Langsung ke konten utama

Inilah Rasanya



“Cantik,” pujiku melihat diri sendiri di depan kaca mobil orang. Jantungku berdebar-debar ketika melangkah gerbang sekolah yang lama tak kusinggahi. Sebuah dress casual yang berani kupakai, tidak akan terlihat glamour untuk sebuah acara reuni SMA. Cachi teman dekatku belum juga menampakkan batang hidungnya tapi kamu sudah berdiri di sana dan bahkan mungkin sebelum aku datang.

Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, mengingatmu memakai seragam sekolah berdiri di depan kelasku dulu. Kau masih sama dalam hal membuat jantungku berdebar.

“Hai!” suara kecil Cachi mengagetkanku. Senyum dan sifat kekanak-kanakannya ternyata belum juga hilang. Cachi pun mengajakku bergabung dengan kerumunan alumni yang lain dengan sekali tarik.  

“Mau ikut aku ambil minuman?” tanyanya setelah beberapa saat kami tukar cerita.

Aku menoleh. Kulihat banyak pilihan yang menggiurkan di beberapa meja yang tersaji. Secepat langkah Cachi, aku pun sudah berada di belakangnya tetapi akhirnya aku memilih sebuah meja yang dekat denganmu. Ajaib, kau mendekatiku.

Panik. Tak karuan. “Maaf.” Aku tak sengaja menginjak kakimu.

“Tak apa,” jawabmu.

Tuhan bolehkah aku dulu yang mengatakannya? Tidak-tidak.

Masih seperti dulu hari ini kau menatapku dengan tersenyum. Meledak – sebentar lagi perasaan di dalam sini meledak kalau caranya seperti itu. Ternyata aku masih berharap.

“Kamu juga kuliah di tempatku kan?” tanyaku membuka obrolan.

Kau berhenti menusuk makanan dengan garpu di tanganmu.

“Aku pernah beberapa kali melihatmu. Jadi cuma memastikan saja,” lanjutku meluruskan niat.

Kau terdiam beberapa saat setelah memasukkan kue ke dalam mulutmu.

“Kamu cewek yang suka memakai topi besar saat study tour dulu kan?” tanyamu.

Deg. Kau ingat tentangku.

Memang sengaja aku memakai topi besar itu kemana-mana dulu, agar terlihat mencolok dibandingkan yang lain dan agar kau mengingatku.

“Kenalkan aku Agy,” ujarku.

“Aku Iqbal,” ujarmu.

Aku sudah tahu, Bal. Bahkan di hari sebelum kamu memberitahuku. Selama enam tahun lebih bahkan berlanjut sampai saat ini aku menyelidikimu. Aku membajak semua akun-akunmu dan mendownload foto-fotomu, melihat video-videomu, membaca semua hal yang kau tulis di blogmu dan seketika tertawa melihat kebodohanku.

Iqbal, aku menyukaimu. Aku menyukaimu bahkan sebelum aku tahu kau mengambil studi kedokteran. Sebelum aku tahu kau masuk di perguruan tinggi yang sama denganku. Sebelum aku mengetahui namamu. Sebelum aku memakai topi besar mencolok saat study tour dan sebelum kau ada yang memiliki. Sampai saat ini aku tak ada nyali untuk mengatakan perasaanku. Rasa takutku akan merasa bosan dan meninggalkanmulah yang menghalangiku. Aku takut menyakitimu.

Kau tahu? Aku menyukaimu sejak kau lewat di depanku setiap pagi hari, melintas koridor sekolah berlawanan arah denganku, menebarkan senyummu ke arahku, saat kau sering makan di kantin belakang kelasku, saat kita bertemu di perjalanan menuju masjid, dan saat kita jadi sering bertemu.

Ah, itu dulu Bal. Sekarang ini aku tetap menyukaimu meskipun kita jarang bertemu, melihatmu hanya sekilas, melihat punggungmu, hanya melihat fotomu, videomu, tulisanmu di blog dan melihat kau dengan yang lain. Tak apa, sekarang aku bisa berbicara denganmu. Hal yang sejak dulu ingin kulakukan padamu.

“Gy. Ambil minumnya lama banget. Eh, Iqbal. Pinjem Agy dulu ya.”

Wajahku memberengut. Apa sih maksud Cachi? Ini memalukan. Dia pikir aku barang yang bisa dipinjam. Sekilas Iqbal tersenyum dan menggerakkan jemarinya ke depan saat aku menoleh ke belakang.

“Ada kejutan buat kamu. Tunggu sebentar ya!” seru Cachi.

Kejutan. Kejutan dari mana? Kurasa tak ada di dalam list acara.

“Taraaaa.” Cachi berteriak keras dari belakangku. Aku menoleh, mencari apa yang disebutnya kejutan.

Deg. Sosok itu. Aku yakin aku mengenalnya meskipun hanya melihat dari punggungnya. Ketika ia berbalik dan menatapku Tuhan mengapa rasanya sakit.

“Apa kabar, Gy? Lama tak bertemu.”

“Baik. Kamu sendiri bagaimana?”

Tuhan, aku ijinkan kau menghilangkanku dari tempat ini. Aku sudah tak kuat lagi di sini. Dia muncul lagi.

“Sama, aku juga baik. Kamu tambah cantik ya. Aku tambah suka.”

Deg. Nyeri ini muncul lagi.

“Kamu masih ingat aku kan?”

“Masih.”

“Berarti kamu juga ingat kalau aku masih nunggu kamu sampai saat ini?”

Deg. Aku mengalihkan pandanganku kepadamu yang masih berdiri di depan meja tadi.

“Aku masih ingat.”

“Sekarang aku sudah berubah, Gy. Aku bukan anak kecil lagi dan kurasa usia bukan lagi kendalanya kan?”

Sakit. Rasanya benar-benar sakit Tuhan. Selama ini kau mengizinkanku berlari jauh tapi pada akhirnya kau mempertemukanku dengannya lagi.

“Gy, kamu masih ragu? Aku tidak main-main. Haruskah kukatakan sekali lagi? Aku mencintaimu, Gy.”

Kupilih diam.

Tuhan mengapa rasa dicintai lebih menyakitkan daripada mencintai? Tuhan mengapa kami tidak bisa saling mencintai saja? Mengapa harus dia yang mencintaiku dan aku yang dicintainya? Mengapa aku harus mengenal Iqbal dan jatuh hati dulu padanya?

“Gy, apa aku masih kurang sesuai seperti yang kamu harapkan?”

Air mata yang susah payah kubendung akhirnya tumpah. “Cukup, Don!” seruku dengan lirih.  

“Gy, kamu menangis?”

“Tidak,” jawabku seraya menghapus air yang sempat mengalir, “Don, aku mau minta maaf sekali lagi. Maaf. Aku masih belum bisa.”

“Kenapa, Gy?”

Dia mencengkram kedua lenganku.

“Don, cinta tak bisa dipaksakan. Cinta itu kebebasan. Kalau kamu mencintaiku dengan syarat- syaratku itu bukan lagi kebebasan. Aku terlihat jahat, Don,” ujarku seraya berusaha membuat tangannya terlepas dari lenganku.

“Ini semua kemauanku, Gy.” Ia semakin mengeraskan tekanan ke lenganku.

“Tidak, Don. Kamu melakukannya karenaku. Kamu terpaksa. Aku tahu kamu terpaksa.”

“Tidak, Gy. Aku ikhlas.”

Pyar. Gelas yang kupegang jatuh karena tangannya kini terlalu erat memegang pergelangan tanganku.

 Sadar menjadi pusat perhatian aku memohon diri pergi dan berlari lagi. Benar-benar pengecut. Aku memiliki kesempatan berlari dan menggunakannya dengan baik sekali lagi.

Sebuah tempat persembunyian yang kupilih adalah di belakang kelasku dulu. Aku bersembunyi di sini agar bisa menangis sepuasku tanpa ada yang mendengar karena terletak dibagian sudut sekolah. Suara Doni dan Cachi yang mencariku terdengar begitu jelas. Aku memeluk lututku erat, membenamkan kepalaku, dan terus melanjutkan menangis.

Tuhan mengapa rasanya masih sakit padahal aku sudah berlari? Aku sudah berlari jauh tapi rasanya dia masih ada di depanku. Mengapa ia tak menyerah saja? Mengapa ia tetap keras kepala menyukaiku? Mengapa rasanya dicintai lebih menyakitkan daripada mencintai? Bagaimana aku membayarnya, membayar dia yang mencintaiku? Aku tak bisa membayarnya Tuhan. Apakah ini yang akan terjadi kalau aku mengatakan mencintai Iqbal? Apakah Iqbal akan sesakit ini bila tahu aku mencintainya padahal dia sudah ada yang memiliki? Apakah ini karma? Apakah seharusnya aku berhenti menyukai Iqbal?

Sebuah lollipop berada dalam genggaman tanganku. Iqbal duduk di sampingku.

“Lanjutkanlah! Aku hanya ingin duduk di sini sebentar mengenang tempat tongkronganku saat istirahat dulu.”

Aku buru-buru menghapus air mataku. Pasti aku terlihat jelek dalam keadaan seperti ini.

“Kenapa berhenti? Apa aku mengganggu?”

Aku menggeleng.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku.

“Kebetulan saat aku berjalan-jalan di sekitar sini aku jadi ingat tempat tongkronganku dulu. Tak tahu ternyata kamu di sini juga.”

“Kau tidak mengikutiku kan?”

“Tidak.”

“Lalu permen ini?”

“Ini trik dari calon dokter yaitu dengan memberikan permen pada anak kecil yang takut disuntik agar berhenti menangis tapi tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin memberikannya padamu. ”

“Terima kasih.”

Aku tersenyum dan membuka bungkus lollipop.

“Kenapa harus lari?”

Aku hanya mampu menatapnya.

“Maaf tadi aku tidak sengaja mendengar. Tapi mengapa sulit untuk mengatakan kau menyukainya?”

“Tidak. Aku tidak menyukainya.”

“Lalu mengapa kamu harus menangis di hadapannya?”

“Karena sudah tak sanggup menahannya. Hanya itu saja.”

“Kenapa wanita selalu menggunakan jurus itu?”

“Itu bukan jurus. Itu refleks alami.”

“Jadi wanita bisa menangis dimana saja jika dalam posisi terdesak?”

Aku diam.

“Aku pernah mendengar wanita hanya akan menangis di depan orang yang disukainya. Jadi itu salah?”

“Tidak selalu begitu.”

“Begitu ya.”

“Ya begitu.”

“Lalu mengapa kamu berhenti menangis saat aku di sini?”

Deg. Tuhan apa yang harus kukatakan?

“Kau tak bisa jawab?”

“Aku ingin bertanya dulu sebelum menjawab. Mengapa lelaki sepertimu ingin tahu? Bukankah kau sudah mempunyai seseorang yang bisa kau tanyai?”

Kau hanya tersenyum.

“Kau juga tidak bisa menjawab kan?”

“Hmm. Mungkin karena wanita sering salah paham jadi aku harus bertanya dengan yang lainnya.”

“Kurasa itu bukan jawaban.”

“Baiklah kalau kau memaksa. Kau.”

“Apa?”

“Itu jawabannya.”

“Jawaban apa? Kau hanya memanggilku.”

“Karena yang menangis itu kamu.”

Deg. Pipiku hangat.

“Sekarang giliranmu.”

“Baiklah. Jawabannya aku tak perlu lagi menangis karena kau sudah berhasil menenangkanku. Aku menyukaimu, Bal.”

“Kenapa kamu mengatakannya?”

“Apa?”

“Seharusnya aku yang mengatakannya dulu. Aku menyukai Agy.”

Deg. Inikah rasanya diterima. Ternyata sama indahnya dengan mencintai dan tak sesakit perasaan dicintai.

Tiba-tiba dari ujung tembok Doni muncul tergopoh-gopoh. Ia terlihat kecapekan mungkin karena mencariku. Satu hal yang ia lakukan di ujung sana, melihatku denganmu. Ia berkacak pinggang, menggerakkan kepalanya dan mengacak rambutnya sebentar. Aku pun menggenggam tanganmu erat. Tidak akan lari lagi.

“Don, inilah alasannya mengapa aku tidak bisa mencintaimu,” kataku.

***

Komentar