Langsung ke konten utama

SALAH RADAR



Gue nggak nangis-nangis waktu Vino nikah sama Marsha Timoty. Gue nggak marah-marah, teriak-teriak nggak  jelas atau bahkan bilang 'kayaknya gue deh yang pantes' seperti cewek  yang suka sama Vino. Sumprit gue nggak patah hati. Tapi kenapa waktu ‘Vino yang lainnya’ sama ‘cewek lain’ kenapa gue histeris. Waktu dia pegang tangan cewek lain gue pengen gigit orang. Waktu dia nglirik cewek lain gue pengen melototin cewek yang dilirik. Apa bedanya. Bukankah sama aja sama-sama bernama Vino dan parahnya ketika dia bilang dia suka cewek lain gue yang merasa sakit. Hiks.

Gue pikir dia suka sama gue. Hari itu gue lihat dia nglirik gue. Nyapa gue. Serius. Waktu itu gue lagi sendirian nungguin teman-teman gue. Dia ada di hadapan gue sesekali gue tangkap dia lagi nglirik gue. Setelah nglirik dia menghampiri gue tanya-tanya kabar gue, keluarga gue. Semula gue pikir basa basi tapi detik selanjutnya dia tanya tentang rumah gue disusul celetukan mau mampir rumah gue. Bukankah itu lmpu kuning? Gue tangkap sinyal-sinyal yang lain. Ini buktinya.

"Lo tambah kurusan ya sekarang. Tambah cantik deh."

Dia muji gue. Seumur-umur baru pertama kalinya dia muji gue. Rasanya sinyal gue tambah kuat. Apalagi waktu dia nawarin gue duduk gabung sama teman-temannya. Tapi waktu gue ikut gabung, ternyata gue dicuekin. Dia lebih asyik ngobrol bareng teman-temannya. Tapi beberapa saat dia minta maaf ke gue. Sinyal selanjutnya. Waktu dia natap gue kayaknya ada yang beda. Dia liatin gue sampai nggak kedip. Itu hampir lampu ijo. Mungkin masih percampuran kuning sama biru belum ijo pas. Dan waktu dia mau bilang sesuatu gue pikir itu adalah lampu ijo ternyata gue salah besar. Dia tanya-tanya tentang mantan gue. Dia ngungkit masa lalu gue. Dia ketawa waktu gue bilang jomblo dan dia bangga waktu bilang ada cewek yang lagi ditaksir. Waktu muji-muji itu cewek rasanya terlalu berlebihan.

 Lima belas menit berlalu buat mengulas itu cewek dari awal pertemuan sampai  falling in love. Gue yang dengerin kayak teko yang dipanasin dan dia belum nyadar juga waktu gue sibuk sama hape-ngegame. Beruntung waktu teman gue datang gue diculik dari cerita in love-nya Vino. Gue pernah baca buku laki-laki dan perempuan itu nggak bisa bersahabat. Keduanya ditakdirkan saling tertarik. Gue nggak merasa Vino sahabat gue. Dia cuma teman yang gue kenal dari temannya teman gue. Dan gue langsung tertarik sama style dia, serak-serak basahnya, yang nggak ketinggalan hatinya. Kata teman gue Vino nggak pernah bilang suka sama cewek kecuali akhir-akhir ini. Itu cukup menyakitkan buat gue tapi menyenangkan buat dia. Ketika gue timbang  di neraca pasti mereka bilang adil karena tiap orang punya hak buat jatuh cinta, mencintai dan dicintai. Dia cinta sama cewek lain dan gue suka sama dia. Hiks.

Parahnya nggak sampai di situ. Eri sohib gue mulai tanya-tanya tentang Vino.

“Itu tadi yang namanya Vino kan?”

“Iya.”                                                                                                                                       

“Eh, kalau dilihat-lihat cakep juga.”

“Iya.”

“Dia BBM-an lho sama gue. Kayaknya dia naksir sama gue.”

Wait wait. Gue nggak salah denger?” 

Eri senyam-senyum tanpa rasa bersalah.

“Gue juga BBM-an sama dia,” sahut Tatia nggak mau kalah.

Cuma gue yang nggak. Gue sedari awal ilfeel sama BB gara-gara semua orang bicarain tentang itu. Gue sebel sama BB gara-gara dia sudah sita waktu gue bareng sohib gue. Gue sebel semua pembicaraan selalu berawal dari BB dan berakhir dengan BB. Gue sekarang tambah sebel karena BB sekarang harapan gue sama Vino jadi tambah jauh.

Patah hati deh gue.

“Rik, Vino ke sini tuh! Kayaknya mau nyamperin gue,” celetuk Eri.

