Langsung ke konten utama

Bukan Lelaki Bayangan


Aku memang tidak mencintainya, seperti katamu. Orang  yang aku cintai memang kamu, tapi izinkan aku mengemukakan alasan mengapa aku memilihnya.

Dia kharismatik, Ndra meskipun aku tidak mencintainya setidaknya orang tuaku menyetujuinya. Dia baik, Ndra. Aku kenal adiknya, kami sangat dekat dan kulihat dia sangat perhatian pada adiknya. Itu adalah salah satu yang membuatku memilihnya, dia mencintai keluarganya. Sudah dari dulu aku memiliki kepercayaan bahwa seorang  laki-laki yang memiliki adik perempuan ia akan memperlakukan perempuan dengan lebih baik daripada ia hanya memiliki seorang ibu atau memiliki kakak perempuan. Aku mencoba membuktikannya, Ndra. Cara menyayangiku seperti ia menyayangi adiknya, tidak terlalu berlebihan. Ia lelaki terhormat yang tak berani sedikit pun menyentuhku tapi perlu kau catat dia bukan gay. Dia hanya ingin menjaga pandangannya, menjaga perbuatannya dan itu sangat sulit dicari, Ndra. Lelaki di luar sana mengagung-angungkan cinta, tapi cinta mereka hanya kulit luarnya saja. Mereka begitu memuja-muja cinta dan berlebihan saat tidak mendapatkan atau saat ditinggalkan. Aku tak ingin seperti mereka, maka aku memilihnya agar aku tak berlebihan memujanya, mengharapkannya atau jika suatu saat nanti melepasnya.

Dia mendatangi rumahku, Ndra beberapa bulan yang lalu. Aku tak pernah membayangkan sosok laki-laki yang tinggi bahunya melebihi daguku, matanya tak lebih tajam dari tatapan mataku, dan memiliki lesung pipi serta lekuk manis di dagu akan datang ke rumahku. Mengetuk pintu dan berbicara pada ayahku. Aku melihat kesungguhannya dari tatapan matanya dan itu yang tak kulihat saat denganmu. Kau tak bisa memberi jawaban apa-apa padaku saat aku bertanya arah padamu, tapi dia menjawabku dengan tangkas.

Aku memang menyukaimu Ndra, tapi menurutku rasa sukaku itu terlalu berlebihan. Aku sampai tak bisa berpikir jernih. Setiap hari selalu dihantui bayang-bayangmu. Aku jadi sering salah melakukan sesuatu. Jantungku berdegup kencang, tanganku tiba-tiba gemetar hebat saat di dekatmu dan lama-lama itu menyiksaku. Aku terlihat seperti orang pesakitan, Ndra dan keinginanku yang sebenarnya adalah mencintai dengan cara normal. Aku ingin cinta yang wajar.

Kau tahu mengapa aku terlalu berlebihan mencintaimu? Ya, karena aku melakukan hal yang tidak waras. Bersamamu aku hanya ingin menemukan kebahagiaan itulah sebabnya aku membendung air di pelupuk mataku, aku rela menahan sakit sendiri, aku tak bisa berbagi hal-hal cengeng, aku ingin kau melihatku sebagai pribadi yang tegar, kuat dan tangguh, tapi entah mengapa bersamanya air bendunganku membanjir keluar saat ia mengatakan menyukaiku. Ia tidak mnyuruhku berhenti atau bahkan membentakku. Ia justru menyuruhku mengeluarkannya. Terkadang itu yang ingin aku lakukan di depanmu, Ndra, tapi entah kenapa semua jadi terasa sulit. Mungkin karena aku tahu sedari awal kau tak suka perempuan menangis di depanmu bahkan itu adalah ibumu sendiri.

Aku tak ingin membuatmu bersedih Ndra, tapi jujur dia bisa membuatku melakukan hal yang selama ini tak bisa kulakukan. Aku memilihnya.

Dia tak pernah  memperlihatkan marahnya di depanku, sebaliknya ia selalu tersenyum, begitu teduh menatapku. Saat itu aku berpikir lebih baik aku tak mencintai dia agar aku bisa terus merasakan perasaan seperti itu. Namun semakin lama pikiranku ditentang oleh perasaanku sendiri. Aku mulai menyukainya. Ia memiliki banyak kesamaan denganku bedanya ia lebih tahu segalanya daripada aku dan itu membuat topik pembicaraanku tak ada habisnya. Ia selalu berkembang dan berkembang. Aku memang tak bisa menyamainya tapi aku sedang berusaha dan dia pun menarikku agar bisa berada di sampingnya.

Banyak sekali perbedaan yang kurasakan saat dengannya. Ia tak pernah meninjukan kepalan tangannya ke bahuku, atau menoyor kepalaku seperti yang kau lakukan. Ia tak pernah menggenggam tanganku, menepuk bahuku, mengusap air mataku dan hanya dengan keberadaannya di sampingku saja aku sudah merasa nyaman. Sudah kubilang diawal ia lelaki terhormat. Ia hanya berani melempar senyumnya, menatapkan matanya saat berbicara tanda bahwa dia sedang berbicara denganku, mendengarku, menghargaiku. Ndra, ternyata sering bersamanya membuat cintaku padamu semakin menipis.

Bukannya aku selingkuh, Ndra. Kau dulu yang tak memberi kepastian. Perempuan manapun pasti butuh kepastian tentang arah tujuan selanjutnya. Kau dulu yang mengakhirinya dengan menyuruhku datang ke rumahmu. Kau menyuruhku bertanya pada orang tuamu. Bukankah itu terbalik Ndra, kau lelaki bukan wanita. Semestinya seorang  lelaki bisa mengambil keputusan sendiri barulah meminta pertimbangan tapi kau tidak. Aku keluar dari garismu Ndra, pergi meninggalkanmu, tapi aku sudah berpamitan padamu. Jadi jika suatu saat nanti kau bertanya aku sudah pernah mengatakannya jauh-jauh hari. Tepat saat aku pergi darimu, dia datang membawa harapan yang lebih nyata. Mungkin lebih baik begini, dijodohkan. Ayah tak akan sembarang pilih orang. Beliau lebih kupercayai daripada hatiku sendiri. Katanya hati tidak bisa berbohong tapi hatiku berkali-kali menipu diriku sendiri. Hati bisa bicara katanya, itu semua bohong. Rasanya aku tak mau lagi menggunakan hatiku, Ndra. Lebih baik aku menggunakan logikaku karena hati yang membuat perasaan kecewa, marah, benci, iri dan segala-galanya. Tapi Ndra kalau aku tak menggunakan hati sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu dan ternyata aku tetap menggunakannya. Ndra, ternyata hatiku sekali lagi mengkhianatiku. Aku jatuh cinta kepadanya.

Ndra, ayah percaya dia yang terbaik untukku. Ayah tahu tentang dia sejak tiga tahun yang lalu bahkan jauh hari sebelum aku mengenalnya. Aku baru tahu dari ayah ketika beliau bercerita. Ia anak yang menghormati kedua orang tuanya, baik hati, murah senyum dan diterima di masyarakat. Ia salah satu orang terpandang di desa. Sederhana tapi di balik itu ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Itulah sebabnya aku menerimanya meskipun kukatakan diawal aku tidak mencintainya.

Aku pun mendapatkan jawaban cinta yang hakiki darinya. Ia mengatakan cinta yang hakiki adalah kepada Sang Pencipta yang menjadikan kita ada. Jadi, mulai saat itu aku lebih mendekatkan diri kepada-Nya, terus berdoa. Jika dia yang terbaik maka dekatkanlah dan jika tidak maka jauhkanlah. Tuhan menjawab doaku, Ndra. Semakin lama kami dekat, semakin dekat pula aku pada Tuhanku. Ia meluruskanku dengan sangat hati-hati. Ia memberiku jawaban dari setiap pertanyaan yang kuajukan. Sekilas ia terlihat seperti pendiam tapi sesungguhnya ia pandai berbicara. Catat Ndra bukan suka berbicara tapi dia lebih bisa menempatkan posisi, kapan waktunya ia berbicara dan kapan ia harus diam. Kata orang Jawa empan papan.

Ia bukan orang yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan, ternyata ia telah lama mengamatiku Ndra. Dia sudah tahu banyak tentangku, tentangmu dan tentang kita. Begitu hati-hati caranya mendekatiku. Dia tahu aku gadis yang meletup-letup Ndra dan dia cukup sabar menerimaku. Bukankah kami cocok? Dia pemadam kebakaran terbaik, hakim garis yang adil, costumer service yang ramah dan tentu saja calon imam yang terhebat. Dia mampu memadamkan letupan-letupanku, mampu memberi tanda saat aku keluar garis, melayaniku dengan senyum tulusnya dan tentu saja sebagai calon pemimpin yang berani mengambil keputusan serta menanggung resikonya.

Bukankah dia hebat, Ndra. Lelaki bayanganku dulu adalah kamu Ndra dan ternyata lelaki yang ada di depanku bukan lelaki bayanganku. Lelaki itu jauh dari bayangan dan dia begitu sempurna - lelaki pilihan ayahku.

Kau sudah seharusnya merasakan juga kebahagiaanku di sana. Bukankah memang harus demikian? Seperti katamu dulu “bahagiaku adalah bahagiamu, bahagiamu adalah bahagiaku”. Bagaimana kabarmu sekarang, Ndra? Apa orang tuamu sudah merestui hubungan barumu? Semoga saja perempuan itu lebih beruntung daripada aku, lebih cantik, lebih berkelas, lebih terhormat dan menyandang gelar seambrek. Semoga kalian berbahagia. Titip salam untuk kedua orang tuamu.

Komentar