Langsung ke konten utama

Apalah Arti Lukaku Jika Nyatanya Kau Bahagia

Mungkin karena sering merasakan penolakan, saya sudah terbiasa. Jadi jika kau menolakku, saya sudah mengerti. Saya sudah melipat kedua lengan dan tak lagi bisa berkata-kata. Sekeliling terasa begitu kosong. Tak mungkin saya menjatuhkan air mata di depanmu yang sedang berbahagia. Kau dan saya berada pada posisi yang berbeda 180 derajat. Susah payah saya berusaha di sisimu agar kau menyadari kehadiranku. Nampaknya kosong menjalari ulas senyumku. Saya tak lagi bisa berbuat apa-apa. Nyeri bahkan sudah tak terasa. Saya butuh duduk sebentar. Di sebuah kursi panjang, di samping pintu masuk.

Kau pun lalu bertanya, "Ndah, kamu nggak mau masuk?"

Bahuku kau sentuh dengan lembut. Selembut dulu saat kita masih bisa bersenda gurau bersama tanpa rasa canggung. Kali ini sentuhan lembut itu seolah yang terakhir kalinya.

"Biarkan saya duduk di sini sebentar, Bang."

Kau tersenyum sesaat, "Jika mencariku, aku ada di dalam."

Kau pun melenggang pergi tanpa menoleh. Saya berbalik memandangi cermin besar di belakang tempat duduk dan bertanya padanya apakah saya kurang cantik. Mungkin saya memang kurang cantik hingga kau memandang yang lain. Saya pun mungkin kurang baik hingga kau masih mencari yang lain. Ah, sudahlah saya rasa ini nasib saya.

Sisa tenaga yang saya punya akhirnya menuntun masuk melewati pintu sakral dan memberi kemampuan berdiri tegak. Bunga-bunga bergantungan menjadi pemanis ruangan. Dinding-dinding berhias helaian kain putih yang dikemas apik mengelilingi ruangan. Sesekali saya membenahi letak tas di bahu. Kanan kiri saya silih berganti berlalu lalang membentur lengan dan pasangan berbahagia pun belum berhasil saya temukan.

"Ndah?"

Kau memanggil dari sudut belakang. Lenganmu nampaknya sedang digamit wanita cantik di sisimu saat saya menoleh.

"Ndah, ini istriku. Airin."

Kau memperkenalkannya seolah tak mengetahui ada hati yang terluka di depanmu.

"Airin." Perempuan itu lebih dulu mengulurkan tangannya.

Saya pun balik mengulurkan tangan. "Indah."

Terima kasih Bang, kau telah memberikan penolakanmu secara halus. Mungkin saya tak akan mengerti sebatas apa saya meraih kau sebelumnya. Ternyata sebatas uluran tangan istrimu adalah pertanda cintaku bertepuk sebelah tangan. Sebesar foto kau dan dia yang terpampang di depan mataku itulah rasa yang perlahan terkikis. Apalah arti luka yang saya punya saat ini, jika Abang bisa lebih bahagia bersamanya walau tanpa saya yang hanya bisa menangis dalam doa.

Kau mengajak saya bersulang bersama istrimu. Air yang mengalir di tenggorokan ikut menelan seluruh kekecewaan.

“Ndah, foto dulu yuk! Buat kenang-kenangan,” katamu seraya menarik tanganku.
Kau bawa saya naik ke atas panggung. Kau tarik tangan saya agar berdiri di samping hingga posisimu di tengah-tengah antara saya dan Airin.

“Siap! Satu, dua, tiga!” seru sang fotografer.

Prakkkk retak sudah senyum saya di dalam foto, tenggelam di antara senyum pasangan berbahagia. Andai saja saya yang menjadi istri Abang. Mungkin posisi dalam foto ini tidak berubah tetapi makna cinta itu setidaknya berubah menjadi sebuah penerimaan.
***

Komentar