Selasa, 16 April 2013

Home2

Desain rumah kedua.
Karya tangan amatiranku. Semoga menginspirasi. :D
 
 
 Tampak Depan

 
 
 
 
=
=
=
=
=
 
 
 
Tampak Samping
 
 


Minggu, 14 April 2013

Tak Butuh Obat

Ada asa katanya?
Lalu aku pulang dengan menyematkannya di sudut kanan bahuku.
Ternyata itu terakhir kalinya aku membawa keberanianku.
Tak ada nyali lagi.
Rongga-rongganya telah ditutup.
Asap mengepul menjauh.
Mereka menyatakan aku mundur.
Lalu kusematkan kedua kalinya di sudut kiri bahuku.
Aku pulang sia-sia.
Ia telah pergi sebelum selesai ku bercerita.
Aku datang kepadanya tapi dia lari.
Keberanian yang dipertaruhkan telah disia-siakan.
Maka aku sebut itu sia-sia.
Itu luka.
Luka yang ia tak mengerti dari mana asalnya.
Dia hanya tahu asap mengepul itu menjauh dariku.
Dia lupa jika aku berdiri jauh-jauh hari di tempatnya.
Menunggunya membawa keberanian lainnya.
Tapi dia datang dengan luka kau tahu.
Luka yang aku sendiri tak tahu bentuknya.
Hanya terasa sakit tapi tak mengerti seberapa besar bentuknya bahkan tak tahu rupanya.
Mereka mengatakan aku terluka.
Tapi kubilang semua baik-baik saja.
Semakin lama mereka bilang semakin parah.
Tapi bagaimana aku tahu separah itu jika aku tak punya alat tuk mengukurnya.
Tak punya alat tuk tahu menahu bagian di dalam sana.
Aku hanya tahu debaran jantungku sangat cepat.
Dan mereka bilang luka itu bekerja dengan baik.
Aku ternganga.
Dia tahu aku ada di depannya.
Tapi dia tak membawa obatnya.
Dia berdiri.
Tapi tak membawa obatnya.
Dia pergi.
Tapi tak mengambil obatnya.
Aku hampir sekarat menunggunya.
Mengemis obat lain, meminumnya setengah-setengah.
Dan tiba saat dia muncul kembali,
obat itu diberikan pada orang yang jelas-jelas tak membutuhkannya.
Aku melempar suaraku.
Dia hanya menoleh dan bertanya, Siapa?
Aku tak butuh obat lagi.
Aku tak butuh nyali.
Tak butuh berani.
Aku hanya butuh dia pergi.
Aku ingin sembuh tanpa harus mengharap obatnya.
 
***

Kamis, 11 April 2013

DELIJUN


Aku pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang menunggu seorang laki-laki membalas cinta sampai berpuluh-puluh tahun. Pernah pula kudengar seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki. Ya hanya seorang dan jika bukan laki-laki tersebut ia tidak akan menikah. Bukankah cinta itu gila?

Lalu bagaimana dengan perempuan yang berdiri di depanku itu?

Kata orang lima puluh tahun yang lalu ada beberapa anak kecil yang bermain di dekat rel kereta api pada sore hari. Pagi harinya mereka menghadang kereta api karena itu adalah satu-satunya transportasi yang terdekat dengan sekolah kala itu. Salah seorang dari anak itu bernama Delia. Nama yang cantik bukan dan ia mempunyai julukan si hitam. Kata orang memang zaman dulu perempuan berkulit gelap sering dijadikan bahan ejekan. Tak heran jika Delilah mendapatkan julukan yang tak pernah diharapkan dan entah ada apa dengannya hingga mau menerima julukan itu. Mungkin karena Janu yang memanggilnya begitu. Ia sering menimpuk Delilah saat berjualan kue keliling untuk membantu ekonomi keluarganya di sepanjang stasiun. Lagi-lagi Delilah menerimanya dengan lapang.

 Janu bukan tetangga Delilah dan bukan pula teman di sekolahnya. Mereka bertemu karena sering datang ke stasiun. Janu berjualan kue keliling, sedangkan Delilah setiap sore menunggu ayahnya pulang. Tak ada yang tahu ayah Delilah pergi kemana sejak pergi meninggalkan ibunya dengan kereta. Ia hanya memiliki keyakinan suatu saat nanti ayahnya akan pulang dengan kereta.

