Langsung ke konten utama

DELIJUN


Aku pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang menunggu seorang laki-laki membalas cinta sampai berpuluh-puluh tahun. Pernah pula kudengar seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki. Ya hanya seorang dan jika bukan laki-laki tersebut ia tidak akan menikah. Bukankah cinta itu gila?

Lalu bagaimana dengan perempuan yang berdiri di depanku itu?

Kata orang lima puluh tahun yang lalu ada beberapa anak kecil yang bermain di dekat rel kereta api pada sore hari. Pagi harinya mereka menghadang kereta api karena itu adalah satu-satunya transportasi yang terdekat dengan sekolah kala itu. Salah seorang dari anak itu bernama Delia. Nama yang cantik bukan dan ia mempunyai julukan si hitam. Kata orang memang zaman dulu perempuan berkulit gelap sering dijadikan bahan ejekan. Tak heran jika Delilah mendapatkan julukan yang tak pernah diharapkan dan entah ada apa dengannya hingga mau menerima julukan itu. Mungkin karena Janu yang memanggilnya begitu. Ia sering menimpuk Delilah saat berjualan kue keliling untuk membantu ekonomi keluarganya di sepanjang stasiun. Lagi-lagi Delilah menerimanya dengan lapang.

 Janu bukan tetangga Delilah dan bukan pula teman di sekolahnya. Mereka bertemu karena sering datang ke stasiun. Janu berjualan kue keliling, sedangkan Delilah setiap sore menunggu ayahnya pulang. Tak ada yang tahu ayah Delilah pergi kemana sejak pergi meninggalkan ibunya dengan kereta. Ia hanya memiliki keyakinan suatu saat nanti ayahnya akan pulang dengan kereta.

“Del, hari ini kueku sisa banyak. Mau ambil satu?”

“Tidak, Jan. Aku tak punya uang.”

“Ini gratis. Ambil saja.”

“Benar, kamu tidak akan menyesal?”

Janu mengangguk. Mereka berdua duduk di rel kereta api sambil menikmati sore dengan sepotong roti.

“Enak, kau sendiri yang membuatnya?”

“Bukan. Ibuku. Memang kue buatan ibuku yang paling enak. Kalau kami punya uang ibu akan membuka toko roti yang setiap harinya bisa menghasilkan banyak uang.”

“Apa aku boleh berkunjung di toko roti ibumu?”

“Tentu saja.”

Saat anak-anak itu asyik bercakap-cakap datanglah Rosiyah yang terlihat bahagia.

“Del, ayo pulang!” ajak Rosiyah.

Delilah menoleh. “Ada apa, Bu?”

“Bapakmu pulang. Dia mau ketemu kamu. Ayo pulang! Kamu mau di sekolahkan di kota.”

Delilah menatap Janu. Janu pun melihat Delilah dengan tatapan yang sama. Suatu kebanggaan di desa jika anaknya bisa sekolah di kota dan Delilah pun akhirnya pulang bersama ibunya. Janu duduk kembali di atas rel menikmati sisa kuenya. Wajahnya sendu. Ia ditinggal pergi teman bermainnya.

Sehari setelah itu Delilah tak pernah muncul di stasiun. Janu berjalan menelusuri rel seorang diri. Ia menenteng kue-kue yang masih sisa menuju rumah.

“Janu kok sudah pulang?” tanya ibunya.

“Janu capek, Bu. Mau istirahat dulu,” jawabnya dengan lesu.

Seorang gadis berdiri di samping Marwah, ibu Janu. Ia menatap haru. Janu yang ia kenal adalah periang dan yang di depan matanya seperti orang lain. Gadis itu berada di rumah Janu untuk belajar membuat kue dari Marwah. Pemandangan yang tidak biasa di mata gadis itu dan membuatnya berteman dengan Janu.

Sebulan, setahun hingga dua puluh tahun Janu berteman dengan gadis itu. Sampailah pada suatu titik jenuh dalam pertemanan, Janu memutuskan untuk berkeluarga bersama si gadis. Pada awalnya semua baik-baik saja hingga mereka dikaruniai anak perempuan yang cantik. Mulai muncullah prahara rumah tangga, kebutuhan ini itu yang tidak ada habis-habisnya dan ditambah kemunculan Delilah di depan Janu.

