Langsung ke konten utama

Flying With U



Senin pagi.
Kau mengajakku bertemu pagi ini. Tanganmu terlipat rapi di meja. Secangkir kopi pekat menemanimu di sana. Wajahmu terlihat berseri seolah kabar gembira darimu yang akan kudengar. Kau menyambutku dengan uluran tangan.
“Hai.”
“Hai juga,” balasku canggung.
Kau memandangiku. Lalu tersenyum. Seolah ada bagian yang salah dari penampilanku hari ini.
“Kamu berbeda hari ini,” katamu membuatku gugup.
“Apakah ada yang salah?”
“Tidak ada,” ujarmu.
“Lalu?”
“Lupakanlah, aku bercanda, Ndut.”
Deg. Aku terperanjat. Dahiku mengkerut. Terakhir kali kau memanggilku dengan sebutan itu empat tahun yang lalu saat kita masih memakai putih abu-abu.
“Kau kaget?” tanyamu. Aku hanya terdiam, mencoba tak mengingat-ingat panggilan itu lagi.
“Sudah lama aku tak memanggilmu, Ndut. Kangen juga rasanya. Apa kau masih ingat nama panggilanku?”
Aku menggeleng.
“Kapten Jip. Aku masih mengingatnya. Itu tokoh khayalanmu kan? Siapa itu nama temannya, Guli-guli ya? Mereka berdua bersama-sama berusaha menghancurkan si Rotus jahat kan?”
Aku senang kau masih mengingatnya. Kata orang itu bukan lagi konsumsi seumuran kita, tapi setiap kali aku bercerita tentang khayalan itu kau mendengarnya dengan sangat apik.
“Oh, ya apa kabar Kapten Jip?”
“Baik,” jawabku singkat.
“Hanya baik saja? Itu tak menjelaskan keadaan Kapten Jip, Ndut.”
Aku tak menjawabmu.
“Kalau begitu apakah Rotus jahat bisa dikalahkan?” Kau masih terus bertanya.
“Belum.”
“Ingatkah, waktu kau bilang gigi Rotus jahat tiba-tiba hilang di pagi hari karena dicabut oleh Kapten Jip? Itu adalah bagian yang lucu, Ndut. Dari mana coba, Kapten Jip punya ide untuk mencabut gigi Rotus jahat? Apa karena kebanyakan nonton iklan di televisi?”
“Sebenarnya kau ingin bertemu denganku hanya untuk membicarakan ini, Vin?” Aku menarik cangkir kopi yang dipegangnya.
Kau tersenyum.
“Kau sekarang galak,” celetukmu.
“Itu karena kau sudah membuang waktuku lima menit di sini.”
“Tak cuma galak sekarang kau sudah pintar menghitung waktu.” Kau bertepuk tangan.
“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah!”
“Wow, sekarang juga jadi pemaksa dan nggak sabaran.” Kau memasang wajah menggodaku lalu tertawa.
“Tak ada yang lucu, Vin. Cepatlah aku tak punya banyak waktu!”
“Ternyata kau tak berubah. Kau masih sesibuk dulu dan tak punya waktu untukku.”
Deg.
“Kau berusaha mengungkitnya lagi? Baiklah kalau begitu aku tanya siapa orang yang mencalonkan diri menjadi ketua OSIS dan ikut segala jenis ekskul? Jadi sekarang siapa yang lebih sibuk?”
“Itu kan demi pengalaman, Ndut. Toh, juga bermanfaat untuk sekarang. Coba tebak sekarang aku bawa apa?”
Aku menyilangkan lenganku dan menyandarkan tubuhku di kursi. Ku tatap gerak-gerik mencurigakanmu.
“Lihatlah! Ini buat kamu.” Sebuah buku dengan cover lukisan abstrak kau sodorkan padaku. Ternyata hanya sebuah buku, bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.
“Itu novel pertamaku. Berhasil masuk penerbit. Kau lihat cover itu? Itu hasil lukisanku,” ujarmu panjang lebar sambil menaruh buku itu di meja.
