Langsung ke konten utama

CINTA DALAM KEMASAN


Kadaluarsa tertulis dengan jelas pada bungkus kemasan yang susah payah kita desain mungil, cantik dan elegan. Rasa yang kita olah telah kadaluarsa kita tahu itu. Tentu saja dari kita berdua tak ada yang berharap terluka. Kita telah memutuskannya, membuka kemasan bersama-sama. Kita juga telah berjanji jika salah satu dari kita berani membuka kemasannya, maka tak akan ada lagi cerita di dalamnya. Aku bohong. Aku mengelak telak untuk itu. Aku ingin menyimpan rapi kemasan itu meskipun isinya telah melempem terkena angin, tapi cerita itu pernah berdiri di zamannya. Tujuh tahun yang lalu.

Aku pernah menyukaimu dulu sebelum dia menyukaimu. Dia cantik bukan main. Aku tak bohong, jika aku laki-laki mungkin ada rasa untuk memilikinya. Tidakkah kau juga akan begitu? Tak mungkin itu tak terlintas di dalam isi kepalamu. Aku yakin itu sebelum kau sadar telah bersamaku.

Setengah mati kau berusaha meyakinkanku, setengah mati pula aku mempertahankan titik muasal keraguanku. Kenapa harus bertubi-tubi kau jelaskan jika memang tak terjadi, kenapa pula harus memohon untuk mempercayaimu pada hal yang tak pernah kupikirkan. Ingatkah kamu di dalam ceritamu selalu ada ceritanya, di dalam cerita kita selalu ada tentangnya dan di dalam ceritaku kau selalu menaruh garam di sana. Tak usah hiraukan anjing yang menggonggongi kita katamu, bukankah anjing itu sedang memberi pertanda di dalam gonggongannya?

Kau juga sudah melihat kemasan yang kita hias mulai luntur catnya semenjak dia mendatangimu untuk sebuah permintaan─meninggalkanku. Aku tahu kau menolaknya, tapi tak kau lihat betapa menyakitkannya saat kau mengulang-ulang cerita itu.

“Dia cantik ya, tapi sayang sekali aku menolaknya karena aku sudah punya kamu,” katamu pada hari ketujuh belas setelah penolakannya.

Tidakkah sebenarnya kau menginginkannya, membanding-bandingkan aku dengannya? Kau memang tertawa seolah melontarkan lelucon yang akan membuatku tertawa, tapi itu bukan lelucon. Satu titik kusadari darinya, kau mulai ragu padaku itulah alasannya kau selalu memancing namanya di dalam setiap isi cerita kita. Aku memang diam tapi diamku untuk menutupi sebuah bentuk keraguan yang makin lama makin terlihat mengganjal. Bukannya aku tak peduli kau akan bersama dia atau tidak, aku hanya ingin mengikis setiap keraguan-keraguan yang menjatuhimu. Akal sehatku mulai enggan menghadapimu. Ia sangat ingin menghindar dan tak mau melihatmu. Aku mencoba diam untuk menetralisir racun-racun yang mulai menyerang isi kepalaku dan menggoyahkanku.

Tepat satu bulan, kau bilang kau sudah tidak mengingatnya lagi padahal aku tak memintamu mengatakannya. Aku cukup ingin melihat bagaimana kau melakukannya. Itu saja. Kau mengoyangkan tubuhku, menyuruhku untuk percaya padamu, tapi aku tetap diam dan memang tak mau memberi penjelasan. Untuk apa aku memberimu penjelasan, jika pada akhirnya kau muntahkan seluruh perkataanku. 

Sampailah pada hari aku meledak di depanmu setelah sekian lama kupendam sendiri. Aku tidak ingin kau membawa namanya di setiap isi cerita kita dan kau bilang aku cemburu. Kubilang ini bukan cemburu, tapi hanya memastikan. Tidakkah wajar jika disetiap kita ragu harus memastikan dan aku ingin memastikan seberapa jauh kau dibawanya pergi. Kau ternyata sudah jauh. Kau sudah jarang memanggil namaku, menungguku di depan gedung kampusku, mengajakku ke rumah bibimu dan bahkan saat tragis terjadi kau tak mengabariku.

Aku terdiam berjam-jam mengamati bentuk-bentuk perubahanmu. Kau tak berselera saat kutanya ke mana arah kita selanjutnya. Kau memalingkan wajahmu.

“Kenapa tiba-tiba kau membicarakan ini semua?”

“Aku hanya ingin memastikan. Itu saja.”

“Kau sudah berlebihan. Untuk urusan sekecil ini kau ingin aku memikirkan resiko yang besar.”

“Maksud kamu? Kelanjutan kita adalah resiko yang besar?”

“Kau kan yang tidak mempercayaiku.”

“Tidak. Aku masih mempercayaimu.”

“Kalau kau mempercayaiku apa lagi yang ingin kau pastikan? Sudah pasti kita akan terus berjalan.”

Berjalan katamu kau lupa jalanan tek selalu lurus. Memang ada yang lurus tapi jalanan juga punya liku-liku, persimpangan, tikungan, belokan. Lalu mana yang kau jadikan jawaban? Kau anggap itu ringan, tapi bagiku itu berat. Kemasan kita sudah mulai kempes tak lagi menggembung. Aku sudah berusaha meniupnya, kau justru tak menganggapnya sebagai suatu masalah. Aku yang berlebihan atau memang kau yang tak peduli.

Tiga bulan berlalu tanpa komunikasi dan pada akhir kabar miring tentang kempesnya kemasan kita telah terdengar olehnya. Wanita itu mendatangimu lagi dan merampas kedudukanku. Dia yang lebih sering mendengarkan ceritamu. Entah apa yang membuatmu tak berpikir dua kali kau memaksaku untuk membuka kemasannya secara bersama-sama.

“Ini kan yang kamu mau? Sebuah kepastian.”

Aku terdiam dalam hati terkikis.

“Aku sudah memberimu kepastian. Apakah ini semua sudah cukup sekarang?”

Tentu itu cukup. Aku tak akan bertanya-tanya lagi. Keraguanku sudah terjawab tuntas. Kau memilih pergi semenjak hari itu.

Aku masih ingat wanita itu menunggumu di depan kantin dengan sebotol kopi kemasan. Baru aku sadari, seperti apa pun kemasan yang kita buat, tak sepenuhnya menentukan arah tujuan selanjutnya. Sudah capek-capek mendesain pada akhirnya kita sendiri yang merusaknya. Satu hal yang kita lupakan waktu itu, isi bisa saja kadaluarsa tapi jika kita ingat bagaimana proses membuatnya, kita bisa membuat isinya kembali. Biar pun kemasan kita tertulis tanggal kadaluarsanya ada satu hal yang susah untuk berubah memori yang indah-indah. Itulah alasannya aku masih menyimpan rapi kemasannya.

Tak aneh jika tiba-tiba sekarang kita adalah teman dan wanitamu itu bukan lagi saingan. Dia menjadi penasehatku sekarang dan darinya aku baru tahu kau melepasku karena tak ingin melukaiku dengan banyak kecurigaan. Wanita itu baik, cantik pula. Kupikir dia benar-benar mengejarmu dulu dan kau menolaknya, tapi ternyata itu adalah gurauan yang aku anggap serius. Semua sudah terlambat, kau sudah mengganti kemasanmu dengannya.

***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini