Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

Hampir Jadi

Mungkin hatiku semerah bunga yang kusiapkan. Hari ini tepat setahun aku mengenalnya. Dia wanita terindah yang pernah kukenal. Berawal dari salah orang menjadi sahabat. Menarik, lucu, ceria dan tak pernah mengeluh di depanku. Gadis mandiri yang tangguh. Pesonanya selalu semerbak menghipnotisku.
Ah, aku hampir lupa men-dial nomernya. Hampir saja aku lupa bagian terpenting dari semua ini. Dia. Ya, dia harus datang malam ini. Aku telah mempersiapkan segalanya – mawar, musik dan tentu saja sebuah cincin. Melamarnya, itu yang akan aku lakukan empat jam ke depan.
Belum apa-apa dan rasanya jantungku berdegup cepat. Membayangkannya saja sudah seperti ini. Tempat duduk tepat bagian di sudut yang kupilih. Yakin malam ini akan banyak bintang bertaburan di langit dan mereka menyaksikannya.
“Hallo, Bi.” Suara merdunya sudah terdengar.
“Ra, nanti malam bisa temani aku cari buku?”
“Kenapa harus malam ini?”
“Ya, karena aku butuhnya untuk malam ini. Bisa?”
“Emm, bisa sih. Tapi jemput ya.”
“Siap, Ra.”
Klik…

Yuk, Bikin Media Pembelajaran Sendiri.

Bikin media pembelajaran sendiri, why not? Berikut ini media-media kramat hasil tangan untuk membantu anak kesulitan belajar kelas 2 zaman PPL November-Desember 2012. Setelah melakukan proses identifikasi dan assesmen terlihat klien punya kesulitan belajar matematika pada memahami konsep jam, nilai tempat dan nilai angka, membedakan besar atau kecil pada bilangan, membilang angka ratusan dan masih banyak lagi. Bagaimana mengatasinya?  Cekidot.
1. Jam Tiruan




Seperti jam biasa tapi lumayan full colour untuk menarik minat anak.


2. Puzzle Match Time




Ini puzzle terdiri dari gambar jarum jam dan angka digitalnya. Ini bisa buat mengecek apakah anak sudah paham betul dengan konsep jam. Dari cara dia membaca jarum jam sampai mengerti maksud dari 1 jam = 60 menit.


3. Kartu Angka





Kartu ini di desain memang sampai angka ratusan. Jadi bisa dipakai untuk memperkenalkan nilai tempat satuan, puluhan dan ratusan. Sekalian bisa dua kartu dibandingkan dan menyuruh anak menebak mana yang lebih besar dan yang…

THINKING AGAIN

“Aarrrghhh,” teriakku kesal.
“Sssttss. Ini tempat umum, Ta,” ujar Bian memperingatkanku.
“Bi, aku harus bagaimana lagi? Aku sudah kehabisan akal.”
“Masalah apa sih?” tanya Abi sambil menyantap nasi soto di depanku dengan lahap.
“Aku ingin putus sama Dodi.”
Sontak kata-katamu membuat Abi tersedak.
“Ini minum dulu, gih!” seruku seraya menjulurkan segelas air.
“Yakin? Bukannya katamu dulu kamu cinta mati sama dia, terus jangan sampai melewatkan dia begitu saja.”
“Bi, ini beda cerita. Cewek mana yang bisa duduk diam kalau lihat cowoknya sama sekali tak respect. Komunikasiku sama dia itu satu arah. Dia jadi pendengar setia dan aku jadi pendongengnya.”
“Hmm, terus?”
“Aku ingin dia sekali-sekali yang cari topic, jadi pendongengnya dan aku gantian diam mendengarkannya.”
“Siapa tahu dia suka sama suara kamu, tuh,” ejek Abi seraya cekikikan.
“Eh, Bi ngawur ya. Mana ada orang yang suka sama suaraku terus rela selalu jadi pendengar seumur hidup? Orang penyanyi saja punya fans. Tahu kan tingkah fan…

Another The Proposal

“Ben?” Alisku terangkat. Kamu ada di depanku dengan style yang berbeda dari biasanya. Sebuah kaos putih yang kau tutup dengan jas biru muda yang kau lipat setengah lengan dan jeans.
“Bukan, aku Billy saudara kembar Ben. Aku ke sini hanya ingin memberitahu kalau Ben sakit,” ujarnya seraya memutar-mutar kontak mobil.
Deg. Kamu sakit. Sakit apa? Padahal tadi malam kita sempat makan malam, menonton film dan kau juga sempat mengantarku pulang.
“Serius? Sakit apa?”
“Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Aku disuruh menjemputmu.”
Pikiranku melayang entah kemana. Saat ini ada yang sakit di sana. Bukan sakit, mungkin ini yang namanya rasa kecewa.
“Bagaimana?”
“Baiklah, tunggu sebentar.”
Klik. Akhirnya aku masuk mobilnya dan menuju ke rumahmu dengan hati was-was. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Kau. Ada apa denganmu? Aku ingin segera bertemu melihat keadaanmu.
“Bil, kenapa Ben tak pernah cerita padaku tentangmu? Padahal kami sudah empat tahun bersama.”
Oh, God! Serius? Dasar Ben. Dari dulu ia t…

SALAH RADAR

Gue nggak nangis-nangis waktu Vino nikah sama Marsha Timoty. Gue nggak marah-marah, teriak-teriak nggakjelas atau bahkan bilang 'kayaknya gue deh yang pantes' seperti cewekyang suka sama Vino. Sumprit gue nggak patah hati. Tapi kenapa waktu ‘Vino yang lainnya’ sama ‘cewek lain’ kenapa gue histeris. Waktu dia pegang tangan cewek lain gue pengen gigit orang. Waktu dia nglirik cewek lain gue pengen melototin cewek yang dilirik. Apa bedanya. Bukankah sama aja sama-sama bernama Vino dan parahnya ketika dia bilang dia suka cewek lain gue yang merasa sakit. Hiks.
Gue pikir dia suka sama gue. Hari itu gue lihat dia nglirik gue. Nyapa gue. Serius. Waktu itu gue lagi sendirian nungguin teman-teman gue. Dia ada di hadapan gue sesekali gue tangkap dia lagi nglirik gue. Setelah nglirik dia menghampiri gue tanya-tanya kabar gue, keluarga gue. Semula gue pikir basa basi tapi detik selanjutnya dia tanya tentang rumah gue disusul celetukan mau mampir rumah gue. Bukankah itu lmpu kuning? Gue ta…