Minggu, 28 Desember 2014

Makhluk Impian



Kau mengajakku ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Menyuruhku memilihkan pakaian untuk pesta pernikahan teman terbaikmu. 

"Kamu beneran ga apa-apa kan aku ajak ke sini?"
"Iya tak apa," kataku.
"Biasanya laki-laki tak suka jika menunggu perempuan berbelanja pakaian. Kau tidak berpikir begitu kan?"
Aku diam dan tersenyum.
"Atau mungkin karena kau sudah tahu banyak tentangku yang juga tak suka berlama-lama di tempat seramai ini," lanjutmu.
Aku tersenyum mengamatimu yang sedang memilih beberapa gaun.
"Itu soft pink sepertinya cocok di kulitmu," celetukku.
"Yang mana? Ini?" tanyamu seraya menunjuk gaun pilihanku.
Aku mengangguk dan kau tanpa basa-basi mencobanya di kamar pas lalu pergi ke kasir. Aku tertawa.
"Kau menertawakanku?" Kau memincingkan mata saat keluar dari toko.
"Kamu itu pilih baju cepat sekali. Bagaimana kalau memilih pasangan? Jangan-jangan kalau aku bilang lelaki itu baik kau langsung jadian dengan lelaki itu," celetukku.
"Kita cari makan dulu, yuk! Aku sudah lapar," katamu seraya menarik tanganku mendekati food court mengalihkan pembicaraan.
Kau menaruh tas belanjaanmu di meja.
"Capek ya padahal cuma jalan bentar naik eskalator empat kali," keluhmu seraya mengambil posisi duduk.
"Anggap saja kita sedang berolahraga," celetukku.
"Berhubung aku yang mengajakmu kemari jadi aku traktir kamu makan dengan syarat harus makan makanan yang aku pilihkan. Titik."
"Okei, tak masalah."
Kau pun meninggalkanku sesaat. Aku berfantasi dengan khayalanku sendiri. Kau terlintas di kepalaku. Bagaimana bisa kau tersenyum secepat itu setelah melihat mantan kekasihmu sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Aku sibuk mengorek isi kepalaku sendiri.
"Sudah. Kita tinggal tunggu pesanan datang," katamu.
"Kamu pesan apa?"
"Sesuatu yang jelas kamu suka."
"Yakin. Memangnya kau tahu apa yang aku suka?"
Kau mengangguk membuatku berpikir keras. Sesaat pesanan pun datang. Beef.
"Bukankah kamu tidak suka daging sapi? Kamu kan bisa memilih yang lain," kataku.
"Tidak hari ini aku harus mencoba sesuatu yang berbeda," katamu sedikit memaksa.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku mau move on dari daging ayam ke sapi," katamu seraya menyuapkan nasi ke mulutmu. "Kupikir enak itu akan berlangsung lama, ternyata aku juga harus mencoba sesuatu yang menurutku tak enak. Tahu begini aku akan memakan daging sapi dari dulu lalu sekarang sudah terbiasa," lanjutmu seraya mengunyah.
Aku menghentikan aktivitas sendok-menyendokku. Mengamatimu sejenak. Ada air di sudut matamu yang mengumpul. Kupikir kau benar-benar tersenyum karena telah merelakan.
"Kamu baik-baik saja? Aku jadi khawatir," tanyaku yang mungkin terdengar berlebihan.
Kau menelan makananmu dengan tergesa-gesa.
"Pelan-pelan saja. Minum dulu gih!" seruku.
Kau memberengut. Menaruh sendok dan garpumu. Lalu meneguk separuh minuman di gelasmu.
"Apa kamu pernah memiliki mimpi tentang seorang putri? Aku pernah memiliki mimpi tentang seorang pangeran. Ia tidak berkuda putih. Bukan dari keluarga bangsawan. Tapi dia baik, selalu ada untukku, menyemangatiku, mengetahui seluk beluk tentangku dan yang tak kalah penting ia mengajariku tentang hidup. Apakah itu bisa disebut makhluk impian?" tanyamu berganti topik dan menghentakkan gelas ke meja.
"Eh?" Aku mengangkat alis.
"Memangnya makhluk impian itu seperti apa? Apa kamu tahu?" tanyamu padaku seraya melanjutkan melahap beef di piringmu.
"Entahlah. Setiap orang pasti punya deskripsi yang berbeda-beda. Cuma itu yang ku tahu," jawabku.
Kamu mengernyitkan dahi dan melempar lirikan tajam ke arahku.
"Baiklah. Mungkin makhluk impian itu lebih cenderung pada sosok atau tokoh imajinasi pada diri seseorang yang menginginkannya," lanjutku.
Kamu tiba-tiba tersenyum.
"Lalu apakah kamu memiliki makhluk impian sepertiku?" tanyamu membuatku berhenti berfikir.
"Aku tidak pernah memikirkan sejauh itu," jawabku sesaat kemudian.
"Baguslah. Kamu tidak akan merasa sakit ketika makhluk impianmu itu tak seperti yang kamu bayangkan."
"Sorry, kalau aku boleh tanya, apa kamu masih terluka?" tanyaku sedikit canggung.
Kau tersenyum. "Aku masih memiliki sisa-sisa harapan pada makhluk impian. Menurutku dia ada."
"Itu belum menjawab pertanyaanku."
Hening. Kau diam meletakkan sendok dan garpu lalu menatapku atau mungkin seseorang di belakangku yang terlihat baru saja duduk saat aku menoleh. Ternyata laki-laki yang ku kenal, teman sebangkuku dulu. Aku hanya melambaikan tangan padanya dan dia tersenyum.
"Aku pikir mimpi dan kenyataan itu sangat jauh. Tapi sekarang aku tahu mimpi itu sudah mendekati kenyataan," jawabmu mengalihkan pertanyaanku sekali lagi.
"Maksudnya?"
"Ku rasa aku sudah menemukannya sekarang," katamu menatap kosong lurus ke depan.
"Benarkah? Siapa? Kau bisa berbagi sedikit denganku jika mau," ujarku seraya menoleh ke belakang.
"Kamu tahu siapa orangnya," katamu sangat yakin dan melahap makanan kembali.
"Aku tak tahu."
"Kalau begitu aku tidak akan cerita. Sudah habiskan saja makananmu," sahutmu.

----------------------------------------------------

Temukan apa arti dibalik cerita
Hati ini terasa berbunga-bunga
Membuat seakan aku melayang
Terbuai asmara
Adakah satu arti dibalik tatapan
Tersipu malu akan sebuah senyuman
Membuat suasana menjadi nyata
Begitu indahnya
Dia seperti apa yang selalu ku nantikan aku inginkan
Dia melihatku apa adanya seakan kusempurna
Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta
Dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa kupercayakan cinta
Hingga dia di sini memberi cintaku harapan
(Maliq d'esential)

Rabu, 03 Desember 2014

MEMILIH(MU)





Aku melangkah sendirian menuju ruangan. Kelas terlihat kosong tak berpenghuni. Aku meletakkan tas di meja. Berbekal handphone dan headset aku berjalan keluar menuju balkon gedung. Beberapa saat kau sudah ada di sampingku membawakan sebotol minuman.
"Kenapa tadi nggak nyusul ke kantin? Jeda kuliah kan masih lama," tanyamu seraya mengulurkan botol minuman.
"Emm, tadi habis ketemu sama Puput. Aku ditahan dia," jawabku seraya melepas headset dan menerima pemberianmu.
"Ooo. Puput ngomong apa aja tadi? Ga gosipin aku lagi kan?" Kau membuka tutup botol dan meneguknya.
"Puput cuma cerita, dia dapat nilai delapan puluh sembilan. Sepertinya kali ini aku benar-benar kalah walaupun selisih satu poin. Tiba-tiba aku ingat kata-kata kamu dulu kalau keyakinan hati itu bisa kalah sama takdir," kataku mengabaikan cerita Puput yang tidak-tidak.
"Aneh ya, ketika kita merasa yakin pada sesuatu sering kali kita dibuat pusing setengah mati dan pada akhirnya terkadang takdir berbeda dengan apa yang kita pikirkan."
"Iya, kayak soal ujian yang mati-matian kukerjakan. Kupikir jawabanku sudah benar semua tapi mungkin hanya perasaanku saja. Nyatanya tetap ada yang salah."
Kau diam dan tiba-tiba bertanya, "Apa sih yang bisa membuat kamu merasa senang?"
"Kenapa?" tanyaku seraya membuka tutup botol.
"Jawab saja."
"Entahlah. Senang atau susah yang aku tahu asalnya dari hati dan pikiran." Aku meneguk minuman di botol.
"Kalau ada seseorang yang memintamu kembali setelah ia pergi, apa yang akan kau lakukan?"
Deg. Ada dentuman di dalam sana yang terasa menghantam bilik-bilik jantung.
"Kamu udah kayak dosen ngasih soal ujian aja. Susah jawabnya. Aku nggak ngerti," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kalau seseorang itu mengoyahkanku bagaimana?"
"Menggoyahkan? Seperti apa?"
"Ya seperti disaat seseorang yang pergi memintaku kembali, aku sedang menyukai seseorang."
Aku menoleh ke arahmu. Kata-kata Puput menjalar dipikiranku. Perempuan yang sering bertemu di kantin itu benarkah mantan kekasihmu.
"Beberapa hari ini dia sering mendatangiku. Ia bilang sudah waktunya kami kembali bersama. Dulu dia memutuskan berhenti karena tidak bisa long distance."
"Lalu?"
"Disaat aku terpuruk sendirian ada seseorang wanita yang mengangkatku. Menyuruhku menegapkan badan, menyunggingkan senyum, dan mematahkan asumsi-asumsi yang berkembang mati satu tumbuh seribu. Bagiku mati satu tumbuhnya ya satu dan itu adalah dia."
"Jadi dia memintamu kembali disaat dia sudah tahu kalau kau sedang menyukai seseorang?"
"Ya dia sudah tahu itu."
"Mungkin saja dia tidak ingin kamu mencintai orang lain. Tapi masalahnya kalian sudah tak berstatus."
Kau menatapku tajam. "Kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana?"
Deg. Kau bertanya pertanyaan yang sangat sulit. Tak ada rumus untuk menjawabnya.
"Aku nggak bisa kasih solusi, Rey. Itu masalah hati kamu. Hati kamu berhak memilih dan aku tak berhak menentukan."
"Kalau hati itu ada di kamu, apa ia juga tak berhak menentukan?"
Deg. Aku diam menunduk.
"Aku butuh kepastian. Bukankah wanita juga butuh kepastian itu untuk hal yang sama?"
"Harapanku terkadang tak sesuai dengan takdir, Rey. Aku tak berhak menentukan takdirmu. Meskipun aku bisa menentukan takdirku tapi aku takut mengacaukan takdir orang lain. Coba tanyakan kepada Tuhanmu. Mendekatlah pada-Nya agar kau temukan jawabannya. Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Jadi aku masih punya kemungkinan-kemungkinan kecil itu."
"Mungkin saja. Bukankah setiap orang akan dipasang-pasangkan sesuai jodohnya? Meskipun pilihan kita, kalau bukan pilihan Tuhan, sampai kapanpun tidak akan bisa bersama."
Rey memegang jemariku.
"Jika memang kemungkinan kecil itu ada, izinkan aku tetap sebagai kawanmu sampai kutemukan jawabnya. Kau tidak boleh menjauh karena pernyataanku ini. Tetaplah di sini."
Aku tersenyum dan melepaskan tangannya. "Semua sudah ada yang ngatur. Kita jalani saja apa yang kita bisa lakukan," kataku.
"Jadi kamu mau menerimaku?"
Deg.
"Rey," panggil seorang wanita dari jauh. Ia berjalan semakin dekat. Wajah yang samar semakin tampak jelas. "Ayo kita pergi," lanjutnya.
Wanita itu menggamit tanganmu dan menarikmu pergi. Tanpa kata kau ikut dengannya.
Terkadang memang harapan berbanding terbalik dengan takdir. Yang terpenting aku tahu kau mencintaiku, selanjutnya urusan Tuhan sama kamu karena hatiku sudah memilihmu menempati ruang kosong yang selama ini tak diisi. Tuhan aku jatuh cinta.

_________________________________

Tuhan tolong aku katakan padanya
Aku cinta dia bukan salah jodoh
Dia untuk aku bukan yang lainnya
Satu yang kurasa pasti bukan salah jodoh
Bila hati tlah bicara takkan ragu hati ini mendekat kepadanya
Tak ingin ku menunggu
Jadikanlah aku oh cinta
Kekasih pilihan dihatimu
Kupercaya dirimu satu cintaku
Cinta janganlah cepat berlalu
Di sini temani hari hariku
Berdua jalani kisah bersama
Hanya ada kamu kita (Adriansyah Martin)


