Langsung ke konten utama

THINKING AGAIN


“Aarrrghhh,” teriakku kesal.

“Sssttss. Ini tempat umum, Ta,” ujar Bian memperingatkanku.

“Bi, aku harus bagaimana lagi? Aku sudah kehabisan akal.”

“Masalah apa sih?” tanya Abi sambil menyantap nasi soto di depanku dengan lahap.

“Aku ingin putus sama Dodi.”

Sontak kata-katamu membuat Abi tersedak.

“Ini minum dulu, gih!” seruku seraya menjulurkan segelas air.

“Yakin? Bukannya katamu dulu kamu cinta mati sama dia, terus jangan sampai melewatkan dia begitu saja.”

“Bi, ini beda cerita. Cewek mana yang bisa duduk diam kalau lihat cowoknya sama sekali tak respect. Komunikasiku sama dia itu satu arah. Dia jadi pendengar setia dan aku jadi pendongengnya.”

“Hmm, terus?”

“Aku ingin dia sekali-sekali yang cari topic, jadi pendongengnya dan aku gantian diam mendengarkannya.”

“Siapa tahu dia suka sama suara kamu, tuh,” ejek Abi seraya cekikikan.

“Eh, Bi ngawur ya. Mana ada orang yang suka sama suaraku terus rela selalu jadi pendengar seumur hidup? Orang penyanyi saja punya fans. Tahu kan tingkah fans itu seperti apa, ada yang teriak histeris, minta foto bareng. Okei kita pause waktu minta foto bareng. Coba pikir berapa jumlah kalimatnya?”

“Satu? Dua atau mungkin tiga?”

“Salah. Lebih, Bi. Pertama memperkenalkan dirinya kalau dia itu nge-fans banget. Kedua tanya boleh minta fotonya. Ketiga boleh minta tanda-tangannya. Keempat mengucapkan terima kasih. Kelima dan seterusnya dia akan cerita ke teman-temannya kalau dia habis ketemu idolanya dan dapat foto plus tanda tangannya.”

“So?”

“Ih, lama-lama kamu seperti Dodi ya. Buruk.”

Aku lipat wajahku. Memberengut. Menyeruput jus wortelku dengan sekali sedot sampai tak tersisa.

“Kamu marah? Baru segini juga. Eh, Ta aku kasih tahu. Ada cowok yang tidak suka cewek cerewet,” jelas Abi.

“Maksud kamu aku cerewet?” potongku.

No, no, no. Please, listen to me! Ada cowok yang suka cewek cerewet, ada pula cowok yang cerewet dan ada pula cowok yang pendiam. Terakhir ada pula cewek atau cowok yang tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata ketika dia sedang mengagumi seseorang.”

“Lalu?”

“Kalau menurut kamu Dodi masuk yang mana?”

“Sama sekali tak ada di daftar kamu.”

“Selama satu tahun jadi sahabatnya Dodi, dia cerewet tahu. Cuma sama kamu dia jadi diam. Tahu artinya apa?”

“Dia mengagumi aku?”

“Nah, itu tahu.”

“Tapi aku merasa dia itu seperti patung, Bi.”

“Terus kenapa enam bulan bisa bertahan sama dia?”

“Karena Dodi dulu tak seperti sekarang. Dulu dia mau cerita sama aku. Sekarang dia keep silent.”

“Terus yakin mau putus sama Dodi?”

“Bingung. Tunggu tunggu, kenapa dari tadi tanya itu melulu, kasih solusilah Bi.”

“Saranku. No. Bertahanlah.”

Salah aku meminta saran pada Abi – sahabat dekatnya Dodi.

“Eh, panjang umur. Dodi datang tuh!”

“Hei, semua.”

Aku mengangkat alisku. Serius Dodi say hello.

“Aku punya sesuatu buat kamu. Semoga kamu suka.” Kalimat terpanjang yang kudengar dari Dodi setelah sekian lama menghilang.

Bentuknya kotak. Buku.

“Itu spesial. Pertama kali cetak khusus buat kamu.”

“Selamat ya, Dod. Akhirnya berhasil juga.” Abi terlihat semangat.

“Apa? Kalian main rahasia-rahasian?”

“Coba baca halaman persembahannya.”

To: Tita Kirana, orang special yang selalu mendampingiku dengan sabar.

Deg. Aku terharu.

“Ini lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaanku selama ini.”

“Kamu suka?”

“Suka banget. Kamu bukuin cerita-cerita aku di sini?”

“Ya. Setiap hari kamu berceloteh ke sana kemari. Aku tulis di sini.”

“Aku pikir kamu cuma jadi pendengar setia, Dod.”

“Sekarang tahu kan? Masih mau bilang pendengar setia, apa tadi katanya aku seperti patung.”

“Kok bisa tahu? Tahu dari mana?”

“Sedari tadi aku di belakang kamu.Tuh, di situ. Duduk manis. Aku dengar semua yang kamu bicarakan sama Abi.”

“Maaf, Dod. Sorry.”

“Ini kebiasaan kamu dari dulu yang belum juga hilang. Lain kali kalau kamu sebel kamu bisa bilang ke aku. Aku bisa jawab. Kamu pernah tanya aku kenapa aku diam?”

“Gengsi, Dod.”

“Gengsi kok dipelihara. Ini aku kasih bonus jawaban. Aku mau kasih kamu surprise.”

“Kalau dulu aku tanya jawaban kamu juga akan begitu, Dod?”

Dodi menggeleng.

“Terus?”

“Aku akan jawab rahasia.”

“Cie. Indah kali kalian berdua. Jadi iri. Anyway masih berniat putus?”

“Eh, iya aku juga mau tanya itu. Tapi keduluan Abi.”

“Apaan sih kalian ini?”
Pipiku memerah.

Komentar