“Bukan lo pasti guelah,” sahut Tatia masih tak mau kalah.

“Iya deh kalian berdua. Gue cabut aja ya. Ditungguin nyokap di rumah nih.”

“Okei, Rika sayang. Hati-hati di jalan ya.”

Tuh kan, gara-gara Vino datang mereka jadi lebih fokus ke Vino. Sebel.   

“Rika, ini punya kamu?” Suara Vino terdengar jelas memanggilku.

OMG. Kalungku jatuh. Bisa dimarahin habis-habisan kalau begini caranya.

“Terima kasih, Vin. Tapi lo nemuin di mana tadi? Gue bisa dikeroyok nyokap kalau sampai tahu kalung gue hilang cuma sisa gantungannya.”

“Gue bantu cari ya.”

Aneh. Ini anak kenapa sih? Doyan banget mempermainkan sinyal radar gue. Sebenernya suka nggak sih? Ngirim sinyal kok ribet amat. Tinggal ketik Yes kirim aja pakai gonta-ganti message.

“Kalau gitu kita berdua ikutan bantu ya,” sahut Eri ikut-ikutan Vino.

Great. Malam itu fokusnya pencarian kalung. Gue lihat Eri tambah deket sama Vino. Nyesek rasanya. Rasanya ingin kabur setelah kalungnya ketemu. Please, please datang keajaiban.

Ketemu. Mata gue berbinar tajam. Gue bebas dari siksaan fisik meskipun gue tetep nggak lepas dari siksaan hati. Vino, oh Vino. Kubiarkan kau memilih Eri atau aku, atau Tatia. Gubrak.

Ini bagian yang sama sekali nggak mengenakkan. Mantan gue datang. Mantan gue ternyata temennya Vino. OMG. Bencana. Gue cancel rasa suka gue ke Vino. Titik.

“Lo mau pulang, Rik?” tanya Vino sewaktu lihat gue mau ngeloyor pergi tanpa pamit.

“Nyokap di rumah udah nungguin,” ujarku berbohong.

Vino, please izinkan gue pergi.

“Kita punya kejutan lho buat elo, Rik,” celetuk mantan gue.

“Gue udah terkejut kok dengan kehadiran lo,” sahut gue rada kejem.

“Beneran, serius deh. Gimana kalau kita percepat?”

Tiba-tiba gue merasa tangan gue dua-duanya ditarik. OMG. Mau diapain gue? Kolam.

“Stop. Gue nggak bisa renang. Gue nggak bisa – ”

Nggak ada yang mau dengerin gue. Gue minum banyak air. Rasanya tubuh gue ngambang di air dan gue denger ada yang bilang, “Eh, tolongin itu. Ngambang beneran.”

Gue nggak tahu berapa jam gue nggak sadar. Ketika gue sadar gue lihat kembang api di atas langit indah banget. Tubuh gue kayak kepompong dililit banyak selimut.

“Oi, siapapun tolongin gue. Gue nggak bisa gerak nih.”

Tapi percuma nggak ada yang denger gue karena keasyikan lihat kembang api. Kecuali Vino. Dia nyamperin gue.

“Udah nggak kedinginan kan?”

“Lo ganti baju? Baju lo tadi kemana?”

“Basah, kan habis nolongin lo.”

Pipi gue memerah. Ouch! Gue dipermainkan lagi.

“Vin, sebenernya lo suka nggak sih sama gue.”

Sumprit. Gue udah nggak bisa tahan dipermainkan terus menerus. Eh, Vino malah ketawa.

“Dari mana lo dapet kesimpulan kayak gitu? Kebanyakan nonton sinetron ya?”

“Enak aja. Cewek punya radar tahu. Tapi mungkin radar gue yang nggak terlatih kali ya. Jadi cabut aja pertanyaan gue tadi. Anggap nggak pernah ada.”

“Ada juga nggak pa-pa.”

“Jadi lo suka sama gue.”

“Nggak juga.”

“Gimana sih, Vin?”

“Ini kalung lo. Tadi jatuh lagi deh. Nyemplung di kolam.”

Eh, menggantung deh ceritanya. Vino cuma ngasih kalung gue kembali. Tunggu dulu. Ternyata belum berakhir. Gantungan yang dikasih Vino bukan gantungan kalung nyokap gue karena gantungannya masih di meja gue tadi. Dan ternyata eh ternyata Vino kasih gantungan baru ke gue. Cincin.

Vino suka sama gue. Berarti radar gue bener. Judulnya gue ganti aja deh jadi Good Job Radar! Yeah.

Komentar