“Del, hari ini kueku sisa banyak. Mau ambil satu?”

“Tidak, Jan. Aku tak punya uang.”

“Ini gratis. Ambil saja.”

“Benar, kamu tidak akan menyesal?”

Janu mengangguk. Mereka berdua duduk di rel kereta api sambil menikmati sore dengan sepotong roti.

“Enak, kau sendiri yang membuatnya?”

“Bukan. Ibuku. Memang kue buatan ibuku yang paling enak. Kalau kami punya uang ibu akan membuka toko roti yang setiap harinya bisa menghasilkan banyak uang.”

“Apa aku boleh berkunjung di toko roti ibumu?”

“Tentu saja.”

Saat anak-anak itu asyik bercakap-cakap datanglah Rosiyah yang terlihat bahagia.

“Del, ayo pulang!” ajak Rosiyah.

Delilah menoleh. “Ada apa, Bu?”

“Bapakmu pulang. Dia mau ketemu kamu. Ayo pulang! Kamu mau di sekolahkan di kota.”

Delilah menatap Janu. Janu pun melihat Delilah dengan tatapan yang sama. Suatu kebanggaan di desa jika anaknya bisa sekolah di kota dan Delilah pun akhirnya pulang bersama ibunya. Janu duduk kembali di atas rel menikmati sisa kuenya. Wajahnya sendu. Ia ditinggal pergi teman bermainnya.

Sehari setelah itu Delilah tak pernah muncul di stasiun. Janu berjalan menelusuri rel seorang diri. Ia menenteng kue-kue yang masih sisa menuju rumah.

“Janu kok sudah pulang?” tanya ibunya.

“Janu capek, Bu. Mau istirahat dulu,” jawabnya dengan lesu.

Seorang gadis berdiri di samping Marwah, ibu Janu. Ia menatap haru. Janu yang ia kenal adalah periang dan yang di depan matanya seperti orang lain. Gadis itu berada di rumah Janu untuk belajar membuat kue dari Marwah. Pemandangan yang tidak biasa di mata gadis itu dan membuatnya berteman dengan Janu.

Sebulan, setahun hingga dua puluh tahun Janu berteman dengan gadis itu. Sampailah pada suatu titik jenuh dalam pertemanan, Janu memutuskan untuk berkeluarga bersama si gadis. Pada awalnya semua baik-baik saja hingga mereka dikaruniai anak perempuan yang cantik. Mulai muncullah prahara rumah tangga, kebutuhan ini itu yang tidak ada habis-habisnya dan ditambah kemunculan Delilah di depan Janu.

Delilah telah berubah menjadi cantik, kulitnya bersih. Kabar burung berkata ia telah sukses dan membuka sebuah toko roti yang diberi nama Januari dan membuka cabang di desa. Suatu hari ia datang ke rumah Janu dan disambut oleh si gadis. Sebersit rasa tak enak muncul di hati si gadis. Seenaknya saja perempuan itu datang ke rumah batinnya. Sesaat Janu muncul dari balik tirai pintu kamar. Wajahnya langsung berseri. Ia menyambut Delilah dengan berlebihan dan tak menghiraukan si gadis. Anaknya menangis tidak dihiraukan. Rasa berapi-api melanda hati si gadis. Pada malam hari terjadi pertempuran hebat dan diakhiri dengan perpisahan. Si gadis menangis pada malam itu di depan sang bayi, sedangkan Janu pergi dari rumah mentalak si gadis.

Lama-lama terdengar kabar bahwa Delilah akan dilamar Janu. Akhirnya si gadis datang menyaksikannya. Ia berdiri di depan rumah Delilah dengan menggendong bayinya. Entah mengapa Janu tak sedikitpun berniat membatalkan niatnya. Janu tetap melanjutkannya. Namun, si gadis melihat ada yang berbeda di balik wajah Delilah. Delilah menatap dalam-dalam bayi yang digendong si gadis lalu menolak lamaran Janu. Berita itu menyebar seantero warga. Muncul bisik-bisik tetangga bahwa Janu meninggalkan si gadis karena ingin melamar Delilah tapi akhirnya ditolak. Ada pula yang berkata Janu menceraikan si gadis karena tidak tahan dengan rasa cemburu gadis saat melihat Delilah kembali ke kehidupan Janu sampai akhirnya ia melamarnya dan berakhir ditolak. Lalu beberapa orang juga membuat versi lain Delilah datang mengganggu keluarga Janu sampai bercerai kemudian saat Janu melamar agar tak dituduh penjahat ia menolaknya. Hanya Tuhan, si gadis, Janu dan Delilah yang tahu kebenarannya.

Lalu aku mempunyai versi lain dari perempuan yang berdiri di depanku itu. Ia pernah menikah dan bercerai. Katanya cukup sekali menikah, mencintai laki-laki dan bercerai. Tidak ada lagi hal yang indah dalam hidupnya. Ia mencintai laki-laki bernama Janu dan tidak membenci perempuan yang bernama Delilah. Sedari awal perempuan itu tahu Janu tidak bisa melupakan Delilah. Ia menikahi perempuan itu dengan satu alasan karena hasil masakannya seperti ibunya. Bahkan ketika perempuan itu mengandung sebenarnya ia tak menginginkan bayi dalam kandungan si istri. Ia selalu berambisi menemukan Delilah dan menikahinya. Sampai akhirnya Delilah datang ke rumah satu bulan setelah perempuan itu melahirkan. Janu terlihat senang doanya terkabul. Pada malam harinya perempuan itu menangis dan Janu mendekatinya tapi perempuan itu meminta agar diceraikan. Janu kaget dan tidak bisa semudah itu berakhir. Ternyata meskipun berambisi menikahi Delilah, ia masih mencintai keluarga kecilnya. Perempuan itu mengancam bunuh diri jika tak diceraikan, maka malam itu juga Janu menceraikannya dengan berat hati dan meninggalkan istri dan bayinya.

Beberapa bulan setelah itu terdengar kasak-kusuk Janu akan melamar Delilah - kembang desa yang amat diagung-agungkan. Tepat hari lamaran, perempuan itu menyempatkan diri datang untuk menghormati mantan suaminya. Ia melihat mantan suaminya menatap ke arah bayi yang digendongnya tapi tetap melanjutkan acara lamaran. Melihat hal tersebut Delilah juga ikut menatap bayi itu. Ajaib tiba-tiba Delilah menolak Janu. Perempuan itu terdiam. Kemudian menyalahkan dirinya karena acara lamaran mantan suaminya gagal. Seandainya ia tidak datang mungkin Janu sudah mewujudkan mimpinya menikah dengan Delilah dan sekarang mereka hidup bahagia bersama.

Mereka sendiri-sendiri. Itu yang terjadi. Delilah menjadi perawan tua, Janu menjadi duda tua dan perempuan itu menjadi janda tua. Satu hal lagi anak itu menjadi anak dari janda tua. Anak itu tumbuh tanpa ayah. Ia membutuhkan sosok ayah tapi janda tua itu tidak memberinya seorang ayah baru. Lalu anak itu kini berdiri di depan perempuan itu.

“Ibu. Jangan bersedih!”

Aku mengusap pipi ibu.

Kupeluk tubuh ibu erat-erat. Kuperhatikan dengan saksama, rambut ibu mulai memutih seperti foto dalam bingkai yang tergantung di dinding. Foto ibu, ayah dan si bayi.

***

Rabu, 10 April 2013

Bukan Lelaki Bayangan


Aku memang tidak mencintainya, seperti katamu. Orang  yang aku cintai memang kamu, tapi izinkan aku mengemukakan alasan mengapa aku memilihnya.

Dia kharismatik, Ndra meskipun aku tidak mencintainya setidaknya orang tuaku menyetujuinya. Dia baik, Ndra. Aku kenal adiknya, kami sangat dekat dan kulihat dia sangat perhatian pada adiknya. Itu adalah salah satu yang membuatku memilihnya, dia mencintai keluarganya. Sudah dari dulu aku memiliki kepercayaan bahwa seorang  laki-laki yang memiliki adik perempuan ia akan memperlakukan perempuan dengan lebih baik daripada ia hanya memiliki seorang ibu atau memiliki kakak perempuan. Aku mencoba membuktikannya, Ndra. Cara menyayangiku seperti ia menyayangi adiknya, tidak terlalu berlebihan. Ia lelaki terhormat yang tak berani sedikit pun menyentuhku tapi perlu kau catat dia bukan gay. Dia hanya ingin menjaga pandangannya, menjaga perbuatannya dan itu sangat sulit dicari, Ndra. Lelaki di luar sana mengagung-angungkan cinta, tapi cinta mereka hanya kulit luarnya saja. Mereka begitu memuja-muja cinta dan berlebihan saat tidak mendapatkan atau saat ditinggalkan. Aku tak ingin seperti mereka, maka aku memilihnya agar aku tak berlebihan memujanya, mengharapkannya atau jika suatu saat nanti melepasnya.

Dia mendatangi rumahku, Ndra beberapa bulan yang lalu. Aku tak pernah membayangkan sosok laki-laki yang tinggi bahunya melebihi daguku, matanya tak lebih tajam dari tatapan mataku, dan memiliki lesung pipi serta lekuk manis di dagu akan datang ke rumahku. Mengetuk pintu dan berbicara pada ayahku. Aku melihat kesungguhannya dari tatapan matanya dan itu yang tak kulihat saat denganmu. Kau tak bisa memberi jawaban apa-apa padaku saat aku bertanya arah padamu, tapi dia menjawabku dengan tangkas.

Aku memang menyukaimu Ndra, tapi menurutku rasa sukaku itu terlalu berlebihan. Aku sampai tak bisa berpikir jernih. Setiap hari selalu dihantui bayang-bayangmu. Aku jadi sering salah melakukan sesuatu. Jantungku berdegup kencang, tanganku tiba-tiba gemetar hebat saat di dekatmu dan lama-lama itu menyiksaku. Aku terlihat seperti orang pesakitan, Ndra dan keinginanku yang sebenarnya adalah mencintai dengan cara normal. Aku ingin cinta yang wajar.

Kau tahu mengapa aku terlalu berlebihan mencintaimu? Ya, karena aku melakukan hal yang tidak waras. Bersamamu aku hanya ingin menemukan kebahagiaan itulah sebabnya aku membendung air di pelupuk mataku, aku rela menahan sakit sendiri, aku tak bisa berbagi hal-hal cengeng, aku ingin kau melihatku sebagai pribadi yang tegar, kuat dan tangguh, tapi entah mengapa bersamanya air bendunganku membanjir keluar saat ia mengatakan menyukaiku. Ia tidak mnyuruhku berhenti atau bahkan membentakku. Ia justru menyuruhku mengeluarkannya. Terkadang itu yang ingin aku lakukan di depanmu, Ndra, tapi entah kenapa semua jadi terasa sulit. Mungkin karena aku tahu sedari awal kau tak suka perempuan menangis di depanmu bahkan itu adalah ibumu sendiri.

Aku tak ingin membuatmu bersedih Ndra, tapi jujur dia bisa membuatku melakukan hal yang selama ini tak bisa kulakukan. Aku memilihnya.

Dia tak pernah  memperlihatkan marahnya di depanku, sebaliknya ia selalu tersenyum, begitu teduh menatapku. Saat itu aku berpikir lebih baik aku tak mencintai dia agar aku bisa terus merasakan perasaan seperti itu. Namun semakin lama pikiranku ditentang oleh perasaanku sendiri. Aku mulai menyukainya. Ia memiliki banyak kesamaan denganku bedanya ia lebih tahu segalanya daripada aku dan itu membuat topik pembicaraanku tak ada habisnya. Ia selalu berkembang dan berkembang. Aku memang tak bisa menyamainya tapi aku sedang berusaha dan dia pun menarikku agar bisa berada di sampingnya.

Banyak sekali perbedaan yang kurasakan saat dengannya. Ia tak pernah meninjukan kepalan tangannya ke bahuku, atau menoyor kepalaku seperti yang kau lakukan. Ia tak pernah menggenggam tanganku, menepuk bahuku, mengusap air mataku dan hanya dengan keberadaannya di sampingku saja aku sudah merasa nyaman. Sudah kubilang diawal ia lelaki terhormat. Ia hanya berani melempar senyumnya, menatapkan matanya saat berbicara tanda bahwa dia sedang berbicara denganku, mendengarku, menghargaiku. Ndra, ternyata sering bersamanya membuat cintaku padamu semakin menipis.

Bukannya aku selingkuh, Ndra. Kau dulu yang tak memberi kepastian. Perempuan manapun pasti butuh kepastian tentang arah tujuan selanjutnya. Kau dulu yang mengakhirinya dengan menyuruhku datang ke rumahmu. Kau menyuruhku bertanya pada orang tuamu. Bukankah itu terbalik Ndra, kau lelaki bukan wanita. Semestinya seorang  lelaki bisa mengambil keputusan sendiri barulah meminta pertimbangan tapi kau tidak. Aku keluar dari garismu Ndra, pergi meninggalkanmu, tapi aku sudah berpamitan padamu. Jadi jika suatu saat nanti kau bertanya aku sudah pernah mengatakannya jauh-jauh hari. Tepat saat aku pergi darimu, dia datang membawa harapan yang lebih nyata. Mungkin lebih baik begini, dijodohkan. Ayah tak akan sembarang pilih orang. Beliau lebih kupercayai daripada hatiku sendiri. Katanya hati tidak bisa berbohong tapi hatiku berkali-kali menipu diriku sendiri. Hati bisa bicara katanya, itu semua bohong. Rasanya aku tak mau lagi menggunakan hatiku, Ndra. Lebih baik aku menggunakan logikaku karena hati yang membuat perasaan kecewa, marah, benci, iri dan segala-galanya. Tapi Ndra kalau aku tak menggunakan hati sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu dan ternyata aku tetap menggunakannya. Ndra, ternyata hatiku sekali lagi mengkhianatiku. Aku jatuh cinta kepadanya.

Ndra, ayah percaya dia yang terbaik untukku. Ayah tahu tentang dia sejak tiga tahun yang lalu bahkan jauh hari sebelum aku mengenalnya. Aku baru tahu dari ayah ketika beliau bercerita. Ia anak yang menghormati kedua orang tuanya, baik hati, murah senyum dan diterima di masyarakat. Ia salah satu orang terpandang di desa. Sederhana tapi di balik itu ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Itulah sebabnya aku menerimanya meskipun kukatakan diawal aku tidak mencintainya.

Aku pun mendapatkan jawaban cinta yang hakiki darinya. Ia mengatakan cinta yang hakiki adalah kepada Sang Pencipta yang menjadikan kita ada. Jadi, mulai saat itu aku lebih mendekatkan diri kepada-Nya, terus berdoa. Jika dia yang terbaik maka dekatkanlah dan jika tidak maka jauhkanlah. Tuhan menjawab doaku, Ndra. Semakin lama kami dekat, semakin dekat pula aku pada Tuhanku. Ia meluruskanku dengan sangat hati-hati. Ia memberiku jawaban dari setiap pertanyaan yang kuajukan. Sekilas ia terlihat seperti pendiam tapi sesungguhnya ia pandai berbicara. Catat Ndra bukan suka berbicara tapi dia lebih bisa menempatkan posisi, kapan waktunya ia berbicara dan kapan ia harus diam. Kata orang Jawa empan papan.

Ia bukan orang yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan, ternyata ia telah lama mengamatiku Ndra. Dia sudah tahu banyak tentangku, tentangmu dan tentang kita. Begitu hati-hati caranya mendekatiku. Dia tahu aku gadis yang meletup-letup Ndra dan dia cukup sabar menerimaku. Bukankah kami cocok? Dia pemadam kebakaran terbaik, hakim garis yang adil, costumer service yang ramah dan tentu saja calon imam yang terhebat. Dia mampu memadamkan letupan-letupanku, mampu memberi tanda saat aku keluar garis, melayaniku dengan senyum tulusnya dan tentu saja sebagai calon pemimpin yang berani mengambil keputusan serta menanggung resikonya.

Bukankah dia hebat, Ndra. Lelaki bayanganku dulu adalah kamu Ndra dan ternyata lelaki yang ada di depanku bukan lelaki bayanganku. Lelaki itu jauh dari bayangan dan dia begitu sempurna - lelaki pilihan ayahku.

Kau sudah seharusnya merasakan juga kebahagiaanku di sana. Bukankah memang harus demikian? Seperti katamu dulu “bahagiaku adalah bahagiamu, bahagiamu adalah bahagiaku”. Bagaimana kabarmu sekarang, Ndra? Apa orang tuamu sudah merestui hubungan barumu? Semoga saja perempuan itu lebih beruntung daripada aku, lebih cantik, lebih berkelas, lebih terhormat dan menyandang gelar seambrek. Semoga kalian berbahagia. Titip salam untuk kedua orang tuamu.

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...