Langsung ke konten utama

Orang Ketiga




Suaranya bergetar di balik lubang gagang teleponku. Suara yang kutangkap tak begitu jelas. Kuminta dia datang kemari. Ke sini. Mungkin di tempat ini suaranya akan kembali nyaring. Bersamaku menikmati hujan sampai reda.
 

“Siapa?” Kau bertanya padaku.


“Seorang teman dan aku memintanya datang kemari,” jawabku seraya meletakkan gagang telepon.  


Kurasa kopi di cangkirku telah setengah dingin. Sudah kudiamkan lima belas menit saat mendengarkan Eli di gagang telepon.


Kulihat kau membolak-balikkan kertas kerjaku dengan tangan kiri. Sementara tangan kirimu memegang secangkir kopi.  Sesekali kubenahkan letak kacamataku. Aku melirikmu.


“Yud, itu penting. Hati-hati dengan cangkir kopimu.”


“Seberapa penting kertas ini dibanding denganku?” tanyamu menggodaku.


Aku melanjutkan mengetik lagi.


“Setelah semua ini selesai kau harus, wajib, mau menghadiri acara launching produk baruku.” Kau meletakkan cangkir kopimu di meja.


“Aku kan sudah bilang, Yud. Aku belum tahu sampai kapan ini semua akan selesai.”


Kulirik raut wajahmu berubah. Kau menampakkan wajah itu lagi. Seolah pilihan kataku kurang tepat, tak baik dan kau berharap aku mengatakan sebaliknya.


Dan hening pun menjadi pilihan.


Aku pun berhenti mengetik. Melepas kacamataku.


“Maaf, Yud. Aku tak punya pilihan lain selain mengerjakan semua ini.”


“Dan kau lupa tentang kita. Aku dan kamu.”


“Yud, kita pernah membicarakan tentang semua ini.”


“Kau lupa kita tak pernah mendapatkan solusi - penyelesaian karena setiap kali kita berbicara kau mendahulukan pekerjaanmu.”


“Aku hanya ingin yang terbaik, Yud.”


Kau mengambil handphone dari sakumu. Kau terlihat menekan nomor dengan sekali dial. Bersamaan dengan itu suara bel berbunyi. Aku berlari ke arah pintu karena aku tahu pasti itu Eli. Dia hadir di saat yang tepat untuk menenangkan suasanaku hatiku atau ceritanya akan membuatku lupa sesaat tentang Yudha.

Kulihat Eli berada di balik sebuah payung yang kemudian ia lipat. Ia mengapit handphone di bahu dan pipinya – sedang bicara. Ia tersenyum ke arahku. Aku membantu membawa payungnya masuk.


Suasana hati Eli sedikit berbeda dengan nadanya di telepon beberapa menit yang lalu. Ia mungkin sudah melupakan masalahnya. Kulihat ia telah menutup teleponnya.


“Rumah nomor 54 mana ya, Din? Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan.”


“Ada apa sih, El?”


“Menurut kamu kalau aku muncul di depan ceweknya Putra gimana ya? Memperkenalkan diri sebagai selingkuhannya.”


“Hei, kamu sakit El? Kamu jangan main-main.”


“Aku sehat kok, Din. Akhirnya Putra mau memperkenalkan aku dengan pacarnya. Aku penasaran sama cewek yang bikin Putra milih aku dan mau mutusin ceweknya.”


“Eli, Eli. Sudah berapa lama kamu jadi orang ketiga? Kamu harusnya berpikir bagaimana perasaan ceweknya Putra.”


“Dinda, Dinda. Aku mencintai Putra. Putra juga mencintaiku. Apa salahku? Aku hanya ingin membuat orang yang kucintai bahagia.”


“Dan harus melukai ceweknya Putra? Tunggu-tunggu perasaan tadi kamu di telepon nangis-nangis?”


“Itu tadi, Din. Waktu aku dikasih kabar kalau dia di rumah ceweknya. Rasanya nyesek banget.”


“Cuma itu? Dan kamu udah menyita waktuku lima belas menit bicara tak jelas.”


“Maaf, Din. Tadi aku butuh pendengar. Oh iya tadi rumah nomer 54 di mana ya?”


“Setahuku itu rumah kosong. Salah mungkin. Coba dicek lagi.”


Eli terlihat sedang konsentrasi mengutak-atik handphonenya. Aku meninggalkannya di ruang tamu untuk menemui  Yudha.


“Yud, kamu masih sibuk telepon klien ya?”


Kau tak menjawabku – mengabaikanku. Aku mematikan layarku dan merapikan kertas yang berserakan.


“Eli sudah datang. Aku ingin mengenalkannya denganmu tentu saja kalau kau sudah selesai..”


Kau terlihat menutup teleponmu. “Aku pergi dulu.”


“Tapi Yud?”


Aku meninggalkan kertas kerjaku dan mengejarmu. Kulihat Eli menjatuhkan handphonenya dan kau memegang kedua bahunya. Pada awalnya aku tak berpikir macam-macam. Aku pikir kau sedang minta maaf karena membuat Eli kaget. Aku pikir kau sedang menenangkan Eli. Sampai Eli menatapku dengan nanar, pikiranku menjadi macam-macam. Kalaupun handphone Eli sampai rusak Yudha pasti bisa menggantinya toh nomernya masih sama. Tapi untuk apa air mata yang dibendung Eli. Aku tahu setiap Eli seperti itu dia sedang menyimpan sesuatu yang tak boleh kuketahui.


“Eli kamu kenapa?” Aku mendekat ke Eli. Kau pun melepaskan tanganmu dan menghempaskannya ke udara. 


“Sial,” umpat Yudha.


“Yud, kamu kenapa?” 


Tiba-tiba Eli memelukku dan mengatakan maaf.


“Eli, kamu kenapa? Hei, kamu baik-baik saja kan? Dan kamu Yud kenapa tiba-tiba kamu mengumpat? Bukankah aku sudah bilang jangan mengumpat di depanku lagi.”


“Sempit.” Kau pun tertawa dengan wajah terbebani sedang Eli mengeraskan isakannya.


“Din, maaf. Aku minta maaf. Aku tak menyangka ternyata kamu.”


Aku masih belum mengerti tapi ada desakan di pelupuk mataku yang ingin tumpah.


“Din, maaf. Dia adalah Putra yang kumaksud dan perempuan itu ternyata kamu.”


Kau justru tersenyum dibalik air mataku yang tumpah. Yudha Saputra itu namamu. Aku bahkan tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kini di depan mataku lelaki yang kupikir jujur ternyata membohongiku.


“Eli, aku pernah bilang jangan bermain-main dengan cinta. Lihat sekarang apa akibatnya bukan cuma kamu yang tersakiti sekarang kamu menyeretku. Eli sudah kubilang sudahi semua itu tapi kau terus saja melanjutkannya. Sekarang lihat aku apa kau masih berani mengatakan maaf lagi?” teriakku.


Kau mendekatiku menggenggam tanganku. Aku sudah tak berdaya, telah jatuh dilubang yang tak pernah aku gali. Aku jatuh di lubang galian temanku dan kau.


“Aku ingin kalian berdua menjelaskannya,” pintaku. 


“Aku khilaf, Din. Aku ingin mengakhirinya sekarang. Lebih baik Putra untukmu saja,” jawab Eli.


“Jangan coba lari, El. Jelaskan padaku!” seruku.


“Begini, Din. Aku yang salah. Jangan salahkan Eli. Aku yang memintanya mengisi celah kosong semenjak kamu sibuk dengan duniamu. Semenjak kamu banyak mengatakan tidak daripada iya. Semenjak kamu tak lagi membagi senyumanmu denganku. Di saat itu Eli ada.”


“Aku juga salah, Din karena aku mengambil kesempatan itu padahal aku bisa menolaknya jika aku mau.”


“Apa kalian tahu dampaknya sekarang? Apa kalian tak memikirkanku? Apa kalian melupakan aku? Apa kalian menganggapku patung yang tak berperasaan?”


“Kami tahu ini salah, Din. Aku hanya ingin kamu bisa kembali seperti Dinda yang kukenal dulu.”


“Lalu setelah ini kau mau buang Eli begitu saja, Yud? Aku rasa Eli juga memiliki perasaan sepertiku. Kau pasti juga sakit kan, El? Bagaimana rasanya setelah kau berani memainkan api dengan kekasih temanmu? Apa kau puas sekarang? Apa kalian sudah puas?”


Aku tahu hidup selalu punya pilihan. Bertahan atau berakhir, main-main atau serius, benar atau salah, memaafkan atau tidak, pacar atau teman, hidup atau mati, bahagia atau sedih, tertawa atau menangis, jatuh atau tetap berdiri, dan pilihan-pilihan yang lain. Bahkan bisa saja tak memilih dan menanggung resikonya seumur hidup atau memilihnya lalu menyesal. Semua ada di dalam sana, sesak bahkan sampai hujan mereda. Bahagia ada di hati. Hanya diri sendiri yang bisa mengaturnya. Tapi aku lupa trik itu dalam sekejap. Air mata yang tumpah, senyum yang pudar, mata yang nanar memerah, dan rasa benci seketika membungkus semua yang dulu kusebut kebahagian.

***

Komentar