Langsung ke konten utama

Hello Goodbye






Rasanya sakit ketika kita menyukai seseorang tanpa kata. Kau harus memendamnya dan ketika ia akan pergi jauh kau hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri.
Berkali-kali aku mengerutkan keningku. Mencari jalan keluar agar Agia tetap ada di sini, tapi setiap kali aku mencobanya bagaimana pun caranya ia tetap akan pergi. Aku sedang memulainya tapi Agia telah mengakhirinya dengan topi hitam kebanggaan setiap mahasiswa. Tepat tiga setengah tahun. Itu sangat gila untukku. Dia akan segera menjadi seorang dokter muda dan aku masih saja berstatus mahasiswa akhir.
“Daya kan?”
“Eh, Agia? Kamu tahu namaku dari mana?”
“Kamu juga tahu namaku dari mana?” tanyanya balik.
Aku duduk di depan rektorat menunggu temanku. Tak kusangka aku menemukannya di sini. Dia dan kacamatanya.
 Ia tersenyum dan tetap tak menjawab pertanyaanku.
Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, “Ngapain di sini, Gi?”
“Habis lari-lari. Capek juga ya ternyata.”
“Tapi bukannya jadi sehat pak dokter?”
Ia tersenyum lagi. “Aneh juga lari-lari mengelilingi kampus di saat-saat terakhir seperti ini.”
Deg. Jantungku mengerut.
“Selamat ya. Kamu sudah berhasil lulus tiga setengah tahun.”
“Terima kasih. Tapi kamu tahu dari mana?”
Deg. Aku tertangkap basah.
“Emm, aku punya telinga seorang mata-mata. Jadi jika ada sedikit berita tentang teman-teman SMA dulu aku tahu.”
“Oh, ya? Terus kapan kamu menyusul?” Senyumnya melengkung.
Lidahku kelu untuk menjawabnya. Terhenti, hanya mampu menatap bola matanya, padahal mulutku sudah hampir terbuka. Menyusul katanya? Aku belum menyentuh skripsweet sama sekali. Bagaimana aku bisa menjawabnya?
“Daya, Daya, Daya.”
Aku terperanjat karena guncangan di bahuku. Bukan Agia yang memanggilku. Amanda menatapku dan menepuk bahuku. Aku tak lagi duduk di depan rektorat. Air mataku masih setengah basah menempel di pipi. Apakah aku baru saja menangis?
“Daya. Aneh deh, kenapa tiba-tiba nangis? Kita kan sedang dengerin cerita lucu,” celetuk Bibu.
Aku baru sadar tempatku saat ini. Tak hanya Amanda, ternyata Oni, Bibu dan Orrin juga ada di depanku. Mereka menatapku yang tidak segera tersenyum seperti biasanya.
“Daya?”
Mereka menatapku dengan serius.
Sekarang aku tak tahu harus senang atau sedih di hadapan mereka. Bahkan di tengah-tengah mereka aku bisa bermimpi bertemu Agia.
“Daya, kamu masih sadar kan?” celetuk Orrin.
Tiga hari yang lalu, aku baru tahu Agia sudah tak menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi dan hari ini aku baru tahu ia telah menamatkan S1-nya.
Tuhan, makhluk ciptaan-Mu itu begitu sempurna, tapi kenapa aku tak bisa mendekatinya. Jantungku selalu mendadak berhenti, bibirku tak bisa berhenti tersenyum dan aku berubah menjadi orang bodoh. Tiga tahun terakhir aku hanya melihat punggungnya, ujung-ujung rambutnya dan frame kaca matanya dari samping. Bahkan di tahun-tahun terakhir seperti ini sangat sulit untuk bertemu dengannya dan kenyataan yang akan segera kuterima – dia pergi.
Menyesakkan. Sangat menyedihkan. Menyukainya tanpa kata rasanya sangat menyebalkan. Kau bisa mengucapkan hello padanya saat bertemu lalu mengucapkan goodbye saat pergi dan keduanya selalu dilakukan dalam hati. Di saat kau menyadari dia akan pergi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali menangis sendiri, berteriak atas kebodohanmu sendiri. Sedari awal kau lakukan sendiri, maka saat dia akan pergi kau tetap sendiri kecuali jika kau punya nyali, sayangnya sedikitpun aku tak punya nyali untuk menemuinya.  
Ini adalah kedua kalinya aku melepas Agia. Tiga setengah tahun yang lalu aku juga melakukannya—mengucapkan selamat tinggal dalam hati dan berniat melupakannya. Tidakkah Tuhan sedang memberikan kesempatan padaku untuk mengatakannya hari ini? Aku diberi kesempatan kedua, tapi lihatlah aku mensia-siakannya lagi. Bagaimana jika Agia benar-benar pergi jauh dan aku tak bisa bertemu dengannya lagi?
Tuhan mengapa harus Agia? Kenapa aku menyukai Agia? Enam setengah tahun, Tuhan. Tidakkah itu lama? Tak pernah aku menyukai seorang laki-laki selama ini, bahkan lelaki yang hanya kukenal namanya saja. Tak pernah aku mempercayai seorang laki-laki sepertinya, padahal lelaki itu telah berganti kekasih berkali-kali. Apa ini yang namanya jatuh gila? Gila karena cinta, Tuhan?
Dan dia akan pergi.
Pergi jauh.
“Daya!!”
Sebuah percikan air mendarat di wajahku. Aku sadar datangnya air itu dari gelas yang dipegang Orrin dan jari-jari tangan Oni. Berkali-kali mereka memanggilku tapi lidahku kelu sama seperti dalam mimpi tadi – aku tak bisa menjawab.
Bola mataku menatap satu per satu wajah mereka. Perlahan air di wajahku bertambah. Mereka bergantian memelukku dan menepuk bahuku.
“Sudahlah, Day. Jangan menangis lagi,” seru Bibu.
“Kita ada di sini kalau kamu butuh teman cerita,” tambah Orrin.
“Jangan dipendam sendiri. Nanti kamu sakit,” tambah Amanda.
“Day, kamu kenapa?” tanya Oni.
Aku sedang berduka, Kawan. Mungkin aku tak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini. Apa kalian bisa membantuku? Dia terlalu indah untuk dilepas dengan kata Goodbye. Batinku dalam hati.
***



Komentar