Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Makhluk Impian

Kau mengajakku ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Menyuruhku memilihkan pakaian untuk pesta pernikahan teman terbaikmu. "Kamu beneran ga apa-apa kan aku ajak ke sini?"
"Iya tak apa," kataku.
"Biasanya laki-laki tak suka jika menunggu perempuan berbelanja pakaian. Kau tidak berpikir begitu kan?"
Aku diam dan tersenyum.
"Atau mungkin karena kau sudah tahu banyak tentangku yang juga tak suka berlama-lama di tempat seramai ini," lanjutmu.
Aku tersenyum mengamatimu yang sedang memilih beberapa gaun.
"Itu soft pink sepertinya cocok di kulitmu," celetukku.
"Yang mana? Ini?" tanyamu seraya menunjuk gaun pilihanku.
Aku mengangguk dan kau tanpa basa-basi mencobanya di kamar pas lalu pergi ke kasir. Aku tertawa.
"Kau menertawakanku?" Kau memincingkan mata saat keluar dari toko.
"Kamu itu pilih baju cepat sekali. Bagaimana kalau memilih pasangan? Jangan-jangan kalau aku bilang lelaki itu baik kau langsung jadian dengan …

MEMILIH(MU)

MELEPASMU BERARTI MERELAKAN

AKU ADA

BRAAKK
Setumpuk file kulihat dihempaskan ke mejamu pagi ini. Kulihat ada seorang lelaki yang naik pitam di depan meja kerjamu. Kau tak mampu melihatnya. Tatapanmu seperti bunga layu yang sudah tak punya daya ditegakkan. Lelaki itu keluar dari ruanganmu dengan nafas naik turun, menarik kerah dan melepas dasinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menghampirimu masuk ke ruangan.
"Ada apa?" tanyaku seraya menahan tanganmu yang gemetar merapikan tumpukan file yang berantakan.
Kau tersenyum. "I'm fine," jawabmu seraya melepaskan tanganku yang menahan punggung tanganmu.
Aku menatapmu lama tak yakin.
"Aku tidak apa-apa percayalah aku bisa mengatasinya." Kau tersenyum lagi.
"Oke." Aku mengangkat tanganku dan keluar dari ruanganmu. Di saat seperti itu pun kau mampu memperlihatkan senyuman manismu. Tapi jika kau selalu mengatasi semuanya sendiri lalu bagaimana denganku. Aku tak akan mempunyai celah untuk memasuki kehidupanmu…

MENCINTAIMU ADALAH ALASAN PERJUANGANKU

Aku mengingatmu dengan jelas. Perempuan yang mendobrak benteng pertahanan usiaku. Aku tengah memegang gitar dan bercanda gurau dengan kawan-kawanku kala itu. Lalu kau muncul membuyarkan konsentrasiku. Beberapa kali kita bersitatap dan kau selalu tersenyum ke arah lain. Entah untuk alasan apa kau masuk ke gerbang sekolahanku. Aku benar-benar ingin tahu hingga
kuserahkan gitar di genggaman pada kawanku dan mencari informasi tentangmu sebanyak-banyaknya. Sampailah aku tahu kau seorang mahasiswi yang sedang penelitian di sekolahku. Monik, itu namamu yang ku tahu dari panggilan teman-teman perempuanku. Ya, Monik. Mengingatkanku pada komik anak perempuan lucu, Monika.
"Bryan. Oi." Suara Mas Gilang, kakak kelasku saat SMA yang membuat lamunanku buyar.
"Mas Gilang. Apa kabar mas?"
Sudah lama sekali tak bertemu akhirnya di kedai kecil depan SMA aku bertemu Mas Gilang--mantan ketua OSIS di zamannya.
"Baik. Sudah besar sekarang kau nak. Tambah maju aja…

CLUB CHOCOLATE

"Dik."
Begitu kudengar sayup-sayup kau memanggil wanita di sampingmu.
Wajahku langsung pucat dan kehilangan tenaga. Kau yang selama ini kukenal sendiri tak terlihat berminat memiliki kekasih tiba-tiba membawa seorang gadis dan memanggilnya "Dik".
"Guys ada hal yang ingin aku sampaikan. Mohon perhatiannya sebentar," teriakmu seraya memukul-mukul badan gelas dengan sendok.
Kau menarik tangan gadis itu hingga berdiri di sampingku.
"Kenalin ini Renata. Mulai hari ini Rena akan bergabung dengan club kita."
Aku pun berdiri dan memberi pelukan pada Rena.
"Selamat bergabung," kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Rena tersenyum.
Entah siapa perempuan bertubuh mungil yang kau bawa, yang aku tahu rasa nyeri ada di balik dadaku. Aku pun melepas pelukkan menyedihkan itu.
"Dik, kamu bicara sama Olin dulu. Aku tinggal sebentar. Lin titip Rena ya." Kau menepuk bahuku dan berlalu.
"Mbak Olin sudah kenal lam…

KASIH IBU KEPADA BETA

Kulihat ini bukan pertama kalinya wajah Ibu murung dan tak mau bicara denganku. Sejak melihat foto perempuan di wallpaper handphone-ku, Ibu terus menerus berpikir keras seorang diri tanpa mau berbagi denganku atau Ayah. Aku tahu Ibu memendam sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang berbelit seperti hal yang sama di otakku, menebak pikiran Ibu.
Ibu, aku pulang ke rumah untuk bertemu Ibu dan menanyakan bagaimana wanita pilihanku untuk Ibu. Ternyata belum kusampaikan Ibu sudah memotongnya dengan dingin. Ibu masih kekeh dengan pilihanku lalu, yang telah gagal kuperjuangkan.
Aku mengetuk kamar Ibu sangat pelan. Kulihat Ibu berbaring di ranjang membelakangiku. Ku tarik kursi kecil di dekat pintu dan kuletakkan di samping ranjang Ibu. Aku duduk dan diam beberapa saat.

"Ibu. Apa Ibu tidur?"
Ibu tak menjawabku.
"Apa Ibu sudah makan? Aku tak ingin menjadi anak durhaka Ibu."
Ibu masih tak menjawabku.
"Ibu hari ini aku memutuskan akan kembali ke Jakarta. Sebelu…