Selasa, 19 Maret 2013

Telur Tangan 4 #Campur

"Kalau berharap saja sudah cukup untuk menemui mimpi itu, maka aku tidak akan pernah menggambarnya."

Telur-telur tangan campuran :





 
 
 


Senin, 18 Maret 2013

Telur Tangan 3 #Atas

"Kalau Paris dan Milan terasa jauh, ini yang membuatnya terasa dekat."

Telur-telur tangan selanjutnya:




 

 

Minggu, 17 Maret 2013

Hello Goodbye






Rasanya sakit ketika kita menyukai seseorang tanpa kata. Kau harus memendamnya dan ketika ia akan pergi jauh kau hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri.
Berkali-kali aku mengerutkan keningku. Mencari jalan keluar agar Agia tetap ada di sini, tapi setiap kali aku mencobanya bagaimana pun caranya ia tetap akan pergi. Aku sedang memulainya tapi Agia telah mengakhirinya dengan topi hitam kebanggaan setiap mahasiswa. Tepat tiga setengah tahun. Itu sangat gila untukku. Dia akan segera menjadi seorang dokter muda dan aku masih saja berstatus mahasiswa akhir.
“Daya kan?”
“Eh, Agia? Kamu tahu namaku dari mana?”
“Kamu juga tahu namaku dari mana?” tanyanya balik.
Aku duduk di depan rektorat menunggu temanku. Tak kusangka aku menemukannya di sini. Dia dan kacamatanya.
 Ia tersenyum dan tetap tak menjawab pertanyaanku.
Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, “Ngapain di sini, Gi?”
“Habis lari-lari. Capek juga ya ternyata.”
“Tapi bukannya jadi sehat pak dokter?”
Ia tersenyum lagi. “Aneh juga lari-lari mengelilingi kampus di saat-saat terakhir seperti ini.”
Deg. Jantungku mengerut.
“Selamat ya. Kamu sudah berhasil lulus tiga setengah tahun.”
“Terima kasih. Tapi kamu tahu dari mana?”
Deg. Aku tertangkap basah.
“Emm, aku punya telinga seorang mata-mata. Jadi jika ada sedikit berita tentang teman-teman SMA dulu aku tahu.”
“Oh, ya? Terus kapan kamu menyusul?” Senyumnya melengkung.
Lidahku kelu untuk menjawabnya. Terhenti, hanya mampu menatap bola matanya, padahal mulutku sudah hampir terbuka. Menyusul katanya? Aku belum menyentuh skripsweet sama sekali. Bagaimana aku bisa menjawabnya?
“Daya, Daya, Daya.”
Aku terperanjat karena guncangan di bahuku. Bukan Agia yang memanggilku. Amanda menatapku dan menepuk bahuku. Aku tak lagi duduk di depan rektorat. Air mataku masih setengah basah menempel di pipi. Apakah aku baru saja menangis?
“Daya. Aneh deh, kenapa tiba-tiba nangis? Kita kan sedang dengerin cerita lucu,” celetuk Bibu.
Aku baru sadar tempatku saat ini. Tak hanya Amanda, ternyata Oni, Bibu dan Orrin juga ada di depanku. Mereka menatapku yang tidak segera tersenyum seperti biasanya.
“Daya?”
Mereka menatapku dengan serius.
Sekarang aku tak tahu harus senang atau sedih di hadapan mereka. Bahkan di tengah-tengah mereka aku bisa bermimpi bertemu Agia.
“Daya, kamu masih sadar kan?” celetuk Orrin.