Delilah telah berubah menjadi cantik, kulitnya bersih. Kabar burung berkata ia telah sukses dan membuka sebuah toko roti yang diberi nama Januari dan membuka cabang di desa. Suatu hari ia datang ke rumah Janu dan disambut oleh si gadis. Sebersit rasa tak enak muncul di hati si gadis. Seenaknya saja perempuan itu datang ke rumah batinnya. Sesaat Janu muncul dari balik tirai pintu kamar. Wajahnya langsung berseri. Ia menyambut Delilah dengan berlebihan dan tak menghiraukan si gadis. Anaknya menangis tidak dihiraukan. Rasa berapi-api melanda hati si gadis. Pada malam hari terjadi pertempuran hebat dan diakhiri dengan perpisahan. Si gadis menangis pada malam itu di depan sang bayi, sedangkan Janu pergi dari rumah mentalak si gadis.

Lama-lama terdengar kabar bahwa Delilah akan dilamar Janu. Akhirnya si gadis datang menyaksikannya. Ia berdiri di depan rumah Delilah dengan menggendong bayinya. Entah mengapa Janu tak sedikitpun berniat membatalkan niatnya. Janu tetap melanjutkannya. Namun, si gadis melihat ada yang berbeda di balik wajah Delilah. Delilah menatap dalam-dalam bayi yang digendong si gadis lalu menolak lamaran Janu. Berita itu menyebar seantero warga. Muncul bisik-bisik tetangga bahwa Janu meninggalkan si gadis karena ingin melamar Delilah tapi akhirnya ditolak. Ada pula yang berkata Janu menceraikan si gadis karena tidak tahan dengan rasa cemburu gadis saat melihat Delilah kembali ke kehidupan Janu sampai akhirnya ia melamarnya dan berakhir ditolak. Lalu beberapa orang juga membuat versi lain Delilah datang mengganggu keluarga Janu sampai bercerai kemudian saat Janu melamar agar tak dituduh penjahat ia menolaknya. Hanya Tuhan, si gadis, Janu dan Delilah yang tahu kebenarannya.

Lalu aku mempunyai versi lain dari perempuan yang berdiri di depanku itu. Ia pernah menikah dan bercerai. Katanya cukup sekali menikah, mencintai laki-laki dan bercerai. Tidak ada lagi hal yang indah dalam hidupnya. Ia mencintai laki-laki bernama Janu dan tidak membenci perempuan yang bernama Delilah. Sedari awal perempuan itu tahu Janu tidak bisa melupakan Delilah. Ia menikahi perempuan itu dengan satu alasan karena hasil masakannya seperti ibunya. Bahkan ketika perempuan itu mengandung sebenarnya ia tak menginginkan bayi dalam kandungan si istri. Ia selalu berambisi menemukan Delilah dan menikahinya. Sampai akhirnya Delilah datang ke rumah satu bulan setelah perempuan itu melahirkan. Janu terlihat senang doanya terkabul. Pada malam harinya perempuan itu menangis dan Janu mendekatinya tapi perempuan itu meminta agar diceraikan. Janu kaget dan tidak bisa semudah itu berakhir. Ternyata meskipun berambisi menikahi Delilah, ia masih mencintai keluarga kecilnya. Perempuan itu mengancam bunuh diri jika tak diceraikan, maka malam itu juga Janu menceraikannya dengan berat hati dan meninggalkan istri dan bayinya.

Beberapa bulan setelah itu terdengar kasak-kusuk Janu akan melamar Delilah - kembang desa yang amat diagung-agungkan. Tepat hari lamaran, perempuan itu menyempatkan diri datang untuk menghormati mantan suaminya. Ia melihat mantan suaminya menatap ke arah bayi yang digendongnya tapi tetap melanjutkan acara lamaran. Melihat hal tersebut Delilah juga ikut menatap bayi itu. Ajaib tiba-tiba Delilah menolak Janu. Perempuan itu terdiam. Kemudian menyalahkan dirinya karena acara lamaran mantan suaminya gagal. Seandainya ia tidak datang mungkin Janu sudah mewujudkan mimpinya menikah dengan Delilah dan sekarang mereka hidup bahagia bersama.

Mereka sendiri-sendiri. Itu yang terjadi. Delilah menjadi perawan tua, Janu menjadi duda tua dan perempuan itu menjadi janda tua. Satu hal lagi anak itu menjadi anak dari janda tua. Anak itu tumbuh tanpa ayah. Ia membutuhkan sosok ayah tapi janda tua itu tidak memberinya seorang ayah baru. Lalu anak itu kini berdiri di depan perempuan itu.

“Ibu. Jangan bersedih!”

Aku mengusap pipi ibu.

Kupeluk tubuh ibu erat-erat. Kuperhatikan dengan saksama, rambut ibu mulai memutih seperti foto dalam bingkai yang tergantung di dinding. Foto ibu, ayah dan si bayi.

***

Komentar