Langsung ke konten utama

Sstts.. Ini Tentang Ayah

 
Hari ayah di Indonesia jatuh ditanggal 12 November tapi bagiku hari ayah adalah setiap hari. Kenapa? Karena kata-kata ayah selalu melekat di keseharianku. :D
Bicara tentang ayah tak akan ada habisnya. Ayah adalah sosok istimewa yang sejajar dengan ibu. Ayah adalah orang tangguh yang bisa dibilang superhero. Mau tahu perjuangan ayahku.
 
 
 
Waktu itu aku masih kecil bisa dibilang bayi baru lahir, kata ibu ayah yang menggantikan popokku, ayah yang mencuci baju-bajuku karena ibu masih terbaring lemah, ayah yang memandikanku, dan ayah pula yang menenangkanku saat menangis.   
 
Setelah beberapa minggu lahir, waktu cuti di Jawa pun telah hampir habis, aku dibawa kembali ke Sulawesi Tengah – Palu, ya lagi-lagi ayahku superhero. Ayah membawa barang-barang dalam tas besar dan meletakkan kakak di bahunya demi untuk bisa naik kapal Ferri. Berdesak-desakan mencarikan kami tempat duduk. Setiap kali mendengar cerita itu aku tak bisa membayangkan betapa lelahnya ayah.
 
Dan ini yang lebih tangguh lagi. Setelah sekian lama di Sulawesi, ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke Jawa. Ayah bekerja di Pekalongan. Bagian ini yang berat: ayah menjadi kaum komuter alias penglaju. Setiap hari ayah berangkat saat aku masih tidur dan ayah pulang ketika aku sudah terlelap. Itu dilakukan ayah dari Karanganyar – Pekalongan. Betapa jauhnya jarak yang ditempuh ayah setiap hari waktu itu. Bahkan aku sampai tidak tahu kalau ayah itu adalah ayahku. Parahnya kupikir dulu ayah adalah adik dari ibuku. Hmm, itu kesalahpahaman waktu masih kecil tapi sudah diluruskan semenjak kami pindah ke Temanggung.
 
Di sana ayah merintis sebuah sekolah untuk anak-anak luar biasa. Ayah dan ibu berjuang untuk mendapatkan izin membangun sekolah tersebut bahkan sampai ke pusat. Dulu di kecamatan itu belum ada dan itu yang membuat ayah dan ibu semangat. Dari nol mengumpulkan anak-anak luar biasa dari pelosok desa-desa di sana bahkan sering pula ditolak oleh para orang tua dengan alasan anaknya lebih baik di rumah membantu orang tua dan menghasilkan uang daripada sekolah. Pada akhirnya sekolah itu terbentuk dan mendapatkan beberapa murid. Sampai sekarang sekolah itu masih ada. Ya, itu hasil perjuangan ayah.  
 
Dan di kehidupanku ayah bukanlah lelaki pendiam. Ayah tak seperti lelaki yang sering ditampilkan di televisi atau bukan pula seperti yang ada di novel Andrea Hirata. Ayahku adalah seorang penasehat dan penceramah. Ayah selalu bercerita-bercerita dan bercerita.
 
Saat masih SD ayah sering membentakku jika aku mengatakan tidak bisa. Aku masih ingat dulu saat aku menangis karena tidak bisa mengerjakan matematika atau saat aku bilang aku tidak bisa menggambar dan menyuruh ayah menggambarkan untukku. Ayah akan memarahiku. Ayah bilang ayah hanya akan memberi contoh selanjutnya semuanya aku yang melakukan bisa atau tidak bisa yang penting aku sudah berjuang.
 
Lalu saat aku tumbuh menjadi remaja, ayah selalu menceramahiku terutama di depan layar televisi. Tahu kenapa? Karena yang kutonton kala itu drama-drama percintaan ala remaja. Ayah mengatakan itu tak boleh, ayah mengatakan jangan pacaran karena tak ada istilah pacaran di agama kami, ayah mengatakan itu bukan muhrim, ayah mengatakan jangan ditiru dan kata-kata serupa lainnya. Ayah tahu kalau aku hampir terpeleset, semakin sering ayah menceramahiku berarti saat itu aku yakin ayah tahu kalau aku berbohong, tapi ayah tak pernah mengatakan kalau ayah sudah tahu.
 
Sekarang ayah sudah berbeda. Kali ini ayah melakukan tarik-ulur. Ketika aku salah ayah akan menarikku, tapi ketika sudah dirasa aman ayah akan mengulurku. Kok, seperti tali ya. Mungkin karena masih masa peralihan, masih belum bisa mikir yang bener. Kyaaa.. Meskipun begitu kata-kata ayah selalu melekat di otakku. Kata-kata ayah selalu benar. Jadi sering merasa bilang "bener juga kata ayah" atau "iya juga ya". Intinya sudah terbukti. Seperti waktu aku menunda-nunda nyuci baju, terus ayah bilang kalau tak segera dicuci nanti hujan lho. Ujung-ujungnya hujan beneran. Olala keren kan analisis ayah soal akan turun hujan. Hoho 
 
Ada yang hampir ketinggalan. Ayah adalah sosok yang mengajariku tentang petualangan. Ayah akan menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Ayah rela mengantarku ke tempat itu dan lagi-lagi bercerita. Yang membekas sampai sekarang waktu ke Kebun Binatang Gembiraloka, Jogja. Ayah membawaku ke sana naik sepeda onthel dari kos-kosan tanteku waktu itu. Kyaa, berasa kayak Ikal – di novel Andrea Hirata – yang diboncengin ayahnya. Waw.
Pokoknya intinya ayahku adalah ayah yang terbaik sedunia. Ayah is the best. Love you, Ayah. (Padahal belum pernah mengatakan langsung di depan ayah. Hihihi.)
 
Sebenarnya masih banyak cerita tentang ayah tapi cukup sekian saja ya. Semoga celotehan ini menginspirasi ayah-ayah ataupun calon ayah di dunia. Jadilah ayah yang bijaksana, bertanggung jawab, setia pada keluarga dan tangguh.
 
 
 
V (^^) V

 

Komentar

  1. kok aku baru tahu ada hari ayah di indonesia, yang ku tahu cuma hari ibu

    BalasHapus
  2. Ada kok. Tapi peringatannya nggak semeriah hari ibu. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini