Langsung ke konten utama

ANEH SIH TAPI MENGENA



Orang aneh – kupikir awalnya begitu. Menyebalkan, childish, dan tukang onar. Hancur-hancuran itu yang pertama kali kupikirkan tentangmu. Sekarang aku baru sadar ternyata itu semua yang membuatku tetap tersenyum dalam situasi apapun. Memikirkanmu saja sudah menggelitik perutku tapi melihat kenyataan kau tak ada lagi di sini itu cukup mengena di dalam sini – hati.

Aku masih ingat kegilaanmu mengobrak-abrik tasmu hanya untuk mencari komik sewaan. “Wah, kurang satu. Kemana ya?” ujarmu sambil garuk-garuk kepala dan mendadak girang. “Aha!”

“Sudah ketemu?”

“Belum. Aku masih lupa.”

Gubrak. It’s so funny. Right.

Lalu ketika melihat lukisan abstrak.  “Aku bisa buat mirip seperti itu,” katamu tapi kenyataannya sama sekali tak mirip. “Ini mirip tahu. Lihat sama sekali tak bisa dibaca. Sama kan?” Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dan ketika kau menemukan barang yang bisa dipakai lagi, “Jangan dibuang! Sayang tahu. Ini bisa dibuat sesuatu.” Memang bisa dibuat sesuatu tapi sesuatu itu sepertimu aneh. Mungkin kalau sekarang aku akan menyebutnya unik. Kau bisa memainkan segala sesuatu di luar pikiranku dan tak pernah bisa kutebak. 

Tapi apa kau tahu dipikiranku saat itu. Kau mempermalukanku. Kau selalu melakkukan itu di tengah kerumunan, di tempat umum dan parahnya selalu di depanku. Dengan kejaimanku kala itu, aku sempat berpikir kenapa harus kamu. Kenapa kamu yang menyukaiku? Kenapa aku tak pernah bisa membalasmu? Mungkin karena aku tak bisa menebakmu. Aku takut dalam situasi tertentu kau tak serius. 

Setiap kali kau berkata “hidup itu simple, you know?” pikiranku terbalik. Itu letak perbedaan kita. Bagiku hidup itu sangat rumit, mungkin lebih rumit dari yang kau kira. Seperti mengisi permainan sodoku, saat tak tahu rumusnya. Kau pasti menganggapnya tak penting untuk menyelesaikannya, tapi bagiku sangat penting untuk mencapai hasil akhir dari sebuah penyelesaian. Itulah yang membuatku meragu.

Satu lagi, kata-katamu itu kadang membuatku ilfeel. Ya itu tadi terlihat childish. Kau membuat hal yang seharusnya serius menjadi tak serius. Kau membelokkan arah pembicaraan dengan mudah. Kau berceloteh asal-asalan saat seharusnya keadaan hening. Kau tak berada diposisi yang seharusnya. Kau berlawanan arah. Tapi di saat situasi seperti ini tiba-tiba aku merindukan celetukan teranehmu.

Rutinitas ini sudah menekan dan aku pun mulai bosan. Andai aku bisa menarikmu ke sini, pasti sudah aku tarik sedari tadi. Sayangnya, selepas masa-masa itu kau menjauhiku. Kau marah padaku dan kita tak lagi bicara. Buruk itu begitu buruk. Sangat buruk.

Ternyata sepi juga tanpamu. Berbeda dari hari-hari yang kurasa dulu.

“Selamat datang. Mau pesan apa, Mbak?” Seorang waiter menyambutku.  

Hot cappuccino, satu. Terima kasih.”

Tempat yang kudatangi ini rasanya masih sama tapi tetap saja suasananya berbeda. Ini tempat yang sering kita datangi dulu sekaligus awal kesalahpahaman kita. Jendelanya tetap sama, cat di dinding masih berwarna-warni, hanya tata ruangnya yang diubah sedikit. Mengenai meja nomer 5, inilah tempat duduk kita. Masih senyaman yang dulu dan hot cappuccino-nya aku yakin masih sepanas yang dulu.

“Del, maaf aku terlambat. Sudah dari tadi?” Lelaki itu baru datang. Dia yang membuat kita salah paham. Tapi aku juga tak bisa menyalahkannya karena dia tak pantas disalahkan. Dia mendatangiku dulu untuk memintaku kembali dan aku telah kembali bersamanya. Lalu kau memutuskan untuk pergi – lebih dari hanya jaga jarak.

Fine. Aku juga baru datang.”

 ***

Komentar