Kamis, 31 Januari 2013

Sstts.. Ini Tentang Ayah

 
Hari ayah di Indonesia jatuh ditanggal 12 November tapi bagiku hari ayah adalah setiap hari. Kenapa? Karena kata-kata ayah selalu melekat di keseharianku. :D
Bicara tentang ayah tak akan ada habisnya. Ayah adalah sosok istimewa yang sejajar dengan ibu. Ayah adalah orang tangguh yang bisa dibilang superhero. Mau tahu perjuangan ayahku.
 
 
 
Waktu itu aku masih kecil bisa dibilang bayi baru lahir, kata ibu ayah yang menggantikan popokku, ayah yang mencuci baju-bajuku karena ibu masih terbaring lemah, ayah yang memandikanku, dan ayah pula yang menenangkanku saat menangis.   
 
Setelah beberapa minggu lahir, waktu cuti di Jawa pun telah hampir habis, aku dibawa kembali ke Sulawesi Tengah – Palu, ya lagi-lagi ayahku superhero. Ayah membawa barang-barang dalam tas besar dan meletakkan kakak di bahunya demi untuk bisa naik kapal Ferri. Berdesak-desakan mencarikan kami tempat duduk. Setiap kali mendengar cerita itu aku tak bisa membayangkan betapa lelahnya ayah.
 
Dan ini yang lebih tangguh lagi. Setelah sekian lama di Sulawesi, ayah dan ibu memutuskan untuk pindah ke Jawa. Ayah bekerja di Pekalongan. Bagian ini yang berat: ayah menjadi kaum komuter alias penglaju. Setiap hari ayah berangkat saat aku masih tidur dan ayah pulang ketika aku sudah terlelap. Itu dilakukan ayah dari Karanganyar – Pekalongan. Betapa jauhnya jarak yang ditempuh ayah setiap hari waktu itu. Bahkan aku sampai tidak tahu kalau ayah itu adalah ayahku. Parahnya kupikir dulu ayah adalah adik dari ibuku. Hmm, itu kesalahpahaman waktu masih kecil tapi sudah diluruskan semenjak kami pindah ke Temanggung.
 
Di sana ayah merintis sebuah sekolah untuk anak-anak luar biasa. Ayah dan ibu berjuang untuk mendapatkan izin membangun sekolah tersebut bahkan sampai ke pusat. Dulu di kecamatan itu belum ada dan itu yang membuat ayah dan ibu semangat. Dari nol mengumpulkan anak-anak luar biasa dari pelosok desa-desa di sana bahkan sering pula ditolak oleh para orang tua dengan alasan anaknya lebih baik di rumah membantu orang tua dan menghasilkan uang daripada sekolah. Pada akhirnya sekolah itu terbentuk dan mendapatkan beberapa murid. Sampai sekarang sekolah itu masih ada. Ya, itu hasil perjuangan ayah.  
 
Dan di kehidupanku ayah bukanlah lelaki pendiam. Ayah tak seperti lelaki yang sering ditampilkan di televisi atau bukan pula seperti yang ada di novel Andrea Hirata. Ayahku adalah seorang penasehat dan penceramah. Ayah selalu bercerita-bercerita dan bercerita.
 
Saat masih SD ayah sering membentakku jika aku mengatakan tidak bisa. Aku masih ingat dulu saat aku menangis karena tidak bisa mengerjakan matematika atau saat aku bilang aku tidak bisa menggambar dan menyuruh ayah menggambarkan untukku. Ayah akan memarahiku. Ayah bilang ayah hanya akan memberi contoh selanjutnya semuanya aku yang melakukan bisa atau tidak bisa yang penting aku sudah berjuang.
 
Lalu saat aku tumbuh menjadi remaja, ayah selalu menceramahiku terutama di depan layar televisi. Tahu kenapa? Karena yang kutonton kala itu drama-drama percintaan ala remaja. Ayah mengatakan itu tak boleh, ayah mengatakan jangan pacaran karena tak ada istilah pacaran di agama kami, ayah mengatakan itu bukan muhrim, ayah mengatakan jangan ditiru dan kata-kata serupa lainnya. Ayah tahu kalau aku hampir terpeleset, semakin sering ayah menceramahiku berarti saat itu aku yakin ayah tahu kalau aku berbohong, tapi ayah tak pernah mengatakan kalau ayah sudah tahu.
 
Sekarang ayah sudah berbeda. Kali ini ayah melakukan tarik-ulur. Ketika aku salah ayah akan menarikku, tapi ketika sudah dirasa aman ayah akan mengulurku. Kok, seperti tali ya. Mungkin karena masih masa peralihan, masih belum bisa mikir yang bener. Kyaaa.. Meskipun begitu kata-kata ayah selalu melekat di otakku. Kata-kata ayah selalu benar. Jadi sering merasa bilang "bener juga kata ayah" atau "iya juga ya". Intinya sudah terbukti. Seperti waktu aku menunda-nunda nyuci baju, terus ayah bilang kalau tak segera dicuci nanti hujan lho. Ujung-ujungnya hujan beneran. Olala keren kan analisis ayah soal akan turun hujan. Hoho 
 
Ada yang hampir ketinggalan. Ayah adalah sosok yang mengajariku tentang petualangan. Ayah akan menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Ayah rela mengantarku ke tempat itu dan lagi-lagi bercerita. Yang membekas sampai sekarang waktu ke Kebun Binatang Gembiraloka, Jogja. Ayah membawaku ke sana naik sepeda onthel dari kos-kosan tanteku waktu itu. Kyaa, berasa kayak Ikal – di novel Andrea Hirata – yang diboncengin ayahnya. Waw.
Pokoknya intinya ayahku adalah ayah yang terbaik sedunia. Ayah is the best. Love you, Ayah. (Padahal belum pernah mengatakan langsung di depan ayah. Hihihi.)
 
Sebenarnya masih banyak cerita tentang ayah tapi cukup sekian saja ya. Semoga celotehan ini menginspirasi ayah-ayah ataupun calon ayah di dunia. Jadilah ayah yang bijaksana, bertanggung jawab, setia pada keluarga dan tangguh.
 
 
 
V (^^) V

 

Selasa, 29 Januari 2013

Aku Pergi








Sepi berubah rombeng,

lusuh dan aku masih berjalan

dengan kakiku sendiri.



Mau kemana kamu?



Malam semakin menampakkan kelamnya

dan cinta tak lagi indah.



Sepi telah melumat

dan

hujan telah mencukupi baskom cinta gila ini.



Mau kemana kamu?



Aku pergi



Solo, 29 Jan 2013

Orang Ketiga




Suaranya bergetar di balik lubang gagang teleponku. Suara yang kutangkap tak begitu jelas. Kuminta dia datang kemari. Ke sini. Mungkin di tempat ini suaranya akan kembali nyaring. Bersamaku menikmati hujan sampai reda.
 

“Siapa?” Kau bertanya padaku.


“Seorang teman dan aku memintanya datang kemari,” jawabku seraya meletakkan gagang telepon.  


Kurasa kopi di cangkirku telah setengah dingin. Sudah kudiamkan lima belas menit saat mendengarkan Eli di gagang telepon.


Kulihat kau membolak-balikkan kertas kerjaku dengan tangan kiri. Sementara tangan kirimu memegang secangkir kopi.  Sesekali kubenahkan letak kacamataku. Aku melirikmu.


“Yud, itu penting. Hati-hati dengan cangkir kopimu.”


“Seberapa penting kertas ini dibanding denganku?” tanyamu menggodaku.


Aku melanjutkan mengetik lagi.


“Setelah semua ini selesai kau harus, wajib, mau menghadiri acara launching produk baruku.” Kau meletakkan cangkir kopimu di meja.


“Aku kan sudah bilang, Yud. Aku belum tahu sampai kapan ini semua akan selesai.”


Kulirik raut wajahmu berubah. Kau menampakkan wajah itu lagi. Seolah pilihan kataku kurang tepat, tak baik dan kau berharap aku mengatakan sebaliknya.


Dan hening pun menjadi pilihan.


Aku pun berhenti mengetik. Melepas kacamataku.


“Maaf, Yud. Aku tak punya pilihan lain selain mengerjakan semua ini.”


“Dan kau lupa tentang kita. Aku dan kamu.”


“Yud, kita pernah membicarakan tentang semua ini.”


“Kau lupa kita tak pernah mendapatkan solusi - penyelesaian karena setiap kali kita berbicara kau mendahulukan pekerjaanmu.”


“Aku hanya ingin yang terbaik, Yud.”


Kau mengambil handphone dari sakumu. Kau terlihat menekan nomor dengan sekali dial. Bersamaan dengan itu suara bel berbunyi. Aku berlari ke arah pintu karena aku tahu pasti itu Eli. Dia hadir di saat yang tepat untuk menenangkan suasanaku hatiku atau ceritanya akan membuatku lupa sesaat tentang Yudha.

Kulihat Eli berada di balik sebuah payung yang kemudian ia lipat. Ia mengapit handphone di bahu dan pipinya – sedang bicara. Ia tersenyum ke arahku. Aku membantu membawa payungnya masuk.


Suasana hati Eli sedikit berbeda dengan nadanya di telepon beberapa menit yang lalu. Ia mungkin sudah melupakan masalahnya. Kulihat ia telah menutup teleponnya.


“Rumah nomor 54 mana ya, Din? Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan.”


“Ada apa sih, El?”


“Menurut kamu kalau aku muncul di depan ceweknya Putra gimana ya? Memperkenalkan diri sebagai selingkuhannya.”


“Hei, kamu sakit El? Kamu jangan main-main.”


“Aku sehat kok, Din. Akhirnya Putra mau memperkenalkan aku dengan pacarnya. Aku penasaran sama cewek yang bikin Putra milih aku dan mau mutusin ceweknya.”


“Eli, Eli. Sudah berapa lama kamu jadi orang ketiga? Kamu harusnya berpikir bagaimana perasaan ceweknya Putra.”


“Dinda, Dinda. Aku mencintai Putra. Putra juga mencintaiku. Apa salahku? Aku hanya ingin membuat orang yang kucintai bahagia.”


“Dan harus melukai ceweknya Putra? Tunggu-tunggu perasaan tadi kamu di telepon nangis-nangis?”


“Itu tadi, Din. Waktu aku dikasih kabar kalau dia di rumah ceweknya. Rasanya nyesek banget.”


“Cuma itu? Dan kamu udah menyita waktuku lima belas menit bicara tak jelas.”


“Maaf, Din. Tadi aku butuh pendengar. Oh iya tadi rumah nomer 54 di mana ya?”


“Setahuku itu rumah kosong. Salah mungkin. Coba dicek lagi.”


Eli terlihat sedang konsentrasi mengutak-atik handphonenya. Aku meninggalkannya di ruang tamu untuk menemui  Yudha.


“Yud, kamu masih sibuk telepon klien ya?”


Kau tak menjawabku – mengabaikanku. Aku mematikan layarku dan merapikan kertas yang berserakan.


“Eli sudah datang. Aku ingin mengenalkannya denganmu tentu saja kalau kau sudah selesai..”


Kau terlihat menutup teleponmu. “Aku pergi dulu.”


“Tapi Yud?”


Aku meninggalkan kertas kerjaku dan mengejarmu. Kulihat Eli menjatuhkan handphonenya dan kau memegang kedua bahunya. Pada awalnya aku tak berpikir macam-macam. Aku pikir kau sedang minta maaf karena membuat Eli kaget. Aku pikir kau sedang menenangkan Eli. Sampai Eli menatapku dengan nanar, pikiranku menjadi macam-macam. Kalaupun handphone Eli sampai rusak Yudha pasti bisa menggantinya toh nomernya masih sama. Tapi untuk apa air mata yang dibendung Eli. Aku tahu setiap Eli seperti itu dia sedang menyimpan sesuatu yang tak boleh kuketahui.


“Eli kamu kenapa?” Aku mendekat ke Eli. Kau pun melepaskan tanganmu dan menghempaskannya ke udara. 


“Sial,” umpat Yudha.


“Yud, kamu kenapa?” 


Tiba-tiba Eli memelukku dan mengatakan maaf.


“Eli, kamu kenapa? Hei, kamu baik-baik saja kan? Dan kamu Yud kenapa tiba-tiba kamu mengumpat? Bukankah aku sudah bilang jangan mengumpat di depanku lagi.”


“Sempit.” Kau pun tertawa dengan wajah terbebani sedang Eli mengeraskan isakannya.


“Din, maaf. Aku minta maaf. Aku tak menyangka ternyata kamu.”


Aku masih belum mengerti tapi ada desakan di pelupuk mataku yang ingin tumpah.


“Din, maaf. Dia adalah Putra yang kumaksud dan perempuan itu ternyata kamu.”


Kau justru tersenyum dibalik air mataku yang tumpah. Yudha Saputra itu namamu. Aku bahkan tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kini di depan mataku lelaki yang kupikir jujur ternyata membohongiku.


“Eli, aku pernah bilang jangan bermain-main dengan cinta. Lihat sekarang apa akibatnya bukan cuma kamu yang tersakiti sekarang kamu menyeretku. Eli sudah kubilang sudahi semua itu tapi kau terus saja melanjutkannya. Sekarang lihat aku apa kau masih berani mengatakan maaf lagi?” teriakku.


Kau mendekatiku menggenggam tanganku. Aku sudah tak berdaya, telah jatuh dilubang yang tak pernah aku gali. Aku jatuh di lubang galian temanku dan kau.


“Aku ingin kalian berdua menjelaskannya,” pintaku. 


“Aku khilaf, Din. Aku ingin mengakhirinya sekarang. Lebih baik Putra untukmu saja,” jawab Eli.


“Jangan coba lari, El. Jelaskan padaku!” seruku.


“Begini, Din. Aku yang salah. Jangan salahkan Eli. Aku yang memintanya mengisi celah kosong semenjak kamu sibuk dengan duniamu. Semenjak kamu banyak mengatakan tidak daripada iya. Semenjak kamu tak lagi membagi senyumanmu denganku. Di saat itu Eli ada.”


“Aku juga salah, Din karena aku mengambil kesempatan itu padahal aku bisa menolaknya jika aku mau.”


“Apa kalian tahu dampaknya sekarang? Apa kalian tak memikirkanku? Apa kalian melupakan aku? Apa kalian menganggapku patung yang tak berperasaan?”


“Kami tahu ini salah, Din. Aku hanya ingin kamu bisa kembali seperti Dinda yang kukenal dulu.”


“Lalu setelah ini kau mau buang Eli begitu saja, Yud? Aku rasa Eli juga memiliki perasaan sepertiku. Kau pasti juga sakit kan, El? Bagaimana rasanya setelah kau berani memainkan api dengan kekasih temanmu? Apa kau puas sekarang? Apa kalian sudah puas?”


Aku tahu hidup selalu punya pilihan. Bertahan atau berakhir, main-main atau serius, benar atau salah, memaafkan atau tidak, pacar atau teman, hidup atau mati, bahagia atau sedih, tertawa atau menangis, jatuh atau tetap berdiri, dan pilihan-pilihan yang lain. Bahkan bisa saja tak memilih dan menanggung resikonya seumur hidup atau memilihnya lalu menyesal. Semua ada di dalam sana, sesak bahkan sampai hujan mereda. Bahagia ada di hati. Hanya diri sendiri yang bisa mengaturnya. Tapi aku lupa trik itu dalam sekejap. Air mata yang tumpah, senyum yang pudar, mata yang nanar memerah, dan rasa benci seketika membungkus semua yang dulu kusebut kebahagian.

***

First Desain

Yeah, lama tidak muncul. Datang dengan utak atik hobi lama dengan bantuan CorelDraw.
Yah, tidak usah berbasa-basi lagi. Cekidot.
My first desain. Rumah dengan 3 lantai.
Minimalis modern.

Tampak dari depan



Tampak dari samping


Denah


 
 
 
 
Masih amatiran sih tapi semoga menginspirasi. :D 
Sekian dan terima kasih

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...