Langsung ke konten utama

Isyarat Hati



Aku melihatmu. Ya, itu kau. Kau sedang menatap ke arahku. Kau membuka pintu mendekatiku.

“Mbak ada pipa air nggak?”

Aku sedang menikmatinya. Menatap wajahmu dari dekat.

“Mbak?”

Aku tersentak kaget. Kau menyudahinya. “Iya ada apa, mas?”

“Di sini jual pipa air nggak? Butuh banget nih mbak.”

“Sebentar ya saya carikan dulu.”

Ya. Aku nakal. Sudah jelas di sini tak jual pipa. Aku hanya ingin menahannya sejenak di sini bersamaku. Tapi tiba-tiba kenikmatan itu terhenti lagi. Ada seorang perempuan melambaikan tangannya dan membawa pipa yang kau cari. Akhirnya kau pergi tanpa pamit.

Ah, mimpi apa aku semalam bisa melihat wajahmu dari dekat. Akhirnya aku bisa tahu apa warna bola matamu, parfum apa yang kau pakai, bagaimana tekstur rambutmu, bagaimana susunan gigimu yang selama ini kupertanyakan. Sempurna. Tak salah aku mengagumimu wahai anak kompleks sebelah. Tiap pagi melintas di depan toko ayahku. Tiap pagi bisa dipastikan terkena lampu merah dan kadang masuk ke toko membeli sebungkus rokok. Tapi melihat bibir dan gigimu, aku yakin kau bukanlah seorang perokok.

“Sya, sudah pulang saja ke rumah. Kerjakan pekerjaan rumahmu dulu. Biar ayah yang menjaga toko.”

Ayah menghentikan lamunanku. “Iya, Yah. Marsya baru mau siap-siap,” ujarku seraya memasukkan handphone ke dalam tas.  

“Yah, Marsya pulang dulu.”

Biasanya jam segini kau muncul di samping gang bersama temanmu di warung Cak Gus. Aku sudah tak sabar melihatmu. Rasanya melihatmu sedetik saja seperti bertemu denganmu satu jam. Sungguh seperti menemukan permata di tengah jalan.

Baru tiga langkah keluar toko, aku melihatmu menuju arahku sambil berlari.

“Mbak ada plester buat pipa nggak?” tanyamu terdengar terputus-putus.

“Buat apa mas?”

Kau mengatur napasmu sebelum bicara. “Itu, pipa di rumah saya bocor. Tadi sih udah dapat pipanya sekarang butuh plesternya. Ada nggak, Mbak?”

“Kalau di toko saya sih nggak ada mas. Tapi kalau di toko seberang sana ada. Mau saya antar?”

“Kalau nggak merepotkan sih Mbak.”

Mimpi itu bisa terwujud dan tidak terwujud. Tapi kali ini mimpi itu terwujud. Akhirnya aku bisa berjalan denganmu 10 cm.

“Mbak, sekolah di SMA Bunga juga ya?” Tiba-tiba kau bertanya.

“Kok tahu?”

“Kenalkan namaku Abhin. Anak SMA Bunga juga.”

Deg. Sejak kapan kau satu sekolah denganku. Aku yang salah atau kau yang berbohong.

“Namaku Marsya.”

“Iya, saya sudah tahu Mbak. Saya sering lihat di perpustakaan. Suka baca ya?”

“Iya suka. Sering ke perpus juga?”

“Kadang sih. Boleh langsung panggil nama?”

“Boleh.”

Wajahku memerah. Oh my good. Begitu dekat rasanya. Begitu pula toko bangunan yang menjual plester pipa.

“Bang, ada plester pipa nggak?” tanyamu ke abang penjual.

Setelah plester itu di tanganmu tugasku selesai. Cerita inipun kupikir sudah selesai.

“Marsya, terima kasih ya.” Kau tersenyum manis. Rasanya turun hujan. Hujan bunga dari atas langit.

Aku hanya mampu membalas senyummu dengan pipi merahku.

“Sya, biasa berangkat setengah tujuh kan? Mau bareng nggak besok?”

Deg. Mimpi apa aku semalam.

“Sebenarnya aku udah ada angkot langganan sih. Tapi sekali-kali bareng kamu juga nggak apa-apa.”

“Tapi ayah kamu nggak pa-pa kalau kamu bareng aku?”

“Paling ayahku melontarkan serentetan pertanyaan buat memastikan apa aku sampai dengan selamat dan aman. Haha.”

Kau ikut tertawa sambil berjalan sedang aku berhenti.

Hei, apakah ini tandanya isyarat hatiku sudah kau tangkap. Indah juga. Kau mengerti apa yang kumau, apa yang kubutuhkan.  Apa lelaki juga punya kemampuan seperti perempuan yang bisa punya radar pada siapa saja yang menyukainya. Apakah kamu tahu pipiku memerah karenamu?

Ah, peduli amat. Semoga saja kita akan semakin sering bertemu.

Tinnn. Tinnn.

“Sya, awas!” Suaramu memekik di telingaku. Aku melihatmu berlari ke arahku.

Brakkk. Deerr. Suara ambulan terdengar samar-samar. Roda, jejak langkah, orang-orang yang berteriak. Putih.

Aku ingat tasku terjatuh. Tubuhku terguling hampir masuk ke tempat saluran air. Ayah keluar dari toko memanggil namaku. Nyaring. Sebelum semuanya menghilang.

“Sya, kamu masih ingat aku?”

Aku membaca kata-kata itu dari bibirmu. Entah itu benar atau tidak aku hanya mengangguk dan menjawab, “Iya.”

“Baguslah. Berarti – ”

Aku tak bisa membaca kata-katamu selanjutnya. Telingaku berdenging. Sakit. Kata mereka ada pendarahan di telingaku saat peristiwa naas itu terjadi. Sekarang bagaimana aku menjalani hidupku tanpa kedua pendengaranku?

Kau pun mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di sana.

Maaf aku terlambat menolongmu.

Setetes air jatuh ke telapak tanganku. Bukan air mataku melainkan air matamu. Kulihat raut wajahmu kau begitu menyesal.

“Aku masih bisa bicara, Bhin. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bicara,” kataku.

Aku mengusap air matamu.

“Satu hal yang ingin aku katakan padamu. Ini tentangku, tentangmu. Aku menyukaimu sejak enam bulan yang lalu, Bhin.”

Kau mendongkak dan menuliskan sesuatu di kertas.

Jika kau menyukaiku sejak enam bulan yang lalu maka aku mencintaimu jauh hari sebelum enam bulan yang lalu. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di hari pertama ospek. Kau lupa kita pernah berhadapan, dihukum bersama. Mungkin kau tidak mengenaliku karena aku menjadi tuxedo bertopeng sedang kau jadi Sailormoon dan kita berkeliling sekolah sambil berkata kita pembela kebenaran dan keadilan.

Air di mataku membanjir keluar.

“Ya. Sekarang aku mengingatnya.”

Satu hal lagi. Jika kamu menemukanku melintas di depan tokomu itu karena kusengaja. Aku ingin memberimu isyarat bahwa hatiku sudah terpaut pada Sailormoonku. Kamu.

Senyumku mengembang. Radarku berkedip-kedip. Kau sudah berhasil mengirim isyaratmu dan aku menerima dengan baik. Terima kasih.

Komentar