Tiga hari yang lalu, aku baru tahu Agia sudah tak menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi dan hari ini aku baru tahu ia telah menamatkan S1-nya.
Tuhan, makhluk ciptaan-Mu itu begitu sempurna, tapi kenapa aku tak bisa mendekatinya. Jantungku selalu mendadak berhenti, bibirku tak bisa berhenti tersenyum dan aku berubah menjadi orang bodoh. Tiga tahun terakhir aku hanya melihat punggungnya, ujung-ujung rambutnya dan frame kaca matanya dari samping. Bahkan di tahun-tahun terakhir seperti ini sangat sulit untuk bertemu dengannya dan kenyataan yang akan segera kuterima – dia pergi.
Menyesakkan. Sangat menyedihkan. Menyukainya tanpa kata rasanya sangat menyebalkan. Kau bisa mengucapkan hello padanya saat bertemu lalu mengucapkan goodbye saat pergi dan keduanya selalu dilakukan dalam hati. Di saat kau menyadari dia akan pergi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali menangis sendiri, berteriak atas kebodohanmu sendiri. Sedari awal kau lakukan sendiri, maka saat dia akan pergi kau tetap sendiri kecuali jika kau punya nyali, sayangnya sedikitpun aku tak punya nyali untuk menemuinya.  
Ini adalah kedua kalinya aku melepas Agia. Tiga setengah tahun yang lalu aku juga melakukannya—mengucapkan selamat tinggal dalam hati dan berniat melupakannya. Tidakkah Tuhan sedang memberikan kesempatan padaku untuk mengatakannya hari ini? Aku diberi kesempatan kedua, tapi lihatlah aku mensia-siakannya lagi. Bagaimana jika Agia benar-benar pergi jauh dan aku tak bisa bertemu dengannya lagi?
Tuhan mengapa harus Agia? Kenapa aku menyukai Agia? Enam setengah tahun, Tuhan. Tidakkah itu lama? Tak pernah aku menyukai seorang laki-laki selama ini, bahkan lelaki yang hanya kukenal namanya saja. Tak pernah aku mempercayai seorang laki-laki sepertinya, padahal lelaki itu telah berganti kekasih berkali-kali. Apa ini yang namanya jatuh gila? Gila karena cinta, Tuhan?
Dan dia akan pergi.
Pergi jauh.
“Daya!!”
Sebuah percikan air mendarat di wajahku. Aku sadar datangnya air itu dari gelas yang dipegang Orrin dan jari-jari tangan Oni. Berkali-kali mereka memanggilku tapi lidahku kelu sama seperti dalam mimpi tadi – aku tak bisa menjawab.
Bola mataku menatap satu per satu wajah mereka. Perlahan air di wajahku bertambah. Mereka bergantian memelukku dan menepuk bahuku.
“Sudahlah, Day. Jangan menangis lagi,” seru Bibu.
“Kita ada di sini kalau kamu butuh teman cerita,” tambah Orrin.
“Jangan dipendam sendiri. Nanti kamu sakit,” tambah Amanda.
“Day, kamu kenapa?” tanya Oni.
Aku sedang berduka, Kawan. Mungkin aku tak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini. Apa kalian bisa membantuku? Dia terlalu indah untuk dilepas dengan kata Goodbye. Batinku dalam hati.
***



Telur Tangan 2 #Atasan

"Mencari pelarian itu banyak, salah satunya ini."

Telur-telur tangan atasan:






 

Sabtu, 16 Maret 2013

Telur Tangan 1 #Atas Bawah

"Kalau mimpi itu masih jauh katanya jangan menyerah. Jadi tetap berkreasi sampai mimpi itu kesampaian."

Hasil telur-telur tangan atas bawah:


 
 

Jumat, 08 Maret 2013

2 Love



Tergeletak delapan jam sudah. Tak ada suara, tak ada kawan. Gelap. Langit-langit kamar tak bercahaya. Lampu padam dan aku hanya bisa membuka mataku tanpa bergerak. Karena nyeri akan menusuk tiap kali menggeser tubuh. Sudah nyeri, badan mulai terasa berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terpejam menunggu pagi.

***

Langit-langit sudah kembali putih terkena pantulan sinar dari luar. Aku ingat tak menarik selimutku, tapi tiba-tiba saat mataku terbuka ia sudah membungkusku erat. Kutolehkan wajahku ke suatu sudut ruang. Ada kamu.

“Kau sudah bangun?”

Aku mengangguk. 

“Ini air hangat. Minum dulu.”

Pegangan cangkir itu kau yang pegang. Kau tak memperbolehkanku menyentuhnya. Aku meneguknya perlahan, Hangat saat air itu masuk di tenggorokan.

“Kau punya teman kan. Kenapa kau tak panggil?”

“Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Kau sakit dan apa iya aku harus memikirkan repot atau tidak?”

Kau menarik jemari tanganku dan meletakkannya di atas tanganmu.

“Kau sudah makan? Lihat tanganmu sekecil ini. Pasti kau belum makan.”

Air matamu menetes. Tak berhenti aku menatapmu sampai kau menatapku.

“Aku tak apa. Kau harusnya mengabariku. Aku khawatir.” Kau memaksakan senyuman kecil di sudut bibirmu.

“Feb, aku tahu saat ini kau sedang memikirkan orang lain. Bukan aku.”

Kau mengusap air matamu.

“Feb, temui dia. Aku pasti sembuh dengan sendirinya. Tak usah kau khawatirkan aku.”

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Lihat kau saja belum makan, bibirmu masih pucat dan entah berapa jam kau bertahan seperti ini sendirian.”

“Tak apa. Aku akan baik-baik saja.” Air mataku akhirnya jatuh juga. Rasa nyeri masuk ke sela-sela ruang hampa di hatiku. Aku tidak tahan lagi. Sejujurnya aku pun harus menemuinya sebelum dia pergi.

“Kenapa kau ikut menangis?”

“Aku tak apa. Kau tadi juga bilang begitu kan?”

“Kau pasti juga memikirkannya kan, Di. Aku tahu. Itulah sebabnya kau sakit.”

“Kau bukan dokter, Feb. Kata-katamu belum tentu benar.”

“Di, kau menyukainya kan?”

“Tidak.”

“Kau bohong.”

“Feb, Billy itu teman dari kecil. Sudah dua puluh tahun lebih kami tumbuh bersama. Kalau Billy pergi aku juga pasti merasa kehilangan.”

“Jadi benar, ternyata kamu sakit karena memikirkan Billy.”

“Aku tak bilang begitu.”

“Diandra. Kamu suka Billy.” Kau menekankan kata-kata itu tepat di depan wajahku.

Air mataku menetes lagi.

“Iya mungkin aku menyukainya, mungkin pula tidak. Aku tak tahu pastinya. Ini namanya kebiasaan, rasa suka atau hanya sekedar teman pengisi kekosongan. Saat Billy bilang mau pergi aku tidak bisa berkata-kata lagi. Rasanya lebih baik aku tidak bertemu Billy.”

“Kau tidak mau mengantarnya pergi? Ini kesempatan. Belum tentu Billy akan kembali lagi ke sini.”

“Apa kau tak bisa membujuknya untuk tidak pergi dan menungguku sampai sembuh?”

“Sepertinya sulit. Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya?”

“Lebih baik kamu sendiri saja, Feb. Aku ingin memulihkan keadaanku dulu.”

Aku membaringkan tubuhku dan menarik ujung selimut. Kau menahan tarikan selimutku.

“Jangan jadikan sakit sebagai alasan untuk tidak menemuinya, Di.”

“Tapi aku tak cukup kuat untuk bertemu dengannya, Feb.”

“Kalau aku bilang Billy lebih suka kamu apa kamu juga akan tetap di sini?”

Aku menutup telingaku tak mau mendengar nama Billy disebut.

“Diandra. Kita berteman dari SMA dan kamu tahu sendiri aku bisa membaca gerak-gerik setiap laki-laki yang menyukaimu. Billy menyukaimu, Di.”

“Kau bukan cenayang, Feb. Aku lebih tahu Billy daripada kamu. Tak mungkin dia bersamamu kalau dia menyukaiku.”

“Diandra, percayalah padaku. Temui dia. Aku rela tak ikut menemuinya jika itu yang kau mau.”

“Apa yang kamu bicarakan, Feb?”

Aku melepas kedua tangan dari daun telingaku.

“Aku rela.”

Entah kekuatan apa yang kumiliki. Aku bisa berdiri dan mondar mandir.

“Febri. Dengar baik-baik. Billy menyukaiku hanya sebatas teman. Kami pernah berjanji tak akan merusak persahabatan kami dengan cinta. Meskipun kami sama-sama menyukai, rasa itu terbatas, tidak bisa bebas. Berbeda denganmu dan dia.”

“Jadi benar ya kalian sama-sama menyukai?”

“Feb, jangan pedulikan kata-kataku tadi sekarang antarkan dia. Bukankah dia lebih membutuhkanmu daripada aku? Pergilah temui dia.”

“Terima kasih, Di. Aku akan menemuinya. Kau istirahatlah, nanti aku ke sini lagi.”

Aku mengangguk.

Sepeninggalmu aku tergeletak di tempat tidur. Bukan lagi rasa nyeri di kepala tapi kali ini panas dingin. Aku demam, menggigil dan tak ada orang. Pikiranku melayang kemana-mana. Kau bilang Billy menyukaiku tapi aku tak pernah melihat Billy menyukaiku. Oh, Tuhan benarkah aku sakit karena memikirkan Billy yang akan pergi ke luar negeri?

Lima belas tahun lebih kami menghabiskan waktu bersama. Apakah karena tidak biasa ditinggal pergi Billy aku jadi sakit? Tidak mungkin. Selama empat tahun terakhir bukankah kami sudah berjarak sejak Billy memutuskan berpacaran denganmu, Feb -- sahabatku. Kenapa pula aku harus sakit karena memikirkannya?

Pipiku terasa hangat, basah. Tak tahu apa penyebab keluarnya air itu. Mungkin karena demamku atau karena Billy. Ah, kenapa Billy lagi. Di saat sakit begini kenapa Billy malah pergi. Biasanya dia akan datang membawa stetoskop dan kotak ajaibnya. Habis-habisan dia akan memarahiku. Katanya aku keras kepala, tak mau makan inilah itulah dan itu yang membuatku merindukannya. Sekarang aku sakit dan Billy tak ada. Perpaduan yang menyakitkan.

Sesak. Mataku menjadi buram dan terpejam.

***

Suara isakan tangis terdengar cukup keras di sekitarku. Aku membuka mataku. Kulihat kau duduk di tepi tempat tidur, membelakangiku. Kulihat bahumu naik turun.

“Feb, apa kau baik-baik saja?”

“Di, kau sudah bangun?” tanyamu seraya menghapus air yang membasahi pipinya.

“Kamu kenapa? Billy sudah pergi ya?”

“Belum.”

“Kenapa? Kok bisa?”

“Keberangkatannya di cancel.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Kau diam.

“Lalu dimana Billy sekarang?”

“Dia di sana,” jawabmu seraya menunjuk ke arah sudut kamarku.

Billy memegang kotak ajaibnya dan stetoskop melingkar di lehernya. Aku menelan ludahku. Apa karenaku, ia tak jadi berangkat?

“Hei, Diandra.” Billy memanggilku dan membawa kotak ajaibnya mendekatiku.

“Kenapa tak jadi berangkat?”

“Bodoh, bagaimana aku bisa berangkat kalau kamu sakit?”

“Ya, sakit kan tidak bisa diketahui datangnya lagi pula tak bisa direncanakan.”

“Merepotkan. Karena kamu sakit aku harus memeriksamu dulu sebelum berangkat.”

“Apa aku terlihat seperti butuh bantuanmu, Bill?”

“Sudah diam. Aku akan memeriksa keadaanmu sebentar.”

Aku mengamatinya tanpa berkedip. Deg. Kau menatap kami dengan nanar.

“Aku baik-baik saja kan? Sudah sana pergi. Bukankah melanjutkan studi keluar negeri itu impianmu sejak kecil? Feb, antar dia ke bandara sekarang juga.”

“Tidak, Di. Aku tidak bisa mengantarnya lagi. Dia memutuskan untuk tetap di sini.”

“Hei, kenapa bisa begitu? Bill, coba jelaskan?”

“Apa masih kurang jelas juga? Sudah kubilang karena kamu sakit aku harus memeriksamu.”

Deg. Benarkan karenaku Billy tak jadi berangkat?

“Billy, pergilah. Kejar studimu. Aku tak ingin menjadi penghalang.”

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Billy.

“Bukankah kau tak jadi pergi karena aku sakit?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Karena aku, Di,” jawabmu.

Aku menatap matamu yang berkaca-kaca.

“Karena aku yang sakit, Di. Aku ingin melihat kalian bersama sebelum aku pergi.”

“Bill, apa kamu tahu ini semua?”

Billy menunduk.

“Kalau kamu sakit, Feb kenapa Billy mau ke luar negeri?”

“Aku yang memintanya ke luar negeri agar dia bisa melupakanku. Tapi ternyata aku salah. Permintaan bodohku itu ternyata justru membuat sahabatku terbaring sakit seperti ini.”

“Aku bilang sakitku bukan karena Billy, Feb.”

“Sudahlah, Di. Jangan mengelak lagi. Aku tak meminta banyak dari kalian. Agar aku tenang nanti, aku ingin kalian mengabulkan permintaanku. Jadilah sepasang kekasih dan beranjaklah ke pelaminan. Meskipun kelak aku tak bisa hadir tapi aku akan merasa sangat senang jika itu bisa terjadi.”

“Feb, jangan berbicara seolah-olah kamu mau mati.”

“Aku memang sudah sekarat, Di. Tak ada harapan.”

Kau menarik rambutnya. Tidak itu bukan rambut ternyata wig. Kau menghapus riasan di wajahmu dan menunjukkannya di depanku. Wajahmu pucat. Rambutmu sebagian sudah terlihat botak. Miris memancing air mataku keluar.

“Diandra.” Kau memegang tanganku. “Aku ingin kau menjaga Billy untukku.”

Air mataku mengalir deras. Billy menepuk bahuku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kita pun akhirnya duduk bertiga di tepian ranjang dengan urutan aku, Billy dan kau. Aku masih demam tapi aku harus cepat sembuh dan menyemangatimu. Tentang permintaanmu, entahlah. Sepertinya aku masih butuh waktu.

“Kamu kebanyakan nangis, Di. Makanya jadi sakit. Ini resep obatnya.”

Secarik kertas dengan tulisan tak terbaca dijulurkan ke padaku. Aku menatap sekilas Billy. Kenapa harus seperti ini untuk memiliki Billy seutuhnya? Haruskah kuambil kesempatan ini, Tuhan? Kenapa pula harus kamu, Feb?

Jumat, 01 Maret 2013

Inilah Rasanya



“Cantik,” pujiku melihat diri sendiri di depan kaca mobil orang. Jantungku berdebar-debar ketika melangkah gerbang sekolah yang lama tak kusinggahi. Sebuah dress casual yang berani kupakai, tidak akan terlihat glamour untuk sebuah acara reuni SMA. Cachi teman dekatku belum juga menampakkan batang hidungnya tapi kamu sudah berdiri di sana dan bahkan mungkin sebelum aku datang.

Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, mengingatmu memakai seragam sekolah berdiri di depan kelasku dulu. Kau masih sama dalam hal membuat jantungku berdebar.

“Hai!” suara kecil Cachi mengagetkanku. Senyum dan sifat kekanak-kanakannya ternyata belum juga hilang. Cachi pun mengajakku bergabung dengan kerumunan alumni yang lain dengan sekali tarik.  

“Mau ikut aku ambil minuman?” tanyanya setelah beberapa saat kami tukar cerita.

Aku menoleh. Kulihat banyak pilihan yang menggiurkan di beberapa meja yang tersaji. Secepat langkah Cachi, aku pun sudah berada di belakangnya tetapi akhirnya aku memilih sebuah meja yang dekat denganmu. Ajaib, kau mendekatiku.

Panik. Tak karuan. “Maaf.” Aku tak sengaja menginjak kakimu.

“Tak apa,” jawabmu.

Tuhan bolehkah aku dulu yang mengatakannya? Tidak-tidak.

Masih seperti dulu hari ini kau menatapku dengan tersenyum. Meledak – sebentar lagi perasaan di dalam sini meledak kalau caranya seperti itu. Ternyata aku masih berharap.

“Kamu juga kuliah di tempatku kan?” tanyaku membuka obrolan.

Kau berhenti menusuk makanan dengan garpu di tanganmu.

“Aku pernah beberapa kali melihatmu. Jadi cuma memastikan saja,” lanjutku meluruskan niat.

Kau terdiam beberapa saat setelah memasukkan kue ke dalam mulutmu.

“Kamu cewek yang suka memakai topi besar saat study tour dulu kan?” tanyamu.

Deg. Kau ingat tentangku.

Memang sengaja aku memakai topi besar itu kemana-mana dulu, agar terlihat mencolok dibandingkan yang lain dan agar kau mengingatku.

“Kenalkan aku Agy,” ujarku.

“Aku Iqbal,” ujarmu.

Aku sudah tahu, Bal. Bahkan di hari sebelum kamu memberitahuku. Selama enam tahun lebih bahkan berlanjut sampai saat ini aku menyelidikimu. Aku membajak semua akun-akunmu dan mendownload foto-fotomu, melihat video-videomu, membaca semua hal yang kau tulis di blogmu dan seketika tertawa melihat kebodohanku.

Iqbal, aku menyukaimu. Aku menyukaimu bahkan sebelum aku tahu kau mengambil studi kedokteran. Sebelum aku tahu kau masuk di perguruan tinggi yang sama denganku. Sebelum aku mengetahui namamu. Sebelum aku memakai topi besar mencolok saat study tour dan sebelum kau ada yang memiliki. Sampai saat ini aku tak ada nyali untuk mengatakan perasaanku. Rasa takutku akan merasa bosan dan meninggalkanmulah yang menghalangiku. Aku takut menyakitimu.

Kau tahu? Aku menyukaimu sejak kau lewat di depanku setiap pagi hari, melintas koridor sekolah berlawanan arah denganku, menebarkan senyummu ke arahku, saat kau sering makan di kantin belakang kelasku, saat kita bertemu di perjalanan menuju masjid, dan saat kita jadi sering bertemu.

Ah, itu dulu Bal. Sekarang ini aku tetap menyukaimu meskipun kita jarang bertemu, melihatmu hanya sekilas, melihat punggungmu, hanya melihat fotomu, videomu, tulisanmu di blog dan melihat kau dengan yang lain. Tak apa, sekarang aku bisa berbicara denganmu. Hal yang sejak dulu ingin kulakukan padamu.

“Gy. Ambil minumnya lama banget. Eh, Iqbal. Pinjem Agy dulu ya.”

Wajahku memberengut. Apa sih maksud Cachi? Ini memalukan. Dia pikir aku barang yang bisa dipinjam. Sekilas Iqbal tersenyum dan menggerakkan jemarinya ke depan saat aku menoleh ke belakang.

“Ada kejutan buat kamu. Tunggu sebentar ya!” seru Cachi.

Kejutan. Kejutan dari mana? Kurasa tak ada di dalam list acara.

“Taraaaa.” Cachi berteriak keras dari belakangku. Aku menoleh, mencari apa yang disebutnya kejutan.

Deg. Sosok itu. Aku yakin aku mengenalnya meskipun hanya melihat dari punggungnya. Ketika ia berbalik dan menatapku Tuhan mengapa rasanya sakit.

“Apa kabar, Gy? Lama tak bertemu.”

“Baik. Kamu sendiri bagaimana?”

Tuhan, aku ijinkan kau menghilangkanku dari tempat ini. Aku sudah tak kuat lagi di sini. Dia muncul lagi.

“Sama, aku juga baik. Kamu tambah cantik ya. Aku tambah suka.”

Deg. Nyeri ini muncul lagi.

“Kamu masih ingat aku kan?”

“Masih.”

“Berarti kamu juga ingat kalau aku masih nunggu kamu sampai saat ini?”

Deg. Aku mengalihkan pandanganku kepadamu yang masih berdiri di depan meja tadi.

“Aku masih ingat.”

“Sekarang aku sudah berubah, Gy. Aku bukan anak kecil lagi dan kurasa usia bukan lagi kendalanya kan?”

Sakit. Rasanya benar-benar sakit Tuhan. Selama ini kau mengizinkanku berlari jauh tapi pada akhirnya kau mempertemukanku dengannya lagi.

“Gy, kamu masih ragu? Aku tidak main-main. Haruskah kukatakan sekali lagi? Aku mencintaimu, Gy.”

Kupilih diam.

Tuhan mengapa rasa dicintai lebih menyakitkan daripada mencintai? Tuhan mengapa kami tidak bisa saling mencintai saja? Mengapa harus dia yang mencintaiku dan aku yang dicintainya? Mengapa aku harus mengenal Iqbal dan jatuh hati dulu padanya?

“Gy, apa aku masih kurang sesuai seperti yang kamu harapkan?”

Air mata yang susah payah kubendung akhirnya tumpah. “Cukup, Don!” seruku dengan lirih.  

“Gy, kamu menangis?”

“Tidak,” jawabku seraya menghapus air yang sempat mengalir, “Don, aku mau minta maaf sekali lagi. Maaf. Aku masih belum bisa.”

“Kenapa, Gy?”

Dia mencengkram kedua lenganku.

“Don, cinta tak bisa dipaksakan. Cinta itu kebebasan. Kalau kamu mencintaiku dengan syarat- syaratku itu bukan lagi kebebasan. Aku terlihat jahat, Don,” ujarku seraya berusaha membuat tangannya terlepas dari lenganku.

“Ini semua kemauanku, Gy.” Ia semakin mengeraskan tekanan ke lenganku.

“Tidak, Don. Kamu melakukannya karenaku. Kamu terpaksa. Aku tahu kamu terpaksa.”

“Tidak, Gy. Aku ikhlas.”

Pyar. Gelas yang kupegang jatuh karena tangannya kini terlalu erat memegang pergelangan tanganku.

 Sadar menjadi pusat perhatian aku memohon diri pergi dan berlari lagi. Benar-benar pengecut. Aku memiliki kesempatan berlari dan menggunakannya dengan baik sekali lagi.

Sebuah tempat persembunyian yang kupilih adalah di belakang kelasku dulu. Aku bersembunyi di sini agar bisa menangis sepuasku tanpa ada yang mendengar karena terletak dibagian sudut sekolah. Suara Doni dan Cachi yang mencariku terdengar begitu jelas. Aku memeluk lututku erat, membenamkan kepalaku, dan terus melanjutkan menangis.

Tuhan mengapa rasanya masih sakit padahal aku sudah berlari? Aku sudah berlari jauh tapi rasanya dia masih ada di depanku. Mengapa ia tak menyerah saja? Mengapa ia tetap keras kepala menyukaiku? Mengapa rasanya dicintai lebih menyakitkan daripada mencintai? Bagaimana aku membayarnya, membayar dia yang mencintaiku? Aku tak bisa membayarnya Tuhan. Apakah ini yang akan terjadi kalau aku mengatakan mencintai Iqbal? Apakah Iqbal akan sesakit ini bila tahu aku mencintainya padahal dia sudah ada yang memiliki? Apakah ini karma? Apakah seharusnya aku berhenti menyukai Iqbal?

