Langsung ke konten utama

Another The Proposal


“Ben?” Alisku terangkat. Kamu ada di depanku dengan style yang berbeda dari biasanya. Sebuah kaos putih yang kau tutup dengan jas biru muda yang kau lipat setengah lengan dan jeans.

“Bukan, aku Billy saudara kembar Ben. Aku ke sini hanya ingin memberitahu kalau Ben sakit,” ujarnya seraya memutar-mutar kontak mobil.

Deg. Kamu sakit. Sakit apa? Padahal tadi malam kita sempat makan malam, menonton film dan kau juga sempat mengantarku pulang.

“Serius? Sakit apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Aku disuruh menjemputmu.”

Pikiranku melayang entah kemana. Saat ini ada yang sakit di sana. Bukan sakit, mungkin ini yang namanya rasa kecewa.

“Bagaimana?”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Klik. Akhirnya aku masuk mobilnya dan menuju ke rumahmu dengan hati was-was. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Kau. Ada apa denganmu? Aku ingin segera bertemu melihat keadaanmu.

“Bil, kenapa Ben tak pernah cerita padaku tentangmu? Padahal kami sudah empat tahun bersama.”

Oh, God! Serius? Dasar Ben. Dari dulu ia tak mau kehidupan pribadinya diketahui banyak orang. Pasti dia takut kalah saing denganku.”

Deg. Empat tahun dan kamu menyembunyikannya dariku. Apakah kau tahu yang kucintai hanya kamu. Okay, secara postur fisik Billy sangat mirip denganmu sampai aku tak bisa membedakannya tapi tetap saja Ben yang kukenal. Sekarang Ben yang kukenal tak seperti yang kukenal lagi. Mengapa kau tak berterus terang saja padaku. Pasti kau...

“Dar, kamu khawatir sama Ben ya?”

 Aku menoleh ke wajah Billy. “Emm, iya Bil. Tentu saja. Jika kau di posisiku mungkin akan sama khawatirnya.”

Lihat bahkan sakit seperti ini harus main rahasia-rahasiaan. Kau pun menyuruh Billy untuk tidak mengatakan apapun tentang sakitmu.  Apa kau takut aku panik?

“Dar, apa kamu benar-benar suka, Ben?”

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Ya, jawab saja.”

“Emm, ya tentu saja. Ben itu tak ada gantinya. Dia akan selalu menjadi Ben yang menyenangkan. Saat serius dia bisa serius, saat bercanda dia bisa bercanda.”

Billy pun tertawa. Entah apa yang ditertawakannya. Menurutku tak ada yang lucu.

“Ada yang harus ditertawakan?”

Billy hanya mengangkat tangan kirinya dan mencoba menahan tawanya. Ia berubah menjadi seorang yang serius sepertimu.

Hening hingga sampai di depan rumahmu. And.. Aku merasa ada yang aneh.

“Bil.”

“Ya. Ada apa?”

“Apakah tadi malam ada pesta di sini?” tanyaku sedikit bingung. Untuk apa balon-balon berbentuk hati itu melengkung seperti gapura. Lalu kertas-kertas berwarna bertebaran di jalan menuju pintu utama.

“Ya. Ayo masuk! Ben sudah menunggumu.” 

Aku melangkah mengikuti Billy dan di sana aku terkejut. Sebuah layar LCD tepat berada di depanku. Di kanan kirinya kulihat berlembar-lembar kain pink-ungu yang terlihat menakjubkan terjuntai dari atas hingga bawah dan balon-balon berbentuk hati bertebaran di ruangan. Sebuah tulisan kutangkap bergerak dari layar LCD.

Sudah empat tahun. Kamu selalu menemaniku.

Menghabiskan waktu bersama.

Suka dan duka.

Saat aku membayangkanmu, aku merasakan rasa takut yang membanjir di diriku.

Kau tahu kenapa?

Aku takut tak bisa melewatkan waktuku bersamamu setiap hari.

Kau tahu aku juga merasakan sakit saat tak melihatmu sehari.

Hanya kau penawarnya yang bisa membuat segalanya jadi membaik.

Dan hari ini aku ingin memulainya.

Kita akan bersama setiap hari.

Semua akan begitu sempurna jika aku bisa memilikimu sepenuhnya.

Dara, will you marry me?

Sesaat aku merasa ada air di pelupuk mataku yang ingin tumpah. Bulu kudukmu berdiri. Aku menyapu ujung kelopak mataku agar tak jatuh.

Lalu tulisan-tulisan indah yang kubaca itu berganti foto kita. Tiba-tiba aku melihat teman-teman kantormu yang muncul dari layar LCD – bertepuk tangan. Aku semakin tak bisa berkata-kata. Malu dan bahagia bercampur jadi satu. So sweet, Ben. Lalu aku teringat Billy.

“Billy?” Aku mencari Billy di antara puluhan orang yang mengepungku. Lalu mataku tertuju pada sehelai kain jatuh dari atas dan seseorang terlihat meluncur dari kain itu. Ini kau atau Billy? Tepuk tangan lagi ketika kau atau Billy telah berdiri di depanku.

“Apa kamu kaget, Dar? Just for you, my  sweetheart.”

Aku tak bisa mengucapkan kata-kata apapun. Berkali-kali aku menyadarkan diriku. Kau tak sedang sakit, Ben. Kau menipuku.

“Dara, will you marry me?  Kau menyodorkan sebuah cincin. 

Air di pelupuk mataku akhirnya tumpah. Tak lagi bisa kutahan. Sebuah background lagu A Thousand Years menggema. Teman-temanmu berputar mengelilingi kita. Mereka melakukan beberapa gerakan yang sempat mengalihkan perhatianku padamu.


♫♪I have died everyday waiting for you ♫♪

Darling don't be afraid

I have loved you

For a thousand years

I'll love you for a thousand more

Time stands still

Beauty in all she is

I will be brave

I will not let anything take away

What's standing in front of me

Every breath

Every hour has come to this

♫♪ One step closer ♫♪


“Aku menunggu jawabanmu, sweetheart.”

It’s so sweet, Ben. Kamu selalu bisa melakukannya dengan baik dan membuat hatiku menetap di tempat yang seharusnya. Love you, Ben.”

“Jadi? Kamu mau?”

Aku mengangguk. Seperti salju yang jatuh potongan kertas kecil beterbangan. Tak henti-hentinya kejutan darimu, Ben.

“Ben, kemana Billy?” tanyaku ketika sadar.

“Billy, it’s me. Kamu tidak mengenaliku?” Kau tertawa. Manis.

“Jadi, Billy itu tadi juga bohong? Kamu tahu? Hampir saja aku berpikir yang macam-macam tentang kamu.”

Kau hanya menanggapinya dengan senyuman dan mencubit pipiku.
***

Komentar