Langsung ke konten utama

MOVE ON



Bunga yang kau beri kusimpan rapi dalam buku harianku. Tampak cokelat, mengering. Harumnya masih dapat kurasakan seperti saat aku mengantar kepergianmu. Putih.

Bolehkah hari ini aku menggantinya. Sudah saatnya bunga itu berada di tempatnya. Ia lebih berguna untuk yang lain. Bukannya aku bosan menyimpan, aku hanya ingin kau perlahan berdiri lalu beranjak ke sisi lain tak hanya duduk manis di dalam sini. Aku ingin melihatmu tertawa lagi meskipun itu tak bersamaku. Meskipun kau tak memperlihatkan langsung padaku.

Kau dulu yang menyuruhku berjalan setapak demi setapak darimu saat kau bilang akan pergi, tapi aku masih bertahan. Tapi hari ini, aku akan menuruti permintaanmu.

Kini jam tanganku sudah berjalan tiga puluh menit dari waktu aku tiba di sini. Dia belum datang. Aku berusaha tetap tenang. Aku yakin keretanya datang terlambat hari ini. Namanya Ara. Dia secantik dirimu Putih.

“Galih.” Suara khasnya terdengar memanggilku. Dia sudah datang.

Ia berlari ke arahku dengan senyuman yang mirip denganmu. Gigi kelincinya terlihat lucu. Aku jadi rindu padamu.

“Sudah makan?” tanyaku setelah mendengar bunyi dari dalam perutnya. Ia pun menggeleng.

“Aku lapar,” jawabnya jujur.

Aku dan diapun akhirnya pergi ke rumah makan dekat stasiun. Tempat kita dulu. Kau pertama kali muncul di sini dan sejak pertama kali kulihat wajahmu sudah pucat. Ketika aku masih bekerja di sini aku sering menemanimu bicara sampai akhirnya hari itu kau tak pernah datang lagi. Aku tak tahu di mana harus mencarimu. Namun tiba-tiba aku menerima sebuah paketan. Kotak 25 x 25 cm. Saat kubuka aku seperti menemukanmu di dalamnya. Foto-fotomu, buku harianmu dan setangkai bunga matahari.

“Galih.”

“Ya.”

“Boleh tanya sesuatu?”

“Ya.”

“Putih itu siapa?”

Deg. Aku sering salah sebut namamu di depannya.

“Putih itu bergigi kelinci sepertimu, cantik, punya lesung pipi.”

“Oh, ya. Siapa dia? Bisa aku bertemu dengannya?”

“Dia temanku. Kau mau kukenalkan dengannya?”

“Kalau dia temanmu berarti dia juga harus jadi temanku.”

“Kamu yakin mau bertemu dengannya? Kalau dia lebih cantik darimu bagaimana?”

“Tak apa, asal hatimu masih ada untukku.”

Deg. Putih lihat apa yang kulakukan karena kebohonganku. Jahat sekali. Ara begitu baik kenapa aku harus membohonginya. Aku menyukaimu Putih sampai saat ini. Tapi aku juga punya Ara, saat ini. Bedanya Ara di sini, di depanku.

“Selesai.”

Ara telah selesai menghabiskan makanannya. Wajah lugunya itu membuatku ingin memandanginya setiap saat. Beautiful. Sungguh mengalihkan duniaku.

“Yuk, sekarang kita temui temanmu. Selagi aku masih di kota ini.”

Lihat, dia riang sekali. Seolah ia hidup tanpa beban. Itu yang kusuka darinya. Dia membuatku tertawa setiap aku merasa kehilanganmu. Dia membuatku memikirkannya saat rasa sedihku membanjir karenamu. Ara menjahit puing-puing hatiku perlahan-lahan sampai hari ini.

“Masih jauh?”

Aku menggeleng ketika Ara menanyakan tempatmu.

“Tidak? Lalu kenapa kita berhenti di sini?”

Aroma bunga kamboja berhambur di udara. Wangi khasnya membuat Ara mencengkram lenganku erat.

“Kita sudah sampai. Apa kau takut?”

Ara melepaskan cengkramannya. Ia pun menggeleng.

“Di sini. Ini Putih. Cantik bukan. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya.”

Ara menatapku tanpa berkedip. “Putih. Maksudnya teman kamu Putih itu nisan ini?”

“Bukan, Ra. Tapi yang ada di dalamnya. Dia cantik sekali. Lihat.” Aku menjulurkan foto Putih kepadanya. Kulihat ia tak berhenti menatapmu di foto itu.

“Kau masih menyimpan fotonya?”

Tatapannya kini berubah aneh. Apakah dia marah? Apakah dia cemburu?

“Iya. Aku masih menyimpannya. Apa kau tidak apa-apa kalau aku masih menyimpannya?”

“Kurasa hubunganmu lebih dari sekedar teman dengannya, Galih. Wanita tidak bisa dibohongi soal ini. Mana mungkin kau menyimpannya jika tak punya kesan apa-apa padanya.”

“Terbongkar juga. Kamu pintar, Ra. Ya aku memang suka padanya. Tapi apa aku tak boleh mencintai orang yang sudah tiada?”

“Aku takut, Lih. Aku takut kalau kamu terus menerus mengingat perempuan itu.”

“Kau tadi bilang, katanya tak apa asal hatiku masih untukmu.”

“Aku bercanda, Lih. Kupikir kamu juga bercanda tadi.”

Kau lihat, ternyata kau benar tentang bunga itu. Kau bilang aku harus membuangnya sebelum mengering, tapi nyatanya aku menyimpannya sampai kering. Kini bunga itu menyebabkan Ara berpikir ulang padaku – hubunganku.

 Hening. Kudengar Ara terisak keras. Aku tak tahu bagaimana harus menenangkannya. Belum pernah aku melihat seorang wanita menangis karena aku yang menyebabkannya menangis. Aku ingin menepuk bahunya, tapi seperti yang kulihat di televise pasti akan ditepis. Aku ingin memeluknya seperti di televise, tapi pasti akan didorongnya. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi pasti dia menyumpahiku dengan luapan emosinya. Ah, aku kalah untuk urusan semacam ini. Bahkan aku tak pernah melihatmu menangis dulu. Kau selalu tersenyum dengan bibir putihmu. Kau pun tak menangis sewaktu menyuruhku pergi sebelum aku melihatmu tak berdaya. Justru aku yang menangis. Aneh bukan jika sekarang aku di hadapankan padanya yang menangis karenaku.

“Ara. Tak bisakah kau biarkanku tetap meletakkan hatiku di tempatmu. Beri aku ruang untuk melupakan bunga kering yang tak bisa bersemi lagi. Aku rasa jika kamu memberi kesempatan sedikit lagi, bunga itu pada akhirnya akan melebur. Seperti daun yang jatuh di tanah dan diurai oleh komposer.”

Kau mengusap air matamu. Aku memegang tanganmu. Satu tamparan mendarat di pipiku. Kau pun pergi.

“Kau mau kemana?”

“Pulang dan jangan pernah menghubungiku lagi.”

Lihatlah. Kata-kataku berbuah tamparan di pipi. Mendarat manis. Aku tahu aku salah tapi apakah tak ada kesempatan kedua untuk seorang laki-laki untuk mencintai wanita yang mengisi harinya. Ah, ini sudah keterlaluan. Seharusnya aku marah padanya karena dia menamparku lalu pergi. 

Hei, Putih ternyata susah untuk beranjak pergi darimu. Lihat saja bagaimana aku bisa jika wanita yang kucintaiku tak bisa menerimaku yang ingin beranjak darimu. Lalu apa artinya cinta jika kita tak mau memberi sebuah ruang untuk kehidupan yang baru.

Aku mengembalikan lagi bunga yang kau beri. Sepertinya bunga itu memang harusnya ada di tempatmu ini. Lebih baik aku menaruh bunga baru di hatiku, Putih. Kau sudah terlalu lama di dalam sini, sudah saatnya aku pamit.
***

Komentar