Senin, 01 Desember 2014

MELEPASMU BERARTI MERELAKAN






Gerimis singgah malam ini. Terasa lembab, basah dan nyeri pun merebak di sela-sela dadaku. Suara yang kudengar begitu parau. Kau menangis. Sesekali terdengar isakanmu, menit selanjutnya kau mencoba tegar. Aku mengantarmu pulang ke rumah. Kau menatap lurus ke jalan. Selanjutnya kita pun sampai setelah belokan pertama. Rumahmu masih seperti dulu.
Kau keluar dari mobilku dan menungguku di ujung mobil bagian depan. Aku ikut keluar dan berdiri di depanmu. Kau membalikkan badan ke arahku.
“Aku akan menikah, Har.” Kau mengucapkan kata-kata itu dengan begitu lancar . “Aku sudah memastikannya,” lanjutmu. Kutahu matamu memerah.
Entah mengapa pipiku hangat. Air mataku perlahan mengalir tapi buru-buru kuusap.
“Ini untuk yang terakhir kalinya, aku sudah mantap. Kau harus datang. Agar kau bisa meyakinkan dirimu bahwa benar-benar aku yang menikah,” lanjutmu seraya meletakkan undangan warna ungu ke tanganku.
Tak ada kata-kata yang terucap dariku. Tadi pagi kau sempat marah dan mengembalikan semua pemberianku, tetapi sore hari aku sempat membuatmu berpikir dua kali untuk menerimaku lagi. Kita telah makan di tempat kita dulu menghabiskan malam minggu bersama. Kita sudah pergi ke pasar malam dan kini malam hari, aku telah gagal membuatmu kembali padaku.
Kau memelukku. “Terima kasih untuk hari ini, Har. Aku menikmatinya. Kamu harus tahu yang diinginkan perempuan bukan hanya perasaan senang selalu setiap saat bersama orang yang disayang. Tapi perempuan juga ingin komitmen yang jelas,” katamu seraya merenggangkan pelukan.
Aku telah mengantarmu ke depan rumah. Aku telah mengembalikanmu ke posisi awal seperti saat kau memutuskan keluar dari lingkaranku. Kau telah menemukan laki-laki yang membuatmu kembali padanya. Lelaki itu tampaknya memang sudah jelas nyata di matamu.
“Kamu boleh pulang, Har,” katamu.
Tak ada kata-kata lagi mungkin bumi telah menelannya sehingga aku tak mampu lagi bersuara. Aku masuk ke mobil. Kau pun beranjak membuka pagar. Ada perasaan bergejolak, seperti mimpi, aku ingin memastikan untuk yang terakhir kali saat melihat undangan warna ungu yang ku taruh di dashboard. Kulirik kaca spion depan, lampion kado yang susah payah kubuat untukmu masih tertinggal di jok belakang. Aku pun akhirnya meraih lampion itu dan keluar dari mobil berlari mengikutimu. Namun apa yang kudapat kini aku pun melihatnya sekarang. Ia menghampirimu dan berlari. Melihatmu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Kamu kemana saja? Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.
Kulihat kau mengangguk. “Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu panik.”
“Lain kali jangan biarkan handphone kamu low batt. Selalu bawa charger kemana-mana.”
“Iya, iya. Maaf,” jawabmu seraya tersenyum.
“Maaf pekerjaanku di kantor banyak. H-2 aku baru bisa urus cuti. Tapi demi kamu aku rela mengurusnya besok. Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
Lelaki itu melihat keberadaanku. Aku terlanjur masuk di halaman rumahmu dengan lampion cinta merah yang kutenteng.
“Itu siapa?” tanyanya.
Kau membalikkan badan dan sedikit terperanjat melihatku memegang lampion cinta merah. Kepalang tanggung aku maju mendekat.
“Hei, maaf mengganggu. Aku hanya seorang kurir yang mengantar kado pernikahan ini,” ujarku seraya mengulurkan lampion itu.
Dia yang menyambut perpindahan lampion itu dari tanganku.
“Bagus ya. Boleh juga ini kalau besok di taruh di kamar,” katanya seraya melihat tulisan-tulisan yang menempel di lampion itu.
Kau tersenyum dan berkata, “ Terima kasih.”
“Karena tugas saya telah selesai, saya pamit pulang.” Aku membalikkan badan dan menegapkan badan. Aku harus kuat. Kau telah memilih lelaki itu. Tak ada daya. Apalah artinya jika cinta ini kupertahankan untukmu, gadis yang kukenal sejak SMA. Kurasa bukan hanya aku saja yang menelan kekecewaan, tapi Bu Ingrid guru BP kita semasa SMA, tante Serif yang mengira aku calonmu serta Pak Enok di kedai kopi yang mengira kita balikan.
Aku masuk kembali ke mobil menyandarkan kepalaku di atas stir. Hujan pun turun dengan lebatnya. Ia membawa perasaanku luruh bersamanya. Aku harus menaruh kata-kata di buku yang pernah kubaca itu di kepalaku sekarang. Ada kalanya kita perlu terima bahwa ada orang yang diciptakan untuk ada di dalam hati kita, tapi bukan di dalam hidup kita. Kita nggak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menyukai kita. Yang bisa kita lakukan cuma merelakan, berharap supaya dia bahagia. Walaupun kebahagiannya bukan bersama kita.
-----------------------------------------------------------------
Kau temukan lagi seseorang yang bisa
Menjadi pendampingmu saat kau lemah
Dia kan mencoba membuatmu bahagia
Dan menjadi penopang saat kau lelah
Di saat kau merasa lemah tak berdaya
Dia kan mencoba memelukmu dengan hatinya
Kuingin engkau percaya
Bahwa kubahagia melihatmu dengannya
Kuminta tetaplah setia
Karna kubahagia melihatmu dengannya
Tak ada lagi yang kutakutkan dari kehilangan ini
Ku tetap berdiri ( JIKUSTIK )

Kamis, 13 November 2014

AKU ADA




BRAAKK
Setumpuk file kulihat dihempaskan ke mejamu pagi ini. Kulihat ada seorang lelaki yang naik pitam di depan meja kerjamu. Kau tak mampu melihatnya. Tatapanmu seperti bunga layu yang sudah tak punya daya ditegakkan. Lelaki itu keluar dari ruanganmu dengan nafas naik turun, menarik kerah dan melepas dasinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menghampirimu masuk ke ruangan.
"Ada apa?" tanyaku seraya menahan tanganmu yang gemetar merapikan tumpukan file yang berantakan.
Kau tersenyum. "I'm fine," jawabmu seraya melepaskan tanganku yang menahan punggung tanganmu.
Aku menatapmu lama tak yakin.
"Aku tidak apa-apa percayalah aku bisa mengatasinya." Kau tersenyum lagi.
"Oke." Aku mengangkat tanganku dan keluar dari ruanganmu. Di saat seperti itu pun kau mampu memperlihatkan senyuman manismu. Tapi jika kau selalu mengatasi semuanya sendiri lalu bagaimana denganku. Aku tak akan mempunyai celah untuk memasuki kehidupanmu.
"Ric, kenapa tuh si Putri?" tanya teman sekantorku.
"Entahlah," jawabku seraya menoleh ke ruanganmu yang masih kosong.
"Ric, dipanggil bos itu," kata teman sekantor yang telah usai menemui Pak Rendra.
Aku mengemas file dan membawa ke ruangan Pak Rendra paling tidak untuk jaga-jaga. Kulihat kau keluar dari ruanganmu dan kita berpapasan di depan pintu ruangan Pak Rendra.
Lagi-lagi kau tersenyum dan dengan membayangkan senyumanmu aku melangkah masuk ruangan Pak Rendra.
"Eric," panggil Pak Rendra membuat senyumku sedikit memudar.
"Ya, Pak."
"Tolong kamu yang handle rapat hari ini."
"Lho bukannya Putri, Pak?" tanyaku.
Pak Rendra mempersilahkanku duduk dengan isyarat tangannya.
"Ya itu kemarin waktu belum banyak yang complain," jawabnya.
"Maksudnya complain, Pak?" tanyaku seraya menghaturkan tumpukan file bahan rapat.
"Saya kasihan melihat Putri. Meskipun dia kelihatan mampu mendapat tekanan tapi lama kelamaan dia bisa tertekan. Jadi kamu ambil job dia dulu sembari menunggu dia siap mendapat tekanan kembali," jelas Pak Rendra sembari melihat-lihat isi lembar demi lembaran.
"Anda benar-benar pengertian dengan staf anda, Pak," pujiku.
"Ya kebetulan saja, dia anak teman baik saya. Saya tahu banyak tentang dia. Pejuang keras, tahan banting tapi justru terkadang itu yang membuat orang tuanya cemas. Sampai sekarang tidak ada yang berani mendekatinya."
"Padahal Putri cantik ya, Pak."
"Ya, bisa lihat sendiri. Tapi kalau dia seperti itu terus, saya juga cemas terhadap kondisi psikologisnya."
"Kasihan ya, Pak."
"Hal ini hanya kamu yang saya beritahu. Satu lagi tolong kamu rutin ajak bicara Putri. Siapa tahu dia mau terbuka denganmu. Sepertinya kamu yang lebih sering mengajaknya bicara ketimbang staf yang lain," kata Pak Rendra seraya berdiri dan mengambil tas kotaknya.
"Ah, Bapak ini bisa saja."
"Ya sudah, saya mau pergi. Tolong jaga Putri dan jangan lupa handle rapatnya," ujar Pak Rendra seraya menepuk bahuku.
Pak Rendra pun pergi meninggalkan aku yang masih duduk di ruangannya. Cukup lama aku tertegun memandangi bingkai foto saat Pak Rendra berfoto bersama dengan jajaran staf. Pusat perhatianku ada padamu yang tengah memakai blazer hitam dan tersenyum lepas.
Mendadak aku teringat pada kata Pak Rendra yang meminta tolong menjagamu. Sesungguhnya sebelum ada yang meminta menjagamu aku jauh lebih dulu ambil start. Kau sedari awal telah menarik di mataku. Semenjak awal aku masuk ke tempat kerja ini. Kita bertemu di lift. Kau tersenyum padaku diantara lautan manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri. Senyum, ya, sejak awal yang kulihat darimu adalah senyuman. Bahkan sampai di titik terendahmu kau masih sempat tersenyum.
Tidak mudah menjalani hidupmu. Di tengah-tengah kesibukan, tekanan dan pertahanan kau campur semuanya menjadi satu dalam dirimu. Tidak berbagi dan hanya berdiri pada satu tumpuan yaitu kekuatan dalam dirimu. Kadang aku menunggu sampai dimana kamu sanggup berdiri sendiri, tapi kadang aku tak tega melihatmu memaksakan diri.
Aku ingin kau berbagi setengah kisahmu. Jika aku tak bisa memberi solusi paling tidak itu bisa mengurangi bebanmu. Namun sepertinya itu hanya angan-anganku.
Bahkan dikeadaan sudah tertangkap basah, tanganmu gemetar kau juga masih bisa tersenyum dan mengatakan kau tak apa. Manusia seperti apa kamu sebenarnya hingga selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Pak Rendra dan mempersiapkan file untuk rapat hari ini.
"Put, hari ini sebaiknya kamu istirahat saja. Pak Rendra menyuruhku menghandel rapat hari ini," kataku saat kau melintas di depan meja kerjaku. Kau tersenyum seraya memegang secangkir kopi.
"Mau kopi?" Kau menawariku.
"Kopi hitam? Kamu suka kopi hitam?"
"Ini kalau kamu mau."
"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya bertanya apa kau suka kopi hitam?"
"Ya."
"Aku sarankan sekali-kali kamu bisa menggantinya dengan secangkir teh atau jus jika ada waktu. Aku yang traktir."
Ya. Agar hidupmu lebih berwarna dan tidak hitam pekat. Juga agar kau tak selalu memaksakan diri menelan kepahitan seorang diri.
Lagi-lagi kau tersenyum.
"Hanya senyuman?" tanyaku.
"Baiklah jika sedang tidak sibuk aku usahakan."
Aku mengulurkan tanganku.
"Maksudnya?" tanyamu.
"Deal," jawabku.
Kita pun tertawa.
Keinginan terbesarku adalah melihatmu tertawa lepas seperti ini. Ini baru permulaan. Selanjutnya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menarikmu ke medan magnetku, sampai kau tak pernah merasa sendirian. Aku ada.
________________________________
Jangan takut berjalan sendirian
Ada aku turut menuntun jalan
Saat hatimu di serang kesepian
Aku datang
Redam badai lakukan dengan tenang
Hujan ini akan engkau kalahkan
Kalau hatimu percaya padaku
Aku datang
Kau jadi samudera aku langitnya
Memeluk dunia kita berdua
Jangan takut kehilangan pegangan
Ada aku berimu kekuatan
Agar dirimu mampu untuk bertahan
Aku datang (Jikustik)

