Sabtu, 09 Februari 2013

Hampir Jadi



Mungkin hatiku semerah bunga yang kusiapkan. Hari ini tepat setahun aku mengenalnya. Dia wanita terindah yang pernah kukenal. Berawal dari salah orang menjadi sahabat. Menarik, lucu, ceria dan tak pernah mengeluh di depanku. Gadis mandiri yang tangguh. Pesonanya selalu semerbak menghipnotisku.

Ah, aku hampir lupa men-dial nomernya. Hampir saja aku lupa bagian terpenting dari semua ini. Dia. Ya, dia harus datang malam ini. Aku telah mempersiapkan segalanya – mawar, musik dan tentu saja sebuah cincin. Melamarnya, itu yang akan aku lakukan empat jam ke depan. 

Belum apa-apa dan rasanya jantungku berdegup cepat. Membayangkannya saja sudah seperti ini. Tempat duduk tepat bagian di sudut yang kupilih. Yakin malam ini akan banyak bintang bertaburan di langit dan mereka menyaksikannya.

“Hallo, Bi.” Suara merdunya sudah terdengar.

“Ra, nanti malam bisa temani aku cari buku?”

“Kenapa harus malam ini?”

“Ya, karena aku butuhnya untuk malam ini. Bisa?”

“Emm, bisa sih. Tapi jemput ya.”

“Siap, Ra.”

Klik. Sudah beres. Sempurna. Aku tinggal pulang dan bersiap-siap untuk nanti malam.

“Mas, lagunya diputar waktu kami datang ya.” Aku menyerahkan sebuah CD untuk backsong malam ini. “Dan satu lagi nanti cincinnya dikeluarkan ketika saya memesan lagi.”

***                


Ini waktunya. Aku menjemput Rara.

Sepanjang perjalanan Rara bercerita tentang Bondi adiknya yang sangat jahil. Lalu tiba-tiba ia bercerita tentang seseorang yang lama tak kudengar. Enam bulan lalu orang itu meninggalkan Rara. Cerita itu bersambung saat kami sudah sampai tempat tujuan.

“Bi, katanya mau ke toko buku?”

“Makan dulu ya, aku lapar.”

Seperti yang kurencanakan. Penyanyi kesukaannya, Kahitna – Untukku. Kulihat senyumnya melengkung.

“Aku suka.”

“Apanya?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Lagunya. Sepertinya aku harus sering-sering datang ke sini.”

Waiter menghampiri lalu pergi setelah pesanan kami tercatat dengan baik.

“Bi, lanjut ya. Ergi kemarin muncul di depan rumah lagi.”

“Lalu kamu keluar?”

“No. Tidak akan lagi. Aneh ya. Jelas-jelas aku masih suka.”

“Kamu yakin masih suka setelah perlakuannya ke kamu?”

“Entahlah, Bi. Tapi aku sedang dalam proses suka dengan orang lain.”

Wajahnya berseri. Pipinya merona. Malu. Apakah itu aku?  

“Oh, ya? Coba ceritakan soal dia, aku ingin dengar.”

“Dia seperti kapas.”

“Kenapa kapas?”

“Putih dan melayang-layang.”

“Kamu yakin? Tak ada perumpamaan yang lain apa?”

“No, no, no. Kapas udah cocok banget buat dia.”

“Putih dan melayang-layang. Ya, ya, ya. Apalah itu, yang penting orang itu ada kan?”

“Tentu. Dia dua tahun di atasku, seperti kamu.”

Deg. Seperti aku katanya? Apakah bukan aku? Lagu sudah habis diputar. Aku memberi isyarat pada waiter untuk mendekat. Seperti dalam film-film yang kutonton saat seperti ini aku harus menghilang. Kubiarkan Rara sendiri dulu. Aku juga butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri. Berdebar lagi.

***


Hilang. Rara menghilang saat aku kembali. Aku mencoba menunggunya. Lima menit berlalu waiter datang.

“Mas, tadi mbak di sini bilang keluar sebentar. Mas disuruh nunggu.”

Lega. Kupikir rencanaku akan gagal. Iseng-iseng aku menatap keluar jendela. Ramai. Pejalan kaki, mobil-mobil berseliweran, dan siluetmu – postur tubuhmu begitu jelas. Kau bersama seorang lelaki di sebrang jalan. 

Deg. Rasanya bukan fisikku yang sakit tapi sesuatu yang lebih lembut, halus dan tak terlihat. Perasaanku sedikit nyeri. Ah, seperti perempuan saja aku ini. Tapi lelaki itu siapa? Ergi atau lelaki yang dimaksud Rara dalam ceritanya?

Sepuluh menit Rara tak jua kembali. Ingin rasanya aku menghampiri mereka. Ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Ah, tidak! Mengapa aku jadi seperti ini? Aku tak ingin ikut campur urusan mereka. Yang aku butuhkan adalah menunggu sampai Rara kembali dan membuatnya terkejut.

Lima menit berlalu kembali.

Tak apa jika Rara lama. Paling tidak setelah ini ia kembali membawa kabar gembira dan menerimaku. Itu yang kumau. Tidak-tidak. Ini sudah sangat lama. Tak lagi bisa dibiarkan. Sebaiknya aku ke sana. Pikiranku begitu kalut. Akhirnya aku bangkit dari tempat duduk. Belum sampai melangkah Rara muncul. Seorang laki-laki di belakangnya. Ergi-kah? Atau laki-laki itu yang dimaksud Rara dalam ceritanya? Semoga hanya teman – sebatas teman dan tak lebih. Harus.

Tubuhku lemas ketika laki-laki itu duduk di samping Rara. Rencanaku haruskah tetap jalan?

Bagaimana jika lelaki ini yang lebih dicintai Rara? Lalu aku harus menanggung malu di hadapan sesama lelaki dan disebut lelaki gagal?

“Maaf lama menunggu, Bi. Oh, ya perkenalkan namanya sama denganmu Aby.”

Haruskah namanya sama denganku? Oh, no! Apa yang harus kulakukan? Aku kikuk setengah mati. Cincin yang telah kupersiapkan, bunga mawar yang telah susah payah kubeli dan apakah semuanya sia-sia?

“By.”

“Ya,” sahutku.

“Maaf, bukan kamu Bi tapi Aby yang ini. Kamu mau pesan apa?”

Deg. Retak sudah. 

“Bi,” panggil Rara. Aku tak menyahut, takut salah lagi.

“Bi,” panggilnya sekali lagi seraya menyentuh jemariku.

Seperti aliran listrik mengalir di darahku, menghidupkan lampu di hatiku yang redup. Akhirnya Rara memperdulikanku.

“Kita jadi ke toko buku kan?” tanya Rara seraya melirik Aby yang satunya.

“Tentu saja.” Tentu saja jika hatiku dalam keadaan baik-baik saja. Entah jika hatiku retak di jalan.

Waiter yang berjalan di sampingku dipanggil Rara. Aduh, gawat kalau sampai salah sangka! Semoga saja waiter itu ingat pesanku. Kalau aku memesan sesuatu lagi berarti saatnya cincin itu yang keluar.

Menunggu pesanan si Aby datang jantungku berdebar minta ampun. Komat-kamit aku berdoa, jangan sampai salah, Tuhan. Help me.

Saat waiter itu mendekat ia mengedipkan matanya. Aku menggelengkan kepalaku. Ia semakin dekat dan mempertanyakan gelengan kepalaku dengan isyarat. Aku menggerakkan jariku untuk kembali lagi nanti tapi ia sudah sampai di depan meja.

Sebelum diletakkan Rara sudah menyambarnya. Bukan untuknya, tentu saja untuk Aby. Sial.

Begitu tutup makanan dibuka. Aby kaget setengah mati. Bukan makanan yang tersaji tetapi kotak cincin dan nekat ia buka. Tentu saja aku tidak tenang. Ingin rasanya aku menenggelamkan wajahku di dalam mangkok soup di depanku.

“By? Waiter-nya salah nih. Gimana sih?” protes Rara.

Sebelum Rara memanggil kembali, aku menahannya dengan seluruh nyali yang kupunya.

Waiter-nya nggak salah kok, Ra. Seharusnya cincin itu di depanmu.”

“Maksud kamu?”

“Tadinya aku merencanakan semua ini untuk mengatakan I Love You, Ra.”

“Bi, kamu nggak bercanda kan?”

“Aku serius, Ra dan ini buat kamu.” Aku menyodorkan bunga mawar yang sedari tadi kusembunyikan di bawah meja.

Rara terdiam. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Oh, tidak! Sepertinya aku hanya akan membuatnya menangis, tapi aku butuh sebuah kepastian. Aby terlihat bergerak. Apa yang akan ia lakukan pada Rara? Tangannya menepuk bahu Rara. 

Ah, aku gagal. Rencanaku gagal. Hampir saja jadi.

“Ra, aku bercanda. Surprise. Jangan anggap serius. Ini adalah satu tahun kita berkenalan. Aku hanya ingin merayakannya bersamamu.” Akhirnya aku memilih kata-kata ini. Mau bagaimana lagi? Aku sekarang tahu orang yang dimaksud Rara bukan aku. Akhirnya aku memanggil waiter untuk membawakan pesanan Aby.

Keadaan berubah hening bahkan sampai saat kami menyantap hidangan. Hanya suara sendok dan piring yang beradu. Selesai.

Rara bangkit duluan diikuti Aby. Aku sesungguhnya sudah tak punya daya untuk berdiri tapi sudahlah mungkin memang belum saatnya. Kami melangkah keluar.

Rara menoleh ke arahku setelah berusaha menjaga jarak dengan berjalan di depan.

“Bi, aku tahu tadi kau tak bercanda.”

“Apa kau tak bisa membedakannya? Tadi aku benar-benar bercanda.”

“Bi, apa kamu hanya ingin bilang I Love You?”

Oh, no! Ternyata begini rasanya tertolak dan kau harus meyakinkannya kalau kau hanya bercanda meskipun sebenarnya kenyataan.

“Kalau kamu memang benar-benar menyukaiku bukan begini caranya.” Ia mengembalikan cincin yang kuberi, ralat tidak sengaja diberikan waiter.

Fine. Sempurna. Rasa hancurnya bercampur jadi satu. Sekarang aku benar-benar ditolak.

“Datanglah ke rumahku dan mintalah baik-baik pada kedua orang tuaku,” lanjutnya.

Aku masih sadar, menatapnya tanpa berpaling kemana-mana. Suara lembutnya cukup terdengar tanpa ada sepatah katapun yang hilang. Apakah itu berarti Rara setuju? Aku diterima dengan syarat. Rencana gagal ternyata tak mempengaruhi ending ceritaku mencintai Rara. Ini bukan bertepuk sebelah tangan. Rara menyambut cintaku dengan tangan terbuka.

“Jangan salah sangka ya, Bi. Aby ini hanya temanku yang tak sengaja bertemu di sini. Orang yang kuceritakan tadi itu ya kamu, Bi. Kapas.”

***

Jumat, 08 Februari 2013

Yuk, Bikin Media Pembelajaran Sendiri.

Bikin media pembelajaran sendiri, why not?
 
Berikut ini media-media kramat hasil tangan untuk membantu anak kesulitan belajar kelas 2 zaman PPL November-Desember 2012.
Setelah melakukan proses identifikasi dan assesmen terlihat klien punya kesulitan belajar matematika pada memahami konsep jam, nilai tempat dan nilai angka, membedakan besar atau kecil pada bilangan, membilang angka ratusan dan masih banyak lagi. Bagaimana mengatasinya? 

Cekidot.


1. Jam Tiruan




Seperti jam biasa tapi lumayan full colour untuk menarik minat anak.


2. Puzzle Match Time




Ini puzzle terdiri dari gambar jarum jam dan angka digitalnya. Ini bisa buat mengecek apakah anak sudah paham betul dengan konsep jam. Dari cara dia membaca jarum jam sampai mengerti maksud dari 1 jam = 60 menit.


3. Kartu Angka


 


Kartu ini di desain memang sampai angka ratusan. Jadi bisa dipakai untuk memperkenalkan nilai tempat satuan, puluhan dan ratusan. Sekalian bisa dua kartu dibandingkan dan menyuruh anak menebak mana yang lebih besar dan yang lebih kecil.  

 
4. Tabel Ajaib Nilai Tempat dan Nilai Angka




Ini tabel bisa digunakan untuk menanamkan konsep nilai tempat dan angka sampai ratusan. Anak kesulitan belajar bingung saat menemukan angka nol di tengah-tengah pada ratusan, contohnya 101. Harus dibaca bagaimana? Oh, no! Tapi dengan memperkenalkannya ini lho tempatnya satuan, ini puluhan dan yang ini ratusan.


5. Garis Bilangan




Ini garis digunakan untuk menolong anak kalau dia belum mengerti ketika ditanya 5 dengan 3, besar  yang mana. Konsep urutan angka ini penting. Anak tidak akan bisa menjawab pertanyaan tentang besar kecil nilai bilangan kalau urutan angka saja tidak paham.


6. Gambar



Ini digunakan waktu masih anak bingung terhadap soal-soal cerita yang jauh dari bayangan anak gunanya hanya untuk mengkonkretkan.


Itulah sedikit share dari saya. Sekian.
Semoga hal sedikit ini bisa menginspirasi. :D

Kamis, 07 Februari 2013

THINKING AGAIN


“Aarrrghhh,” teriakku kesal.

“Sssttss. Ini tempat umum, Ta,” ujar Bian memperingatkanku.

“Bi, aku harus bagaimana lagi? Aku sudah kehabisan akal.”

“Masalah apa sih?” tanya Abi sambil menyantap nasi soto di depanku dengan lahap.

“Aku ingin putus sama Dodi.”

Sontak kata-katamu membuat Abi tersedak.

“Ini minum dulu, gih!” seruku seraya menjulurkan segelas air.

“Yakin? Bukannya katamu dulu kamu cinta mati sama dia, terus jangan sampai melewatkan dia begitu saja.”

“Bi, ini beda cerita. Cewek mana yang bisa duduk diam kalau lihat cowoknya sama sekali tak respect. Komunikasiku sama dia itu satu arah. Dia jadi pendengar setia dan aku jadi pendongengnya.”

“Hmm, terus?”

“Aku ingin dia sekali-sekali yang cari topic, jadi pendongengnya dan aku gantian diam mendengarkannya.”

“Siapa tahu dia suka sama suara kamu, tuh,” ejek Abi seraya cekikikan.

“Eh, Bi ngawur ya. Mana ada orang yang suka sama suaraku terus rela selalu jadi pendengar seumur hidup? Orang penyanyi saja punya fans. Tahu kan tingkah fans itu seperti apa, ada yang teriak histeris, minta foto bareng. Okei kita pause waktu minta foto bareng. Coba pikir berapa jumlah kalimatnya?”

“Satu? Dua atau mungkin tiga?”

“Salah. Lebih, Bi. Pertama memperkenalkan dirinya kalau dia itu nge-fans banget. Kedua tanya boleh minta fotonya. Ketiga boleh minta tanda-tangannya. Keempat mengucapkan terima kasih. Kelima dan seterusnya dia akan cerita ke teman-temannya kalau dia habis ketemu idolanya dan dapat foto plus tanda tangannya.”

“So?”

“Ih, lama-lama kamu seperti Dodi ya. Buruk.”

Aku lipat wajahku. Memberengut. Menyeruput jus wortelku dengan sekali sedot sampai tak tersisa.

“Kamu marah? Baru segini juga. Eh, Ta aku kasih tahu. Ada cowok yang tidak suka cewek cerewet,” jelas Abi.

“Maksud kamu aku cerewet?” potongku.

No, no, no. Please, listen to me! Ada cowok yang suka cewek cerewet, ada pula cowok yang cerewet dan ada pula cowok yang pendiam. Terakhir ada pula cewek atau cowok yang tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata ketika dia sedang mengagumi seseorang.”

“Lalu?”

“Kalau menurut kamu Dodi masuk yang mana?”

“Sama sekali tak ada di daftar kamu.”

“Selama satu tahun jadi sahabatnya Dodi, dia cerewet tahu. Cuma sama kamu dia jadi diam. Tahu artinya apa?”

“Dia mengagumi aku?”

“Nah, itu tahu.”

“Tapi aku merasa dia itu seperti patung, Bi.”

“Terus kenapa enam bulan bisa bertahan sama dia?”

“Karena Dodi dulu tak seperti sekarang. Dulu dia mau cerita sama aku. Sekarang dia keep silent.”

“Terus yakin mau putus sama Dodi?”

“Bingung. Tunggu tunggu, kenapa dari tadi tanya itu melulu, kasih solusilah Bi.”

“Saranku. No. Bertahanlah.”

Salah aku meminta saran pada Abi – sahabat dekatnya Dodi.

“Eh, panjang umur. Dodi datang tuh!”

“Hei, semua.”

Aku mengangkat alisku. Serius Dodi say hello.

“Aku punya sesuatu buat kamu. Semoga kamu suka.” Kalimat terpanjang yang kudengar dari Dodi setelah sekian lama menghilang.

Bentuknya kotak. Buku.

“Itu spesial. Pertama kali cetak khusus buat kamu.”

“Selamat ya, Dod. Akhirnya berhasil juga.” Abi terlihat semangat.

“Apa? Kalian main rahasia-rahasian?”

“Coba baca halaman persembahannya.”

To: Tita Kirana, orang special yang selalu mendampingiku dengan sabar.

Deg. Aku terharu.

“Ini lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaanku selama ini.”

“Kamu suka?”

“Suka banget. Kamu bukuin cerita-cerita aku di sini?”

“Ya. Setiap hari kamu berceloteh ke sana kemari. Aku tulis di sini.”

“Aku pikir kamu cuma jadi pendengar setia, Dod.”

“Sekarang tahu kan? Masih mau bilang pendengar setia, apa tadi katanya aku seperti patung.”

“Kok bisa tahu? Tahu dari mana?”

“Sedari tadi aku di belakang kamu.Tuh, di situ. Duduk manis. Aku dengar semua yang kamu bicarakan sama Abi.”

“Maaf, Dod. Sorry.”

“Ini kebiasaan kamu dari dulu yang belum juga hilang. Lain kali kalau kamu sebel kamu bisa bilang ke aku. Aku bisa jawab. Kamu pernah tanya aku kenapa aku diam?”

“Gengsi, Dod.”

“Gengsi kok dipelihara. Ini aku kasih bonus jawaban. Aku mau kasih kamu surprise.”

“Kalau dulu aku tanya jawaban kamu juga akan begitu, Dod?”

Dodi menggeleng.

“Terus?”

“Aku akan jawab rahasia.”

“Cie. Indah kali kalian berdua. Jadi iri. Anyway masih berniat putus?”

“Eh, iya aku juga mau tanya itu. Tapi keduluan Abi.”

“Apaan sih kalian ini?”
Pipiku memerah.

Rabu, 06 Februari 2013

Another The Proposal


“Ben?” Alisku terangkat. Kamu ada di depanku dengan style yang berbeda dari biasanya. Sebuah kaos putih yang kau tutup dengan jas biru muda yang kau lipat setengah lengan dan jeans.

“Bukan, aku Billy saudara kembar Ben. Aku ke sini hanya ingin memberitahu kalau Ben sakit,” ujarnya seraya memutar-mutar kontak mobil.

Deg. Kamu sakit. Sakit apa? Padahal tadi malam kita sempat makan malam, menonton film dan kau juga sempat mengantarku pulang.

“Serius? Sakit apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Aku disuruh menjemputmu.”

Pikiranku melayang entah kemana. Saat ini ada yang sakit di sana. Bukan sakit, mungkin ini yang namanya rasa kecewa.

“Bagaimana?”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Klik. Akhirnya aku masuk mobilnya dan menuju ke rumahmu dengan hati was-was. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Kau. Ada apa denganmu? Aku ingin segera bertemu melihat keadaanmu.

“Bil, kenapa Ben tak pernah cerita padaku tentangmu? Padahal kami sudah empat tahun bersama.”

Oh, God! Serius? Dasar Ben. Dari dulu ia tak mau kehidupan pribadinya diketahui banyak orang. Pasti dia takut kalah saing denganku.”

Deg. Empat tahun dan kamu menyembunyikannya dariku. Apakah kau tahu yang kucintai hanya kamu. Okay, secara postur fisik Billy sangat mirip denganmu sampai aku tak bisa membedakannya tapi tetap saja Ben yang kukenal. Sekarang Ben yang kukenal tak seperti yang kukenal lagi. Mengapa kau tak berterus terang saja padaku. Pasti kau...

“Dar, kamu khawatir sama Ben ya?”

 Aku menoleh ke wajah Billy. “Emm, iya Bil. Tentu saja. Jika kau di posisiku mungkin akan sama khawatirnya.”

Lihat bahkan sakit seperti ini harus main rahasia-rahasiaan. Kau pun menyuruh Billy untuk tidak mengatakan apapun tentang sakitmu.  Apa kau takut aku panik?

“Dar, apa kamu benar-benar suka, Ben?”

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Ya, jawab saja.”

“Emm, ya tentu saja. Ben itu tak ada gantinya. Dia akan selalu menjadi Ben yang menyenangkan. Saat serius dia bisa serius, saat bercanda dia bisa bercanda.”

Billy pun tertawa. Entah apa yang ditertawakannya. Menurutku tak ada yang lucu.

“Ada yang harus ditertawakan?”

Billy hanya mengangkat tangan kirinya dan mencoba menahan tawanya. Ia berubah menjadi seorang yang serius sepertimu.

Hening hingga sampai di depan rumahmu. And.. Aku merasa ada yang aneh.

“Bil.”

“Ya. Ada apa?”

“Apakah tadi malam ada pesta di sini?” tanyaku sedikit bingung. Untuk apa balon-balon berbentuk hati itu melengkung seperti gapura. Lalu kertas-kertas berwarna bertebaran di jalan menuju pintu utama.

“Ya. Ayo masuk! Ben sudah menunggumu.” 

Aku melangkah mengikuti Billy dan di sana aku terkejut. Sebuah layar LCD tepat berada di depanku. Di kanan kirinya kulihat berlembar-lembar kain pink-ungu yang terlihat menakjubkan terjuntai dari atas hingga bawah dan balon-balon berbentuk hati bertebaran di ruangan. Sebuah tulisan kutangkap bergerak dari layar LCD.

Sudah empat tahun. Kamu selalu menemaniku.

Menghabiskan waktu bersama.

Suka dan duka.

Saat aku membayangkanmu, aku merasakan rasa takut yang membanjir di diriku.

Kau tahu kenapa?

Aku takut tak bisa melewatkan waktuku bersamamu setiap hari.

Kau tahu aku juga merasakan sakit saat tak melihatmu sehari.

Hanya kau penawarnya yang bisa membuat segalanya jadi membaik.

Dan hari ini aku ingin memulainya.

Kita akan bersama setiap hari.

Semua akan begitu sempurna jika aku bisa memilikimu sepenuhnya.

Dara, will you marry me?

Sesaat aku merasa ada air di pelupuk mataku yang ingin tumpah. Bulu kudukmu berdiri. Aku menyapu ujung kelopak mataku agar tak jatuh.

Lalu tulisan-tulisan indah yang kubaca itu berganti foto kita. Tiba-tiba aku melihat teman-teman kantormu yang muncul dari layar LCD – bertepuk tangan. Aku semakin tak bisa berkata-kata. Malu dan bahagia bercampur jadi satu. So sweet, Ben. Lalu aku teringat Billy.

“Billy?” Aku mencari Billy di antara puluhan orang yang mengepungku. Lalu mataku tertuju pada sehelai kain jatuh dari atas dan seseorang terlihat meluncur dari kain itu. Ini kau atau Billy? Tepuk tangan lagi ketika kau atau Billy telah berdiri di depanku.

“Apa kamu kaget, Dar? Just for you, my  sweetheart.”

Aku tak bisa mengucapkan kata-kata apapun. Berkali-kali aku menyadarkan diriku. Kau tak sedang sakit, Ben. Kau menipuku.

“Dara, will you marry me?  Kau menyodorkan sebuah cincin. 

Air di pelupuk mataku akhirnya tumpah. Tak lagi bisa kutahan. Sebuah background lagu A Thousand Years menggema. Teman-temanmu berputar mengelilingi kita. Mereka melakukan beberapa gerakan yang sempat mengalihkan perhatianku padamu.


♫♪I have died everyday waiting for you ♫♪

Darling don't be afraid

I have loved you

For a thousand years

I'll love you for a thousand more

Time stands still

Beauty in all she is

I will be brave

I will not let anything take away

What's standing in front of me

Every breath

Every hour has come to this

♫♪ One step closer ♫♪


“Aku menunggu jawabanmu, sweetheart.”

It’s so sweet, Ben. Kamu selalu bisa melakukannya dengan baik dan membuat hatiku menetap di tempat yang seharusnya. Love you, Ben.”

“Jadi? Kamu mau?”

Aku mengangguk. Seperti salju yang jatuh potongan kertas kecil beterbangan. Tak henti-hentinya kejutan darimu, Ben.

“Ben, kemana Billy?” tanyaku ketika sadar.

“Billy, it’s me. Kamu tidak mengenaliku?” Kau tertawa. Manis.

“Jadi, Billy itu tadi juga bohong? Kamu tahu? Hampir saja aku berpikir yang macam-macam tentang kamu.”

Kau hanya menanggapinya dengan senyuman dan mencubit pipiku.
***

Selasa, 05 Februari 2013

SALAH RADAR



Gue nggak nangis-nangis waktu Vino nikah sama Marsha Timoty. Gue nggak marah-marah, teriak-teriak nggak  jelas atau bahkan bilang 'kayaknya gue deh yang pantes' seperti cewek  yang suka sama Vino. Sumprit gue nggak patah hati. Tapi kenapa waktu ‘Vino yang lainnya’ sama ‘cewek lain’ kenapa gue histeris. Waktu dia pegang tangan cewek lain gue pengen gigit orang. Waktu dia nglirik cewek lain gue pengen melototin cewek yang dilirik. Apa bedanya. Bukankah sama aja sama-sama bernama Vino dan parahnya ketika dia bilang dia suka cewek lain gue yang merasa sakit. Hiks.

Gue pikir dia suka sama gue. Hari itu gue lihat dia nglirik gue. Nyapa gue. Serius. Waktu itu gue lagi sendirian nungguin teman-teman gue. Dia ada di hadapan gue sesekali gue tangkap dia lagi nglirik gue. Setelah nglirik dia menghampiri gue tanya-tanya kabar gue, keluarga gue. Semula gue pikir basa basi tapi detik selanjutnya dia tanya tentang rumah gue disusul celetukan mau mampir rumah gue. Bukankah itu lmpu kuning? Gue tangkap sinyal-sinyal yang lain. Ini buktinya.

"Lo tambah kurusan ya sekarang. Tambah cantik deh."

Dia muji gue. Seumur-umur baru pertama kalinya dia muji gue. Rasanya sinyal gue tambah kuat. Apalagi waktu dia nawarin gue duduk gabung sama teman-temannya. Tapi waktu gue ikut gabung, ternyata gue dicuekin. Dia lebih asyik ngobrol bareng teman-temannya. Tapi beberapa saat dia minta maaf ke gue. Sinyal selanjutnya. Waktu dia natap gue kayaknya ada yang beda. Dia liatin gue sampai nggak kedip. Itu hampir lampu ijo. Mungkin masih percampuran kuning sama biru belum ijo pas. Dan waktu dia mau bilang sesuatu gue pikir itu adalah lampu ijo ternyata gue salah besar. Dia tanya-tanya tentang mantan gue. Dia ngungkit masa lalu gue. Dia ketawa waktu gue bilang jomblo dan dia bangga waktu bilang ada cewek yang lagi ditaksir. Waktu muji-muji itu cewek rasanya terlalu berlebihan.

 Lima belas menit berlalu buat mengulas itu cewek dari awal pertemuan sampai  falling in love. Gue yang dengerin kayak teko yang dipanasin dan dia belum nyadar juga waktu gue sibuk sama hape-ngegame. Beruntung waktu teman gue datang gue diculik dari cerita in love-nya Vino. Gue pernah baca buku laki-laki dan perempuan itu nggak bisa bersahabat. Keduanya ditakdirkan saling tertarik. Gue nggak merasa Vino sahabat gue. Dia cuma teman yang gue kenal dari temannya teman gue. Dan gue langsung tertarik sama style dia, serak-serak basahnya, yang nggak ketinggalan hatinya. Kata teman gue Vino nggak pernah bilang suka sama cewek kecuali akhir-akhir ini. Itu cukup menyakitkan buat gue tapi menyenangkan buat dia. Ketika gue timbang  di neraca pasti mereka bilang adil karena tiap orang punya hak buat jatuh cinta, mencintai dan dicintai. Dia cinta sama cewek lain dan gue suka sama dia. Hiks.

Parahnya nggak sampai di situ. Eri sohib gue mulai tanya-tanya tentang Vino.

“Itu tadi yang namanya Vino kan?”

“Iya.”                                                                                                                                       

“Eh, kalau dilihat-lihat cakep juga.”

“Iya.”

“Dia BBM-an lho sama gue. Kayaknya dia naksir sama gue.”

Wait wait. Gue nggak salah denger?” 

Eri senyam-senyum tanpa rasa bersalah.

“Gue juga BBM-an sama dia,” sahut Tatia nggak mau kalah.

Cuma gue yang nggak. Gue sedari awal ilfeel sama BB gara-gara semua orang bicarain tentang itu. Gue sebel sama BB gara-gara dia sudah sita waktu gue bareng sohib gue. Gue sebel semua pembicaraan selalu berawal dari BB dan berakhir dengan BB. Gue sekarang tambah sebel karena BB sekarang harapan gue sama Vino jadi tambah jauh.

Patah hati deh gue.

“Rik, Vino ke sini tuh! Kayaknya mau nyamperin gue,” celetuk Eri.

“Bukan lo pasti guelah,” sahut Tatia masih tak mau kalah.

“Iya deh kalian berdua. Gue cabut aja ya. Ditungguin nyokap di rumah nih.”

“Okei, Rika sayang. Hati-hati di jalan ya.”

Tuh kan, gara-gara Vino datang mereka jadi lebih fokus ke Vino. Sebel.   

“Rika, ini punya kamu?” Suara Vino terdengar jelas memanggilku.

OMG. Kalungku jatuh. Bisa dimarahin habis-habisan kalau begini caranya.

“Terima kasih, Vin. Tapi lo nemuin di mana tadi? Gue bisa dikeroyok nyokap kalau sampai tahu kalung gue hilang cuma sisa gantungannya.”

“Gue bantu cari ya.”

Aneh. Ini anak kenapa sih? Doyan banget mempermainkan sinyal radar gue. Sebenernya suka nggak sih? Ngirim sinyal kok ribet amat. Tinggal ketik Yes kirim aja pakai gonta-ganti message.

“Kalau gitu kita berdua ikutan bantu ya,” sahut Eri ikut-ikutan Vino.

Great. Malam itu fokusnya pencarian kalung. Gue lihat Eri tambah deket sama Vino. Nyesek rasanya. Rasanya ingin kabur setelah kalungnya ketemu. Please, please datang keajaiban.

Ketemu. Mata gue berbinar tajam. Gue bebas dari siksaan fisik meskipun gue tetep nggak lepas dari siksaan hati. Vino, oh Vino. Kubiarkan kau memilih Eri atau aku, atau Tatia. Gubrak.

Ini bagian yang sama sekali nggak mengenakkan. Mantan gue datang. Mantan gue ternyata temennya Vino. OMG. Bencana. Gue cancel rasa suka gue ke Vino. Titik.

“Lo mau pulang, Rik?” tanya Vino sewaktu lihat gue mau ngeloyor pergi tanpa pamit.

“Nyokap di rumah udah nungguin,” ujarku berbohong.

Vino, please izinkan gue pergi.

“Kita punya kejutan lho buat elo, Rik,” celetuk mantan gue.

“Gue udah terkejut kok dengan kehadiran lo,” sahut gue rada kejem.

“Beneran, serius deh. Gimana kalau kita percepat?”

Tiba-tiba gue merasa tangan gue dua-duanya ditarik. OMG. Mau diapain gue? Kolam.

“Stop. Gue nggak bisa renang. Gue nggak bisa – ”

Nggak ada yang mau dengerin gue. Gue minum banyak air. Rasanya tubuh gue ngambang di air dan gue denger ada yang bilang, “Eh, tolongin itu. Ngambang beneran.”

Gue nggak tahu berapa jam gue nggak sadar. Ketika gue sadar gue lihat kembang api di atas langit indah banget. Tubuh gue kayak kepompong dililit banyak selimut.

“Oi, siapapun tolongin gue. Gue nggak bisa gerak nih.”

Tapi percuma nggak ada yang denger gue karena keasyikan lihat kembang api. Kecuali Vino. Dia nyamperin gue.

“Udah nggak kedinginan kan?”

“Lo ganti baju? Baju lo tadi kemana?”

“Basah, kan habis nolongin lo.”

Pipi gue memerah. Ouch! Gue dipermainkan lagi.

“Vin, sebenernya lo suka nggak sih sama gue.”

Sumprit. Gue udah nggak bisa tahan dipermainkan terus menerus. Eh, Vino malah ketawa.

“Dari mana lo dapet kesimpulan kayak gitu? Kebanyakan nonton sinetron ya?”

“Enak aja. Cewek punya radar tahu. Tapi mungkin radar gue yang nggak terlatih kali ya. Jadi cabut aja pertanyaan gue tadi. Anggap nggak pernah ada.”

“Ada juga nggak pa-pa.”

“Jadi lo suka sama gue.”

“Nggak juga.”

“Gimana sih, Vin?”

“Ini kalung lo. Tadi jatuh lagi deh. Nyemplung di kolam.”

Eh, menggantung deh ceritanya. Vino cuma ngasih kalung gue kembali. Tunggu dulu. Ternyata belum berakhir. Gantungan yang dikasih Vino bukan gantungan kalung nyokap gue karena gantungannya masih di meja gue tadi. Dan ternyata eh ternyata Vino kasih gantungan baru ke gue. Cincin.

Vino suka sama gue. Berarti radar gue bener. Judulnya gue ganti aja deh jadi Good Job Radar! Yeah.

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...