Rabu, 11 Juni 2014

Apalah Arti Lukaku Jika Nyatanya Kau Bahagia

Mungkin karena sering merasakan penolakan, saya sudah terbiasa. Jadi jika kau menolakku, saya sudah mengerti. Saya sudah melipat kedua lengan dan tak lagi bisa berkata-kata. Sekeliling terasa begitu kosong. Tak mungkin saya menjatuhkan air mata di depanmu yang sedang berbahagia. Kau dan saya berada pada posisi yang berbeda 180 derajat. Susah payah saya berusaha di sisimu agar kau menyadari kehadiranku. Nampaknya kosong menjalari ulas senyumku. Saya tak lagi bisa berbuat apa-apa. Nyeri bahkan sudah tak terasa. Saya butuh duduk sebentar. Di sebuah kursi panjang, di samping pintu masuk.

Kau pun lalu bertanya, "Ndah, kamu nggak mau masuk?"

Bahuku kau sentuh dengan lembut. Selembut dulu saat kita masih bisa bersenda gurau bersama tanpa rasa canggung. Kali ini sentuhan lembut itu seolah yang terakhir kalinya.

"Biarkan saya duduk di sini sebentar, Bang."

Kau tersenyum sesaat, "Jika mencariku, aku ada di dalam."

Kau pun melenggang pergi tanpa menoleh. Saya berbalik memandangi cermin besar di belakang tempat duduk dan bertanya padanya apakah saya kurang cantik. Mungkin saya memang kurang cantik hingga kau memandang yang lain. Saya pun mungkin kurang baik hingga kau masih mencari yang lain. Ah, sudahlah saya rasa ini nasib saya.

Sisa tenaga yang saya punya akhirnya menuntun masuk melewati pintu sakral dan memberi kemampuan berdiri tegak. Bunga-bunga bergantungan menjadi pemanis ruangan. Dinding-dinding berhias helaian kain putih yang dikemas apik mengelilingi ruangan. Sesekali saya membenahi letak tas di bahu. Kanan kiri saya silih berganti berlalu lalang membentur lengan dan pasangan berbahagia pun belum berhasil saya temukan.

"Ndah?"

Kau memanggil dari sudut belakang. Lenganmu nampaknya sedang digamit wanita cantik di sisimu saat saya menoleh.

"Ndah, ini istriku. Airin."

Kau memperkenalkannya seolah tak mengetahui ada hati yang terluka di depanmu.

"Airin." Perempuan itu lebih dulu mengulurkan tangannya.

Saya pun balik mengulurkan tangan. "Indah."

Terima kasih Bang, kau telah memberikan penolakanmu secara halus. Mungkin saya tak akan mengerti sebatas apa saya meraih kau sebelumnya. Ternyata sebatas uluran tangan istrimu adalah pertanda cintaku bertepuk sebelah tangan. Sebesar foto kau dan dia yang terpampang di depan mataku itulah rasa yang perlahan terkikis. Apalah arti luka yang saya punya saat ini, jika Abang bisa lebih bahagia bersamanya walau tanpa saya yang hanya bisa menangis dalam doa.

Kau mengajak saya bersulang bersama istrimu. Air yang mengalir di tenggorokan ikut menelan seluruh kekecewaan.

“Ndah, foto dulu yuk! Buat kenang-kenangan,” katamu seraya menarik tanganku.
Kau bawa saya naik ke atas panggung. Kau tarik tangan saya agar berdiri di samping hingga posisimu di tengah-tengah antara saya dan Airin.

“Siap! Satu, dua, tiga!” seru sang fotografer.

Prakkkk retak sudah senyum saya di dalam foto, tenggelam di antara senyum pasangan berbahagia. Andai saja saya yang menjadi istri Abang. Mungkin posisi dalam foto ini tidak berubah tetapi makna cinta itu setidaknya berubah menjadi sebuah penerimaan.
***

Selasa, 10 Juni 2014

SESUATU YANG MUNGKIN TAK PERNAH DIA TAHU

Dia datang membawa sebuah pesan, mengetuk pintu rumah dan meminta waktu sebentar. Aku memungut secarik kertas dari tangannya. Dia ngeloyor masuk. Sebuah sofa merah maroon menjadi tempat bersandarnya. Wajahnya lesu. Tubuhnya terlihat tak lagi bertenaga. Matanya terpejam.

“Aku gagal,” ujarnya.

Aku membuka kertas yang terlipat menjadi dua bagian, perlahan. Tiga kata tertulis di sana.

“Dari mana kamu dapat kertas ini?” tanyaku.

Dia membuka matanya tak menjawabku. Berjalan ia menuju dapur mengambil segelas air putih. Ritme jalannya seperti kura-kura memikul tempurung. Bertolak belakang dari tiga hari yang lalu saat berada di pesta penyambutan Alia. Badan ia tegakkan. Rambut ia rapikan. Baju ia sinkronkan. Segala yang melekat pada tubuhnya tampak sempurna. Paras tampannya tak pernah pudar. Bahkan kudengar sendiri Alia memuji sampai wajahnya merona. Aku hanya mampu menatap mereka dari kejauhan.

“Alia yang memberikannya padaku,” jawabnya seraya duduk kembali dengan segelas air putih.

Aku tahu ia tak dahaga. Segelas air yang ia pegang hanyalah penawar. Tangannya menggengam erat dinding-dinding gelas kaca.

“Kamu tahu berapa lama aku menunggunya? Lima tahun, Ta dan semua itu percuma sekarang.”

Aku meletakkan secarik kertas miliknya di meja. Mendengarkan dan menatapnya, hanya itu yang dapat kulakukan.

“Sekarang aku gagal. Dia telah memilih jalannya bersama lelaki lain.”

Dia menatapku pasrah. Beberapa teguk air langsung habis seketika. Sudah kubilang itu bukan karena dahaga. Dia sedang mencoba mengobati hati yang terluka. Aku menghentikan langkahnya saat ia berdiri ingin mengambil segelas air putih lagi.

“Biar aku yang ambil. Kamu duduk saja!” seruku.

Aku sengaja memperlambat langkahku. Sesekali kutengok wajahnya masih mengerut. Ia rebahkan tubuhnya di sofa. Pemandangan yang menyuramkan. Lagi-lagi matanya terpejam. Kuletakkan isi ulang air putih baru di meja. Kuperhatikan garis wajahnya. Bola mata hitam pekatnya tertutup oleh kelopak mata. Kurang lebih lima belas menit ia terbangun.

“Ini air putihnya.”

“Apa aku tertidur lama? Sekarang jam berapa?”

Aku menggeleng. “Jam tiga sore.”

“Aku harus pergi sekarang.”

“Lalu proyek sketsa kita?”

“Nanti aku kembali lagi.”

Ia pergi tanpa menyentuh segelas air putih di meja. Aku mengamati gelas kaca yang memantulkan wajahku. Wajah yang sama. Wajah itu kini berpindah kepadaku. Aku dan dia bernasib sama. Sama-sama mencintai seseorang yang tak berbalas mencintai.

***

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...