Langsung ke konten utama

Tak Butuh Obat

Ada asa katanya?
Lalu aku pulang dengan menyematkannya di sudut kanan bahuku.
Ternyata itu terakhir kalinya aku membawa keberanianku.
Tak ada nyali lagi.
Rongga-rongganya telah ditutup.
Asap mengepul menjauh.
Mereka menyatakan aku mundur.
Lalu kusematkan kedua kalinya di sudut kiri bahuku.
Aku pulang sia-sia.
Ia telah pergi sebelum selesai ku bercerita.
Aku datang kepadanya tapi dia lari.
Keberanian yang dipertaruhkan telah disia-siakan.
Maka aku sebut itu sia-sia.
Itu luka.
Luka yang ia tak mengerti dari mana asalnya.
Dia hanya tahu asap mengepul itu menjauh dariku.
Dia lupa jika aku berdiri jauh-jauh hari di tempatnya.
Menunggunya membawa keberanian lainnya.
Tapi dia datang dengan luka kau tahu.
Luka yang aku sendiri tak tahu bentuknya.
Hanya terasa sakit tapi tak mengerti seberapa besar bentuknya bahkan tak tahu rupanya.
Mereka mengatakan aku terluka.
Tapi kubilang semua baik-baik saja.
Semakin lama mereka bilang semakin parah.
Tapi bagaimana aku tahu separah itu jika aku tak punya alat tuk mengukurnya.
Tak punya alat tuk tahu menahu bagian di dalam sana.
Aku hanya tahu debaran jantungku sangat cepat.
Dan mereka bilang luka itu bekerja dengan baik.
Aku ternganga.
Dia tahu aku ada di depannya.
Tapi dia tak membawa obatnya.
Dia berdiri.
Tapi tak membawa obatnya.
Dia pergi.
Tapi tak mengambil obatnya.
Aku hampir sekarat menunggunya.
Mengemis obat lain, meminumnya setengah-setengah.
Dan tiba saat dia muncul kembali,
obat itu diberikan pada orang yang jelas-jelas tak membutuhkannya.
Aku melempar suaraku.
Dia hanya menoleh dan bertanya, Siapa?
Aku tak butuh obat lagi.
Aku tak butuh nyali.
Tak butuh berani.
Aku hanya butuh dia pergi.
Aku ingin sembuh tanpa harus mengharap obatnya.
 
***

Komentar