Langsung ke konten utama

2 Love



Tergeletak delapan jam sudah. Tak ada suara, tak ada kawan. Gelap. Langit-langit kamar tak bercahaya. Lampu padam dan aku hanya bisa membuka mataku tanpa bergerak. Karena nyeri akan menusuk tiap kali menggeser tubuh. Sudah nyeri, badan mulai terasa berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terpejam menunggu pagi.

***

Langit-langit sudah kembali putih terkena pantulan sinar dari luar. Aku ingat tak menarik selimutku, tapi tiba-tiba saat mataku terbuka ia sudah membungkusku erat. Kutolehkan wajahku ke suatu sudut ruang. Ada kamu.

“Kau sudah bangun?”

Aku mengangguk. 

“Ini air hangat. Minum dulu.”

Pegangan cangkir itu kau yang pegang. Kau tak memperbolehkanku menyentuhnya. Aku meneguknya perlahan, Hangat saat air itu masuk di tenggorokan.

“Kau punya teman kan. Kenapa kau tak panggil?”

“Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Kau sakit dan apa iya aku harus memikirkan repot atau tidak?”

Kau menarik jemari tanganku dan meletakkannya di atas tanganmu.

“Kau sudah makan? Lihat tanganmu sekecil ini. Pasti kau belum makan.”

Air matamu menetes. Tak berhenti aku menatapmu sampai kau menatapku.

“Aku tak apa. Kau harusnya mengabariku. Aku khawatir.” Kau memaksakan senyuman kecil di sudut bibirmu.

“Feb, aku tahu saat ini kau sedang memikirkan orang lain. Bukan aku.”

Kau mengusap air matamu.

“Feb, temui dia. Aku pasti sembuh dengan sendirinya. Tak usah kau khawatirkan aku.”

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Lihat kau saja belum makan, bibirmu masih pucat dan entah berapa jam kau bertahan seperti ini sendirian.”

“Tak apa. Aku akan baik-baik saja.” Air mataku akhirnya jatuh juga. Rasa nyeri masuk ke sela-sela ruang hampa di hatiku. Aku tidak tahan lagi. Sejujurnya aku pun harus menemuinya sebelum dia pergi.

“Kenapa kau ikut menangis?”

“Aku tak apa. Kau tadi juga bilang begitu kan?”

“Kau pasti juga memikirkannya kan, Di. Aku tahu. Itulah sebabnya kau sakit.”

“Kau bukan dokter, Feb. Kata-katamu belum tentu benar.”

“Di, kau menyukainya kan?”

“Tidak.”

“Kau bohong.”

“Feb, Billy itu teman dari kecil. Sudah dua puluh tahun lebih kami tumbuh bersama. Kalau Billy pergi aku juga pasti merasa kehilangan.”

“Jadi benar, ternyata kamu sakit karena memikirkan Billy.”

“Aku tak bilang begitu.”

“Diandra. Kamu suka Billy.” Kau menekankan kata-kata itu tepat di depan wajahku.

Air mataku menetes lagi.

“Iya mungkin aku menyukainya, mungkin pula tidak. Aku tak tahu pastinya. Ini namanya kebiasaan, rasa suka atau hanya sekedar teman pengisi kekosongan. Saat Billy bilang mau pergi aku tidak bisa berkata-kata lagi. Rasanya lebih baik aku tidak bertemu Billy.”

“Kau tidak mau mengantarnya pergi? Ini kesempatan. Belum tentu Billy akan kembali lagi ke sini.”

“Apa kau tak bisa membujuknya untuk tidak pergi dan menungguku sampai sembuh?”

“Sepertinya sulit. Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya?”

“Lebih baik kamu sendiri saja, Feb. Aku ingin memulihkan keadaanku dulu.”

Aku membaringkan tubuhku dan menarik ujung selimut. Kau menahan tarikan selimutku.

“Jangan jadikan sakit sebagai alasan untuk tidak menemuinya, Di.”

“Tapi aku tak cukup kuat untuk bertemu dengannya, Feb.”

“Kalau aku bilang Billy lebih suka kamu apa kamu juga akan tetap di sini?”

Aku menutup telingaku tak mau mendengar nama Billy disebut.

“Diandra. Kita berteman dari SMA dan kamu tahu sendiri aku bisa membaca gerak-gerik setiap laki-laki yang menyukaimu. Billy menyukaimu, Di.”

“Kau bukan cenayang, Feb. Aku lebih tahu Billy daripada kamu. Tak mungkin dia bersamamu kalau dia menyukaiku.”

“Diandra, percayalah padaku. Temui dia. Aku rela tak ikut menemuinya jika itu yang kau mau.”

“Apa yang kamu bicarakan, Feb?”

Aku melepas kedua tangan dari daun telingaku.

“Aku rela.”

Entah kekuatan apa yang kumiliki. Aku bisa berdiri dan mondar mandir.

“Febri. Dengar baik-baik. Billy menyukaiku hanya sebatas teman. Kami pernah berjanji tak akan merusak persahabatan kami dengan cinta. Meskipun kami sama-sama menyukai, rasa itu terbatas, tidak bisa bebas. Berbeda denganmu dan dia.”

“Jadi benar ya kalian sama-sama menyukai?”

“Feb, jangan pedulikan kata-kataku tadi sekarang antarkan dia. Bukankah dia lebih membutuhkanmu daripada aku? Pergilah temui dia.”

“Terima kasih, Di. Aku akan menemuinya. Kau istirahatlah, nanti aku ke sini lagi.”

Aku mengangguk.

Sepeninggalmu aku tergeletak di tempat tidur. Bukan lagi rasa nyeri di kepala tapi kali ini panas dingin. Aku demam, menggigil dan tak ada orang. Pikiranku melayang kemana-mana. Kau bilang Billy menyukaiku tapi aku tak pernah melihat Billy menyukaiku. Oh, Tuhan benarkah aku sakit karena memikirkan Billy yang akan pergi ke luar negeri?

Lima belas tahun lebih kami menghabiskan waktu bersama. Apakah karena tidak biasa ditinggal pergi Billy aku jadi sakit? Tidak mungkin. Selama empat tahun terakhir bukankah kami sudah berjarak sejak Billy memutuskan berpacaran denganmu, Feb -- sahabatku. Kenapa pula aku harus sakit karena memikirkannya?

Pipiku terasa hangat, basah. Tak tahu apa penyebab keluarnya air itu. Mungkin karena demamku atau karena Billy. Ah, kenapa Billy lagi. Di saat sakit begini kenapa Billy malah pergi. Biasanya dia akan datang membawa stetoskop dan kotak ajaibnya. Habis-habisan dia akan memarahiku. Katanya aku keras kepala, tak mau makan inilah itulah dan itu yang membuatku merindukannya. Sekarang aku sakit dan Billy tak ada. Perpaduan yang menyakitkan.

Sesak. Mataku menjadi buram dan terpejam.

***

Suara isakan tangis terdengar cukup keras di sekitarku. Aku membuka mataku. Kulihat kau duduk di tepi tempat tidur, membelakangiku. Kulihat bahumu naik turun.

“Feb, apa kau baik-baik saja?”

“Di, kau sudah bangun?” tanyamu seraya menghapus air yang membasahi pipinya.

“Kamu kenapa? Billy sudah pergi ya?”

“Belum.”

“Kenapa? Kok bisa?”

“Keberangkatannya di cancel.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Kau diam.

“Lalu dimana Billy sekarang?”

“Dia di sana,” jawabmu seraya menunjuk ke arah sudut kamarku.

Billy memegang kotak ajaibnya dan stetoskop melingkar di lehernya. Aku menelan ludahku. Apa karenaku, ia tak jadi berangkat?

“Hei, Diandra.” Billy memanggilku dan membawa kotak ajaibnya mendekatiku.

“Kenapa tak jadi berangkat?”

“Bodoh, bagaimana aku bisa berangkat kalau kamu sakit?”

“Ya, sakit kan tidak bisa diketahui datangnya lagi pula tak bisa direncanakan.”

“Merepotkan. Karena kamu sakit aku harus memeriksamu dulu sebelum berangkat.”

“Apa aku terlihat seperti butuh bantuanmu, Bill?”

“Sudah diam. Aku akan memeriksa keadaanmu sebentar.”

Aku mengamatinya tanpa berkedip. Deg. Kau menatap kami dengan nanar.

“Aku baik-baik saja kan? Sudah sana pergi. Bukankah melanjutkan studi keluar negeri itu impianmu sejak kecil? Feb, antar dia ke bandara sekarang juga.”

“Tidak, Di. Aku tidak bisa mengantarnya lagi. Dia memutuskan untuk tetap di sini.”

“Hei, kenapa bisa begitu? Bill, coba jelaskan?”

“Apa masih kurang jelas juga? Sudah kubilang karena kamu sakit aku harus memeriksamu.”

Deg. Benarkan karenaku Billy tak jadi berangkat?

“Billy, pergilah. Kejar studimu. Aku tak ingin menjadi penghalang.”

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Billy.

“Bukankah kau tak jadi pergi karena aku sakit?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Karena aku, Di,” jawabmu.

Aku menatap matamu yang berkaca-kaca.

“Karena aku yang sakit, Di. Aku ingin melihat kalian bersama sebelum aku pergi.”

“Bill, apa kamu tahu ini semua?”

Billy menunduk.

“Kalau kamu sakit, Feb kenapa Billy mau ke luar negeri?”

“Aku yang memintanya ke luar negeri agar dia bisa melupakanku. Tapi ternyata aku salah. Permintaan bodohku itu ternyata justru membuat sahabatku terbaring sakit seperti ini.”

“Aku bilang sakitku bukan karena Billy, Feb.”

“Sudahlah, Di. Jangan mengelak lagi. Aku tak meminta banyak dari kalian. Agar aku tenang nanti, aku ingin kalian mengabulkan permintaanku. Jadilah sepasang kekasih dan beranjaklah ke pelaminan. Meskipun kelak aku tak bisa hadir tapi aku akan merasa sangat senang jika itu bisa terjadi.”

“Feb, jangan berbicara seolah-olah kamu mau mati.”

“Aku memang sudah sekarat, Di. Tak ada harapan.”

Kau menarik rambutnya. Tidak itu bukan rambut ternyata wig. Kau menghapus riasan di wajahmu dan menunjukkannya di depanku. Wajahmu pucat. Rambutmu sebagian sudah terlihat botak. Miris memancing air mataku keluar.

“Diandra.” Kau memegang tanganku. “Aku ingin kau menjaga Billy untukku.”

Air mataku mengalir deras. Billy menepuk bahuku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kita pun akhirnya duduk bertiga di tepian ranjang dengan urutan aku, Billy dan kau. Aku masih demam tapi aku harus cepat sembuh dan menyemangatimu. Tentang permintaanmu, entahlah. Sepertinya aku masih butuh waktu.

“Kamu kebanyakan nangis, Di. Makanya jadi sakit. Ini resep obatnya.”

Secarik kertas dengan tulisan tak terbaca dijulurkan ke padaku. Aku menatap sekilas Billy. Kenapa harus seperti ini untuk memiliki Billy seutuhnya? Haruskah kuambil kesempatan ini, Tuhan? Kenapa pula harus kamu, Feb?

Komentar