Rabu, 12 November 2014

MENCINTAIMU ADALAH ALASAN PERJUANGANKU


 
Aku mengingatmu dengan jelas. Perempuan yang mendobrak benteng pertahanan usiaku. Aku tengah memegang gitar dan bercanda gurau dengan kawan-kawanku kala itu. Lalu kau muncul membuyarkan konsentrasiku. Beberapa kali kita bersitatap dan kau selalu tersenyum ke arah lain. Entah untuk alasan apa kau masuk ke gerbang sekolahanku. Aku benar-benar ingin tahu hingga
kuserahkan gitar di genggaman pada kawanku dan mencari informasi tentangmu sebanyak-banyaknya. Sampailah aku tahu kau seorang mahasiswi yang sedang penelitian di sekolahku. Monik, itu namamu yang ku tahu dari panggilan teman-teman perempuanku. Ya, Monik. Mengingatkanku pada komik anak perempuan lucu, Monika.
"Bryan. Oi." Suara Mas Gilang, kakak kelasku saat SMA yang membuat lamunanku buyar.
"Mas Gilang. Apa kabar mas?"
Sudah lama sekali tak bertemu akhirnya di kedai kecil depan SMA aku bertemu Mas Gilang--mantan ketua OSIS di zamannya.
"Baik. Sudah besar sekarang kau nak. Tambah maju aja itu perutnya."
"Wah, Mas Gilang juga sama. Tambah makmur aja badannya."
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya seraya menepuk bahuku.
"Mau ketemu seseorang mas."
"Cerita, cerita ada perubahan apa saja di SMA setelah aku lulus," pintanya sambil mengajak duduk dan aku mengikutinya. Akhirnya aku bercerita panjang lebar seraya menunggumu. Tentang pergantian kepala sekolah baru, guru yang pensiun, guru killer yang sering dikerjai anak-anak dan masa-masa akhir SMA yang dipenuhi kisah-kisah konyol saat mendekatimu. Mas Gilang terpingkal-pingkal mendengar ceritaku yang kau tolak beberapa kali. Ia lebih tertarik pada kisahku saat mengejarmu. Masih teringat dengan jelas saat kau tolak aku dengan alasan masih kecil, masih anak sekolah, masa depan masih panjang, dan lebih pantas menjadi adik.
"Lalu sekarang bagaimana kelanjutan ceritanya? Masihkah berlanjut?"
"Doakan sajalah, Mas."
"Ya, seharusnya begitu lanjutkan saja. Wajah kamu lumayan, kendaraan pasti ada, tinggal udah ga sama orang tua. Apalagi masalahnya iya kan?"
"Usiaku yang lebih muda, Mas."
"Alah, itu tak masalah. Selisih berapa tahun?"
"Lima tahun, Mas."
Wajah Mas Gilang sedikit berubah ketika kuberi tahu. Ia sedikit serius kali ini.
"Yan, kalau soal usia itu sebenarnya tidak masalah selama ada kecocokan dan yang terpenting asal kamu mau memperjuangkannya."
"Siap komandan," sahutku diikuti hormat. "Eh, itu dia yang kutunggu sudah datang Mas." Ku lihat kau sedang membuka pintu kedai.
"Cantik."
"Iya, Mas."
"Dasar. Udah samperin sana, gih!"
Aku membenahi rambut, bajuku dan melangkah menyambutmu.
"Hai, selamat bertemu lagi, Monik," sapaku.
Kau melepas kacamata hitammu dan sedikit mengerutkan kening. Mungkin terdengar asing di telingamu. Ini pertama kalinya kuhilangkan sebutan Mbak dari namamu.
"Maaf. Mbak Monik maksudku," jelasku membenahi.
Kau kutawari duduk dengan isyarat tanganku. Kau pun duduk dengan sendirinya sembari tersenyum.
Suasana mendadak hening. Kita sama-sama tak bicara.
"Sudah lama tak bertemu ya, Mbak. Ternyata mbak masih kerja di tempat yang sama," kataku memulai topik.
"Aku pikir Bryan Purnama itu orang lain. Ternyata orang itu kamu." Kau melempar senyum ke arahku.
"Iya, Mbak. Aku yang mendaftarkan diri jadi klien Mbak Monik."
Kulihat kau mengeluarkan semacam buku agenda dan pulpen.
"Sudah siap? Sepertinya sudah. Maaf, tadi ada klien yang molor. Ujung-ujungnya jadi kena batunya semua."
"Iya gapapa, Mbak."
"Karena sudah kenal jadi ga usah pakai perkenalan. Kita langsung ke topik permasalahan untuk mempersingkat waktu." Kau pun membuka sampul buku agendamu. Kau memberiku selembar kertas kosong dan menyuruhku menggambar sesuatu di sana. Tak usah pikir panjang kugambar saja perempuan hati dan laki-laki.
Kau sedikit tertawa melihat gambarku.
"Kenapa, Mbak? Jelek ya?"
Kau menggeleng.
"Jadi begini, Mbak. Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku susah tidur. Mungkin karena memikirkan sesuatu dan itu cukup mengganggu."
Kau membuat coretan-coretan di bukumu yang membuatku penasaran.
"Mbak Monik," panggilku.
"Iya lanjutkan saja. Aku mendengarkan."
"Ini masalah aku jatuh cinta lagi. Tapi sayangnya usia diantara kami berjarak lima tahun. Disaat aku baru menyelesaikan pendidikan sarjana, dia sudah magister. Dia sudah memiliki pekerjaan tetap, sedangkan aku sedang mencari pekerjaan. Aku takut kalau dia sebentar lagi menikah sementara aku baru saja lulus. Tapi aku tak mau kalau status kami hanya seperti kakak adik."
"Wow, ternyata kamu ga berubah ya. Padahal dari dulu sudah aku sarankan untuk mencari yang seusia atau justru yang usianya di bawah kamu."
"Kalau sudah terlanjur begini gimana dong, Mbak?"
"Ada dua analisa pada permasalahan kamu itu sebenarnya. Pertama kalau kamu terus maju mungkin permasalahan ga hanya pada dua orang antara kamu dan dia, tetapi ada hal besar yang harus kamu pikirkan juga yaitu keluarganya. Mau ga keluarganya menerima kamu. Ingat cinta bukan hanya milik dua orang yang jatuh cinta. Ada orang tua yang turut andil bagian dalam restu apalagi dia perempuan."
Deg. Selama ini aku sudah memikirkannya, tapi bukankah semua itu tergantung bagaimana cara kita menyelesaikannya. Seperti sebuah soal cerita, apabila cara penyelesaiannya tepat maka akan terlihat hasilnya, tapi jika salah maka tak kan pernah ditemukan jawabannya.
"Kedua, jika kamu menyerah. Ya tetap akan ada masalah dengan dia dan dirimu kalau sudah kamu nyatakan. Tapi kalau belum paling akan bermasalah pada dirimu sendiri jika tidak bisa mengendalikan diri. Semua sekarang tergantung pada keputusan kamu dan sebelum kamu mengambil keputusan besar aku ingin bertanya seberapa besar kamu mencintai dia?" lanjutmu.
"Aku sudah mencintai dia seumur selisih usia kami. Aku sudah mulai mencintai semenjak pertama kali melihatnya. Tapi jika mbak bertanya sebesar apa aku mencintai dia, tidak ada jawabannya."
Kau tertawa dan saat kutatap kau berhenti. "Baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita pesan something dulu?"
Akhirnya kupanggil waiters dan kupesan sesuatu.
"Tadi sampai dimana? Oh ya, sampai tidak ada jawaban. Jadi intinya kamu masih mau berjuang?" tanyamu.
"Yaiyalah, Mbak."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau dia sudah menikah? Apa yang akan kamu lakukan."
"Dia belum menikah."
"Oke aku ubah pertanyaannya. Bagaimana kalau dia ternyata sudah mempunyai kekasih?"
"Kurasa tidak."
Kau memincingkan mata. "Bagaimana kamu bisa sangat yakin seperti itu?"
"Ya menurutku dia belum menikah atau punya kekasih. Belum ada cincin yang mengikat di jarinya," jawabku seraya melihat jemari kedua tanganmu.
"Kalau untuk alasan belum menikah bisa dimengerti, tapi untuk belum memiliki kekasih sepertinya masih bisa ada kemungkinan sudah."
"Aku yakin dia tak memiliki kekasih. Dia orang yang sangat sibuk dari dulu, bahkan untuk berbicara yang tidak penting dia kadang menolak. Dia jarang menyentuh handphone pribadinya dan lebih sering menyentuh handphone untuk urusan pekerjaan. Setiap ditanya soal kekasih dia akan diam seolah matanya itu bicara helo tidak lihat gue jomblo."
Kau tertawa lagi.
"Baiklah kalau begitu. Tapi usia kalian kan selisih lima tahun lebih cocok jadi kakak adik. Kalau wanita yang lebih muda sih tidak masalah. Tapi kalau lelakinya yang lebih muda dengan selisih yang lumayan seperti itu tidak biasa di masyarakat kita."
"Ah, menurutku usia bukan masalah asalkan sama-sama dewasa, sama-sama bisa membawa diri, sama-sama mengimbangi! Bener kan? Jadi gimana Mbak?"
Pesanan kita pun datang. Hening pun terjadi sesaat. Kau pun berdehem sebelum bicara.
"Ya, kadang ada juga kasus seperti itu."
"Terus?"
"Tapi saranku sudah menyerah saja. Nanti kalau ditolak malah jadi sakit hati lagi. Belum kapok juga dulu ditolak lima kali dengan alasan yang sama?" Kau meledekku seraya melanjutkan mencoret-coret.
Aku tersenyum dan menghela nafas. Kau melirikku sekejap.
"Apa aku benar-benar harus menyerah?" tanyaku seraya memegang tanganmu. Kau terlihat kaget.
"Lalu bagaimana jika orang yang kumaksud itu adalah orang yang sama, yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali," lanjutku.
Kau pun diam, menarik tanganmu dan meletakkan pulpenmu di meja.
Melihat serangkaian gerakan itu semakin menuntunku untuk mengatakan, "Perempuan itu kamu."
Kau pun menyandarkan jemari di jidatmu dengan tumpuan siku tangan di meja.
"Mencintaimu adalah alasan perjuanganku. Selanjutnya tidak ada alasan lain, Mbak."

__________________________________________
senja meresahkan diriku
seakan kau menepis cintaku
tiada ku memaksa
namun tiada alasanmu untuk ragu
akan hasrat dan cintaku
jangan tanyakan batas cintaku
batas hasratku kepadamu mentariku
jangan indahkan semua cerita
yang telah membuatmu
ragu tuk melangkah bersamaku kasih
tak perlu kau ragu segala yang di hatiku (Kahitna)

CLUB CHOCOLATE



"Dik."
Begitu kudengar sayup-sayup kau memanggil wanita di sampingmu.
Wajahku langsung pucat dan kehilangan tenaga. Kau yang selama ini kukenal sendiri tak terlihat berminat memiliki kekasih tiba-tiba membawa seorang gadis dan memanggilnya "Dik".
"Guys ada hal yang ingin aku sampaikan. Mohon perhatiannya sebentar," teriakmu seraya memukul-mukul badan gelas dengan sendok.
Kau menarik tangan gadis itu hingga berdiri di sampingku.
"Kenalin ini Renata. Mulai hari ini Rena akan bergabung dengan club kita."
Aku pun berdiri dan memberi pelukan pada Rena.
"Selamat bergabung," kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Rena tersenyum.
Entah siapa perempuan bertubuh mungil yang kau bawa, yang aku tahu rasa nyeri ada di balik dadaku. Aku pun melepas pelukkan menyedihkan itu.
"Dik, kamu bicara sama Olin dulu. Aku tinggal sebentar. Lin titip Rena ya." Kau menepuk bahuku dan berlalu.
"Mbak Olin sudah kenal lama dengan Mas Rengga?"
"Iya semenjak bergabung di club ini. Sekitar dua tahun yang lalu," jawabku seraya menarik kursi dan kembali duduk.
"Mbak berarti udah tahu banyak tentang Mas Rengga dong? Mas Rengga orangnya gimana aja mbak?"
Aku menoleh dan menjawab, "Baik."
"Cuma baik?"
Aku menerawang ke atas dan mengangguk. Tak enak melihat Rena berdiri aku menawarinya duduk seraaya mengalihkan pembicaraan, "Udah duduk sini, Ren. Kalau banyak berdiri capek lho."
"Mas Rengga pernah cerita tentang, Mbak lho," katanya sembari duduk di kursi.
"Oh, ya?"
"Iya. Cerita kalau mbak dulu pernah punya cowok yang belagu."
"Rengga cerita begitu?"
"Iya, terus semenjak diputusin mbak cuma diem, jarang bicara, jarang ikut kegiatan. Bener ga sih mbak?"
Deg. Gadis ini benar-benar membuat napasku naik turun. Aku masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Saat lelaki belagu itu mengatakan "kamu membosankan" dan dia memilih mengakhirinya. Masih sering terbayang aku berdiri di samping tiang listrik dekat rumahnya dan mematung di sana berjam-jam hanya untuk mengenang. Sampai kau datang Rengga, menawariku bergabung dengan club Chocolate.
"Kalau kamu bergabung, akan ada banyak teman. Bisa jadi kamu bertemu dengan orang yang bernasib sama denganmu. Aku ketua club Chocolate. Rengga."
Begitulah awal perkenalan kita. Aku bergabung hanya satu kali datang. Lalu setelahnya aku absen. Kau menghubungiku pagi siang malam hanya ingin mendapatkan kabar apakah aku bisa bergabung di pertemuan selanjutnya.
Ketika ayah dan ibu mengajakku makan malam di luar kita dipertemukan. Kau melambaikan tangan tapi aku memilih merunduk. Akhirnya kau menghampiri mejaku.
"Om, Tante perkenalkan saya Rengga temannya Olin. Boleh bicara dengan Olin sebentar," ujarmu saat meminta izin pada orang tuaku.
Tanpa panjang lebar mereka menyetujuinya. Kau satu-satunya lelaki yang berani menghadapi orang tuaku dan mulai detik itu aku berpikir dunia tak selebar daun kelor.
***
"Mbak kok diam? Maaf, Rena ga bermaksud mengungkit kenangan buruk, Mbak."
"Tidak apa. Oh ya kalau boleh tahu apa alasan kamu bergabung dengan club ini?"
"Diajakin Mas Rengga."
"Jadi bukan karena kamu suka cokelat?"
"Doyan cokelat sih mbak, tapi ga terlalu suka. Cokelat itu terlalu manis. Kalau mbak alasannya apa?"
"Karena cokelat memberikan rasa manis setelah pernah mencicipi rasa pahit dan cokelat pernah memberikan kekuatan untuk mencicipi manisnya kehidupan," jawabku.
"Kalau aku membentuk club cokelat karena ingin lihat yang manis-manis. Seperti kalian," celetukmu yang muncul tiba-tiba di antara aku dan Rena.
Sesaat mata kita bertatap temu. Aku melihat rasa bahagia ada di balik bola matamu bertentangan dengan rasa di balik bola mataku.
"Lin, sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu."
Deg. Nada bicaramu berbeda dengan Rengga yang kutemui sebelumnya. Kau tak pernah berkata ingin memberi tahu sesuatu langsung padaku. Aku diselimuti rasa takut.
"Nanti saja, Mas. Jangan sekarang," potong Rena.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku. Spontan aku berdiri.
"Maaf, aku mau ke toilet sebentar," kataku seraya terburu-buru pergi.
Aku menarik nafasku memandangi cermin di wastafel. I'm fine. Aku tidak menangis, tapi ada desir berbeda di dalam sana. Kubasuh wajahku. Kadang air bisa berfungsi menenangkan. Akhirnya mau tak mau aku kembali ke pusat acara. Kulihat orang-orang berkumpul dan ketika aku sampai mereka bubar.
"Wah, telat kamu, Lin," celetuk teman clubku.
"Pengumuman menghebohkan dari pak ketua. Sayang untuk dilewatkan," celetuk salah seorang yang lain.
"Pulang dulu ya, Lin," kata seorang yang lain berpamitan.
Alhasil aku penasaran dan menghampirimu.
"Ada apa sih?" tanyaku.
"Tadinya kamu orang pertama yang akan mendengar kabar ini, tapi sepertinya kamu jadi yang terakhir."
"O."
"Cuma O?" Alismu terlihat naik.
"Lalu?"
"Siap-siap dengar ini ya. Lusa aku mau melamar seseorang. Akhirnya aku mau married, Lin. Tapi tenang pembahasan cokelat kita akan terus berjalan. Adikku, em maksudku Rena yang akan menggantikanku sementara."
Deg. Ibarat alat deteksi kinerja jantung ini sudah bergaris lurus tidak ada harapan. Skakmat.
"Iya, Mbak. Aku ini adiknya Mas Rengga. Jadi kalau Mas Rengga berhalangan hadir mulai lusa, aku yang handle club ini."
"Selamat, Ngga." Aku mengulurkan tanganku.
Kau menyambutnya dengan dekapan. Air mataku mengalir tanpa ada yang tahu. Sepi. Suasana setelah acara bubar terasa seperti hatiku. Ada yang berlalu lalang tapi hati tetap merasakan kesunyian.
"Maaf, jika kabar ini membuatmu kaget," ucapmu berbisik membuatku mengusap air mata. Aku menarik tubuhku menjauh darimu.
"Sepertinya tinggal kita di sini. Aku akan mengurus semua ini. Kamu dan Rena boleh pulang duluan," kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu yakin?" tanyamu.
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Senyum kupaksa mengembang.
Kau menahan tanganku. "Untuk kali ini izinkan aku yang menyelesaikan semuanya. Kamu boleh pulang. Kamu sudah terlalu sering melakukannya sendiri. Jika terlalu sering seperti ini mereka akan takut mendekatimu."
Kau melepas genggaman di pergelangan tanganku dan menggandeng Rena berjalan ke kasir. Raut wajahmu yang terakhir kulihat entah mengapa bukan senyuman yang bisa kuingat. Aku hanya akan mengingat sebatas melihat punggungmu berlalu.
Sekarang cokelat manis yang mengajariku tentang kehidupan sudah pergi. Mata cokelatmu, kulitmu, costum serba cokelat saat kau datang ke club. Kaulah alasan aku datang dan bertahan di club Chocolate.
***
________________________________________
Ku bertanya adakah aku yg ada di hatimu
Tak mengapa jikalau aku tak pasti di benakmu
Aku tak tahu mengapa dirimu
Yang datang saat aku merasa
Meskipun aku tak mungkin miliki
Namun ku akui, kau ubah hariku
Ada getar saat ku menatapmu ada di sana
Ku yakini mata hatiku tak akan pernah salah
Aku bertanya dan tanya kepada diri
Salahkah hatiku yg mengharapkan cintamu
Namun ku akui, kau ubah hariku (Kahitna)

Sabtu, 20 September 2014

KASIH IBU KEPADA BETA

Kulihat ini bukan pertama kalinya wajah Ibu murung dan tak mau bicara denganku. Sejak melihat foto perempuan di wallpaper handphone-ku, Ibu terus menerus berpikir keras seorang diri tanpa mau berbagi denganku atau Ayah. Aku tahu Ibu memendam sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang berbelit seperti hal yang sama di otakku, menebak pikiran Ibu.
Ibu, aku pulang ke rumah untuk bertemu Ibu dan menanyakan bagaimana wanita pilihanku untuk Ibu. Ternyata belum kusampaikan Ibu sudah memotongnya dengan dingin. Ibu masih kekeh dengan pilihanku lalu, yang telah gagal kuperjuangkan.
Aku mengetuk kamar Ibu sangat pelan. Kulihat Ibu berbaring di ranjang membelakangiku. Ku tarik kursi kecil di dekat pintu dan kuletakkan di samping ranjang Ibu. Aku duduk dan diam beberapa saat.

"Ibu. Apa Ibu tidur?"
Ibu tak menjawabku.
"Apa Ibu sudah makan? Aku tak ingin menjadi anak durhaka Ibu."
Ibu masih tak menjawabku.
"Ibu hari ini aku memutuskan akan kembali ke Jakarta. Sebelum aku pulang izinkan aku mengatakan banyak hal lewat sepucuk surat ini. Akan aku taruh di meja semoga Ibu berkenan membacanya nanti saat terbangun."

Dear Ibuku Sayang,
Aku anak Ibu satu-satunya yang nakal dan sering membuat Ibu kesal bahkan sampai menangis. Ini bukan pertama kalinya Ibu mendiamkanku seperti ini. Aku tahu Ibu, aku punya banyak salah pada Ibu. Perkenankan aku meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam pada Ibu.

Ibu pernahkah Ibu tahu bagaimana rasanya penolakan? Anak Ibu ini pernah merasakannya dan beberapa waktu berjuang sendiri. Anak Ibu ini tak mau Ibu mengetahuinya. Demi menjaga hati Ibu aku berusaha tetap kuat dan berjalan seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Akan kuceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi Ibu. Aku datang bersama kawan-kawanku ke rumah perempuan yang Ibu pilih. Seperti bermain ke rumah kawan-kawanku biasanya. Ada yang berceletuk mengatakan aku kekasih perempuan itu. Si Ibunya sontak kaget dan memandangku sinis. Lalu Ibunya bercerita kalau ia menginginkan laki-laki kaya, seorang dokter yang bisa mengobati ketika ia sakit, laki-laki tampan, laki-laki yang jelas asal usulnya. Kawan-kawanku tak tahu Ibu kalau kata-kata itu ditujukan padaku yang lusuh, bukan seorang dokter, tidak tampan, dan orang tuaku yang hanya seorang tukang becak dan buruh cuci. Aku tidak marah Ibu. Aku hanya pura-pura tak mendengar Ibu. Semarah-marahnya Ibu pasti hanya akan mendiamkanku seperti ini tapi orang lain justru berani mengatakanku seperti itu. Bagaimana jika waktu itu kuceritakan pada Ibu? Apakah Ibu akan marah?
Saat itu aku sempat bertahan Ibu demi perempuan yang merengek memintaku untuk meluluhkan hati Ibunya. Tapi semakin aku mencoba semakin keras batas benteng yang dibangun Ibunya. Akhirnya aku memilih mengalah. Aku tak ingin wanita pilihan Ibu menderita lama-lama karena mempertahankanku. Aku melepasnya agar tak menjadi anak yang durhaka pada Ibunya. Bukankah seharusnya semua itu telah selesai dan kini Ibu harus mengetahui kebenarannya.
Kali ini disaat aku yang menemukan seseorang yang bisa menerimaku apakah Ibu akan melakukan hal yang sama padaku?
Ibu janganlah melihat orang dari luarnya saja jika Ibu belum pernah melihat bagaimana hatinya. Paras wajah bukankah itu bentukan dari asalnya. Apakah Ibu tahu keluarga perempuan itulah yang bisa menerimaku apa adanya. Ya, benar. Keluarganya tak memandang dari mana asal usul keluargaku. Ia hanya menanyakan keimananku dan pekerjaanku. Selebihnya nama orang tuaku, pekerjaannya dan berapa jumlah saudaraku. Setelah itu mereka tak mempermasalahkannya. Mereka tak bertanya berapa meter persegi ukuran rumahku, berapa banyak jumlah mobilku, berapa banyak uangku di bank.

Tak mudah mencari seseorang yang bisa menerima apa adanya, tapi lebih tak mudah lagi mencari keluarga yang bisa menerima kehadiranku di tengah-tengahnya. Kupikir lebih enak menjadi anak kecil yang jatuh cinta karena mereka tak tahu hal besar yang bertengger di belakangnya. Jatuh cinta bagi mereka hanya bentuk dari sama-sama suka dan sudah hanya di situ saja. Tapi aku bukan anak kecil lagi Ibu. Hatiku telah terbentuk dan sudah lebih besar. Aku sudah tahu bahwa jatuh cinta tak hanya butuh dua orang yang sama-sama menyukai namun jatuh cinta adalah siap menyatukan dua keluarga besar. Cinta bukanlah suatu status tetapi menikah adalah sebuah pergantian status yang awalnya sendiri tiba-tiba memiliki banyak hal yang tak pernah didapat dari kesendirian.

Walaupun setelah ini Ibu tetap melarangku aku tetap kekeh dengan apa yang aku yakini Ibu. Maaf. Anakmu ini sudah tak lagi menjadi penurut. Bagaimanapun kerasnya pendirian Ibu, aku pula yang tetap menjalani hidupku. Aku tahu Ibu ingin orang yang terbaik untukku tapi kita belum tahu bagaimana rencana Tuhan. Aku hanya ingin berusaha menjalaninya Ibu. Aku meminta restu pada Ibu lewat surat ini. Semoga Ibu menjadi seorang yang bijak dalam mengambil sebuah keputusan. Terima kasih Ibu telah membesarkanku hingga saat ini. Aku sayang Ibu.
Salam dari anakmu
Lanang

Aku menarik koperku melewati pintu kamar Ibu. Tak kudengar sedikitpun suara dari dalam kamar Ibu. Sepertinya Ibu masih tidur. Aku bergegas keluar, membuka bagasi mobil Kang Arman tetanggaku. Kumasukkan koperku ke dalam sana.

"Sudah siap belum Nang?"
"Sudah Kang, tapi aku ke kamar mandi dulu sebentar."
Ya pergilah. Begitu yang kutangkap dari gerakan tangan Kang Arman.
Saat ke kamar mandi aku berpapasan dengan Ayah.

"Nang, balimu jam pira? Wis pamitan karo Ibumu?"
Ayah menanyakan keberangkatanku.
Sesungguhnya aku masih tetap ingin tinggal dulu tetapi aku tak bisa melihat wajah Ibu yang murung karena memikirkanku.
"Ayah, ini Lanang mau balik diantar Kang Arman. Nanti kalau Ibu tanya, Lanang sudah pulang."
Ayah mengerti bentuk ekspresi wajahku. Ayah selalu menjadi penengah antara aku dan Ibu.
"Yowis. Sing ngati-ati yo, Nang. Nyuwun donga karo sing Maha Kuasa ben dibukake dalanne," kata Ayah seraya mengelus pundakku.
Setelahnya aku pamit mencium tangan Ayah yang semakin lama semakin keriput, sedikit berbeda dari beberapa bulan belakangan.

Aku berjalan mendekati Kang Arman.
"Sudah Kang. Mari cabut."
Kang Arman masuk ke mobil. Aku membuka pintu depan, samping Kang Arman. Deg. Ibu sudah duduk di dalam, di kursi belakang saat kutengok dari spion tengah. Aku tak berani mengajak bicara Ibu. Sepanjang perjalanan aku tak menoleh ke belakang.

Sampailah di bandara. Aku keluar dari mobil mengambil koper di bagasi. Kulihat Ibu tak bergerak sedikitpun dari mobil.
"Kang, titip salam buat Ibu ya."
"Macam apa kalian ini? Empat mata kan bisa."
"Kang percayalah kali ini titip salam lebih baik daripada bicara empat mata."
"Lanang, kau sudah besar masak kalah sama anak kecil. Ayolah sapalah Ibumu barangkali sebentar."

Aku menyeret koperku mendekati pintu Ibu. Pelan-pelan kutarik daun pintu.
"Ibu, Lanang mau pamit."
Ibu masih tak bersuara. Setelah menunggu lama akhirnya aku menutup kembali pintu dan menyeret koperku memasuki pintu masuk. Sesekali kutengok wajah Ibu di jendela. Masih sama bahkan disaat seperti ini pun Ibu masih menyempatkan waktu mengantarku. Meskipun tak bersuara aku tahu kau menyayangiku Ibu.

(Ketika aku masuk ruang tunggu, dalam saku terdengar nada dering pesan. Aku duduk di kursi panjang dan sesaat kemudian kubuka. Nama Ibu tertera di sana beserta pesannya:

Nang, Ibu masih kangen. Kenapa kamu cepat-cepat pulang?)
------------------------------------------------------

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
(Meskipun Ibu melarang, mendiamkan, tetap kekeh dengan pendiriannya
Ibu tetaplah Ibu yang memikirkan kebahagian anaknya
Walaupun terkadang pemikirannya bertentangan dengan pemikiran anaknya
Bukankah itu juga sebuah bentuk kasih sayang)

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...