Langsung ke konten utama

Hampir Jadi



Mungkin hatiku semerah bunga yang kusiapkan. Hari ini tepat setahun aku mengenalnya. Dia wanita terindah yang pernah kukenal. Berawal dari salah orang menjadi sahabat. Menarik, lucu, ceria dan tak pernah mengeluh di depanku. Gadis mandiri yang tangguh. Pesonanya selalu semerbak menghipnotisku.

Ah, aku hampir lupa men-dial nomernya. Hampir saja aku lupa bagian terpenting dari semua ini. Dia. Ya, dia harus datang malam ini. Aku telah mempersiapkan segalanya – mawar, musik dan tentu saja sebuah cincin. Melamarnya, itu yang akan aku lakukan empat jam ke depan. 

Belum apa-apa dan rasanya jantungku berdegup cepat. Membayangkannya saja sudah seperti ini. Tempat duduk tepat bagian di sudut yang kupilih. Yakin malam ini akan banyak bintang bertaburan di langit dan mereka menyaksikannya.

“Hallo, Bi.” Suara merdunya sudah terdengar.

“Ra, nanti malam bisa temani aku cari buku?”

“Kenapa harus malam ini?”

“Ya, karena aku butuhnya untuk malam ini. Bisa?”

“Emm, bisa sih. Tapi jemput ya.”

“Siap, Ra.”

Klik. Sudah beres. Sempurna. Aku tinggal pulang dan bersiap-siap untuk nanti malam.

“Mas, lagunya diputar waktu kami datang ya.” Aku menyerahkan sebuah CD untuk backsong malam ini. “Dan satu lagi nanti cincinnya dikeluarkan ketika saya memesan lagi.”

***                


Ini waktunya. Aku menjemput Rara.

Sepanjang perjalanan Rara bercerita tentang Bondi adiknya yang sangat jahil. Lalu tiba-tiba ia bercerita tentang seseorang yang lama tak kudengar. Enam bulan lalu orang itu meninggalkan Rara. Cerita itu bersambung saat kami sudah sampai tempat tujuan.

“Bi, katanya mau ke toko buku?”

“Makan dulu ya, aku lapar.”

Seperti yang kurencanakan. Penyanyi kesukaannya, Kahitna – Untukku. Kulihat senyumnya melengkung.

“Aku suka.”

“Apanya?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Lagunya. Sepertinya aku harus sering-sering datang ke sini.”

Waiter menghampiri lalu pergi setelah pesanan kami tercatat dengan baik.

“Bi, lanjut ya. Ergi kemarin muncul di depan rumah lagi.”

“Lalu kamu keluar?”

“No. Tidak akan lagi. Aneh ya. Jelas-jelas aku masih suka.”

“Kamu yakin masih suka setelah perlakuannya ke kamu?”

“Entahlah, Bi. Tapi aku sedang dalam proses suka dengan orang lain.”

Wajahnya berseri. Pipinya merona. Malu. Apakah itu aku?  

“Oh, ya? Coba ceritakan soal dia, aku ingin dengar.”

“Dia seperti kapas.”

“Kenapa kapas?”

“Putih dan melayang-layang.”

“Kamu yakin? Tak ada perumpamaan yang lain apa?”

“No, no, no. Kapas udah cocok banget buat dia.”

“Putih dan melayang-layang. Ya, ya, ya. Apalah itu, yang penting orang itu ada kan?”

“Tentu. Dia dua tahun di atasku, seperti kamu.”

Deg. Seperti aku katanya? Apakah bukan aku? Lagu sudah habis diputar. Aku memberi isyarat pada waiter untuk mendekat. Seperti dalam film-film yang kutonton saat seperti ini aku harus menghilang. Kubiarkan Rara sendiri dulu. Aku juga butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri. Berdebar lagi.

***


Hilang. Rara menghilang saat aku kembali. Aku mencoba menunggunya. Lima menit berlalu waiter datang.

“Mas, tadi mbak di sini bilang keluar sebentar. Mas disuruh nunggu.”

Lega. Kupikir rencanaku akan gagal. Iseng-iseng aku menatap keluar jendela. Ramai. Pejalan kaki, mobil-mobil berseliweran, dan siluetmu – postur tubuhmu begitu jelas. Kau bersama seorang lelaki di sebrang jalan. 

Deg. Rasanya bukan fisikku yang sakit tapi sesuatu yang lebih lembut, halus dan tak terlihat. Perasaanku sedikit nyeri. Ah, seperti perempuan saja aku ini. Tapi lelaki itu siapa? Ergi atau lelaki yang dimaksud Rara dalam ceritanya?

Sepuluh menit Rara tak jua kembali. Ingin rasanya aku menghampiri mereka. Ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Ah, tidak! Mengapa aku jadi seperti ini? Aku tak ingin ikut campur urusan mereka. Yang aku butuhkan adalah menunggu sampai Rara kembali dan membuatnya terkejut.

Lima menit berlalu kembali.

Tak apa jika Rara lama. Paling tidak setelah ini ia kembali membawa kabar gembira dan menerimaku. Itu yang kumau. Tidak-tidak. Ini sudah sangat lama. Tak lagi bisa dibiarkan. Sebaiknya aku ke sana. Pikiranku begitu kalut. Akhirnya aku bangkit dari tempat duduk. Belum sampai melangkah Rara muncul. Seorang laki-laki di belakangnya. Ergi-kah? Atau laki-laki itu yang dimaksud Rara dalam ceritanya? Semoga hanya teman – sebatas teman dan tak lebih. Harus.

Tubuhku lemas ketika laki-laki itu duduk di samping Rara. Rencanaku haruskah tetap jalan?

Bagaimana jika lelaki ini yang lebih dicintai Rara? Lalu aku harus menanggung malu di hadapan sesama lelaki dan disebut lelaki gagal?

“Maaf lama menunggu, Bi. Oh, ya perkenalkan namanya sama denganmu Aby.”

Haruskah namanya sama denganku? Oh, no! Apa yang harus kulakukan? Aku kikuk setengah mati. Cincin yang telah kupersiapkan, bunga mawar yang telah susah payah kubeli dan apakah semuanya sia-sia?

“By.”

“Ya,” sahutku.

“Maaf, bukan kamu Bi tapi Aby yang ini. Kamu mau pesan apa?”

Deg. Retak sudah. 

“Bi,” panggil Rara. Aku tak menyahut, takut salah lagi.

“Bi,” panggilnya sekali lagi seraya menyentuh jemariku.

Seperti aliran listrik mengalir di darahku, menghidupkan lampu di hatiku yang redup. Akhirnya Rara memperdulikanku.

“Kita jadi ke toko buku kan?” tanya Rara seraya melirik Aby yang satunya.

“Tentu saja.” Tentu saja jika hatiku dalam keadaan baik-baik saja. Entah jika hatiku retak di jalan.

Waiter yang berjalan di sampingku dipanggil Rara. Aduh, gawat kalau sampai salah sangka! Semoga saja waiter itu ingat pesanku. Kalau aku memesan sesuatu lagi berarti saatnya cincin itu yang keluar.

Menunggu pesanan si Aby datang jantungku berdebar minta ampun. Komat-kamit aku berdoa, jangan sampai salah, Tuhan. Help me.

Saat waiter itu mendekat ia mengedipkan matanya. Aku menggelengkan kepalaku. Ia semakin dekat dan mempertanyakan gelengan kepalaku dengan isyarat. Aku menggerakkan jariku untuk kembali lagi nanti tapi ia sudah sampai di depan meja.

Sebelum diletakkan Rara sudah menyambarnya. Bukan untuknya, tentu saja untuk Aby. Sial.

Begitu tutup makanan dibuka. Aby kaget setengah mati. Bukan makanan yang tersaji tetapi kotak cincin dan nekat ia buka. Tentu saja aku tidak tenang. Ingin rasanya aku menenggelamkan wajahku di dalam mangkok soup di depanku.

“By? Waiter-nya salah nih. Gimana sih?” protes Rara.

Sebelum Rara memanggil kembali, aku menahannya dengan seluruh nyali yang kupunya.

Waiter-nya nggak salah kok, Ra. Seharusnya cincin itu di depanmu.”

“Maksud kamu?”

“Tadinya aku merencanakan semua ini untuk mengatakan I Love You, Ra.”

“Bi, kamu nggak bercanda kan?”

“Aku serius, Ra dan ini buat kamu.” Aku menyodorkan bunga mawar yang sedari tadi kusembunyikan di bawah meja.

Rara terdiam. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Oh, tidak! Sepertinya aku hanya akan membuatnya menangis, tapi aku butuh sebuah kepastian. Aby terlihat bergerak. Apa yang akan ia lakukan pada Rara? Tangannya menepuk bahu Rara. 

Ah, aku gagal. Rencanaku gagal. Hampir saja jadi.

“Ra, aku bercanda. Surprise. Jangan anggap serius. Ini adalah satu tahun kita berkenalan. Aku hanya ingin merayakannya bersamamu.” Akhirnya aku memilih kata-kata ini. Mau bagaimana lagi? Aku sekarang tahu orang yang dimaksud Rara bukan aku. Akhirnya aku memanggil waiter untuk membawakan pesanan Aby.

Keadaan berubah hening bahkan sampai saat kami menyantap hidangan. Hanya suara sendok dan piring yang beradu. Selesai.

Rara bangkit duluan diikuti Aby. Aku sesungguhnya sudah tak punya daya untuk berdiri tapi sudahlah mungkin memang belum saatnya. Kami melangkah keluar.

Rara menoleh ke arahku setelah berusaha menjaga jarak dengan berjalan di depan.

“Bi, aku tahu tadi kau tak bercanda.”

“Apa kau tak bisa membedakannya? Tadi aku benar-benar bercanda.”

“Bi, apa kamu hanya ingin bilang I Love You?”

Oh, no! Ternyata begini rasanya tertolak dan kau harus meyakinkannya kalau kau hanya bercanda meskipun sebenarnya kenyataan.

“Kalau kamu memang benar-benar menyukaiku bukan begini caranya.” Ia mengembalikan cincin yang kuberi, ralat tidak sengaja diberikan waiter.

Fine. Sempurna. Rasa hancurnya bercampur jadi satu. Sekarang aku benar-benar ditolak.

“Datanglah ke rumahku dan mintalah baik-baik pada kedua orang tuaku,” lanjutnya.

Aku masih sadar, menatapnya tanpa berpaling kemana-mana. Suara lembutnya cukup terdengar tanpa ada sepatah katapun yang hilang. Apakah itu berarti Rara setuju? Aku diterima dengan syarat. Rencana gagal ternyata tak mempengaruhi ending ceritaku mencintai Rara. Ini bukan bertepuk sebelah tangan. Rara menyambut cintaku dengan tangan terbuka.

“Jangan salah sangka ya, Bi. Aby ini hanya temanku yang tak sengaja bertemu di sini. Orang yang kuceritakan tadi itu ya kamu, Bi. Kapas.”

***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini