Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Telur Tangan 4 #Campur

"Kalau berharap saja sudah cukup untuk menemui mimpi itu, maka aku tidak akan pernah menggambarnya."

Telur-telur tangan campuran :







Telur Tangan 3 #Atas

"Kalau Paris dan Milan terasa jauh, ini yang membuatnya terasa dekat."

Telur-telur tangan selanjutnya:





Hello Goodbye

Rasanya sakit ketika kita menyukai seseorang tanpa kata. Kau harus memendamnya dan ketika ia akan pergi jauh kau hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri. Berkali-kali aku mengerutkan keningku. Mencari jalan keluar agar Agia tetap ada di sini, tapi setiap kali aku mencobanya bagaimana pun caranya ia tetap akan pergi. Aku sedang memulainya tapi Agia telah mengakhirinya dengan topi hitam kebanggaan setiap mahasiswa. Tepat tiga setengah tahun. Itu sangat gila untukku. Dia akan segera menjadi seorang dokter muda dan aku masih saja berstatus mahasiswa akhir. “Daya kan?” “Eh, Agia? Kamu tahu namaku dari mana?” “Kamu juga tahu namaku dari mana?” tanyanya balik. Aku duduk di depan rektorat menunggu temanku. Tak kusangka aku menemukannya di sini. Dia dan kacamatanya. Ia tersenyum dan tetap tak menjawab pertanyaanku. Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, “Ngapain di sini, Gi?” “Habis lari-lari. Capek juga ya ternyata.” “Tapi bukannya jadi sehat pak dokter?” Ia tersenyum lagi. “Aneh…

Telur Tangan 2 #Atasan

"Mencari pelarian itu banyak, salah satunya ini."

Telur-telur tangan atasan:






Telur Tangan 1 #Atas Bawah

"Kalau mimpi itu masih jauh katanya jangan menyerah. Jadi tetap berkreasi sampai mimpi itu kesampaian."

Hasil telur-telur tangan atas bawah:


2 Love

Tergeletak delapan jam sudah. Tak ada suara, tak ada kawan. Gelap. Langit-langit kamar tak bercahaya. Lampu padam dan aku hanya bisa membuka mataku tanpa bergerak. Karena nyeri akan menusuk tiap kali menggeser tubuh. Sudah nyeri, badan mulai terasa berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terpejam menunggu pagi.
***
Langit-langit sudah kembali putih terkena pantulan sinar dari luar. Aku ingat tak menarik selimutku, tapi tiba-tiba saat mataku terbuka ia sudah membungkusku erat. Kutolehkan wajahku ke suatu sudut ruang. Ada kamu.
“Kau sudah bangun?”
Aku mengangguk.
“Ini air hangat. Minum dulu.”
Pegangan cangkir itu kau yang pegang. Kau tak memperbolehkanku menyentuhnya. Aku meneguknya perlahan, Hangat saat air itu masuk di tenggorokan.
“Kau punya teman kan. Kenapa kau tak panggil?”
“Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Kau sakit dan apa iya aku harus memikirkan repot atau tidak?”
Kau menarik jemari tanganku dan meletakkannya di atas tanganmu.
“Kau sudah makan? Lihat tanganmu sekecil ini. P…

Inilah Rasanya

“Cantik,” pujiku melihat diri sendiri di depan kaca mobil orang. Jantungku berdebar-debar ketika melangkah gerbang sekolah yang lama tak kusinggahi. Sebuah dress casual yang berani kupakai, tidak akan terlihat glamour untuk sebuah acara reuni SMA. Cachi teman dekatku belum juga menampakkan batang hidungnya tapi kamu sudah berdiri di sana dan bahkan mungkin sebelum aku datang.
Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, mengingatmu memakai seragam sekolah berdiri di depan kelasku dulu. Kau masih sama dalam hal membuat jantungku berdebar.
“Hai!” suara kecil Cachi mengagetkanku. Senyum dan sifat kekanak-kanakannya ternyata belum juga hilang. Cachi pun mengajakku bergabung dengan kerumunan alumni yang lain dengan sekali tarik.
“Mau ikut aku ambil minuman?” tanyanya setelah beberapa saat kami tukar cerita.
Aku menoleh. Kulihat banyak pilihan yang menggiurkan di beberapa meja yang tersaji. Secepat langkah Cachi, aku pun sudah berada di belakangnya tetapi akhirnya aku memilih sebuah meja yang dekat den…