsipku. Kita lupakan hal konyol ini. Aku yakin ibumu juga menginginkan ini terjadi."
"Kenapa kau bawa ibuku lagi? Ibuku ingin yang terbaik untukku itulah sebabnya ia sedikit berlebihan berbuat seperti ini padamu," jelasku.
"Ini bukan perkara mudah, Ben. Kau sudah melihat sejauh ini aku tak mampu meluluhkan hati ibumu."
"Kau coba temui ibuku sekali lagi."
"Menemui ibumu? Semakin aku sering bertemu ibumu, semakin banyak luka yang tertoreh di sini. Lama-lama aku seperti pesakitan, Ben." Kuperhatikan matamu sudah berkaca-kaca. Mungkin aku telah sedikit berlebihan padamu.
"Kau yakin kau sudah tak mencintaiku?" tanyaku.
"Untuk apa mempertahankan cinta yang tak bisa membuatku mencapai tujuan hidupku. Aku yakin kau bisa melupakanku dengan segera setelah ini." Kau bicara panjang tanpa menatapku. Ujung jemarimu mengelus bibir cangkir. Lalu mengalihkan pandanganmu ke luar jendela.
Aku menghela nafas panjang.
"Sebelumnya aku ingin bertanya sebenarnya ada apa dengan ibuku? Apa hanya karena ia tak merestui kita, kau ingin sampai di sini?"
Lalu sontak kaget kau menatapku dengan bahasa tubuh yang seolah berbicara apa harus kujelaskan lagi. Lalu beberapa detik kemudian kulihat aliran deras mengalir di pipimu. Kau tidak berkata apapun. Kau meneguk habis kopi hitam dalam cangkir seolah sampai di situ batas kesabaranmu. Lalu kau mengemasi handphonemu, memasukkanya ke dalam tas.
"Kau tanyakan sendiri saja apa yang telah ibumu lakukan padaku. Aku masih cukup memiliki harga diri untuk tidak menghakimi ibumu di sini," katamu seraya menyapu sisa air di pipi.
Deg. Giliran aku yang tak bicara.
"Jika kau sudah mendapatkan jawaban. Kau temui aku dan katakan kau sudah bisa menerima kenyataan bahwa alangkah lebih baik jika kita tak bersama," katamu seraya berdiri dan menyentuh punggung tanganku sekilas. Lalu berjalan ke meja kasir meninggalkanku sendirian dengan secangkir kopi hitam milikku yang sama sekali belum kuteguk dan secangkir lagi yang telah kau habiskan. Kupegang cangkirnya, sudah dingin.

Kita. Kau dan Aku. Bukan mereka. Sejatinya kita saja cukup itu kataku.
Kita saja tidak cukup. Ada dua keluarga besar yang harus disatukan. Kita tanpa mereka tak berarti, itu katamu. Cinta tanpa syarat. Cinta yang mengalir, itu yang kumau. Cinta harus melewati syarat-syarat tertentu dengan tujuan yang jelas baru bisa disimpulkan benar-benar cinta atau tidak, itu yang kau mau.

Kita dua pribadi berbeda yang dipertemukan Tuhan. Bukankah Tuhan memiliki rencana yang besar untuk kita? Lelaki dan perempuan pun diciptakan berbeda. Perbedaan dalam kita seharusnya bisa membuat warna yang indah. Kita bisa melalui perbedaan seperti metamorfosis kupu-kupu, tapi kau terburu-buru mengabaikanku. Memang benar kupu-kupu bermetamorfosis seorang diri tapi manusia bukankah dirancang untuk saling membutuhkan.

Haruskah cerita kita berakhir seperti dinginnya kopi di depanku dan sepahit tegukan kopi hitam tanpa gula. Mungkin aku harus belajar meneguk kopi dengan tambahan gula. Paling tidak aku pernah merasakan rasa manis walaupun dalam bentuk secangkir kopi, jika pada akhirnya kelak aku memang harus menerima kenyataan pahit dalam kehidupan percintaanku.

Kucari sisa tetesan dari secangkir kopi pesananmu yang telah habis kau teguk dan ternyata manis. Pantas saja kau menyukai kopi dengan tambahan gula, seperti keinginanmu tentang hal-hal yang manis. Keluarga bahagia.

----------------------------------------
cinta kita tak kan terbelah
walau banyak cerita cerita
yang nggak mengasyikan
cinta kita tak kan terpecah
walau penuh kisah dan kisah
yang coba tuk menghancurkan kita
(Slank)

BIAR CINTA MENYATUKAN KITA




Kamu. Ya kamu yang sedang duduk di sampingku. Kamu memiliki mimpi tinggi yang bahkan tak mungkin aku capai dan tak ku miliki keberanian sepertimu.
"Yaya, ayolah!" Kau berdiri dari tempat dudukmu dan mengulurkan tanganmu.
Aku menggelengkan kepala. "Nggak ah, No."
"Ya sudah kalau begitu aku ke sana dulu," katamu seraya menepuk pundakku.
Aku mengangguk dan tetap duduk di kursi loby dengan posisi yang sama tak berubah sedikitpun. Kau menenteng tas berjalan ke arah sumber keramaian. Aku menatap kosong ke depan.

Ada tempat yang sebenarnya sangat dekat dengan kata "kita". Saat kita berbicara tentang film yang kita tonton bersama. Kita selalu mengomentari entah itu pemainnya atau skenarionya. Saat kita berjalan memutari pusat perbelanjaan kau mau menemaniku dan berjalan di sampingku. Kita mengomentari pelayanan yang tak ramah sampai ke barang-barang yang ditawarkan sering kali tak sesuai dengan harga biasanya.

Hanya saja, entah di tempat seperti ini, saat ini, kau terlihat sangat jauh. Aku hanya bisa memandangmu. Kau yang berjalan jauh menuju antrian panjang, ikut berebut brosur beasiswa ke luar negeri.
Aku tak memiliki impian setinggi itu. Kalau ditanya ingin ke luar negeri, tentu saja ingin. Tetapi dengan hal yang serba pas-pasan aku tak memiliki keberanian sebesar keberanianmu, Nino.
Aku tinggal di sini, tumbuh besar, menempuh pendidikan dan bahkan mungkin akan menikah di Indonesia. Tak muluk-muluk, cukup memiliki pekerjaan yang bisa sedikit-sedikit membantu suami untuk kehidupan rumah tanggaku kelak itulah mimpiku. Aku bangga jika bisa sukses walaupun dengan gelar lulusan dalam negeri. Itulah perbedaan dari kata "kita".

Aku pernah menanyakan pada hati apa itu impian, apa itu harapan, apa itu ambisi, apa itu keinginan dan tak ada jawaban atas pertanyaanku. Renunganku tak pernah memberikan jawaban tentang apa yang aku inginkan, tetapi keberadaanmu terkadang menarikku dari segudang tanya. Kau membangunkanku ketika lemah, membangkitkanku ketika hampir menyerah dan tetap menyemangatiku meskipun tinggal beberapa langkah mencapai finish.

"Ini buat kamu." Kau mengulurkan brosur kepadaku.
"Aku nggak berminat, No. Buat kamu saja." Aku mengembalikannya padamu.
"Sudah ambil saja. Aku sudah punya satu. Itu buat kamu. Dibaca dululah siapa tahu berubah pikiran." Kau meletakkannya digenggaman tanganku.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Kau menatapku.
"Nggak jadi." Aku menunduk.
"Aku tadi dikasih dua. Daripada dibuang sayang kan lebih baik kamu simpan," jelasmu seolah membaca pikiranku.
"Kamu benar mau ikutan ini?"
"Tentu saja selagi ada kesempatan kenapa tidak dicoba. Bukankah kesempatan itu kadang tak datang dua kali. Siapa tahu bisa lolos. Ini kan peluangnya masih besar jadi mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya."
Aku menatapmu seolah esok kita tak bertemu lagi.
"Kamu kenapa?"
Aku menyunggingkan senyum. Tak menjawab. Mungkin diam lebih baik agar kau bisa melanjutkan mimpimu tanpa mengkhawatirkanku.
"Ayolah, Yaya! Aku masih temanmu kan? Bicaralah!" Kau menyenggol bahuku.
Ya, mungkin kau akan menganggapku sebagai temanmu selamanya dan tak lebih.
"Aku mau beli ice cream. Mau ikut?" kataku. Aku beranjak dari tempat duduk mengalihkan perhatianmu.
"Titip ya," jawabmu.
Akhirnya aku melenggang pergi sendiri. Sepertinya ini akan menjadi pemandangan biasa. Berjalan sendirian, bicara sendirian, membeli ice cream sendirian dan bisa-bisa tertawa pun sendirian.
"Yaya!" teriakmu seraya berlari mengejarku dengan tergopoh-gopoh.
"Ternyata menunggu sendirian nggak enak. Mending ikutan kamu," katamu seraya memegang kedua lututmu dengan nafas tersenggal.
Aku menghela nafas.
"Begini saja kamu mencariku, bagaimana kalau beasiswa keluar negerinya tembus?"
"Makanya kamu juga harus ikut. Biar kita bisa bersama di sana."
"Kalau aku tak ikut?"
Kau terdiam beberapa saat. Aku mengangkat alisku.
Kau berdehem.
"Kelak aku yang akan membawamu ke sana."
Deg. Kau meraih tanganku. Apa ini tawaran atau kau sedang berusaha membuatku bermimpi sama denganmu?
Aku terpaku dan selanjutnya kau menertawakanku.
"Kenapa dianggap serius?" Kau menyenggol bahuku setelah melihat ekspresi campur adukku.
"Siapa yang serius?"
"Itu wajahnya merah."
"Apa sih!"
Aku mencubitmu seraya melotot.

Aku baru sadar pertemanan kita selalu bergerak seperti ini. Kau mengutarakan, aku menerimanya. Kau mengambil kembali kata-katamu, aku menolak kembali penerimaanku. Sampai kapanpun kita ada dalam dekat, dalam jauh. Kita saling membutuhkan, tapi tidak saling mengakui. Hanya melewatinya bersama sebagai teman. Kadang terlalu dekat dalam "kita" menipiskan batas pertemanan dengan rasa suka, tetapi jauh dalam "kita" menegaskan hanya teman.

Entah esok akan berkata seperti apa, yang aku tahu aku menjalani hari ini dengan kau dan merasakan rasa nyaman dalam balut kebersamaan, walaupun kau selalu dengan segudang impianmu dan aku dalam balutan kekhawatiranku. Aku menyadari pertemanan seorang laki-laki dan perempuan itu rentan dengan rasa suka. Kalau bukan kau, maka aku yang menyukaimu. Di lain cerita selalu terbagi menjadi dua hal, ada yang berani mengutarakan dan ada yang memilih memendam. Apakah kau masuk kedalam salah satu dari dua pilihan itu? Aku menjawabnya dengan lantang, "Ya."

---------------------------------------------------
(Biarkan saja cinta menyatukan kita
Kan ku jaga seharum nafasnya
Jangan sampai tergoreskan luka
Tuntunkanlah hingga akhir kita)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...