Langsung ke konten utama

SESUATU YANG MUNGKIN TAK PERNAH DIA TAHU

Dia datang membawa sebuah pesan, mengetuk pintu rumah dan meminta waktu sebentar. Aku memungut secarik kertas dari tangannya. Dia ngeloyor masuk. Sebuah sofa merah maroon menjadi tempat bersandarnya. Wajahnya lesu. Tubuhnya terlihat tak lagi bertenaga. Matanya terpejam.

“Aku gagal,” ujarnya.

Aku membuka kertas yang terlipat menjadi dua bagian, perlahan. Tiga kata tertulis di sana.

“Dari mana kamu dapat kertas ini?” tanyaku.

Dia membuka matanya tak menjawabku. Berjalan ia menuju dapur mengambil segelas air putih. Ritme jalannya seperti kura-kura memikul tempurung. Bertolak belakang dari tiga hari yang lalu saat berada di pesta penyambutan Alia. Badan ia tegakkan. Rambut ia rapikan. Baju ia sinkronkan. Segala yang melekat pada tubuhnya tampak sempurna. Paras tampannya tak pernah pudar. Bahkan kudengar sendiri Alia memuji sampai wajahnya merona. Aku hanya mampu menatap mereka dari kejauhan.

“Alia yang memberikannya padaku,” jawabnya seraya duduk kembali dengan segelas air putih.

Aku tahu ia tak dahaga. Segelas air yang ia pegang hanyalah penawar. Tangannya menggengam erat dinding-dinding gelas kaca.

“Kamu tahu berapa lama aku menunggunya? Lima tahun, Ta dan semua itu percuma sekarang.”

Aku meletakkan secarik kertas miliknya di meja. Mendengarkan dan menatapnya, hanya itu yang dapat kulakukan.

“Sekarang aku gagal. Dia telah memilih jalannya bersama lelaki lain.”

Dia menatapku pasrah. Beberapa teguk air langsung habis seketika. Sudah kubilang itu bukan karena dahaga. Dia sedang mencoba mengobati hati yang terluka. Aku menghentikan langkahnya saat ia berdiri ingin mengambil segelas air putih lagi.

“Biar aku yang ambil. Kamu duduk saja!” seruku.

Aku sengaja memperlambat langkahku. Sesekali kutengok wajahnya masih mengerut. Ia rebahkan tubuhnya di sofa. Pemandangan yang menyuramkan. Lagi-lagi matanya terpejam. Kuletakkan isi ulang air putih baru di meja. Kuperhatikan garis wajahnya. Bola mata hitam pekatnya tertutup oleh kelopak mata. Kurang lebih lima belas menit ia terbangun.

“Ini air putihnya.”

“Apa aku tertidur lama? Sekarang jam berapa?”

Aku menggeleng. “Jam tiga sore.”

“Aku harus pergi sekarang.”

“Lalu proyek sketsa kita?”

“Nanti aku kembali lagi.”

Ia pergi tanpa menyentuh segelas air putih di meja. Aku mengamati gelas kaca yang memantulkan wajahku. Wajah yang sama. Wajah itu kini berpindah kepadaku. Aku dan dia bernasib sama. Sama-sama mencintai seseorang yang tak berbalas mencintai.

***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini