Langsung ke konten utama

MASIH MERINDU



Apa kabarmu?
Baik. Tentu saja baik.
Bolehkah kita berjumpa pada not yang sama lagi?
----
Tergopoh-gopoh ku berlari menyusuri pedestrian. Hari di belakang mengejarku. Tak sedikitpun ia kuberi celah. Akan tetapi dia berhasil memotong jalanku, merentangkan kedua tangannya untuk menghentikan langkah kecilku dengan nafas terpenggal-penggal.
“Talita.” Ia mencengkram tanganku.
 “Apa Har?” tanyaku seraya mengibaskan cengkraman Hari. “Aku kan belum sempat baca,” lanjutku seraya menyembunyikan secarik kertas milik Hari di balik punggung.
“Ta.” Hari membalikkan telapak tangannya. “Please.”
“Ini kan cuma selembar kertas, Har. Aku baca ya,” pintaku.
“Ta.” Hari membentakku.
Deg terlambat. Aku telah membacanya. “Jadi ini yang membuatmu berpikir aku tak perlu membacanya?” tanyaku seraya mengulurkan kertas milik Hari.
“Kamu marah?”
“Nggak. Pulang yuk!” seruku sambil menggamit lengannya.
“Ta, kamu setuju dengan yang tadi?”
“Hmm. Tadi yang mana ya?”
“Surat yang terlanjur kamu baca.”
“Kenapa kamu menanyakannya padaku?”
“Kan kamu tadi yang nekat baca.”
“Kalau aku bilang nggak, apa kamu mau nurut?”
“Nggak juga sih tapi paling nggak aku dapat masukan.”
----
Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu. Kudengar Hari menjadi seorang guru musik di sebuah sekolah swasta. Setelah kelulusan sekolah menengah pertama yang kuingat dari Hari adalah secarik kertas tentang Ara. Perempuan yang ditaksirnya diam-diam selama tiga tahun dibangku SMP. Aku memang tak mengetahui seluk beluk tentang Ara tapi aku tahu seluk beluk tentang Hari. Kami tumbuh besar bersama dari kecil. Hari lebih sering diam dan mengalah jika beradu denganku tapi jika ada yang menggangguku ia tidak akan tinggal diam. Ia membelaku. Seperti saat itu. Rambutku ditarik-tarik oleh perempuan yang mengatakan aku telah merebut kekasihnya. Beberapa tarikan membuat ubun-ubunku kesakitan. Aku hanya bisa berusaha mendorongnya agar menyingkir dariku tapi kekuatan amarahnya ternyata benar-benar di luar kendali. Justru tubuhku yang terpental ke belakang saat ia membalas doronganku hingga membentur dinding. Tak juga berhenti perempuan itu mencakar lenganku hingga membekas tiga buah garis panjang. Ketika sebuah tinju nyaris mengenai wajahku tangan Hari menolongku.
“Cukup. Apa-apaan ini? Sudah seperti gadis liar.”
“Dia yang mulai dulu.” Perempuan itu mengacungkan telunjuknya ke arahku.
Aku tertunduk diam dan duduk menyandar di dinding.
“Lihat dia diam bukan? Itu karena dia merasa bersalah.” Ekspresi kesal dapat kubaca dari wajah perempuan itu.
“Ada urusan apa kau dengannya?”
“Bukan urusanmu. Ini antara aku dengan dia.”
“Talita, sebenarnya ada apa ini?” Hari mengulurkan tangannya menyuruhku berdiri.
“Ini salah paham, Har.”
Perempuan itu semakin sinis saja. “Salah paham dari mana? Jelas-jelas kamu merebutnya dariku.”
“Stop. Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan?” Hari memotong pembicaraan.
“Ega, Har. Perempuan ini belum tahu kalau aku ini kakaknya. Belum sempat kujelaskan sudah main tarik-tarik saja.”
Perempuan itu tampak kaget tapi tak langsung mempercayaiku. “Kakaknya Ega? Kok nggak mirip?”
“Lain kali jangan main asal tuduh tanpa bukti. Kalau sampai Ega tahu pasti kamu nggak diampuni,” ujar Hari menakut-nakuti.
“Maaf, Kak. Aku nggak tahu kalau ternyata...”
“Jangan gegabah lagi. Kali ini rahasia aman tapi kalau sampai terulang pada orang lain Ega harus tahu semua ini.”
“Iya, Kak. Aku janji cuma kali ini saja.”
Aih. Itu hanya sepenggal kisah persahabatan kami yang sudah lama terlewati. Sekarang kami telah berjalan sendiri-sendiri. Hari tetap tinggal di kota kami tumbuh besar dan aku merantau ke kota lain. Bukan karena mengejar karir, bukan pula karena terpaksa tapi karena aku tidak ingin merindukan Hari.
Semenjak membaca secarik kertas tentang Ara, aku menjadi tahu bagaimana perasaan Hari padanya. Betapa sulitnya Hari saat ingin mengungkapkan dan bagaimana caraku menanggapinya. Semakin kuingat isi perasaan Hari, semakin aku tak ingin mengungkitnya. Kau tahu karena Ara, saat awal masuk SMA kami tak berangkat bersama, tak pulang bersama bahkan tak bertemu di kantin. Hari telah berubah. Ia lebih suka bersama dengan teman laki-laki di kelas Ara. Ia lebih sering pulang pergi ke sekolah bersama Ara. Menjalani masa SMA tak bersama Hari sungguh membosankan. Tak ada pendengar setia, tak ada teman bertengkar, tak ada yang mentraktir makan siang, tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun di depan pagar rumah, tak ada suara yang memanggil namaku saat pagi hari. Sungguh kebiasaan bertahun-tahun hilang dalam sekejap karena Ara. Aku membenci Ara, tapi Hari menyukainya. Kami berbeda dan sudah tak lagi sejalan.
Ini yang kukhawatirkan saat ia bertanya apakah aku setuju jika ia bersama Ara. Aku selalu menggantung jawabanku. Mungkin karena Hari lelah menunggu jawabanku, ia nekat menggaet Ara dengan caranya sendiri. Ya, akhirnya satu bulan setelah aku membaca secarik kertas Hari, dia berhasil mendapatkannya. Hari mengambil ekskul musik bersama Ara. Saat pensi di hari ulang tahun sekolah mereka tampil berdua. Di mana ada Ara di situ ada Hari dan nasibku terbalik. Aku sering berjalan sendiri ke perpustakaan untuk mengisi kekosongan. Ketika istirahat telah habis aku kembali ke kelas. Bel pulang berbunyi aku menenteng tas dan meluncur pulang. Tidak ada yang istimewa bukan?
Sampai pertengahan masa SMA akhirnya aku benar-benar pergi meninggalkan Hari. Orang tuaku pindah dan mau tak mau aku ikut serta. Sebuah kesempatan emas untuk tidak mengingat Hari lagi. Aku benci pada Hari. Bahkan detik-detik kepergianku ia tak sempat datang ke rumah. Ya tak muluk-muluk paling tidak dia titip salam pada orang tuanya tapi kenyataannya tidak. Orang tuanya justru bertanya padaku soal Hari. Dari mulai kenapa Hari berangkat lebih pagi, kenapa Hari sering terlambat pulang, kenapa Hari jarang terlihat bersamaku, kenapa Hari tak lagi mengajakku ke rumahnya dan segudang pertanyaan yang menjahit rasa benciku.
Heran kenapa namanya harus Hari. Bayangkan saja berapa kali aku mendengarkan orang mengatakan “Hari”. Dari mulai memilih seragam sekolah pasti akan mulai berpikir tentang Hari, lalu saat tak sengaja melihat jadwal pelajaran-jadwal piket di kelas, belum lagi jika guru bertanya menerangkan menggunakan kata hari dan parahnya teman sekelasku bernama Hari Bisri. Meskipun aku lebih suka memanggilnya Bisri tapi tetap nama Hari melekat di bed namanya. Kemana pun aku berlari aku menemukan kata ‘hari’. Sungguh mengenaskan bukan.
Berangsur-angsur aku sudah tak berniat melupakan Hari. Aku cukup mengenang masa-masa kami tumbuh besar bersama. Ternyata di situlah aku menemukan kenyataan ternyata aku merasa kehilangannya. Aku masih ingin bertemu dengannya.
Hari. Jika aku bertemu dengannya kembali, satu hal yang ingin kulakukan bersamanya yaitu memutar satu lagu utuh. Satu lagu utuh yang dapat mewakili kerinduan. Satu lagu utuh yang mampu membangkitkan kenangan. Satu lagu utuh mempertemukan kami pada not yang sama. Paling tidak satu lagu utuh membuat kami sejalan meski hanya tiga menit, empat menit ataupun lima menit. Karena kami pernah berdiri di atas bukit bernyanyi bersama saat pramuka dulu dan itulah not yang tersisa selain rasa pahit di usia remaja. Terakhir kalinya kami bernyanyi bersama. 
***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini