Langsung ke konten utama

CINTA BUTUH WAKTU UNTUK BISA KITA RASAKAN





Awal perkenalan kita begitu manis. Sebuah hari yang telah begitu lama saya tunggu selama bertahun-tahun. Baru pada kesempatan itu saya memberanikan diri. Kau berdiri sendiri di salah satu halte tempatku biasa menunggu bus. Tanpa rasa ragu saya melangkah dengan Bismillah. Kau memberi sambutan hangat dan menyenangkan. Ternyata kita berada pada satu jalur. Kau bercerita banyak ketika saya lontarkan pertanyaan. Saya sudah merasa begitu dekat denganmu. Hal yang sudah saya inginkan lima tahun yang lalu sejak di bangku perkuliahan. Kini bangku-bangku itu telah kita tinggalkan, usang dan menuju masa sulit dalam sebuah proses hidup. Saat seseorang telah beranjak dewasa rasa sepi selalu menjalar. Itu pula yang mulai terasa. Tak ada lagi teman sebaya bahkan tuk sekedar tertawa dan berganti menjadi suatu kompetisi hidup. Ketika melihatmu kembali saya merasa kompetisi hidup itu tak masalah jika ada teman hidup. Teman hidup yang saya inginkan adalah kau.
Namun, keyakinan itu mengapa menjadi kau goyahkan kini?
Kau seolah memutuskan harapan itu dengan cepat. Saya telah berusaha menyusun kata-kata yang tidak akan melukaimu. Kata-kata itupun kau respon dengan baik-baik saja. Kau tak beranjak cepat dari tempatmu duduk. Saya melihat kau menyimak dengan hati-hati. Sesekali tersenyum mendengarnya. Seolah harapan-harapan itu ada. Tapi pada esok harinya dunia telah berbalik. Tak ada pesan singkat. Bahkan suara nyaring pun kau tak mau dengar, apalagi penampakan saya di depanmu. Perbedaan sikapmu menyisakan pertanyaan. Apa kau marah? Lalu mengapa waktu itu kau tersenyum? Apa kau sebenarnya bahagia? Lalu mengapa saya merasa kau semakin jauh?
Saya bertanya pada temanmu, ia tak tahu. Saya bertanya pada kakakmu, ia tak mau menjawab.
Saya menunggu lagi. Setelah lima tahun menunggu berkenalan denganmu, kini saya harus menunggu jawaban darimu.
Seminggu telah berlalu begitu lama seperti setahun. Bahkan rasa yang terpendam selama lima tahun terasa jauh lebih lama lagi dan selama itu saya mengumpulkan keberanian. Lima tahun saya mencintaimu, selama itu pula namamu tak pernah tergantikan dengan wanita lain. Sedangkan kau mungkin baru seminggu ini mengenal saya. Mungkin saya yang terburu-buru padahal kau belum tentu punya rasa yang sama. Segala sesuatu butuh proses dan saya melupakan betapa singkatnya perkenalan kita. Seminggu sepertinya terlalu singkat untukmu. Maaf mungkin saya terlalu cepat mengambil langkah. Maaf jika kau kurang berkenan atas pernyataan saya. Saya baru tahu, cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan. Tidak hanya saya seorang tetapi juga kau.

Komentar