Sebuah lollipop berada dalam genggaman tanganku. Iqbal duduk di sampingku.

“Lanjutkanlah! Aku hanya ingin duduk di sini sebentar mengenang tempat tongkronganku saat istirahat dulu.”

Aku buru-buru menghapus air mataku. Pasti aku terlihat jelek dalam keadaan seperti ini.

“Kenapa berhenti? Apa aku mengganggu?”

Aku menggeleng.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku.

“Kebetulan saat aku berjalan-jalan di sekitar sini aku jadi ingat tempat tongkronganku dulu. Tak tahu ternyata kamu di sini juga.”

“Kau tidak mengikutiku kan?”

“Tidak.”

“Lalu permen ini?”

“Ini trik dari calon dokter yaitu dengan memberikan permen pada anak kecil yang takut disuntik agar berhenti menangis tapi tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin memberikannya padamu. ”

“Terima kasih.”

Aku tersenyum dan membuka bungkus lollipop.

“Kenapa harus lari?”

Aku hanya mampu menatapnya.

“Maaf tadi aku tidak sengaja mendengar. Tapi mengapa sulit untuk mengatakan kau menyukainya?”

“Tidak. Aku tidak menyukainya.”

“Lalu mengapa kamu harus menangis di hadapannya?”

“Karena sudah tak sanggup menahannya. Hanya itu saja.”

“Kenapa wanita selalu menggunakan jurus itu?”

“Itu bukan jurus. Itu refleks alami.”

“Jadi wanita bisa menangis dimana saja jika dalam posisi terdesak?”

Aku diam.

“Aku pernah mendengar wanita hanya akan menangis di depan orang yang disukainya. Jadi itu salah?”

“Tidak selalu begitu.”

“Begitu ya.”

“Ya begitu.”

“Lalu mengapa kamu berhenti menangis saat aku di sini?”

Deg. Tuhan apa yang harus kukatakan?

“Kau tak bisa jawab?”

“Aku ingin bertanya dulu sebelum menjawab. Mengapa lelaki sepertimu ingin tahu? Bukankah kau sudah mempunyai seseorang yang bisa kau tanyai?”

Kau hanya tersenyum.

“Kau juga tidak bisa menjawab kan?”

“Hmm. Mungkin karena wanita sering salah paham jadi aku harus bertanya dengan yang lainnya.”

“Kurasa itu bukan jawaban.”

“Baiklah kalau kau memaksa. Kau.”

“Apa?”

“Itu jawabannya.”

“Jawaban apa? Kau hanya memanggilku.”

“Karena yang menangis itu kamu.”

Deg. Pipiku hangat.

“Sekarang giliranmu.”

“Baiklah. Jawabannya aku tak perlu lagi menangis karena kau sudah berhasil menenangkanku. Aku menyukaimu, Bal.”

“Kenapa kamu mengatakannya?”

“Apa?”

“Seharusnya aku yang mengatakannya dulu. Aku menyukai Agy.”

Deg. Inikah rasanya diterima. Ternyata sama indahnya dengan mencintai dan tak sesakit perasaan dicintai.

Tiba-tiba dari ujung tembok Doni muncul tergopoh-gopoh. Ia terlihat kecapekan mungkin karena mencariku. Satu hal yang ia lakukan di ujung sana, melihatku denganmu. Ia berkacak pinggang, menggerakkan kepalanya dan mengacak rambutnya sebentar. Aku pun menggenggam tanganmu erat. Tidak akan lari lagi.

“Don, inilah alasannya mengapa aku tidak bisa mencintaimu,” kataku.

***

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...