Aku terhenyak. Kau memang hebat Kevin Taromi. Aku akui itu. Kau memang berbakat dalam segala hal. Kuterima kekalahanku.
“Dan satu hal lagi yang ingin kukatakan.”
Aku meraih bukumu dan melihat cover yang kau banggakan itu. Tercekat seketika melihat bagian belakang.
“Kurasa kau sudah tahu sekarang apa yang akan kubicarakan,” ujarmu ketika melihat ekspresiku membaca barisan kata yang berjajar menjadi beberapa paragraf.
“Vin, kau memasukkan namaku, Kapten Jip, Guli-guli lalu Rotus?” tanyaku. Aku ingin tersenyum, tapi sebagian nyeri memasuki alam bawah sadarku. Sadar Keyla. Kau masih di masa kini.
“Kau suka? Itu kado untukmu,” katamu seperti tak bersalah sedikitpun.
“Kau salah, Vin. Justru sebaliknya.” Aku meletakkan bukumu dan mendorongnya ke arahmu.
“Kau tak suka? Kenapa? Kalau aku jadi kau, aku akan senang.” Kau melihat-lihat bagian cover dan membolak-baliknya berkali-kali.
“Kamu ya kamu, Vin. Kamu nggak akan pernah jadi aku,” ketusku. Kau hanya memincingkan matamu.
“Baiklah kalau kamu memang tetap tidak suka. Tapi beritahu alasannya,” desakmu.
“Apa ekspresiku ini belum bisa menjelaskan apa-apa?” tanyaku.
“Aku bukan orang yang pandai membaca ekspresi, Ndut. Lebih baik kau beritahu aku.”
“Dari tadi kau memanggilku, Ndut, aku punya nama, Vin. Tolong hargai itu.”
“Dulu kau tak masalah jika kupanggil Ndut.”
Aku termenung. Kau tak mengerti apa yang akan terjadi jika kau terus menyebut nama panggilan itu. Aku akan mengingatnya. Mengingat hari itu aku membohongimu dan kubawa kebohongan itu hingga kini.
“Kau diam. Berarti kau tak punya alasan.”
“Aku punya alasan, Vin. Hanya saja sulit untuk dikatakan.”
“Lihatlah sekarang kamu berani menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu setiap kali kau bilang sulit untuk dikatakan kau sedang menutupi sesuatu.”
“Aku masih menyukaimu, Vin.”
Giliran kau yang termenung.
“Oleh karena itu, please jangan kau panggil aku dengan Ndut lagi. Kau akan membuatku bermimpi terlalu jauh. Kau akan membuatku sulit bernafas, Vin.”
Kau masih terdiam.
“Aku harus bagaimana sekarang, Vin. Kau membuka kembali ingatanku. Padahal aku sudah lupa. Apa yang harus aku lakukan? Aku memiliki seseorang di sampingku sekarang tapi kau mengusiknya lagi.”
Kau meneguk kopimu hingga habis.
“Katakan, Vin. Apa yang harus aku lakukan? Apa kau bisa menjawabnya? Kau bisa mengarang sebuah novel tentang kita tapi apa kau tahu bagaimana endingnya? Kita sudah berakhir empat tahun yang lalu, Vin. Kenapa kau muncul lagi?”
“Maaf, Key. Aku tak bermaksud mengusik ketenanganmu bersamanya.”
“Kau bisa meminta maaf lalu selesai. Kalau aku, Vin, aku bisa memaafkanmu sekarang tapi apa kau bisa menjamin aku tidak mengingat tentang kita lagi? Apa kau bisa mengembalikan keadaan seperti semula?”
Kau menggeleng.
Aku mulai tak tahan. Bahuku perlahan terguncang. Air mataku jatuh di hadapanmu. Kau sudah tak memiliki kata-kata hebat untuk menghentikan air mataku seperti dulu lagi. Kau sudah tak ada daya untuk menenangkanku. Lihat kau hanya melihatku di sana. Bahkan tersenyum.
“Key, mengapa baru hari ini kau jujur padaku? Mengapa dulu kau terlihat tegar? Kau memaksakan senyumanmu padaku saat kita over.”
Perlahan aku menghapus air mataku. Aku terlihat bodoh dengan isakan yang tak akan menyelesaikan masalah.
“Kau tahu hari itu saat kau ingin kita berakhir, aku merasa tak yakin. Aku tahu kau. Sebenarnya mengapa kau ingin mengakhirinya?”
Mataku kembali berair. “Aku tak tahu apa alasannya, Vin. Saat itu aku merasa kita jauh.”
“Key, selama empat tahun aku menunggu kau mengatakan hal ini padaku. Setiap hari aku menunggu kau meralat kata-katamu.” Kau mencoba memegang jemariku tapi berhasil ku tepis.
“Cukup, Vin. Ini semua telah berakhir. Jangan diteruskan lagi. Percuma kita bahas. Tak akan ada ending-nya, kecuali kita membuat ending itu bersama-sama.” Aku menyapu air di kelopak mataku.
“Kalau begitu kembalilah denganku. Kita mulai lagi dari awal dan lupakan yang lalu.”
“Vin, kau lupa aku memiliki seseorang di sampingku.”
“Tidak. Aku masih ingat. Bahkan setiap hari aku ingat. Sejujurnya aku belum bisa jauh darimu, Key.”
Aku berdiri dan mendorong kursi tempatku duduk mundur. “Vin, sepertinya sampai di sini pertemuan kita. Aku rasa ini sudah mulai gila. Aku tak ingin terulang lagi, Vin. Cinta bukan permainan. Aku tak bisa main-main lagi.”
“Aku tak main-main, Key. Aku serius.” Kau menarik tanganku ketika tahu aku akan beranjak pergi.
Aku menelan ludahku. Aku berusaha melepaskan cengkraman tanganmu. Kau pun tahu diri dan melepaskannya.
“Seharusnya aku mengingatnya, kau bukan seperti yang dulu lagi. Kau sekarang sudah menjadi miliknya,” katamu terlihat menyesal.
“Terima kasih kau telah mengingatkan tentang kita, Vin. Aku tahu ini adalah sebuah kesalahan. Kembali menyukaimu lagi dan aku akui kesalahan ini indah.” Aku menunduk tak berani menatapmu.
“Tapi aku tak ingin berlarut-larut,” ujarku seraya meraih tanganmu yang terasa dingin. “Memang aku mengenalmu lebih lama daripada dia, tapi kau adalah masa lalu, Vin dan dia adalah hari ini. Aku pamit. Aku tak bisa kembali lagi meskipun sebenarnya aku juga ingin kembali.”
Kau kini yang melepas jemariku.
“Aku tak bisa berlama-lama di sini. Dia sudah menungguku.” Hatiku mencelos. Aku berjalan keluar restoran dengan beberapa kali tengadah agar cairan di mataku tak jatuh lagi. Maaf aku berbohong lagi. Aku tak bisa berlama-lama bernostalgia dan terbang bersamamu ke masa lalu. Hari ini aku ada di masa kini, Vin. Tak seperti hari-hari lalu.
Sesungguhnya aku ingin bersamamu, Vin. Andai saja hati seperti sayap, memiliki dua bagian untuk bisa terbang, aku akan terbang bersamamu dan dia. Tapi hati tak boleh mendua, Vin. Menjalani satu arah saja sudah rentan bagaimana dua. Lihatlah kita. Aku tak ingin terulang lagi. Percakapan kita usai, Vin.
***

Komentar

  1. Haksari, long time no see...cerpenis banget deh yaaa..keep writing yaaa:)

    BalasHapus
  2. Tingkyu ya Mey udah mampir. Keep writing jg buat kamu. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini